Mengeja-Nya dalam “Kesadaran”

Tidak harus ke mana-mana, tidak di sana, di sini, dan di situ. Atau bahkan dianggap tempat suci, atau sakral sekalian, sembari “begadang” menanti seperdua malam. Sunyi! Merafal serta menghafal!

Paling tidak, sederhananya memahami setiap peristiwa, dalam istilah kendali firman dan kehendak-Nya, adalah sarana untuk mengenal karakter-Nya, mendengarkan suara-Nya, serta menempah segala bentuk ngigaunya manusia, menguatkan dan mengontrol secara dengan kelapangan, kematangan seorang manusia, dari setiap yang menjadikan itu misteri-Nya serta berbagai kejutan-kejutan-Nya.

Budaya mengeja itu mulai kusepakati, tidak ujuk-ujuk pengulik atau pembaca buku tertentu, justru tidak begitu konsisten yang aktif. Sebab ada dimensi rada malu, bahkan membuatku sangat takut untuk mengatakan sebagai pembaca seolah-olah totalitas. Masih telat serta masih terbata-bata hingga menghindari sekadar latah saja.

Secara tidak langsung praktik ini membangun litera yang tertera sebagai lentera jiwa, penunjuk jalan, menuntun pada pertumbuhan karakter dan kehidupan yang berkemenangan, serta manusia menemukan kematangan dirinya.

Tertempah, dengan menempuh tidak seperti pungguh merindukan bulan. Bagai menanti wangsit.

Desakan itu selalu hadir, meski tidak sedikit mengingkari definisi yang membawaku pada titik kewaspadaan, mencari sisi lain tentang persepsi, narasi Tuhan misalnya, yang selalu dibawa-bawa sebagai jimat bahkan kedok saja. Lantas kemudian dianggap telah mengingkari keimanan.

Ketika cara pandang dan perangkat logika itu ditindaki memaki, maka di sebuah percakapan membuatku merasa lebih nyaman berbincang. Diterjemahkan secara argumen, bukan sentimen. Tanpa membantaiku seperti di ruang percakapan lain, masih secara brutal begitu ekstrem dan sok alim.

Membawaku mengeja lagi, di satu pemahaman, pada tumpukan laman-laman tertentu, sekarang memberiku ruang interaksi tanpa harus kena sanksi sebagai gembala yang berhala.

Sebuah uraian memikatku: “Antara Cinta dan Benci”. Di satu sisi, konsep Tuhan mendorong orang untuk mencintai. Tuhan menjadi teladan sekaligus lambang untuk cinta sejati yang tanpa pamrih. Tuhan menjadi lambang kebaikan. Orang percaya Tuhan juga berarti siap untuk hidup dalam kebaikan setiap saatnya.

Di sisi lain, konsep itu juga mendorong orang untuk membenci. Perang dan penindasan dilakukan atas nama Tuhan. Diskriminasi dilakukan atas nama melaksanakan perintah Tuhan. Bahkan, pada politik, kelompok-kelompok yang bertameng agama, dengan atribut sejawat jagad, dihinggapi penuh syahwat, menjadi ranah tumpangan kekuasaan di setiap pencapaiannya, yang penuh kemunafikan dan kebusukan, juga menggunakan konsep Tuhan sebagai pembenaran.

Memang, tak akan pernah bisa sepenuhnya dipahami dengan akal manusia. Terlalu besar untuk ditangkap dengan konsep. Terlalu luas untuk dipenjara dalam kata. Upaya untuk memahaminya dengan pikiran akan berujung pada kebingungan. Lirih seorang ikut mengejaku.

Namun, Dia bisa dialami. Melalui laku spiritual yang tepat, juga katanya manusia bisa melebur. Asalkan ia berani melepaskan semua tradisi dan pikiran yang melekat pada dirinya. Benarkah itu? Selama orang terjebak pada tradisi dan pikiran, ia tak akan pernah mengalami suasana-Nya. Ini menurut beberapa pendapat saja. Kutempuh mencari bejana dan ejaan selanjutnya.

Walaupun begitu, ini semua tak menghalangi manusia, dari berbagai latar belakang keyakinan, agama, budaya, suku, miskin, kaya, jelek, pintar, bodoh, cerdas atau culas, sarjana bukan sarjana, ustaz, kiai, habib, penipu, pendosa malah, untuk berupaya mendekati-Nya. Wow. Cukup menghujamku, meretas seremoni ritual, di tengah peran-peran kehambaan menjadi pemeran dan pameran.

“Bagai di antara Atmawana satu jiwa merana ingin mendekap, meratap, mengibah dalam kehinaannya sebagai manusia yang hendak menertibkan jiwa, pikirannya.”

Memulai dengan huruf-huruf doa belepotan dan berlumpur. Desakan dalil kembali menukil, mencungkil, menerjangku, di antara pemahaman manusia yang berpikir “dekil”. Seseorang memperagakan mengeja dengan pukul dada, yang bunyi malah katanya “aku, aku, aku”. Wow. Ini pamer juga, terlalu sentimentil. Tergoda ingin merasa paling tahu dan deks. Wets.

Selanjutnya kusadur diksi seperti ini: “Mengira, mengandaikan, dan mendekap Tuhan harus suci dulu. Harus wangi, harus bersih, dan harus layak. Ternyata Dia memeluk pas hamba paling bau dosa. Karena yang kotor itu ‘aku’, bukan Dia.”

Pernyataan ini membuatku terseret menemukan diri ini begitu penuh lumut, semakin penasaran butuh penerjemah yang sabar serta arif, pada teks-teks yang kadang membuat kita kelang-kabut mengubah cara pandang, merasa penafsir, tetapi terkandang pada sebuah perumpamaan.

Masih tetap mengeja. Meski gagap. Meski masih sering salah. Walau pula kadang tidak tahu lanjutannya. Tapi tetap meyakini, ini cara proses “kesadaran”. Sekian lama disugesti serta ditakut-takuti, di antara pikiran yang saat ini masih dicemari hal-hal kadang hendak membantah. Kita telah dikandang sejak usia kita belia sampai saat ini, jika berani maka kita akan tertendang.

Sebuah letupan memantikku kembali: “Tidak harus minta dipindah ke istana. Cukup Kau duduk di akar tumbang bersamaku.” Kueja dalam-dalam.

Suara itu lirih merafalkan mantra. Sebuah perangkat untuk setidaknya membawa ke sebuah argumentasi. Bukan sekadar direcokinya pemikiran ini dengan ilusi tentang sesuatu yang menjadi sengketa kepercayaan sesama penganut itu sendiri.

Sekisah anak malang, di tengah praharanya mengadu pada Tuhan. Tetiba dia diam menadahkan, lalu menyerah untuk kelak dia tersadar bahwa dunia bagian dari permainan, bereaksi, berpikir dan mencari, serta pandai-pandailah berakting.

Tetapi kenapa masih banyak ritual doa yang berharap segera diijabah?

Setimbang lumut kehidupan yang membuatnya mulai putus asa. Dia lari dari kenyataan. Menganggap takdir-Nya. Padahal dia sendiri membuat kegaduhan.

Melihat bahwa doa bukan transaksi. Mengira mengucap “Ya Allah” 1000 kali, Dia wajib jawab “iya”. Ternyata Dia jawab “iya, tidak, atau tunggu”, sesuai kurikulum yang Dia rilis buat penghuni dunia.

Egoku seperti menjebak, mengira Tuhan telat. Padahal saya kadang menggerutu, kesusu, seperti minta buah lezat, manis, dan matang, sampai suatu waktu memaksa-Nya kadang-kadang. Bagaimana bisa dapat buah, sementara tidak pernah menanam, berharap menunggu pohonnya tumbuh?

Pernah suatu waktu menyalahkan Dia karena saat berdoa belum juga direalisasikan. Padahal manusia sendiri belum siap terima jawaban.

Yah. Begitulah adanya, lumut tumbuh di batu yang diam. Sebagian di antara kita diam dan termangu, masih mempercayai tabu, tidak hendak intens, belajar mengeja-Nya dulu. Tidak perlu terlampau berharap wangsit, tetapi kita belum dan masih merasa sulit mengeja diri sendiri.

Hendak lebih beriman serta, kadang ketakwaan yang katanya cara mulus, murni nan suci, namun jejak itu hadir berkenaan ejekan dunia begitu beruntun. Lalu protes! Kenapa hidup kita tidak jalan serta seakan Tuhan enggan menggerakkan?

Karib Mubarak kembali menepuk pundak yang dekil ini: “Yakin itu bukan soal pasti dikabulkan. Atau yakin itu: Dia tidak akan salah pilih.” Jangan menyeru melintas keluar, ada hal kadang manusia lupa bahwa ada yang lebih dekat pada diri. Sementara kau terlalu berambisi masih mengejar-ngejar jawaban.

Reruntuhan egoku jadi sajadah baru.

Di atas puing-puing dengan reaksi beragam dari mereka yang berperan baik, penuh ibadat, suci, dan taat. Sebuah tanya merayap menyusup! “Apakah harus sujud paling merasa khusyuk? Seolah tenang, padahal masih tegang bin gamang soal dunia. Bukankah istilah meragukan hari esok bertanda sama mengkhianati Tuhannya?”

Kembali “mengeja bukan hanya di permukaan saja”. Cara mengulik tidak harus tampil spiritualis atau seolah pencari Tuhan. Lalu merilis seperti para sufi yang hendak melebur walau tidak semudah sebagaimana menjalani, menyemai, dan hendak menyamai.

Di sudut lain, manusia saat mengalami fase kocak dan kacaunya cara berpikir, saat para pencacah, pemeran surga, walau aktingnya buruk, ingin tampil merasa paling sah sebagai hamba.

Detak nadi merangsang ke saraf-sarafku. Mengubah arah menuju “sadar”. Seperti misalnya kata seorang fisikawan, Paul Davies, mendapatkan peristiwa kesadarannya dengan “melihat alam semesta sebagai bukti adanya suatu rancangan yang rasional”. Tentunya tidak sekadar meyakininya begitu saja.

Butuh ruang, waktu mengeja secara saksama! Tidak harus secara brutal asal tempel sebagai kebenaran mutlak, cukup menjadi referensi tentunya.

Jumpalitan, dan semakin membuatku lingu (bingung) juga, di antara lipatan kitab-kitab, seabrek pertengkaran pikiran, yang kemudian dianggap menyimpang.

Di tengah Atmawana saya diceburkan membaca kisah para sufi yang lagi dan hanya asyik dengan dirinya sendiri memilih istilah sunyi, padahal di luar sana masih banyak yang terlantar di luar radar, manusia-manusia yang dijanjikan amaliah, ibadah, berharap ditempatkan kelak dalam keabadian.

Beberapa kisah didaur ulang, selanjutnya diselipkan, ada pula disengaja disobek. Memilih diksi sesuai kepentingan, mengatasnamakan Dia untuk merasa paling mengenal. Lalu jika tidak sesuai keyakinan mereka, kita dipecat jadi makhluk/hamba Tuhan. Tentunya ada pilihan bukan semata menebas, dengan cadas menerabas begitu saja. Dengan tidak jua harus mematuk-matik ayat, yang juga kadang sering terpeleset.

Tentunya dengan membaca, menganalisis, menguji, kalau perlu sederhana saja dulu dengan “mengeja” setiap nomena dan fenomena kata sematan Dia (“Tuhan”) yang tidak harus menjadikannya, mengira-Nya sesuatu berbentuk, memberinya ruang berupa makhluk.

Sebuah celetukan merambat mengeja-Nya: “Sungguh terlalu! Bagi hamba seolah beribadah ini, menganggap Dia cuma mesin ATM doa. Kita menyembah keinginan kita, bukan Dia. Dia itu Guru. Selalu kasih contekan (contoh, perumpamaan). Kadang kasih soal, biar muridnya naik kelas.”


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *