Dulu Budiman Sudjatmiko adalah kabar buruk bagi penguasa. Namanya disebut dengan nada waspada di kantor-kantor pemerintah. Ia hadir seperti bunyi kentongan tengah malam, mengganggu tidur mereka yang sedang nyaman menikmati kekuasaan.
Kini zaman berubah. Kentongan itu rupanya sudah masuk ke rumah kepala desa. Sejarah memang punya selera humor yang aneh. Orang yang dahulu ditangkap karena melawan negara, kini berdiri menjelaskan mengapa negara harus dimaklumi. Orang yang dahulu meneriakkan kritik kepada penguasa, kini terlihat sibuk mengoreksi cara rakyat mengkritik penguasa. Mungkin inilah yang disebut pembangunan karakter nasional: dari demonstran menjadi moderator ketertiban.
Video perdebatan Budiman dengan seorang mahasiswa di Semarang bukan sekadar video. Ia seperti trailer pendek tentang perjalanan panjang banyak aktivis Indonesia. Dahulu mereka berteriak karena suara rakyat tidak didengar. Kini mereka marah karena rakyat berteriak terlalu keras.
Ada semacam kutukan yang diam-diam hidup di sekitar istana. Bukan kutukan yang mengubah manusia menjadi batu. Bukan pula kutukan yang membuat orang hilang ingatan. Kutukan itu jauh lebih halus: membuat seseorang perlahan lupa mengapa dulu ia berjuang.
Awalnya hanya sedikit lama-lama jadi terbiasa. Mulai terbiasa dengan mobil dinas. Mulai nyaman dengan ruang rapat berpendingin udara. Mulai akrab dengan protokol. Mulai menganggap kritik sebagai gangguan produktivitas.
Lalu suatu hari, tanpa sadar, seseorang yang dahulu berdiri di depan barikade rakyat telah berubah menjadi bagian dari pagar yang membatasi rakyat. Ionisnya, perubahan itu hampir selalu dibungkus dengan kalimat yang terdengar bijaksana.
“Dulu saya belum memahami kompleksitas negara.”
“Dulu saya masih idealis.”
“Dulu saya melihat semuanya terlalu sederhana.”
Kalimat-kalimat itu terdengar masuk akal. Sampai akhirnya muncul pertanyaan yang lebih sederhana: jika semua aktivis yang masuk kekuasaan akhirnya berpikir seperti penguasa, lalu siapa yang tersisa untuk berpikir seperti rakyat?
Barangkali memang benar mengelola negara lebih sulit daripada berorasi di jalanan. Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa banyak kerusakan justru dimulai ketika orang-orang yang dahulu berani berkata “tidak” mulai terlalu sering berkata “ya.”
Kekuasaan memang tidak selalu membeli manusia. Kadang ia hanya menyewanya perlahan-lahan. Bayarnya bukan dengan uang.
Bayarnya dengan akses. Dengan kedekatan. Dengan rasa penting. Dengan perasaan bahwa dirinya kini berada di pusat sejarah. Dan seperti cicilan yang tidak terasa, idealisme pun terpotong sedikit demi sedikit setiap bulan. Yang paling sedih sebenarnya bukan ketika seorang aktivis menjadi pejabat. Itu hal biasa dalam demokrasi. Yang menyedihkan adalah ketika seorang mantan aktivis mulai menggunakan logika yang dahulu ia lawan.
Ketika mahasiswa dianggap mengganggu. Ketika kritik dianggap tidak sopan. Ketika ketertiban lebih penting daripada keberanian. Ketika citra pemerintah lebih penting daripada kegelisahan rakyat. Pada titik itu, rakyat tidak kehilangan seorang pejabat. Rakyat kehilangan seorang penjaga harapan. Karena rakyat tidak pernah berharap para aktivis tetap miskin. Rakyat tidak pernah berharap para aktivis selamanya berada di jalanan. Yang diharapkan hanyalah satu hal sederhana: jangan berubah menjadi orang yang dahulu dikritik.
Namun sejarah politik Indonesia seperti pasar malam yang terus berputar. Hari ini seorang aktivis mengecam istana. Besok ia duduk di dalamnya. Hari ini ia memimpin teriakan. Besok ia meminta suara dikecilkan. Dan roda itu terus berputar. Mungkin karena kursi kekuasaan memang memiliki busa yang sangat empuk. Terlalu empuk hingga mampu meredam suara hati yang dahulu paling lantang.
Pada akhirnya, persoalannya bukan Budiman. Nama bisa berganti. Wajah bisa berganti. Partai bisa berganti. Presiden bisa berganti. Tetapi godaan yang sama selalu datang kepada setiap orang yang melangkah masuk ke lorong kekuasaan.
Sebab musuh terbesar seorang aktivis ternyata bukan gas air mata, bukan penjara, bukan rezim yang otoriter. Musuh terbesar itu sering kali berupa sebuah ruangan berkarpet merah, kursi yang nyaman, akses tanpa batas, dan bisikan yang sangat lembut, “Sekarang kau sudah di dalam. Tak perlu lagi berteriak.” Dan sering kali, justru pada saat itulah perjuangan benar-benar mulai kalah.
Saya menulis ini bukan sebagai musuh Budiman Sudjatmiko. Saya menulis ini sebagai orang yang berasal dari generasi yang sama; generasi yang pernah percaya bahwa demokrasi harus diperjuangkan dengan risiko yang tidak kecil. Kami pernah berdiri di jalan yang sama, meneriakkan cita-cita yang sama, dan bermimpi tentang Indonesia yang lebih baik.
Karena itu kritik ini bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kegelisahan. Kegelisahan ketika melihat semakin banyak aktivis yang dahulu menjadi alarm bagi kekuasaan, perlahan berubah menjadi peredam suara rakyat.
Kegelisahan ketika kursi-kursi kekuasaan tampak lebih berhasil mengubah para aktivis daripada para aktivis mengubah kekuasaan itu sendiri.
Reformasi 1998 tidak pernah diperjuangkan agar para aktivis sekadar berganti tempat duduk. Reformasi diperjuangkan agar watak kekuasaan berubah. Jika yang berubah hanya orang-orangnya sementara cara berpikirnya tetap sama, maka yang berpindah hanyalah penghuni istana, bukan nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan.
Sejarah akan selalu menghormati mereka yang berani melawan ketika berada di luar pagar kekuasaan. Tetapi sejarah memberi penghormatan yang lebih tinggi kepada mereka yang tetap mampu menjaga idealisme ketika berada di dalamnya.

Aktivis masyarakat sipil, penulis, dan Ketua Yayasan KOPEL Indonesia yang selama lebih dari dua dekade menggeluti isu transparansi anggaran, penguatan parlemen daerah, pelayanan publik, dan partisipasi warga dalam proses pengambilan kebijakan. Lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, ia merupakan alumnus Universitas Negeri Makassar dan aktif dalam gerakan mahasiswa serta organisasi kemasyarakatan sejak masa reformasi.
Melalui KOPEL Indonesia, Herman terlibat dalam berbagai program reformasi tata kelola pemerintahan yang didukung lembaga pembangunan internasional seperti USAID, Uni Eropa, DFAT Australia, UNICEF, Ford Foundation, The Asia Foundation, Cowater International, dan CIDA Canada. Selain aktif sebagai fasilitator dan konsultan, ia juga produktif menulis buku, kajian, dan artikel opini yang banyak mengangkat tema-tema demokratisasi, kebijakan dan tata kelola pemerintahan serta masalah-masalah sosial.


Leave a Reply