Tanpa sengaja saya terlibat percakapan pada hari Sabtu pagi, bulan Juni 2026. Tepatnya di sebuah barbershop di Kota Makassar. Tak disangka, sang juru cukur memiliki pengetahuan dan pengalaman spiritual.
Ceritanya, barbershop tempat saya langganan sejak masa SMP tutup permanen. Kata tetangga mukimnya, beliau pulang ke kampung halaman di Surabaya usai Lebaran lalu. Sebagai alternatif, saya mencari barbershop lain yang tak jauh dari tempat langganan lama.
Kurang lebih 1 km ke arah selatan Kota Makassar, saya menemukan barbershop yang buka pada pagi hari. Tanpa ambil tempo, saya masuk dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. Sang juru cukur membalas salam dengan lembut dan mempersilakan masuk. Berhubung masih sepi, saya menjadi orang pertama yang dicukurnya pagi itu.
Setelah duduk sambil berhadapan persis di depan cermin, sekadar basa-basi saya menanyakan hal-hal receh mengenai aktivitas sang juru cukur. Dari percakapan receh dan random itu, pembicaraan menyasar ke topik filosofis hingga masuk lebih dalam ke ranah spiritualitas.
Kata dia, kehidupan ini tidak lain hanyalah keberserahan diri kepada Sang Khalik. Segala sesuatu yang terjadi maupun yang belum terjadi semuanya atas kehendak Ilahi.
Manusia cukup melakukan upaya dan usaha yang sesuai dengan kehendak-Nya. Untuk mengetahui kehendak Tuhan, manusia mesti melepaskan kemelekatan dari dalam dirinya. Salah satunya ialah meleburkan ego diri dengan melatih kesadaran.
Untuk melatih kesadaran, praktiknya dilakukan dengan berdiam dalam keheningan. Menurutnya, kebiasaan manusia merenung dalam kondisi hening pelan-pelan akan membawa pada kesadaran diri. Lebih detailnya, dalam setiap hembusan napas, dengan lembut kita akan menemukan diri yang sesungguhnya.
Laku tersebut sudah dilakukannya. Keberserahan diri kepada Sang Pencipta membuat dirinya semakin tenang menjalani keseharian. Namun demikian, bukan berarti kehidupannya tanpa gejolak atau drama. Akan tetapi, dengan keberserahan sepenuhnya kepada Tuhan, pelan-pelan sikapnya berubah dalam merespons keadaan di luar dirinya.
Keberserahan diri merupakan bagian dari etape perjalanan suluk manusia sebelum seorang salik mencapai tingkat keridaan. Pengalaman spiritual yang diceritakan oleh juru cukur pagi itu bukan berarti dirinya sudah berada di maqam berserah diri. Bisa saja ia baru sekadar menyifati laku keberserahan diri. Perihal itu, hanya dia dan Tuhan yang mengetahui.
Selain menemukan kesadaran diri dalam keheningan, dia juga mempraktikkan yang disebut dengan zikir hati. Menurutnya, kebiasaan itu dilakukan agar setiap perbuatannya senantiasa melibatkan campur tangan Tuhan. Merenung dalam keheningan dan mempraktikkan zikir napas adalah dua laku yang dia ceritakan pagi itu.
Ketika sang juru cukur bercerita, saya lebih banyak diam menyimak pengalaman spiritualnya. Hanya sekali saya bertanya, apa bedanya dengan teori stoikisme yang dicetuskan oleh Zeno. Menurutnya, praktik stoikisme hanya bersandar pada diri sendiri dalam mengontrol sesuatu yang datang dari luar diri. Namun, tetap ada hal yang bisa dikontrol oleh manusia. Bedanya dengan praktik berserah diri adalah menyerahkan sepenuhnya urusan manusia kepada pemilik yang sesungguhnya, yakni Tuhan.
Ibrah dari penggalan cerita yang dibeberkan sang juru cukur pagi itu setidaknya mengingatkan tentang eksistensi manusia yang diperjalankan oleh Tuhan. Hakikatnya, seorang pencinta dalam kehidupannya tak pernah menolak atau melawan takdirnya. Sebab, ia menyadari bahwa seluruh kesadarannya hanya setetes dari samudra kebijaksanaan-Nya.
Sang pencinta pun berhenti mengandalkan siasat dirinya. Ia tidak lagi sibuk mengatur jalan, sebab ia telah menemukan Sang Penunjuk Jalan. Di dalam perjalanan, para pencinta tidak lagi memerangi takdir, tetapi memeluk takdir. Mereka tak berpikir menuntut agar Tuhan memenuhi kehendaknya, tetapi membiarkan kehendak mereka larut ke dalam kehendak Tuhan.
Ketika dunia menghinakannya, para pencinta tersenyum sebab mereka melihat apa yang tak terlihat oleh mata lahir. Mereka meyakini tangan Tuhan bekerja di balik semua kejadian. Mereka melihat seluruh ujian, tantangan, ataupun jebakan yang dihadapinya hanyalah jalan yang mengantar kepada ketetapan-Nya.
Wallahu a’lam bissawab.

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply