Buku dan Gerakan: Refleksi 33 Tahun Paradigma Ilmu

Pangkal lorong yang tidak jauh dari kampus STIP Al-Ghazali, kini Universitas Islam Makassar (UIM), pernah menjadi sahabat pertama sebuah toko buku yang kini telah memasuki usia sangat matang: 33 tahun. Selama lebih dari tiga dekade itu, ia dikenal dengan nama Paradigma Ilmu. Baru pada momentum ulang tahunnya yang ke-33, nama itu bertransformasi menjadi Paradigma 1993, sebuah penanda yang mengingatkan publik pada tahun kelahirannya sekaligus perjalanan panjang yang telah ditempuh.

Tidak ada yang istimewa dari angka 33, jika dilihat dari tradisi perayaan usia Lembaga, kecuali jika hendak didempetkan dengan berbagai angka istimewa pada lokus-lokus tradisi. Orang biasanya menunggu usia perak atau usia emas untuk menandai capaian penting. Namun, bagi Paradigma Ilmu, usia 33 tahun tampaknya bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah penegasan tentang konsistensi sebuah cita-cita yang berhasil bertahan melewati berbagai perubahan zaman.

Paradigma Ilmu tidak pernah benar-benar menjadi sekadar toko buku. Bahkan ketika kini mengusung tagline baru, Hobi, Idealisme, dan Bisnis, publik dapat melihat bahwa ketiga unsur tersebut bukanlah sekadar slogan pemasaran. Hobi menjelaskan kecintaan terhadap dunia buku. Bisnis menjadi syarat agar usaha dapat bertahan hidup. Namun idealisme adalah nyala api yang selama ini memberi arah bagi seluruh perjalanannya.

Dimensi idealisme itu sesungguhnya sudah tecermin sejak awal melalui nama yang dipilih: Paradigma Ilmu. Nama tersebut lahir pada tahun 1993 dari tangan seorang aktivis HMI yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum HMI Cabang Ujungpandang. Bagi mereka yang pernah bergelut dalam tradisi intelektual HMI pada masa itu, istilah paradigma ilmu segera mengingatkan pada salah satu tema besar dalam perkaderan, yakni epistemologi ilmu.

Dalam khazanah pemikiran HMI, wawasan ilmu bukan sekadar pembahasan akademik. Ia merupakan turunan langsung dari cara pandang tauhid yang menempatkan pencarian ilmu sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan. Dari sanalah lahir keyakinan bahwa pengetahuan harus menjadi landasan transformasi sosial. Ilmu bukan hanya untuk diketahui, melainkan juga untuk menggerakkan perubahan.

Karena itu, Paradigma Ilmu tampaknya bukan nama yang dipilih secara kebetulan. Ia mengandung pesan bahwa buku bukan semata komoditas dagang, melainkan instrumen pencerahan. Sebuah medium yang menghubungkan kesadaran intelektual dengan tanggung jawab sosial.

Saya memiliki kenangan pribadi dengan tempat ini. Pada rentang 1993 hingga 1994, saya cukup sering singgah untuk membaca buku. Saya memang membeli buku, tetapi kemampuan ekonomi mahasiswa saat itu sangat terbatas. Buku yang mampu saya beli biasanya berkisar antara tiga hingga tujuh ribu rupiah. Buku-buku yang harganya belasan ribu rupiah hanya bisa saya baca di tempat.

Barangkali pemilik toko mengetahui kebiasaan itu. Namun tidak pernah ada teguran. Saya dibiarkan menikmati buku-buku yang belum sanggup saya miliki. Pengalaman sederhana itu menumbuhkan keyakinan bahwa Paradigma Ilmu hadir bukan semata-mata untuk mencari keuntungan. Ada semangat pencerahan yang sengaja dipelihara di dalamnya. Bahkan pada masa ketika toko buku ini telah berpindah ke Jalan Sultan Alauddin II/Jalan Pabbentengan no. 6, ia pernah mengusung slogan “Pencerahan Intelektual dan Spiritual”, sebuah penegasan mengenai orientasi gerakan yang diembannya. Ia tampil  semenjak awal menjadi homebase para pemikir, akademisi, dan kaum muda yang tengah menempa diri dan menempuh satu etape perjalanan intelektualnya.

Dalam perjalanan waktu, pilar hobi dan bisnis tetap berjalan. Akan tetapi, idealisme tampaknya menjadi energi utama yang terus menghidupi keduanya. Dari sinilah Paradigma Ilmu berkembang melampaui fungsi sebuah toko buku dan menjelma menjadi sebuah gerakan.

Apa yang kini dikenal sebagai gerakan literasi di sejumlah daerah, khususnya di Bantaeng, Sulawesi Selatan, memiliki hubungan yang tidak kecil dengan tungku intelektual yang dibangun oleh Paradigma Ilmu. Berbagai ikhtiar lahir sebagai konsekuensi dari bergeraknya kesadaran para aktivis yang berada di sekitarnya.

Salah satunya adalah pendirian Pusat Studi Paradigma Ilmu (PSPI). Melalui forum ini, para penulis muda disemai lewat diskusi rutin, pelatihan, dan bimbingan menulis. Mereka tidak hanya diajak membaca, tetapi juga didorong menghasilkan karya. Tulisan-tulisan mereka diterbitkan dan diperkenalkan kepada publik. Seiring waktu, banyak di antara mereka yang berkembang menjadi penulis di media lokal dan nasional. Sebagian lainnya menempuh jalur akademik dan menghasilkan berbagai publikasi ilmiah berbasis riset.

Paradigma Ilmu juga pernah melahirkan YP3M Paradigma. Pada masa ketika teknologi digital belum menjadi bagian dari keseharian masyarakat, yayasan ini mendorong para aktivis muda untuk akrab dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari pelatihan hingga forum-forum yang sering kali tampak sebagai bazar buku, padahal sesungguhnya merupakan ruang diskusi dan kajian intelektual.

Semangat serupa kemudian menginspirasi lahirnya berbagai ruang literasi lainnya. Sekitar dua dekade lalu, misalnya, Toko Buku Papirus di kawasan Pintu Dua Universitas Hasanuddin didirikan dengan ruh yang kurang lebih sama. Meskipun akhirnya berhenti beroperasi karena pertimbangan bisnis, tempat itu pernah menjadi salah satu pusat pembinaan intelektual muda yang kritis.

Kini, setelah lebih dari tiga puluh tahun berlalu, spirit Paradigma Ilmu masih terus bergerak. Jejaknya dapat ditemukan dalam berbagai pelatihan, forum diskusi, dan aktivitas pengembangan kapasitas yang tumbuh di organisasi-organisasi kedaerahan, terutama di Bantaeng. Para aktivis yang pernah ditempa di lingkungan ini menyebar ke berbagai ruang pengabdian, membawa semangat literasi, berpikir kritis, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.

Idealisme yang dahulu tumbuh dari sebuah toko buku sederhana telah berkembang jauh melampaui ruang fisiknya. Ia menyebar melalui manusia-manusia yang pernah disentuhnya, berkembang secara eksponensial, dan menjelma menjadi energi bagi gerakan literasi yang terus hidup hingga hari ini.

Karena itu, usia 33 tahun yang kini ditandai dengan nama baru Paradigma 1993 sesungguhnya bukan sekadar perayaan umur sebuah toko buku. Ia adalah perayaan atas daya tahan sebuah gagasan. Sebuah pengingat bahwa buku dapat melahirkan gerakan, bahwa ruang kecil dapat menumbuhkan perubahan besar, dan bahwa idealisme yang dirawat dengan sabar akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup.

Saya percaya, sebagaimana makna yang dahulu dikandung oleh nama Paradigma Ilmu, selalu ada rencana besar yang sedang disemai di balik setiap buku, setiap diskusi, dan setiap generasi yang tumbuh dari ruang sederhana itu. Wallahu a’lam.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *