Jejak Nirnama

“Ketika diri bukan siapa-siapa, maka kerjakanlah apa-apa.” (Tajali Daeng Litere, 30032025)

Pendakuan Daeng Litere itu, bak embus angin melintas tanpa gaduh, amat sepoi nan lirih. Bahkan sepintas hanya permainan bunyi antara siapa-siapa dan apa-apa. Namun, di balik simpelnya tersimpan simpai renungan, menggeser cara manusia memandang keberadaan dirinya. Ia tidak bertanya tentang seberapa tinggi kedudukan seseorang, melainkan tentang laku warisannya.

Kehidupan mutakhir acap dimulai dengan pertanyaan mengenai identitas. Siapa dirimu? Apa jabatanmu? Berapa banyak orang mengenal namamu? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, perlahan membentuk keyakinan, bahwa nilai seseorang ditentukan oleh pengenalannya di mata khalayak. Nama menjadi lebih penting ketimbang karya. Gelar paling cepat direken tinimbang pengabdian.

Padahal, kehidupan tidak selalu bertumbuh dari mereka yang paling dikenal. Banyak perubahan justru lahir dari tangan-tangan yang bekerja jauh dari sorotan. Mengada petani saban musim menugal benih, tanpa pernah memasuki halaman berita. Menyata guru merawi ilmu kepada murid-muridnya sepanjang usia, walau namanya absen dalam sejarah. Mewujud ibu menumbuhkan generasi melalui kasih, waima luput dari perbincangan. Dunia bergerak bukan hanya oleh mereka yang tampak, tetapi juga oleh para penekun,  mengerjakan apa yang perlu dikerjakan.

Sesarinya, aforisme Daeng Litere tidak sedang mengajak manusia mengecilkan dirinya. Menjadi “bukan siapa-siapa” tidak bermakna menganggap diri tak berharga. Pendakuan tersebut justru mengingatkan, martabat tidak selalu bertumpu pada kemasyhuran. Ada keluhuran yang bertunas dari kesediaan bekerja, meski tiada tepuk tangan menyambutnya.

Barangkali di situlah letak paradoks kehidupan. Banyak orang ingin menjadi seseorang terlebih dahulu, baru bersedia berkarya. Seolah kebermanfaatan memerlukan pengakuan sebagai syarat awal. Padahal, perjalanan acap berlangsung sebaliknya. Orang-orang yang sungguh memberi arti, biasanya memulai langkah dari pekerjaan sederhana. Mereka tidak menunggu panggung, sebab pekerjaan itu sendiri telah menjadi lapik pengabdiannya.

Kehayatan modern sering menghadirkan godaan halus. Seseorang lebih mudah mereken jumlah pengikut dibanding akumulasi manfaat. Lebih lekas mengingat banyaknya apresiasi, ketimbang kedalaman pengabdian. Perlahan, ukuran keberhasilan bergeser. Yang dikejar bukan lagi mutu ikhtiar, melainkan luasnya pengenalan.

Dalam suasana demikian, kerja pun dapat berubah menjadi pertunjukan. Sebuah kegiatan dilakukan bukan semata karena diperlukan, tetapi karena layak diperlihatkan. Kebaikan menunggu kamera. Kepedulian menanti saksi. Bahkan keikhlasan kadang meminta panggung, agar diyakini keberadaannya.

Padahal, banyak pekerjaan paling penting, justru berlangsung dalam kesunyian. Akar pohon bertumbuh di bawah tanah. Air mengalir tanpa mengabarkan dirinya. Matahari menyingsing setiap pagi, minus minta pujian. Alam seakan memberi pelajaran, penopang kehidupan tidak selalu hadir dengan kegemerlapan.

Daeng Litere menggeser perhatian dari “siapa” menuju “apa”. Pergeseran kecil dalam bunyi, tetapi besar dalam makna. Identitas memang penting, tapi ia tidak pernah cukup bila berhenti sebagai sebutan. Nama memperoleh arti, ketika bertemu laku. Gelar menemukan nilainya, manakala bersua pengabdian. Tanpa keduanya, identitas hanya menjadi penanda, perlahan kehilangan isinya.

Pada lapik ini, pendakuan tersebut juga dapat dieja sebagai latihan membatasi keakuan. Ego acap tumbuh, kala manusia terlalu sibuk memelihara citra dirinya. Ia ingin diingat, dipuji, dan diakui. Namun, saat perhatian beralih kepada pekerjaan yang bermanfaat, keakuan perlahan merenggang. Fokus tidak lagi tertuju pada bagaimana diri terlihat, melainkan pada apa yang dapat dikerjakan.

Nisbi diri pun menjadi lebih mudah disadari. Manusia memahami, dirinya hanyalah satu simpul kecil dalam luasnya jejaring kehidupan. Apa pun kemampuan yang dimiliki, sekotahnya memperoleh makna, ketika memberi manfaat bagi sesama. Kesadaran semacam ini tidak merendahkan manusia. Sebaliknya, ia membebaskan manusia dari beban, untuk terus-menerus membuktikan kebesaran dirinya.

Sejarah berulang kali memperlihatkan kenyataan itu. Banyak nama besar akhirnya pudar bersama waktu. Gelar perlahan dilupakan. Singgasana berpindah kepada yang lain. Namun, laku yang menghadirkan manfaat sering tetap berkelintangan melampaui usia pelakunya. Jejak pengabdian memiliki cara sendiri buat bertahan, meski nama orang yang mengerjakannya perlahan merenggang dari ingatan.

Barangkali, sebab itulah kehidupan tidak pernah benar-benar menanyakan siapa diri seseorang. Ia lebih sering memperlihatkan apa yang telah dikerjakannya. Sebab, manusia lebih mudah dikenang melalui manfaat tinggalannya, tinimbang julukan yang pernah disandang.

Dus, menjadi bukan siapa-siapa sesungguhnya bukan keadaan yang patut diratapi. Ia dapat menjelma kelapangan yang membebaskan. Tanpa beban menjaga kemasyhuran, seseorang lebih leluasa belajar. Tiada keharusan mempertahankan citra, ia lebih jujur mengakui kekurangan. Tak sibuk mengejar pengakuan, langkah menjadi lebih ringan, guna terus mengerjakan hal-hal berguna.

Kalakian, aforisme Daeng Litere itu tidak mengajak manusia menghapus identitasnya, apalagi menolak penghargaan atas jerih payahnya. Ia sekadar mengingatkan, agar keberadaan tidak berhenti pada sebutan. Sebab, nama dapat dikenal, jabatan bisa berganti, dan kemasyhuran mungkin memudar. Yang lebih lama bertahan, manfaat yang sempat disemai sepanjang perjalanan hidup.

Ala kulli hal, ketika diri merasa bukan siapa-siapa, barangkali itulah saat terbaik, untuk mulai mengerjakan apa-apa. Sebab, dunia tidak terutama memerlukan surplus nama besar. Dunia lebih membutuhkan insan-insan yang bekerja dengan jernih, menumbuhkan manfaat tanpa gaduh, lalu membiarkan laku berbicara lebih nyaring tinimbang dirinya sendiri.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *