Selama ini hanya sibuk mengetahui! Tanpa harus lebih pada memahami. Bisa saja memiliki banyak pengetahuan, akan tetapi sedikit untuk memahami.
Bagaimana membaca dan menginterupsi interpretasi terhadap orang lain? Strukturnya adalah mengetahui dengan kepala, memahami dengan hati. Perannya berbeda: “memahami kedalaman, mengetahui permukaan”.
Minim membaca dengan objektif. Sampai kadang menggandrungi jenis selera dan latah membudaya, dan hanya memperdaya. Tidak mengapa kiranya kusela sedikit dan meraba, sejauh mana reaksi serta sebuah informasi bisa terkonfirmasi.
Merangkaikan waktu untuk tidak meraba baca, lalu sebentuk interpretasi bertumpuk hendak loncat keluar dari pikiran-pikiran yang masih belajar memahami sebuah penanda peristiwa yang kemudian bagai anak polos yang dipaksa untuk masturbasi. Main sekadar tebak-tebak, lalu dijebak atas nama pengetahuan.
Membaca terhadap teks, secara harfiah dari segala bidang, performa biorama, dari drama politik, budaya, film, agama, jelmaan kata, dengan reaksi pemahaman yang masih terbatas, dari persepsi yang cadas sampai nan culas. Hingga seabrek kekonyolan yang terbaca secara banyol serta kadang membuat hati dongkol.
Paling menantang seketika diperhadapkan oleh teks-teks pembacaan dogma seperti misalnya beberapa kitab serta undang-undang hasil daur ulang. Pemaknaan terhadap teks-teks tersebut secara otoritas sebagai alat untuk menjawab serta membenarkan otoritas itu. Saya masih terbata-bata bin “lingu” (bingung).
Ternyata selama ini begitu banyak mengalami kefatalan sampai menginterpretasi, mereduksi, dan membangun diskusi dengan otoritatif, belum bisa mengaktifkan kontrol lain dalam sebuah pemahaman. Hanya sebatas mengetahui.
Yah. Semesta kemudian mempertemukan saya dengan karib Dani di suatu perjamuan, lalu seketika meluluhkan kemerasaan saya dengan literatur yang kaku. Masih cengeng bin cemen, alias kaleng-kaleng! Polos, terlalu payah.
Perbincangan berlanjut dengan Dani via WhatsApp, berlangsung alot, menghasutku dengan hidangan nutrisi selayaknya saya cicipi. Tidak seperti menu gizi yang katanya lengkap, penuh kesedapan, tapi membuat lambung saya bermasalah.
Disuguhinya sebuah pemahaman yang menguatkan nalar dan cara memahami sesuatu. Sebuah pertanyaan dengan ilustrasi gambar/poster artis Korea, lalu seorang anak remaja memakai jilbab berpose dengan merasakan keceriaan dan kebahagiaan berfoto bersama idola.
Pertanyaan Dani mengumpan, memaksakan saya untuk bermain simbol:
“Kenapa harus perempuan yang memakai busana islami suka dengan model-model Korea?”
Kenapa bukan perempuan-perempuan yang model skena, pakai tato-tato kecil atau tindik hidung dan body? Wow. Saya terhujam juga, mencari jawab di tengah limit dan lumut waktu pembacaan, serta memahami sesuatu mulai lembap.
Belum sempat saya jawab, Dani melanjutkan mengumpan kembali!
“Budaya macam apa yang seperti ini? Di satu sisi sangat mencerminkan agama tertentu, tapi di satu sisi memperlihatkan ternyata suka dengan orang yang berbeda agama?”
Seribu kedok menjelma jadi kodok. Itu juga buah interpretasi dari seni memahami. Melesat begitu saja, apa yang tampak. Menjadi letupan indah bagai anak perawan sehabis dikecup keningnya pertama kali oleh sang kekasih pujaan. Wow.
Reaksi itu kembali memuncah mencari jawaban. Dani tak hentinya memantik saya menyemburkan kembali pertanyaan.
“Ini cuma memahami isi buku dengan melihat cover-nya. Kita sudah tahu ke mana buku ini jalannya. Kenapa pula melihat yang kulitnya putih kok dipuja-puja, sedangkan berkulit gelap selalu ada stigma yang sinis?”
Pertanyaan Dani berikutnya:
“Masih adakah orang yang memiliki kedalaman berpikir? Kalau melihat orang-orang di sekeliling kita? Kalau masih ada, bagus! Berarti paham betul dengan sebuah interpretasi!”
Saya memilih diam termenung saja.
Begitulah percakapan sore itu untuk mengulik sebuah tawaran bacaan dari Dani. Sebagaimana ilustrasi sampul gambar model Korea dengan dua anak perempuan bergamis islami memajang dirinya hendak memeluk poster tersebut.
“Bacalah!” kata Dani.
Saya membuka perlahan dengan sebuah judul menarik, “Seni Memahami”. Pembukanya cukup ampuh mengantar saya melewati setiap peran ungkapan dari berbagai teori dan filsuf.
Tanpa basa-basi, sebuah suplemen segera kucicipi berjudul, Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida oleh F. Budi Hardiman.
Entah apalagi maksud Kawan Dani mengirimkan saya file ini. Dengan nama dan tema judulnya saja saya masih belepotan menyebut, apalagi mengetiknya sampai memahaminya pula.
Oke. Mulai mengeja perlahan. Istilah judul tersebut, “seni memahami”. Dari Schleiermacher sengaja diangkat pada buku tersebut untuk menegaskan aspek keahlian itu dan dikembangkan oleh bapak hermeneutik ini.
Sejak itulah menjadi topik keahlian penting dalam diskursus seperti filsafat, teologi, dan ilmu kemanusiaan: sosiologi, ilmu komunikasi, sastra dan seni, ilmu politik, serta hukum.
Tidak pula secara komprehensif pemikiran dalam tema tersebut. Lebih pada konsep “memahami” sebagaimana yang diandaikan oleh delapan filsuf penganut tradisi Jerman dan Prancis, di antaranya: Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Bultmann, Habermas, Ricoeur, dan Derrida.
Waduh. Pening. Tetiba mulai sedikit terasa. Dani menghidangkanku kembali untuk segera saya santap. Tetapi tidak harus seolah terpaksa dan latah membaca dunia pemikiran filsuf.
Tempahan apalagi ini? Mencoba mengukur kemampuan, kemudian harus menundukkan durasi waktu yang terbuang sia-sia selama ini, untuk menjelma seolah pembaca ulung nan baik. Hahaha. Hanya bisa menyicilnya. Mengejanya pula sampai tuntas butuh mendaras secara intens.
Sebuah lentera baru, walau tidak ada ujuk-ujuk hal baru, semua pasti punya landasan dari sebelumnya hingga sebuah teori. Pengetahuan itu muncul dengan riset, kejadian yang kemudian menjadi pendapat.
Seni memahami. Sejauh ini masih di pertengahan mendatanya, walau terkadang ada beberapa bantahan pula tentang bagaimana seni memahami itu bisa bukan sekadar teori atau pengertian, tetapi pemandu untuk merawat imajiner agar tidak merasa eksklusif lalu kemudian pasif dalam mengendalikan kesadaran itu sendiri.
Godaan Dani semakin melengkapi hari-hari ini. Mengubah secuplik kebiasaan buruk saya untuk sementara. Walau kadang lambat membuka file di HP sehubungan memorinya yang mulai berpenyakit akut.
Dengan belajar memahami, perlahan saya meminjamnya di suatu waktu bagaimana seni memahami itu saat orang-orang mulai merasa tahu apa yang dia tidak tahu, serta merasa memaksakan memahami apa yang dia tidak senangi serta pahami. Bahkan segelintir merasa pintar, tidak pintar merasa.
Rentang pertemuan saya dengan Dani cukup melewati beberapa tahun. Tetiba, di sebuah pertemuanlah sampai saat ini intensitas itu kadang tidak seperti yang lain, tetapi seperti mengaduk-aduk isi kepala. Daya kritis hendak memuncah, tetapi tidak harus merasa paling kritis jua. Yang jelas cukup memahami saja dulu. Untuk sementara kini jauh lebih berhati-hati.
Karena minimnya sebagian di antara manusia belajar memahami, sekadar mengetahui, baik dalam interaksi serta sebuah interpretasi di setiap pertemanan, kerumunan, diskusi, serta kelompok budaya dan masyarakat, pada akhirnya salah persepsi menjadi sensi.
“Bukan hanya tahu. Masuk lebih ke dalam, memenuhi pemahaman serta melatih pula kesadaran.”
Setidaknya paham apa yang sedang terjadi di simpang pengetahuan manusia. Mulai saling mengkhianati di tengah pergolakan cara pandang. Bahkan sebuah pilihan perseteruan itu hadir hanya karena salah memahami.
“Yang tabu didendangkan. Substansial menjadi sial dilupakan.”
Kembali pada istilah “Hermeneutik” (seni memahami). Di mana pengertian umum yang menjadi kegelisahan para filsuf di atas dengan sederet pengertian atau definisi mereka.
Hermeneutik; sebuah kegiatan yang sangat khusus, yaitu menafsir teks-teks. Istilah tersebut dikenal dalam disiplin-disiplin religius, seperti studi kitab suci dan teologi. Wow. Saya terjenak. Para ahli Taurat, Alkitab, dan para ahli tafsir Al-Qur’an sekiranya pasti melakukan “hermeneutik”.
Memiliki peran penting bagi umat manusia, memercayai atas nama wahyu ilahi yang otoritatif bagi umat percaya. Nah, katanya melalui hermeneutiklah ajaran-ajaran, asas-asas, norma, dan nilai-nilai ditafsirkan secara berbeda-beda.
Benar, begitukah? Tidak harus kutelan mentah, seperti kelezatan hari ini orang-orang yang seolah berpengetahuan menawarkan sesuatu seolah gizi. Mereka hidangkan, tetapi justru kadang menimbulkan penyakit baru.
Cakaran-cakaran pemahaman saya mulai berlompatan, hendak melucuti perangai serta cara pandang, dan hubungan hierarki yang tidak nyambung. Sebab, hanya saya tahu saja.
Ini hanya satu teori ilmu walau sebenarnya juga masih bisa dibantah. Tanpa harus terjebak merasa paling hafal merapal, tetapi memahami sesuatu sangat dangkal.
Bisa saja dari beberapa pendapat tokoh yang disebut di atas menjadi dogma. Sekadar memahami sebagaimana hermeneutik yang katanya seni memahami. Memahami Tuhan, semesta, manusia, dan segala peristiwa yang memantik kesadaran itu bangkit memenuhi ruang-ruang pengembaraan ini.
Bagai anak gembala terlepas dari kekangan, pengetahuan memahami kebablasan. Sebagai anak gembala, saya tidak harus mematahkan ranting, daun, dan memakan lahap apa yang tampak sebagai rantai makanan.
Meski bernama indah pada diksi sabana, tetapi mencoba memahami dan menganalisis bahwa di sana juga ada duri dan racun. Seperti manusia di tengah guyubnya, tetiba ada di antara mereka gegara salah memahami. Akibatnya menjadi petaka saling mencederai.
Kusederhanakan pada proses saya belajar kali ini, agar tidak terhasut secara brutal ajakan karib Dani dari jauh, bagaimana hermeneutik itu kupahami. Tidak berani pula saya hanya asal melahap, memahat, yang di celahnya ada tersemat makna-makna yang begitu multitafsir.
Butuh ruang waktu bagiku, duhai Dani! Tidak sepertimu yang sangat telaten menekuninya sejak dulu. Dani merendah, dengan alasan menyuguhkan ini mungkin cukup memberiku perlindungan, penopang agar tidak terjebak simbol, lalu menjadi pencacah.
Kujadikan sebagai penguat, belum menjadi azimat. Kudu harus menguji dan jauh lebih belajar lagi. Tentunya kelak tidak merasa melebihi pemahaman, walau belum pernah teralami, secara naluri, alamiah, atau seolah ilmiah. Padahal saya baru saja siuman dari pemahaman dulu, lalu bangkit dengan kesadaran yang pernah dikandang, ditendang, dan dituduh pemimpi yang buruk.
Dani menyuguhkan pengetahuan beberapa bulan lalu. Belum kutuntaskan, baru tiba di sebuah persimpangan serta pertengahan. Jeda, lalu membaca ulang kembali supaya lebih bisa dan mudah belajar memahami, tidak karena paksaan ditodong bacaan seperti ini.
Yah. Seni memahami masih menukik untuk jauh lebih menerjang, menyelami beberapa pemikir di titimasa transisi, dari definisi yang satu ke definisi lainnya.
Sederhana saja, bagaimana memahami itu secara lebih menguatkan daya pikiran untuk tidak “piti-piti dan kapitu-pitu” menebak saja (asal-asalan, gegabah, seolah tahu tanpa menyelami lebih jauh untuk tahu, sekiranya belajar dulu memahami secara mendasar).
Begitulah kira-kira. Berharap kelak, menyeruput kopi di tepian sore, bercakap lebih panjang, biar semakin melengkapi sikap serta cara pandang, mendeskripsikan, dan yang paling penting saya jauh lebih sadar untuk terlebih dulu “belajar memahami”.
Pada akhirnya saya sepakat dengan dekonstruksi seorang yang disebutkan di atas, bernama Derrida: “cara membaca dan membongkar asumsi-asumsi tersembunyi dalam sebuah teks, konsep, atau sistem pemikiran”. Tanpa harus keluar dari teks-teks tersebut. Yang pada akhirnya cenderung menjadi asumsi. Penemuan teks yang masih ambigu menjadi kesimpulan, dan terjebaklah kita pada cara menerima hasil yang tampak, baik secara lisan maupun tulisan.
Tidak juga menafikan isi kepala dan pemahaman yang lain. Tanpa mengultuskan Derrida. Tetapi ada hal yang serupa pernah menjadi pertentangan di pengetahuan terbatas saya, terbersit dan terselip di tengah gumpalan awan, serta cakrawala berpikir yang sekian lama terkandang.
Semakin kusimak, lalu masih kusaksikan deretan paradoks pembacaan merayap menuju kesimpulan mutlak. Padahal masih bisa diurai, dicakapkan tanpa sebuah tendensi yang kadang kita bawa sebagai keinginan untuk menang, tanpa menendang secara subjektif. Minimal melengkapi afirmasi atas sebuah proses menuju pemahaman yang lebih sepadan.
Derrida melengkapi literatur di titimasa saat ini, agar saya tidak ngelantur, temperamental, dan masih suka ngawur. Tibalah di akhir esai sederhana ini, kembali izinkan saya mengintip sedikit sebuah ungkapan:
“Dalam setiap pergumulan dan interaksi, jangan memaksakan orang lain memahamimu. Usahakan kau lebih memasuki ruang paling terdalam dengan memahami mereka. Buatlah petak-petak di ruang dan siklus karakteristik setiap jiwa dalam menginterpretasi, bukan sekadar mengetahuinya saja.”

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply