“Usah mendewakan seseorang. Sebab, bila serupa dewa, maka tindakannya seolah seperti dewa: tidak mendewasakan.” (Tajali Daeng Litere, 30092024)
Amat simpel ungkapan Daeng Litere tersebut. Waima menyimpan ironi yang tajam. Lazimnya, pendewaan lahir dari kekaguman. Seseorang dipandang memiliki kelebihan, lalu ditempatkan pada kedudukan istimewa. Mula-mula penghormatan, kemudian pengagungan. Lambat laun, jarak antara manusia dan manusia merenggang, digantikan hubungan antara pemuja dan yang dipuja.
Teladan tetap diperlukan. Kehidupan bertumbuh melalui perjumpaan dengan orang-orang yang memberi inspirasi, membuka jalan, atau menunjukkan kemungkinan baru.
Namun, teladan berbeda dengan dewa. Teladan mengajak bertumbuh, sedangkan dewa menuntut pengagungan. Teladan membangkitkan daya pikir, sementara dewa kerap melumpuhkan pertanyaan. Tatkala penghormatan beralih menjadi pemujaan, ruang pertumbuhan perlahan menyempit.
Pendewaan pun bukan semata perkara sosok yang dipuja. Ia lebih sering berakar pada kebutuhan para pemuja. Ada kecenderungan mencari figur yang seolah mampu memikul seluruh keraguan. Mengikuti lebih mudah tinimbang menimbang. Mempercayai lebih ringan ketimbang menguji.
Perlahan, ketergantungan mengambil tempat. Nalar yang semula tegak mulai diserahkan. Penilaian pribadi sedikit demi sedikit ditanggalkan. Apa pun yang keluar dari sosok pujaan diterima tanpa banyak pertanyaan. Padahal, kedewasaan lahir dari keberanian berpikir, bukan dari kebiasaan mengangguk.
Pendewaan juga mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri. Tatkala figur menjadi pusat segala jawaban, kemampuan menakar realitas perlahan memudar. Segala sesuatu menunggu legitimasi dari luar diri. Kebenaran tidak lagi dicari melalui perenungan atau ikhtiar berpikir, melainkan melalui persetujuan sang pujaan. Keadaan semacam ini membuat manusia kehilangan salah satu anugerah terpentingnya: keberanian berdiri di atas penilaian sendiri.
Barangkali itulah yang hendak diingatkan Daeng Litere. Ketika manusia ditempatkan terlalu tinggi, relasi sehat menjadi sukar bertumbuh. Yang muncul bukan lagi dialog, melainkan kepatuhan; bukan pembelajaran, melainkan pengulangan. Pertanyaan merenggang, sementara kepatuhan memperoleh takhta.
Ironinya, sosok yang diperlakukan seperti dewa justru jarang mendewasakan para pengikutnya. Kekaguman yang kehilangan jarak membuat daya timbang perlahan tumpul. Segala ucapan diterima sebagai kebenaran. Tindakannya pun senantiasa dicari pembenarannya. Kesetiaan lebih dihargai daripada kejernihan.
Toh, hidup tidak pernah bertumbuh dari kepatuhan semata. Kehidupan memperoleh kematangannya melalui pergulatan: merawat keraguan, mengajukan pertanyaan, dan menghadapi perbedaan tanpa rasa takut. Kedewasaan lahir dari ikhtiar semacam itu.
Pendewaan justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia menawarkan kenyamanan. Sosok yang dipuja menjadi tempat bernaung dari kebingungan. Segala persoalan seolah menemukan jawaban pada satu figur. Akibatnya, manusia perlahan kehilangan kesempatan membangun kejernihan sendiri.
Dalam banyak hal, pemujaan serupa bayang-bayang. Mula-mula tampak mengikuti sosok yang dikagumi, tetapi lambat laun justru menutupi sosok itu sendiri. Orang tidak lagi melihat manusia apa adanya, melainkan citra yang dibangun di sekelilingnya. Kelebihan diperbesar, kekurangan disamarkan, lalu lahirlah gambaran yang makin jauh dari kenyataan. Tatkala itu terjadi, mitos mulai mengambil tempat, menggantikan manusia yang sesungguhnya.
Keadaan demikian tidak hanya mengerdilkan para pemuja. Sosok pujaan pun menghadapi jebakan serupa. Pujian menjadi cermin sehari-hari. Kekaguman menjelma lapik yang terus menopang. Lama-kelamaan, ia dapat kehilangan kesempatan berjumpa dengan dirinya sendiri. Sebab, di sekelilingnya hanya tersisa gema persetujuan.
Kekeliruan pun menjadi sukar dikenali. Setiap tindakan memperoleh pembenaran, setiap keputusan menemukan alasan. Kritik merenggang. Kejujuran menjadi langka.
Padahal, manusia memerlukan cermin bening, bukan altar penuh dupa.
Cermin memiliki tabiat berbeda dari altar. Altar mengundang pemujaan, sedangkan cermin mengundang kejujuran. Di hadapan altar, orang cenderung berlutut; di depan cermin, orang dipanggil untuk melihat. Karena itu, masyarakat yang sehat lebih memerlukan keberanian bercermin ketimbang kegemaran membangun altar. Hanya melalui cermin, manusia dapat mengenali batas dirinya tanpa kehilangan penghormatan kepada sesamanya.
Sejarah berulang kali memperlihatkan kenyataan itu. Banyak figur pernah dipandang nyaris sempurna, lalu perlahan runtuh dari singgasana citra. Bukan selalu karena mereka berubah secara mendadak. Yang berubah sering kali ialah cara pandang para pengikutnya. Ketika kabut pemujaan tersibak, manusia kembali terlihat sebagai manusia.
Tampaklah sesuatu yang sederhana. Di balik segala kelebihan, insan tetap memikul keterbatasan, tokoh menyimpan cela, dan pemimpin tidak kebal dari kekeliruan. Kesadaran semacam ini tidak mengurangi penghormatan. Sebaliknya, ia membuat penghormatan menjadi lebih sehat.
Menghormati seseorang tidak mengharuskan kehilangan nalar. Mengagumi seorang tokoh tak menuntut penyerahan diri. Sebab, penghormatan yang matang selalu menyisakan ruang bagi pertanyaan. Ia tidak takut pada kritik, karena kritik bukan musuh penghormatan. Kritik justru menjaganya agar tetap berpijak pada kenyataan.
Masyarakat yang dewasa bukan masyarakat yang dipenuhi figur agung. Ia adalah masyarakat yang mampu menjaga proporsi: menghargai tanpa mengkultuskan, mengikuti tanpa menjadi pengikut buta, serta menerima inspirasi tanpa kehilangan kemerdekaan berpikir.
Barangkali sebab itulah para bijak lebih memilih murid yang kritis ketimbang pengikut yang patuh sepenuhnya. Pertanyaan sering kali lebih menyuburkan pertumbuhan daripada pujian. Perbedaan pendapat lebih berguna dibanding persetujuan yang membuta. Sebab tujuan kebijaksanaan bukan memperbanyak pemuja, melainkan melahirkan manusia yang mampu berpikir dengan jernih.
Tatkala pendewaan tumbuh subur, kedewasaan meranggas. Sebaliknya, ketika manusia ditempatkan secukupnya sebagai manusia, ruang pembelajaran terbuka lebih lapang. Kekeliruan dapat dikoreksi. Perbedaan dapat didialogkan. Pertumbuhan memperoleh jalannya.
Kalakian, ukuran penghormatan terbaik bukan terletak pada seberapa tinggi seseorang ditempatkan, melainkan pada seberapa jernih ia dilihat. Mata yang terlalu silau oleh kekaguman kerap kehilangan kemampuan membedakan manusia dan mitos.
Ala kulli hal, hidup tidak memerlukan lebih banyak dewa. Yang dibutuhkan hanyalah manusia pembelajar: terbuka terhadap koreksi dan tak pernah berhenti bertumbuh. Sebab, kedewasaan bertunas dari kesediaan mengakui keterbatasan diri.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply