Islamisasi Stoikisme

Menjalani kehidupan sejatinya bukan perkara mudah, banyak tantangan bagi manusia di tengah dinamika kehidupan yang demikian kompleks. Melewati berbagai macam lika-likunya, memiliki hati yang bijak serta jiwa yang tenang, akan menjadikannya terasa damai untuk diarungi, alhasil kita dapat mengecap nikmat dunia tanpa kesulitan yang berarti.

Perlu kita sadari bahwa sesungguhnya di dalam kehidupan ini ada hal yang dapat kita kendalikan, dan sebaliknya ada hal di luar kuasa yang tak dapat kita kendalikan. Dengan hadirnya ajaran stoikisme dengan value yang ditawarkan, dapat menjadi falsafah atau pegangan hidup dalam membangun pengendalian diri (self control) dan penerimaan dengan lapang dada atas apa yang tidak bisa kita ubah.

Lebih lanjut, stoikisme melahirkan kebijkasanaan berlandaskan etika, logika, serta pemikiran rasional. Menjadi pribadi stoik adalah salah satu koridor menuju puncak derajat kemuliaan, menjadi manusia bermartabat yang dinaungi kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan batin.

Nilai-nilai Stoikisme yang sejalan dengan ajaran Islam merupakan sintesis yang relatable dengan kebutuhan spiritual manusia, serta mampu memberikan pencerahan dan pemahaman lebih mendalam agar kita memiliki penguasaan diri (self mastering) yang efektif sebagai perisai konfrontasi terhadap segala terpaan dan sebagai jalan menuju individu yang berakhlak Islami.

Introduksi

Esai ini disajikan secara singkat dan padat, berbasis aliran filsafat stoikisme yang diintegrasikan ke dalam ajaran Islam dengan point of view teladan Nabi Muhammad saw.

Dengan harapan, tulisan ini mampu memberi mutual benefit antara penulis dan pembaca, mengambil hikmah, jadi ilmu yang bermanfaat, serta meneladani akhlak Rasulullah dalam konteks stoikisme. Sehingga dapat diinternalisasi menjadi beliefe system, mindset, dan bermental stoik, demi meraih kehidupan yang lebih baik dan bermakna.

Kita ketahui bersama bahwa Nabi Muhammad saw., adalah seorang Rasul Allah yang memiiliki akhlak mulia dan berbudi pekerti luhur. Allah berfirman, “Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi kalian…”. (QS. Al-Ahzab: 21)

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (HR. Al-Baihaqi)

Signifikansi Pengendalian Diri (Self Control)

Pada periode dakwah Rasulullah, ditandai dengan turunnya firman Allah yang dimuat dalam surah Asy-Syu’ara’: 214.“Dan berilah peringatan kepada kepada kerabat-kerabatmu yang dekat”. Ketika itulah dakwah pertama kali ditampakkan secara terang-terangan. Dalam fase ini, selain menyerukan dakwah, Rasulullah juga mulai menentang praktik syirik kaum musyrikin secara frontal.

Perjalanan dakwah Rasulullah bukannya tanpa rintangan. Berbagai macam distraksi menghiasi proses penyebaran agama Islam kala itu. Misi revolusi keyakinan yang diusung oleh Rasulullah, memicu kekhawatiran kaum musyrikin akan kemusnahan keyakinan lama dan tradisi warisan meraka.

Imbasnya, Nabi Muhammad mengalami begitu banyak perbuatan tidak menyenangkan dari kelompok paganist tersebut. Mulai dari penghinaan, ejekan, olok-olok, dan ditertawakan. Tidak hanya itu, mereka juga menuduh dan menyebut beliau sebagai seorang penyihir dan pendusta. Bahkan, mereka menganggap Rasulullah adalah seorang yang sinting atau gila. Namun, mereka tidak serta-merta dapat menghentikan dakwah Islam dengan begitu saja.

Setelah berbagai macam cara mereka lakukan untuk berusaha menjatuhkan dan menghentikan Islam, tapi semua usahanya sia-sia, lantaran mereka menghadapi Nabi yang merupakan seorang yang sangat resilient, tegar, bijak, dan cerdas.

Dari kisah di atas, kita dapat memetik pelajaran dan hikmah, serta contoh sikap stoik dari beliau. Kepribadian yang ditonjolkan Nabi Muhammad saw., adalah karakter yang begitu mulia dengan pengendalian diri yang kokoh, sangat bijaksana dalam menyikapi setiap hal negatif dari luar, serta mampu mengendalikan dan mengatasi tekanan maupun amarah tanpa niat balas dendam.

Membangun Relasi yang Erat Dengan Menebar Kebaikan

Salah satu tujuan esensial dari stoikisme adalah “kedamaian batin” sebagai wujud yang dimaknai tulus ketika berbuat baik kepada orang lain.

Allah berfirman, “Dan ifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada  orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (QS. Fushshilat: 35)

Berbuat kebaikan dengan cara menolong orang lain dengan tulus merupakan amalan efektif dalam menumbuhkan kasih sayang. Oleh karena itu, Allah menganjurkannya dalam kitab-Nya, selama pertolongan itu berdampak positif, tidak merugikan dan tidak melanggar hak orang lain.

Hal ini dicontohkan Nabi dalam hadis berikut. Dari Abu Musa al-Asy’ari ra: Rasulullah, jika didatangi orang yang meminta bantuan, beliau menghadap kepada orang-orang yang duduk bersamanya dan berkata, “Berilah bantuan, maka kalian akan diganjar. Semoga Allah mengganjarnya melalui lisan Nabi-Nya dengan apa yang dihendaki’”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain daripada itu, Rasulullah juga sangat menganjurkan kepada umatnya agar tetap menjaga hubungan persaudaraan, karena sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.

Rasulullah menekankan hal tersebut dalam sabdanya, “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri”. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Anas Bin Malik ra.

Penerimaan Bijak Atas Takdir

Allah Swt. menciptakan manusia yang memiliki batasannya masing-masing dan dalam keadaan berbeda-beda, fisik, rejeki, usaha, dan lain sebagainya. Perbedaan-perbedaan yang demikian sudah merupakan ketetapan absolut dari yang Maha Kuasa. Sebagai seorang mukmin, kita patut beriman kepada takdir (qadar) dan menerima dengan ikhlas segala yang sudah ditetapkan-Nya. Lantas, bukan berarti kita pasrah begitu saja, kita masih punya kuasa untuk menyikapi secara bijak atas apa yang terjadi pada diri dan sekitar kita.

Berikut ini beberapa penjelasan singkat disertai dalil yang representatif.

“Dan tidak ada apapun melainkan pada sisi kamilah khazanahnya. Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu”. (QS. Al-Hijr: 21)

Sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Tuhfatu al-Ahwadzi: Suatu ketika, tatkala Aisyah ra menyinggung kekurangan fisik Shafiyah dan terdengar oleh Rasulullah. Nabi menjawab, “Engkau telah mencampur (perbuatanmu) dengan satu kata, yang jika engkau mencampurkannya dengan air laut, niscaya air laut itu akan berubah warnanya”.

Hadits ini merupakan teguran keras dari Rasulullah kepada Aisyah r.a. lantaran menyebutkan kekurangan seseorang yang tidak dibenarkan oleh Nabi.

Secara eksplisit hadis tersebut melarang menyebut-nyebut kekurangan fisik orang lain, apalagi ke saudara sesama Muslim, karena seluruh umat Muslim adalah ibarat satu tubuh.

Dalam menyikapi perbedaan, penting untuk tetap saling menghargai, menjaga perasaan, dan berempati terhadap sesama. Respect terhadap pribadi orang lain adalah sikap yang bisa berdampak terhadap hubungan silaturahmi yang baik, tetap terjaga, harmonis, yang pada gilirannya menjadikan hidup lebih tenteram dan penuh kedamaian.

Selanjutnya dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra. Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang dilebihkan harta dan fisiknya, maka hendaknya dia melihat orang yang ada di bawahnya”.

Hal yang tidak kita miliki dari orang lain tidak mesti menjadikan kita merasa iri, rendah diri, apalagi sampai timbul dengki di dalam hati. Tidak perlu seperti itu, karena setiap manusia memiliki kelebihan maupun kekurangan masing-masing yang akan menjadi berkah tersendiri bagi mereka.

Kehidupan Zuhud Menuju Akhirat

Kehidupan dunia merupakan dimensi di mana manusia mengejar dan membanggakan segala perhiasannya. Dunia hanyalah sementara, tidak ada satupun yang akan kekal di dunia ini. Demikian juga dengan kematian, ia adalah suatu keniscayaan yang tak bisa ditolak oleh siapapun. Stoikisme dalam konteks ini, mendorong kita untuk menghargai dan memanfaatkan waktu dengan lebih bijaksana, serta senantiasa berbuat kebajikan agar masa hidup di dunia tidak berujung sia-sia, dan akan menjadi bekal utama kita di akhriat kelak.

“…Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali”. (QS. Al-Baqarah: 156)

Dalam surah lainnya Allah berfirman, “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran”. (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Pentingnya menetapkan prioritas hidup. Menjadikan dunia sebagai tujuan utama justru akan mendatangkan kegelisahan dan hilangnya keberkahan. Sebaliknya, menjadikan akhirat sebagai prioritas akan memberikan ketenangan batin dan menjadikan dunia tunduk mengikuti arah hidup seseorang.

Agar umatnya tidak tertipu dengan pesona dunia dan menjadikannya sebagai tujuan utama hidup, maka Rasulullah memberikan peringatan tegas, seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut:

“Barang siapa yang menjadikan dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di depan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niat (tujuan) utamanya, maka Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina (tunduk)”.(HR. Ibnu Majah).

Sumber gambar: Ilustrasi/Pinterest


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *