Sebuah Fenomena yang Orang Menyebutnya “Mabuk Agama”

Cakrawala yang begitu luas, bukan suatu yang esoterik, bukan rahasia terpendam. Kekhasan ray of light ilmu atas kehidupan sebagai kans siapa pun yang mengharap realitas. Suatu karakteristik hakikat keilmuan yang meruntuhkan fanatisme buta dan sempit, namun berlaku hanya bagi yang merangkulnya secara sungguh-sungguh dengan hati yang tulus.

Ilmu agama memiliki peran sedemikian fundamental, penerang suram kesesatan. Dalam ranah spiritual, kesakralannya bisa merasuk, menyugesti jiwa-jiwa, yang lalu secara berlebihan dibanggakan hingga cenderung merasa lebih superior dan lupa akan nilai-nilai esensial keagamaan.

Unsur prakondisi hal ini adalah “hidayah”. Cahaya hidayah tiada pernah meleset, begitupun inayah. Diseminasi hidayah totalitas kepada manusia tanpa tebang pilih, bukan suatu kebetulan atau tertentu, namun itulah objekivitas hidayah.

Pada hakikatnya, tidak ada privilege dan itu egaliter, semua digariskan mendapatkan tapi dengan kondisi eksplorasi, bukannya pasif. Selami sumber sahih hingga sanggup memeluknya dalam jiwa. Apa yang telah sampai sebaiknya jadi kereta kehidupan, ajak mereka kepada hakikat cahaya bukan justru berbalik meninggalkan. Lower the ego tatkala memeluknya karena ilmu bukan instrumental destruktif melainkan elemen akal budi.

Pepatah mengatakan, “Semakin tinggi pohon semakin kencang angin menerpa“. Sama sekali bukan sebuah intimidasi, tapi sebagai call to mind. Sebagaimana halnya ilmu memperkuat iman. Kapasitas iman yang ditempa sedemikian rupa, jangan jadi boomerang dan memalukan. Waspada atas buah nalar agitasi setan, sangat negatif dan memberi energi negatif.

Karena itu keutamaan self awereness cukup mendasar, menjadikan hamba tawaduk, tidak merasa paling identik dengan kiblatnya. Kendati tak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa distingsi. Visi dan tujuan kita sama, perbedaan jangan dijadikan persoalan. Itu sangatlah wajar, kita kaum yang beradab, beragama, haluan tidak berbeda.

Biarkan mereka bersama isme-nya, itu bukan suatu yang haram dan tidak membatalkan amal. Ilmu diciptakan bukan untuk memecah belah, maka ironi bila ada sentimental di antara persaudaraan apalagi tengah berada di rumah suci. “Apa yang kau tanam itu yang akan kau tuai“. Berjalanlah dengan tenang seperti air mengalir, pengadilan yang sebenarnya akan menunggu semua, maka bersiap itu lebih baik.

Bagaimana akses ilmu itu? Memahami secara mendalam teori adalah kunci dari kebenaran praxis, sedangkan kedangkalan yang diproyeksikan adalah bukti aksesibilitas tidak cukup memenuhi ambisi. Mewajibkan apa yang tidak mesti diwajibkan merupakan refleksi bahwa apa yang telah tertanam belum berakar sampai ke dalam.

Sangatlah riskan, boleh disebut subjectivist fallacy, ini lahir dari amaliah yang sebenarnya tanpa fondasi otentik namun diyakini kebenarannya. Lalu asumsi liar cendikiawan yang ogah walk the talk secara kritis niscaya mempertanyakan kapasitas keilmuan. Untuk itu harus kembali kepada jalan yang benar atau flash back, otokritik, kontemplasi, adalah pendekatan yang cocok untuk memugar isi kepala dan batin.

Termasuk point mendasar dalam konteks ini. Perbedaan itu keberagaman, adalah hal yang banyak dipertentangkan. Secara teknis, tidak ada yang benar atau salah, dengan kata lain semua di anggap sah. Kendati tidak dapat dipungkiri tata cara pengabdian memang berbeda-beda, namun berada di sumber yang satu. Semua sudah tertuliskan.

Pada dasarnya, Tuhan tidak pernah keliru memilih tempat menurunkan firman, itu rahasia-Nya, dan tentu ada alasan dibaliknya. Latar belakang geografis saya rasa bukan faktor penentunya, kemungkinan karena habit yang menyimpang.

Asal usul risalah membawa unsur kultural yang lalu terasimilasi akibat diseminasi. Bagi saya kultur tidak mungkin ada intervensi ke dalam properti ibadah. Standar estetik itu sangatlah nisbi. Menggunakan appeal to tradition lalu dilebih-lebihkan padahal tidak ada relevansi atau pengaruh atas pahala (reward) begitupun ketaqwaan. Sumber referensi yang dijadikan pegangan perlu validitas, interpretasi lebih dalam, dan melihat kausalitas,  jadi tidak ditelan mentah-mentah.

Apa yang nyata jelas sudah tertulis dan disempurnakan sampai kepada generasi penerus. Menjadi pengikut setia yang sebenarnya sangat memahami risalah-risalah saling mengklaim paling benar dan paling identik.

Klaim ahli namun tidak perfeksionis. Seruan-seruan, memukau kaum naif dan mendiskreditkan seolah lebih eksklusif yang juga punya benak dan kalbu. Pertanyaannya, mengapa hanya terhenti di situ, bukankah sistem nilai itu luas? Padahal banyak jalan menuju surga.

Merasa paling religius tidaklah mengapa asal jangan merasa paling luhur. Tuhan pasti punya perspektif sendiri. Terlena dengan kuantitas padahal tidak berkualitas. Ini bukan tentang siapa yang paling banyak amalnya, tapi siapa yang paling baik amalnya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *