Sipakainga’

Kisi-kisi hidup kita memasuki usia setengah abad telah tertanda. Babad kita lalui bersama. Sementara dinamika seiring mengikuti setiap peran kita, meninggalkan jejak lima puluh tahun. Masih butuh eling dan, paling penting, saling memahami. Tidak harus saling merasa paling “penting”.

Anniversary hanya pelengkap dan “belo-belo pa’rappungang”. Tidak menjadi prioritas, rutinitas, tidak mesti sekadar dihampar tikar duduk bersila, santap bersama, begitu saja, tetapi ada hirarki nan kuat yang kita jaga, seperti rusuk pria yang ditakdirkan, Hawa hadir menemani, teman bertengkar, berkelakar, dan menempatkan posisi pada situasi, merangkaikan bunga cerita dan cinta. Semua harus saling terjaga satu dengan lainnya.

Lebih lengkapnya menjalaninya, merias tanpa harus menjadi bias, dengan segala problematika disertai romantika itu sendiri. Pada akhirnya kita mesti menyadari tidak muda lagi. Di tengah elegi yang kadang mencemari jiwa dan rasa, menguatkan bersama pada titimasa Alumni 95 Smapat Bantaeng kita namakan. Menjalani, memahami kebersamaan dengan harmoni.

Lima puluh tahun, bahkan ada yang lebih di antara kita, adalah sebuah pencapaian langka yang dibangun di atas fondasi atas nama pertautan “passiamakkang”, penerimaan tanpa syarat, dan sejarah hidup yang saling terikat. Hubungan lintas dekade ini menjadi investasi berharga. Bagi saya pribadi, amat menikmatinya.

Usia melenting. Dalam hening kuterjemahkan dan mengejawantahkan cara mental. Ada riak ombak landai ke tepi, sepoi angin pantai menyeka dan menyembuhkan rindu walau sudah lama tertuai jua setelah ditabur. Yang membenak menjadi kesadaran baru di tengah gejolak usia kita yang mulai agak sensitif, merambat menuju labirin senja Pantai Marina, Jumat sore, 26 Juni 2026, menjadi jejak kesekian di antara pertautan yang dikemas kali ini bernama “Anniversary 95 Smapat Bantaeng”.

Di sana, riuh, pecah, ketawa-ketiwi, serta memberikan dukungan emosional yang kuat, tanpa mengelebui diri dan cara kita menyikapi setiap persona, merawatnya, menyeka, agar tetap merekah, walau tak sebanding badai dan tunai yang telah diupayakan melepas segala ruang potensi dan dampak, untuk kebersamaan.

Kutipan nan lantip menggelitikku kembali, “Anatomi hubungan setengah abad bersama penyintas perubahan: berkenaan melewati berbagai fase kehidupan yang kompleks. Mulai dari masa lajang, meniti karier, pernikahan, membesarkan anak, hingga masa-masa sulit, di sana masih ada ‘sipakaccei’, walau kadang prinsip ini biasa kita lalai menjalaninya. Hari dan malam itu memberi penanda bahwa kita telah melalui jenjang pengalaman yang sarat, sampai pada yang sekarat.”

Hemm. Saat merasakan seolah puitis, saat menulis surat cinta pertama, bolos bersama teman sebangku, sampai satu geng, bertemu di kantin, baru lewat belakang melewati kawat berduri dan tembok yang cukup bisa kita raih untuk dipanjat. Sampai menemukan cinta sejatinya, atau masih terpendam cintanya dalam hati, putusnya dalam hati. Wets.

Kecubung masa, hingga kita mengarungi di tengah pecahan-pecahan perjalanan kita selama memulai kebersamaan, sampai pada titimasa kita mulai belajar merasa bahwa kebersamaan itu telah lama terbangun, tetapi menjadi potensi lempengan-lempengan yang tanpa kita selami, menemukan ruang kejujuran tanpa rasa sungkan: sebuah kelapangan jiwa, batiniah yang tercipta.

“Saling (sipakainga’), tanpa takut merusak hubungan” itu bisa saja retak jika tanpa saling melengkapi, menerima dengan kata lebih kuat, “kelapangan hati”.

Demikianlah adanya. Memori bersama yang mengakar. Kita adalah alumni yang intens menuangkan kehadiran bernama silaturahmi, namun perlu juga mengikat untuk kembali takzim terhadap pengendalian diri. Memahami satu dengan lainnya.

Adalah salah satu dari sedikit orang, kelompok, atau istilah alumni yang menyimpan arsip memori masa muda, lelucon lama, hingga rahasia-rahasia remaja kita yang masih culung, seperti telah terceritakan singkat di pertengahan paragraf narasi ini di atas.

Senja di Pantai Marina. Pepasir putih ketika malam dipayungi rembulan, tanpa mengingkari setiap jengkal di antara kita. Sebuah keharuan merasuk sukma, menyeduhkan rindu yang belum terjawab.

Kuteguk kopi sore di palung-palung waktu, setiap saat kurelung. Sebuah suara mendaras rasaku yang bercampur aduk. Sebentar lagi acara dimulai dan esok pagi kita kembali lagi ke rutinitas masing-masing, dan hanya sambil berbaring di kamar, bercakapnya tersisa via WhatsApp.

Rasanya kurasakan berada di simpang jebakan jalan rindu itu kembali. Aku telah kalah oleh kemerasaanku sendiri yang enggan untuk beranjak pada situasi yang entah kapan lagi kita bisa seru-seruan seperti ini. Aku sepertinya kalah! Tetiba lirih seorang karib merangkul, tiada hendak lepas, berujar mengutipkan sesuatu, “Dikau jangan lemah, nikmati suasananya, kelak akan ada titimasa berikutnya lagi.”

Bang karibku mengingatkan! Bukankah jiwa pemenang adalah pola pikir yang berfokus pada proses? Bukan semata di titik kata keberhasilan! Jeda sejenak. Ketangguhan mental, dan keteguhan untuk bertanggung jawab. Karibku melanjutkan sambil menebus sebatang kitab bakar bersama, membiarkan asapnya dimainkan angin malam Pantai Marina.

Celetiknya menyentilku kembali: karakter utama ini mengubah dirimu yang tidak larut dalam situasi. Ruang rindu itu tidak harus kau tunggu seabad, sewindu, atau seberapa jauh kau bisa membawa dirimu saat bersua yang jaraknya dia tempuh dengan perjalanan semalam, sampai merelakan aktivitas, waktu, dan keluarganya. Dia rela menunda demi memenuhi hajatan yang kau selalu hadir menjadi saksi.

Kau selalu merasa lemah saat pisah usai perjamuan, saat semua beranjak pulang di pagi hari, saat matahari condong mulai meraih punggungmu yang semalam suntuk telah menikmati, berbagi cerita, kisah, sampai rasa pengecutmu itu kau pertahankan pada seseorang? Tawa kami lepas. Menjadi pelajaran dan tetap optimistis, alih-alih menyalahkan keadaan.

Kamu dan mereka telah menjadi pemenang, penakluk rasa memiliki, dengan fokus pada solusi, walau kau masih dianggap berhalusinasi. Masalah atau tantangan telah kau mulai berani mengambil tindakan konkret pada usiamu yang tidak muda lagi, dengan perlahan merambat menuju titik rawan, justru terhadap sensitivitas, seperti puber pertama menjelajahimu.

Merajut benang dan menekuni kebersamaan di setiap ikatan selama ini dengan segala konsekuensi, merawat dan melatih jiwa, ketangguhan mental (resiliensi): tidak mudah resah gelisah demi merawat nilai-nilai yang telah terjalin sekian lama saat menghadapi situasi, melainkan melihatnya sebagai proses belajar, saling mengasah. Kita hanya saling “Sipakainga’” seiring seruput kopi pagi menjelang pulang.

Jelang pulang, mengingat hal yang kita tawakan bersama malam-malam biasa kita lewati dengan candaan. Sebagai pemecah suasana, saling mengingatkan bahwa usia 50 tahun adalah tonggak sejarah kehidupan yang sering disebut sebagai ulang tahun emas (Golden Anniversary). Secara biologis dan psikologis, ini adalah masa transisi paruh baya, di mana kematangan emosi, kestabilan finansial, dan pemahaman diri mencapai puncaknya.

Sebelum kuusaikan, cukup kurebahkan tubuh sejenak, sembari memetik dengan khidmat bagaimana hingga sampai pada titik perhelatan. Dari sebuah proses yang membuatku semakin menumbuhkan untuk merawatnya hingga pada usia yang menjawabnya. Tanpa kau lerai menahan lajunya, semua akan kita lewati.

Ini belum usai dan tidak akan cukup sebuah saga di telaga ikatan alumni. Telah memberiku peluang untuk mengingat, merawat, mengikat janji kepada semua teman, sahabat, karib yang selalu menghiasi hari-hari ini, dan paling memahat jiwa batin ini. Kita masih sering saling Sipakainga’.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *