Menjadi Jelata

“Kiwari, era serba citra meta, lebih mudah jadi raja, tinimbang jadi rakyat jelata.” (Tajali Daeng Litere, 23092024)

Bagai anak panah lepas dari busurnya, pendar minda Daeng Litere itu terdengar ringan, bahkan mengandung nada jenaka. Namun, di balik kelugasannya, tersimpan pembacaan tajam tentang tabiat zaman.

Ia tidak sedang berbicara mengenai kerajaan dalam pengertian harfiah, tiada pula tentang mahkota, istana, atau wilayah kekuasaan. Raja dan rakyat jelata tampil sebagai metafora, guna membaca perubahan cara manusia memandang dirinya sendiri.

Kata kiwari menjadi penanda penting. Ujar tersebut tidak menoleh ke masa lampau, melainkan menyigi keadaan mutakhir. Kehidupan bergerak menuju ruang yang kian dipenuhi representasi. Orang tidak sekadar menjalani pengalaman, tetapi juga menghadirkannya ke hadapan khalayak.

Hari-hari tidak lagi hanya dialami, melainkan turut dipertontonkan. Pada suasana semacam itu, batas antara kehidupan dan penampilannya perlahan merenggang.

Pada masa silam, kedudukan tinggi diperoleh melalui garis keturunan, kemenangan peperangan, atau kuasa yang nyata. Kini, jalannya jauh lebih terbuka. Seseorang dapat memperoleh pengaruh minus pasukan, membangun kemasyhuran nirwilayah, dan mengumpulkan pengikut tanpa harus memerintah. Sorotan menjadi modal baru. Siapa yang mampu menarik perhatian, berpeluang memperoleh tempat istimewa di tengah keramaian.

Keadaan demikian melahirkan gejala yang menarik. Banyak orang ingin didengar, tetapi tidak banyak yang bersedia mendengar. Bejibun orang mau tampil di muka panggung, sementara sedikit yang rela menjadi latar. Pengakuan menjelma komoditas baru; dicari, dipertukarkan, bahkan diperebutkan. Kesederhanaan perlahan kehilangan daya tariknya, karena dianggap kurang menjanjikan gema.

Padahal, sebagian besar kehidupan berlangsung justru jauh dari sorak-sorai. Seorang petani menugal benih, nelayan menantang gelombang, guru merawi pengetahuan kepada murid-muridnya, atau ibu yang saban hari menyiapkan kehidupan bagi keluarganya. Tak ada tepuk tangan menyambut pekerjaan-pekerjaan itu. Namun, dari tangan-tangan semacam itulah dunia tetap bergerak.

Ironinya, kehayatan modern lebih mudah terpikat pada penampakan, ketimbang penopang. Wajah yang sering muncul, lebih cepat dikenali daripada mereka yang bekerja diam-diam. Akibatnya, ukuran keberhasilan perlahan bergeser. Makna hidup tidak lagi selalu ditimbang dari manfaat yang dihadirkan, melainkan dari seberapa luas jangkauan pengenalannya.

Perlahan tumbuh keyakinan, seolah keberadaan memerlukan pembuktian terus-menerus. Suatu yang nirnyata dianggap tidak terjadi. Apa yang luput perhatian dinilai kurang bernas. Dari lapik semacam itu, banyak orang mulai sibuk membangun panggungnya masing-masing. Bukan untuk menipu, melainkan karena merasa harus hadir di tengah arus yang bergerak demikian cepat.

Sesarinya, persoalan bukan terletak pada keinginan dikenali. Manusia memang makhluk sosial, memerlukan pengakuan. Yang menjadi soal,  kala penampilan perlahan menggantikan kenyataan. Orang lebih sibuk mengelola kesan daripada memperdalam diri. Waktu makin banyak dicurahkan, buat membangun bayang-bayang, tinimbang merawat isi kehidupan itu sendiri.

Tatkala keadaan demikian menguat, muncul kecenderungan baru. Kehidupan berubah menjadi semacam proyek pencitraan tanpa akhir. Setiap langkah dipertimbangkan berdasarkan kemungkinan memperoleh sambutan. Sesuatu keputusan diperhitungkan menurut potensi mendatangkan pujian. Bahkan, kebahagiaan pun acap memerlukan saksi, sebelum benar-benar dirasakan.

Daeng Litere menyebutnya sebagai era citra meta. Pilihan istilah ini menarik. Meta menghadirkan kesan tentang lapisan yang terus bertambah. Bukan hanya kesan mengenai diri, tetapi mengenai citra yang ingin dibangun. Akibatnya, seseorang dapat semakin jauh dari dirinya sendiri, sebab terlalu sibuk merawat gambaran tentang dirinya.

Fenomena tersebut membuat banyak orang tampak agung, meski belum tentu bertumbuh. Tampak berhasil, walau belum tentu bahagia. Kelihatan berpengaruh, waima tak pasti bijaksana. Kemasan memperoleh ruang semakin luas, sedangkan kedalaman sering kali tersisih ke pinggir.

Pada simpul tertentu, keadaan itu menghadirkan paradoks. Semakin banyak orang ingin menempati tempat tertinggi, makin sedikit bersedia menjalani kehidupan biasa. Padahal, keberanian menjadi biasa bukan perkara remeh. Ia memerlukan kelapangan menerima diri, tanpa terus-menerus membandingkan. Ia memerlukan ketenangan, untuk tetap melangkah, tak harus selalu memperoleh sorotan.

Dalam banyak tradisi kebijaksanaan, kerendahan hati justru dipandang sebagai bentuk kematangan. Bukan karena manusia diminta merendahkan dirinya, melainkan karena kesadaran akan batas merupakan salah satu jalan menuju kejernihan. Mereka yang memahami nisbi dirinya, biasanya lebih sukar terperangkap oleh mabuk pujian.

Sebaliknya, sanjungan yang datang bertubi-tubi, dapat menjelma jebakan halus. Mula-mula terasa menyenangkan, lalu perlahan berubah menjadi kebutuhan. Seseorang mulai bergantung pada tepuk tangan. Ia merasa harus terus mempertahankan citra yang telah dibangun. Akhirnya, ia bukan lagi mengendalikan panggung, melainkan dikendalikan olehnya.

Sejarah manusia sebenarnya tidak kekurangan contoh. Banyak tokoh pernah menjulang demikian tinggi, lalu runtuh bukan karena kehilangan kemampuan, melainkan karena terlalu mempercayai gema yang mengelilinginya. Ketika cermin diganti oleh pujian, kekeliruan menjadi sukar dikenali. Saat kritik dianggap ancaman, kejernihan perlahan meranggas.

Barangkali sebab itulah rakyat jelata memperoleh tempat penting dalam aforisme Daeng Litere. Ia bukan lambang kemiskinan, melainkan simbol kerendahan hati. Sosok yang tidak sibuk memanggul mahkota, biasanya lebih leluasa melihat kenyataan. Ia tidak dibebani keharusan menjaga kemegahan. Ia dapat menerima hidup sebagai adanya, tanpa terus-menerus memoles penampilan.

Ada kemerdekaan tertentu pada laku semacam itu. Langkah menjadi lebih ringan, sebab tidak dibebani tuntutan, agar selalu mengesankan. Perjumpaan menjadi lebih jujur, karena tidak seluruhnya diatur oleh kebutuhan tampil. Kegagalan dapat diterima sebagai pelajaran, bukan ancaman bagi citra diri.

Dus, aforisme Daeng Litere tersebut, tidak sedang mempersoalkan kedudukan tinggi ataupun memuliakan ketersembunyian. Ia sekadar mengingatkan tentang kecenderungan zaman, yang gemar mengubah manusia menjadi pertunjukan. Tatkala sorotan dijadikan ukuran utama, banyak orang tergoda membangun singgasananya sendiri, walau hanya berdiri di atas bayang-bayang.

Ala kulli hal, menjadi raja mungkin semakin mudah pada era serba citra meta. Namun, tetap menjadi manusia yang jernih, menyadari batas dirinya, serta tidak kehilangan pijakan pada kenyataan, agaknya jauh lebih sukar. Dan, justru karena kesukarannya itulah, laku tersebut kian berharga.


Comments

One response to “Menjadi Jelata”

  1. Rumah Baca Ambo Nai Avatar
    Rumah Baca Ambo Nai

    Dlm konteks Agama Islam..!!! Scenario sang pemilik semesta mmng tlh trmaktub dlm Al-Qur’anul Karim yg sejatinya kaum yahudi & nasrani tdk akan prnh senang hingga kalian mengikuti agamanya…
    Tipu daya yg telah menjelma sehalus kain sutra yg disebut Meta membuat penggunanya merasa nyaman memakainya Krn sentuhan kain meta nan lembut & menyenangkan, tak sedikit yg telah terjebak dlm panggung sandiwara meta, rela kehilangan harga diri, urat malu disimpan di rumah lalu keluar demi dapat saweran dari bos meta. Knpa yg aneh” bgitu mudahnya viral… Oleh krn mndpt rekomendasi dri meta & sbg bentuk apresiasi meta atas target yg tlh tercapai. Paling tidak target-target kaum laknatullah trhadap kaum muslimim yakni brhasilnya keluar dri koridor nilai-nilai keislaman..!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *