Mengeja Literasi Karbala

Tidak semua darah berakhir menjadi noda. Ada darah yang berubah mewujud aksara. Sehingga, “airmata dari berbagai penjuru, taklah lelah mengalir, mencari darah selaku kembarannya.”

Berabad-abad lampau, di sebuah padang gersang, darah itu mengalir dari tubuh-tubuh yang kehausan. Ia meresap ke tanah Karbala, lalu hilang dari pandangan mata. Namun, sejarah nyana bekerja dengan cara ganjil. Apa yang tampak lenyap, justru kerap menemukan jalannya menuju keabadian.

Darah yang tertumpah pada 10 Muharam 61 Hijriah, tidak membeku sebagai peristiwa. Ia menjelma ingatan, lalu berubah menjadi hikayat,  terus merawi nurani manusia dari zaman ke zaman, seraya-menyeraya melintasi batas generasi.

Barangkali itulah sebabnya tragedi Karbala tidak pernah selesai dibaca.

Peristiwa tersebut telah berlalu lebih dari tiga belas abad, tetapi gaungnya tetap terdengar hingga hari ini. Ia hidup dalam doa-doa, syair-syair, majelis duka, bahkan dalam kesunyian seseorang yang tengah menimbang makna keberanian.

Setiap generasi datang menimba, lalu pulang membawa pemaknaannya masing-masing. Dari sumber yang sama, lahir pelbagai tafsir: kesedihan untuk sebagian jiwa, keteguhan bagi sebagian lainnya, serta pantulan pergulatan batin buat mereka yang menatapnya lebih dalam.

Amat lazim mengenang tragedi Karbala melalui air mata. Tidak ada yang keliru dengan itu. Air mata merupakan bahasa tertua, dimiliki manusia ketika berhadapan dengan kehilangan. Ia hadir jauh sebelum lahirnya pidato, kitab, maupun risalah. Akan tetapi, air mata sesungguhnya hanya gerbang. Ia bukan tujuan akhir. Kesedihan yang berhenti sebagai ratapan, lambat laun menguap menjadi kenangan, sedangkan kesedihan yang berjumpa dengan perenungan dapat menjelma kebijaksanaan.

Dus, Karbala tidak hanya mengharap untuk dikenang. Ia juga meminta buat dibaca. Dalam pengertian itulah saya memaknainya sebagai literasi. Bukan sekadar kecakapan mengenal huruf dan merangkai kalimat, melainkan kemampuan menyingkap makna di balik sebuah peristiwa. Sebab sejarah, sebagaimana sebuah buku, tidak cukup dipandangi sampulnya. Ia perlu dibaca, ditafakuri, lalu dipertautkan dengan kehidupan yang sedang dijalani.

Mungkin di situlah tradisi mengenang Karbala bersentuhan dengan tradisi literasi. Keduanya berangkat dari ikhtiar, agar sesuatu yang bernilai tidak tenggelam dalam lupa. Jika literasi menjaga pengetahuan melalui aksara, maka peringatan Karbala menjaga makna melalui ingatan.

Syair-syair dibacakan, kisah-kisah dituturkan, majelis-majelis digelar, sementara nurani bersemuka dengan duka yang tak kunjung surut. Doa-doa diwariskan bukan semata untuk merawat kesedihan, melainkan buat memastikan pesan dari padang itu tetap hidup. Dengan cara demikian, Karbala terus dibaca, bukan hanya oleh mata, tetapi juga lewat hati.

Di situlah Karbala menghadirkan dirinya sebagai literasi. Bukan literasi yang berhenti pada aksara, melainkan literasi yang mengajak manusia membaca martabat, keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan kepada nurani. Darah para syuhada menjadi aksaranya, sedangkan perjalanan sejarah menjadi halaman-halamannya.

Setiap zaman membacanya dengan cara berbeda, tetapi gema yang dipancarkannya tetap serupa. Pertanyaan lahir dari padang itu dan tak pernah kehilangan relevansinya: apa yang mesti dilakukan, ketika kebenaran berhadapan dengan kekuasaan? Mana yang harus dipilih, kala keselamatan diri menuntut seseorang berpaling dari suara hatinya sendiri?

Pertanyaan semacam itu tidak pernah usang. Ia selalu hadir dalam wajah baru. Kadang muncul dalam ruang politik, sering menjelma godaan jabatan, atau bersembunyi di balik perkara-perkara yang tampak sepele. Namun, hakikatnya tetap serupa. Manusia sedang diuji di hadapan pilihan antara kemaslahatan diri dan kesetiaan kepada nuraninya.

Dalam pengertian itulah, Karbala tidak pernah menjadi masa lampau. Ia terus hadir sebagai cermin yang memperlihatkan wajah manusia ketika berhadapan dengan pilihan yang menentukan martabatnya.

Imam Husein, cucu kinasih Rasulullah Muhammad Saw., tidak mewariskan istana. Ia tak meninggalkan singgasana megah. Ia juga tiada mewariskan kemenangan dalam pengertian yang lazim dipahami para penguasa. Namun, ia menutahkan sesuatu yang jauh lebih langgeng: teladan tentang cara menjaga martabat, saat dunia menawarkan berbagai jalan untuk melepaskannya.

Kisahnya tidak bertahan karena kekuasaan yang dimilikinya, melainkan karena keteguhan yang diperlihatkannya tatkala kekuasaan justru berdiri di hadapannya.

Karbala sesungguhnya tidak berkisah tentang kematian. Ia berkisah tentang sikap hidup.

Banyak orang mampu bertahan, ketika keadaan berpihak kepadanya. Namun, tidak semua sanggup tetap tegak, saat seluruh keadaan bergerak ke arah sebaliknya. Pada titik itulah integritas menemukan maknanya. Integritas bukan perkara mengucapkan yang benar saat aman dilakukan. Integritas memperlihatkan wujudnya, kala kebenaran menuntut ongkos yang mahal.

Dalam sejarah manusia, tidak sedikit memilih keselamatan dengan mengorbankan prinsip. Sebaliknya, hanya segelintir bersedia mempertahankan prinsip, meskipun harus kehilangan keselamatan.

Padang Karbala menjadi saksi bagi pilihan semacam itu. Ia merupakan hamparan tanah yang nisbi sunyi, tetapi dari kesunyiannya lahir gema melintasi abad. Di sana pedang memang berkilat, tubuh-tubuh memang rebah, dan darah memang mengalir. Namun, sejarah tidak berhenti pada kibasan pedang. Sejarah menyimpan apa-apa yang diperjuangkan mereka yang gugur. Pedang hanya menggores tubuh, sedangkan nilai-nilai perjuangan meninggalkan jejak lebih panjang pada kesadaran manusia.

Barangkali di titik itulah air mata menemukan kembarannya. Yang satu lahir dari luka. Lainnya lahir dari pengorbanan.

Di hadapan waktu, segala sesuatu akhirnya memperlihatkan wajah sejatinya. Kekuasaan boleh membangun tembok, mendirikan istana, atau menulis kisahnya sendiri. Walakin, waktu memiliki tabiat yang sulit ditaklukkan. Ia menampi segala yang semu, lalu membiarkan hakikat berdiri sendiri tanpa pegari kepalsuan. Ia mengelupas kemilau yang bertumpu pada rasa takut. Ia memperlihatkan betapa rapuh kemenangan yang berdiri di atas penindasan.

Sementara itu, nama Imam Husein tetap hidup. Ia berkelintangan dalam ingatan umat manusia, disebut di antara doa, dirindukan lewat syair, dan dikenang dalam berbagai bahasa. Apa yang dahulu tampak sebagai kekalahan, perlahan memperlihatkan wajah lain: kemenangan moral, terus memancarkan pengaruh hingga kiwari.

Mungkin karena itulah, air mata tidak pernah lelah mengalir menuju Karbala. Ia datang dari berbagai penjuru dunia, melintasi bangsa, bahasa, dan generasi. Seolah-olah air mata itu tengah menelusuri jejak yang tertinggal di padang tersebut. Dan yang dicarinya bukan semata darah para syuhada, melainkan makna yang tersimpan di dalam darah itu sendiri.

Sebab, darah dan air mata pada akhirnya menjadi dua aksara yang saling melengkapi. Yang satu menulis pengorbanan dan melahirkan kisah, yang lain membacanya agar peristiwa itu mengabadi dalam ingatan, setia pada peristiwa.

Dari perjumpaan keduanya, lahirlah kesadaran bahwa sejarah bukan sekadar kuburan masa silam. Ia adalah pelita yang menerangi perjalanan manusia. Maka, mengeja Karbala pada hakikatnya berarti mengeja diri sendiri.

Karena, tidak semua padang berada di Irak. Separuh tumbuh di relung dada manusia. Sebagian hadir dalam keputusan-keputusan, ketika nurani dan kepentingan saling bertatapan. Sebilangan lagi muncul saat seseorang harus memilih antara kenyamanan dan keyakinan. Ada pula yang merunjam perlahan ke dasar batin, menunggu keberanian untuk menentukan arah.

Ia tidak tinggal di masa silam. Ia berjalan bersama manusia. Dan mungkin, selama masih ada mereka yang menangis ketika menyaksikan ketidakadilan, selagi belum sirna yang memilih tegak meski sendirian, darah Karbala tidak akan pernah benar-benar kering. Ia akan tetap hidup sebagai aksara batin, dibaca berulang-ulang oleh sejarah. Darah menjadi huruf-hurufnya, air mata menjadi cara membacanya, sedangkan ingatan terus merunrun menjaga makna, agar tidak berselerak ditelan zaman.

Barangkali itulah literasi Karbala: secarik pelajaran tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan pengorbanan.

Di hadapan Karbala, sejarah dan puisi acap bersemuka. Yang satu mencatat peristiwa, yang lain memungut gema-gemanya. Dari perjumpaan itulah air mata dan darah terus menemukan suaranya.

Teringatlah saya pada puisi, pernah tertorehkan di waktu silam, sekaligus menjadi judul buku saya,  sehimpunan puisi, AirMataDarah.

airmataku airmatamu airmatakita
dan darah mereka
tertampung di danau kesedihan

taklah pernah cukup
membasahi padang itu

walakin sang padang
dengan lakon kibasan pedang
akan bersaksi kelak

airmata dari berbagai penjuru
taklah lelah mengalir
mencari darah selaku kembarannya

padang tangisan airmata
pedang cucuran darah
airmatadarah


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *