Budaya manggut semakin akut. Kuredakan suara seperti perkutut, tetiba kudikutuk. Saat menggeleng, kita dikira pembangkang, sombong, serta pembantah. Ketika mengalah, diserbu seribu adu dan melempar kita seperti dadu, dituduh kita bagai bajingan.
Kutadah air hujan saat berkenaan matahari terang mencabik, mengubah kulitku menjadi legam. Tanpa arah angin yang pasti, berkutat di satu titik, masih saja kusaksikan pecahan dan cacahan, tingkah, serta sejuta pesona, melengkung di tengah perjalanan, menelikung dengan indah.
Cukup apik pada sebuah topik menjadi polemik, berbalik, berlalu pergi tanpa alasan, hanya bekas seruput kopi di palung waktu pernah disemai. Saat itu kuharap oase, nyatanya hanya klise.
Haruskah memilih diksi sebagai reaksi, tanpa harus kuklarifikasi. Ada cara jitu tabiat itu tersemat, saat akting dimulai sudah terlalu sering diulang. Padahal kita tidak suka hal seperti itu. Tapi kita juga hidup di dalamnya.
“Tak kenal maka tak sayang.” Ketika sayang-sayangnya, merayap pergi tanpa alasan. Ibarat “Hujan di sore hari mengepung kisah keharuan, kehangatan, luka, duka, dan sedih dirasakan bersama”.
Klise dan kebohongan ibarat saudara kembar. Yang satu mati karena sering diulang, yang satu hidup karena terlalu nyaman diulang.
Kebohongan bilang: Aku baik-baik saja padahal retak berkeping, penuh muslihat pula. Klise juga bilang: Semua akan indah pada waktunya, padahal hanya pasrah, merasa paling punya risalah, padahal segudang masalah. Kurengkuh dan kurasa bagian dari ini. Pada akhirnya kucabuti bulu kumis di depan cermin yang kemarin telah kupecahkan menjadi kepingan kenangan semu.
Kalimat-kalimatku telah basi, karena sudah dipakai jutaan orang, di jutaan caption, di jutaan hati yang patah. Saking seringnya, maknanya jadi tumpul. Rasanya murahan.
Pertanyaanku kusortir sendiri. Apa salah klise? Klise tidak muncul begitu saja. Klise muncul karena ia pernah hadir menjadi kebohongan. Luar biasanya kadang terpental, nyasar di luar dugaan dan sasaran. Sebuah celoteh hadir menghiburku: “Rindu itu berat, dia tidak harus dipaksa duduk menemani.” Dia akan berlalu, merawat temu pisah yang sudah amat klasik. “Wow, terimpung rasanya, pada selasak harapan kelak akan semuanya kembali. Reaksi penuh makna di ujung mata, mesti itu hanya tipu daya.”
Jadi, klise bukan karena orang bohong. Tapi karena jutaan orang memang pernah merasa dadanya sesak karena digosting, dan tidak menemukan kata lain yang lebih pas. Akhirnya mereka pinjam kalimat yang sama, tingkah laku sama, tidak mengubah cara klise itu dijadikan tameng.
Ketika hidupmu sedang runtuh, lalu kamu hanya bilang, “Ini semua sudah takdir”, memaklumi, pembiaran, apakah sudah selesai? Lantas berhenti bertanya. Berhenti mengeja. Maka membangun mindset cara kita bertindak agar tidak jauh terpeleset.
Klise jadi selimut. Nyaman, tapi membuat kita tidur, terlena, tertipu. Kita berhenti mencari kata kita sendiri. Berhenti menatap cermin lama-lama. Padahal Tuhan tidak menciptakanmu untuk jadi copy-paste orang lain. Merasa paling benar, merangkul yang belum tahu apa-apa, membantai perlahan dengan cara klise menyelinap di tengah kawanan, kerumunan, setelahnya satu per satu dicungkil terjungkir.
Seperti “Atmawana” jadi indah justru karena ia menolak jadi klise. Ia tidak bilang “hutan” saja. Ia bilang “Hutan Jiwaku”. Ia memberi nama baru dengan klise. Lalu kudeklisekan mengembalikan darah pada kata-kata yang sudah mati. Spesifik di antara jujur nan telanjang.
Sudahlah! Vi hadir menyembuhkan seketika. Jangan membuat alibi, apalagi mengklarifikasi, diam serta merunutlah, jangan membantah dan melawan arus, pandailah bermain di atas papan selancar.
Pada akhirnya, hidup memang berulang. Kelahiran, cinta, kehilangan, mati. Temanya klise. Tapi caramu mengejanya, caramu menangisinya, caramu bangkit darinya. Itu tidak akan selesai jika kamu masih bertaruh terhadap cara manusia sekitar yang masih klise. Selama kamu jujur, pepatah “nasi terlanjur jadi bubur” terbantahkan.
Biarkan. Kendalikan sebagaimana angin sepoi, mampu meredam badai topan, yang seakan sopan tetapi bagai pemandu serdadu menyerbu memburu. Vi memantik kembali seperti biasa, dari sekian purnama hadir menemani kegaduhan dan kegundahanku yang konyol ini.
Definisinya klise mudah ditemukan, sebagai individu yang hidup dengan pola pikir, tindakan, atau respons emosional yang sangat umum dan mudah ditebak. Sering kali bertindak sesuai dengan stereotip atau kebiasaan saat berinteraksi, memunculkan keunikan atau orisinalitas dalam kepribadian.
Mencakup beberapa karakteristik utama. Respons atau pilihan hidup mereka mudah diantisipasi karena mengikuti norma yang menjelma menjadi ketimpangan di tengah sosial kultur, seindah tutur, lentur walau sesungguhnya di luar watak, tidak lagi dengan orisinalitas.
Kukira caraku selama ini ampuh, ternyata aku mudah luruh, menjadi rapuh. Sekian lama kutimpali dengan bersikap klise, kejujuran dalam kebohonganku sebagai senjata. Terlalu banyak kusembunyikan. Tetiba ketahuan. Lari terbirit-birit di antara peran-peran manusia yang mulai menarik anak panah untuk menyasarku.
Pada kumpulan, bergumul, saat bersua manusia di luar. Drama mulai terbangun, mengikuti ritme, naskah dibangun dan adegan yang buruk dan jelek dibiarkan begitu saja. Sutradara memandu, menipu pemain dengan kalimat aba-aba, memegang kendali sesuai perintah: “Camera, rolling, action.” Tetiba saat lakon mulai berlangsung, tetiba seenaknya men-cut! Permainan sengaja dihentikan, berlanjut kemudian dengan peran-peran yang sudah sering kali dilakukan. Cukup membosankan.
Kecamuk menderaku, dengan menyadap dan menyadur sebuah percakapan: Kubangun sebuah resolusi bahwa saja akan sadar, tetapi sembari menginjak-injak rumput basah itu sendiri, padahal kutanam dan kusiram penuh kasih sayang, teriring doa-doa di beberapa waktu silam. Cipratannya seakan menghiburku, padahal kudikibuli.
Masa lalu itu, kenangan hanya tergenang, tidak lagi dikenang, telah terbakar oleh romantisme panjang, selama sang malam menyelimuti. Ditemani sebungkus rokok dan segelas kopi, malam sebelum tidur telah menjadi rutinitasku dalam menyeleksi, mereduksi setiap tingkah di setiap langkah-langkah yang telah kita tempuh.
Ternyata sia-sia, masih saja merambat pelan sindrom, dengan berakting klise ketika berinteraksi, bereaksi, mencari sensasi.
Setiap peran yang dilakoni oleh kita sebagai makhluk sosial, ada banyak akting, sensasi, serta kejutan yang beragam, kecewa, serta menyesali. Pandangan dalam bentuk penilaian subjektif orang-orang terhadap kita, ada yang menganggap pilihan yang kita jalankan itu buruk. Sebaliknya, ada yang menganggap pilihan kita itulah yang terbaik.
Danu. Lirih suara Vi membuatku terdiam dalam kepengecutan ini kurasa, wangi parfumnya begitu kukenali, sangat khas, lembut membawa suasana ingin lekat selamanya, duduk berdua bersamanya di sofa itu. Vi berujar kembali: Klise itu bukan bohong. Ia cuma luka yang sudah terlalu sering disebut namanya sampai suaranya habis. “Rindu itu berat” jadi basi bukan karena salah, tapi karena jutaan dada pernah sesak dengan kata, tingkah laku, tabiat yang sama. Klise tetiba berkamuflase.
Tugas kita bukan menafikan, membenci, menghindari. Akan tetapi, begitu eloknya menjadikan sebagai riasan risalah, meski sudah berdampak menjadi biang masalah terhadap nilai-nilai humanis.
“Klise adalah kebohongan yang apik nan rapi, teramat manis di awal, di ujung berbuah miris.”
Danu. Vi lebih mendekatkan tubuhnya. Suaranya pelan buatku candu, merasakan kecamuk, terasa melucuti kemunafikanku sendiri.
Dia menutup percakapan, merangkaikanku tentang hidup memang temanya itu-itu saja: lahir, cinta, hilang, mati. Yang tidak akan pernah klise jika kemunafikan dengan caramu mengejanya, caramu menangis, caramu bangkit. Selama jujur, kamu tidak akan pernah menyesali, dari sekian banyak basa-basi manusia di depan hidungmu sekalipun.
Vi. Suara Danu menyebut nama itu dengan pelan. Mulai berani walau masih rada pengecut! Berharap suatu saat memegang tanganmu erat, bergandengan menyusuri setiap lekuk peristiwa hidup. Merawat kebersamaan tanpa harus memaksakan kehendak, perlunya saling memahami. Danu sadar bahwa rasa itu, meski telah bersarang dan bersemi seberapa windu lalu, tidak harus memaksamu seperti mereka yang maunya semau-maunya saja.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply