Teori dari “Langit”?

Terlalu banyak teori! Kata seseorang, menjadi penghayal atau terjerat teori baru.

Ini bukan teori baru, ini sudah lama mencekam, tertimbun rapuh di tengah kumpulan teori itu sendiri. Tersandera dengan dalih dan “dalil”.

Di tengah gempita ingin gunting pita masuk surga. Celetuk seseorang lagi di sebuah siang dengan kumpulan pengetahuan. Menempahku, keseruan hidup dengan pola-pola yang berganti, tetapi sesungguhnya hanya cara memahami yang kadang saya keliru dan masih suka tertipu.

Kemuning pengetahuan yang secara teori memenuhi standar pula, tetiba diterkam, lalu masih sering dibungkam di tengah gagapnya manusia untuk menuju satu titik lompatan kesadaran.

Masih pola lama dan sepertinya primitif, tambah sensitif, aktif menyergap secara subjektif, tanpa menguatkan perspektif dengan objektif.

Di sini kutemukan sebuah kekacauan hidup jadi kicauan yang menghujam ruang-ruang. Selanjutnya Tuhan didudukkan, seakan Dia juga butuh tempat singgah.

Kusaksikan orang-orang terlilit tasbih, walau juga kadang bertingkah risih, dan saya rasa kita sama: sama-sama mengincar surga karena “gengsi”.

Kita ribut soal tata tertib semesta, padahal isi kepala sendiri berantakan.

Beri nama Tuhan, lalu paksa Dia duduk di kursi yang kita sediakan.

Seolah kalau Dia diam, artinya setuju dengan keributan yang kita buat.

Padahal yang berisik itu bukan langit.

Yang berisik itu mulut kita, yang butuh alasan biar tenar serta merasa paling benar.
Tasbih dipelintir, diputar, menuduh sesama fakir ilmu dan kafir, tapi niatnya sama: cari tiket masuk dengan harga murah.

Di sebuah percakapan kupahat dalam diam dan menjahit tentang cara memahami yang keliru, bukan semata pengetahuan yang kadang menumpuk begitu saja, terjerat kebekuan atas dalil yang juga butuh dipertanyakan pula, ditegur dan dipaksa beradab, tapi sesungguhnya saya juga masih belum bisa berpura-pura lebih punya adab.

Bicara soal kekacauan, padahal saya bagian dari kekacauannya. Inilah kesesatan kata sebagian dengan cara interpretasi yang cenderung jalan pintas. Ini sudah biasa ditelanjangi. Tidak perlu balas menghujam. Cukup menggumam.

Kemudian mencoba mengeja dari sudut lain, tetiba saya menemukan jalur berbeda dengan sebuah teori yang turun dari langit. Bawa konsep yang katanya abstrak alias dongeng, pura-pura Tuhan yang menulisnya. Istilah didendangkan dengan bahasanya tinggi, seolah tidak boleh disentuh.

Tugas kita cuma satu: percaya, lalu paksa realitas masuk ke dalam sebuah kerangka dan metode tentang Tuhan. Wow. Ini cukup menantang bagi saya untuk mencoba menyusuri.

Sebuah realitas, kusimak dan kusaksikan rutinitas yang sangat penuh iming-iming untuk merasa lebih dekat sama Tuhan. Akhirnya yang terjadi bukan teori menjelaskan hidup, tapi hidup yang dipaksa menjelaskan teori. Orang lebih percaya kerangka daripada apa yang sebenarnya terjadi di teks dan pengalaman mereka sendiri.

Bertemulah saya dengan seorang bernama  dalam sebuah ulasannya tentang “hermeneutik” atau seni memahami. Menurutnya dalam tauhid, “teori langit/Tuhan” itu juga sudah ada dalam diri, tidak perlu perantara dari luar.

Tujuannya biar kita tidak jadi manusia ambigu yang terjebak kepercayaan yang belum dikritisi.
Dia melanjutkan pada konteks dan teks sering mengalami kekacauan dalam menafsir, maka yang perlu dibenahi misal kata “teori langit (Tuhan) berada dalam diri” agak ambigu, bisa kebaca kayak “Tuhan itu cuma konsep dalam kepala.”
Di titik inilah cara  membaca pola masuk: bukan bawa teori baru dari langit, tapi bawa pisau kecil buat bedah yang sudah ada. Bedahnya dilakukan dari dalam diri sendiri. Dalam perspektif tauhid, pemahaman tentang Tuhan juga tidak datang dari luar sebagai beban asing. Ia muncul dari kesadaran atas diri dan keterbatasan.

Tujuannya satu: biar kita tidak menjadi manusia ambigu yang tenggelam dalam kepercayaan yang sengaja dibuat, padahal masih layak dipertanyakan.

Saya semakin tertarik, sambil duduk menekuni alur berpikir yang jarang saya temukan seperti  tidak mencari cara buat menghancurkan teks. Dia cuma baca teks itu sendiri sampai ketemu asumsi yang tidak pernah dibincangkan secara lugas, kontradiksi kecil yang bikin seluruh bangunan makna mudah goyah. Seperti saya mudah patah hati misalnya.

Tetiba Derrida nyeletuk dengan bahasa planetnya: Il n’y a pas de hors-texte (tidak ada di luar teks. Jadi tidak usah bawa alat dari luar. Bedah saja dari dalam).

Sepertinya ini agak tabu bagi pembaca yang mulai suka secara subjektif. Tapi sebagai penyalur dan suka alur dari berbagai sudut pandang, teori yang sampai bertengkar pada narasi-narasi kecil, saya berusaha dan mencoba bahwa “membedah dari dalam” itu juga cara kerja kesadaran.

Dalam tauhid, prosesnya mirip: tidak mulai dari dongeng dari langit, tapi dari kontemplasi atas diri, alam, keterbatasan, kerinduan. Dari situ muncul kesadaran bahwa “aku” yang terbatas ini tidak bisa jadi sumber mutlak. Ada yang lebih besar yang jadi sandaran. Derrida menutup perjumpaan pertamaku kali ini, dan dia beranjak ke mukimnya dulu, seakan berbisik. Kelak kita akan bertemu di beberapa artikel yang mulai dalam kesadaran mencari teori bahkan dari langit sekalipun.

Tentang teori dari “Langit” itu bukan judul buat nyerang teori. Itu pengingat. Setiap kali ada konsep yang datang dengan muka sok sakral, tanya dulu: ini beneran menjelaskan, atau cuma memaksa?

Kembali teringat kalimat santun Derrida, “Pakai kacamata besar buat lihat pola. Tapi jangan lupa pakai pisau kecil buat cek apakah kacamatanya sendiri retak”. Wets, sangat menyentil rasanya.

Apakah cenderung menerima secara terpaksa hanya karena kita takut berpikir dan kritis, di tengah “keimanan” katanya. Tetapi kita kehilangan momentum kesakralan langit? Tanpa harus memaksa saya berhenti di tepi kanal kedunguan untuk beranjak di antara kanal lain, yang lebih memaknai pisau bedah kecil, bukan semata kacamata pembesar?

Teori bantah teori, bukan membantai persona dan rancang bangun kesadarannya, yang mulai perlahan memahami di antara teori langit yang semakin legit bin sengit di ruang berpikir yang sempit. Agar tidak keluar jalur dari kultur, agama, budaya, secara terpaksa saya ikuti, harus jalani apa adanya.

Musyrik, bahkan munafik katanya, saat menafikan sesuatu yang sakral tentang Dia. Padahal hati kecilku berkata: istilah kata sering digunakan seorang  cara menyusun materi dan teori komedi dengan personanya. “Kau bukan pengecut dan penampik teori yang sudah tertukar dengan istilah, sejarah, dan ilustrasi teori langit. Kau hanya butuh lebih bernyali untuk menyulam sesuatu yang telah lama sobek.”

Izinkan sedikit pantun kiranya yang jenis pantun tidak seperti biasanya: “Renyahnya keripik, melumer di antara mulut. Untuk teori dan topik, jangan berpikir sekejap dan mudah tersulut, telaah dan memahami agar tidak blunder.”

Terlalu dramatis, penuh dinamika, pertengkaran ide, sejarah, dan beberapa tafsir dari hamparan teori bahkan dari langit itu sendiri. Lantas apakah saya latah juga, seolah ingin jadi “penakluk”? Masih sekecuping ilmu dan kesadaran saya harus penuhi, terlalu amatir, harus mencari keseimbangan pola yang sekarang manusia mudah terjebak, terkejut, bahkan panik. Padahal sejak dulu diperbincangkan, diperdebatkan, bahkan dipertengkarkan secara ide.

Musim semi mulai tiba, digelar dan disakralkan, sebuah pesan langit hanya sebagai ritual pengingat sejarah. Tentang jejak peristiwa manusia penganut keyakinan. Agar manusia bumi lebih teratur. Penganut satu per satu berangkat berharap dapat wangsit dari langit.

Jelita di seperdua malam mengadu ke langit, menunggu balasan dan tumpukan kedamaian, pada resah gelisahnya hasrat tertunda karena sebuah aturan, agama, dan budaya, berharap jawaban segera hadir. Di tengah selangkangan basah, jiwanya ingin membantah, tetapi dia pasrah sebagai ketaatan dan keadaban.
Ini hanya teori, memahami beberapa teori, tidak juga merasa kuat untuk bertahan pada sisi teori tersebut. Apalagi menampik karya sastra Tuhan Yang Mahaapik penuh keindahan dan metafora itu.

Jika ini sesat, biar cukup menjadi pedoman menuju hak benar, walau kebenaran dianggap tiada yang mutlak. Biarlah pisau kecil ini kuasah menerabas yang bias, walau kadang saya dianggap tampias. Sebagai cara untuk tidak gegabah mengeja Tuhan di episode selanjutnya. Cukup pisau kecil ini kuasah biar lebih berhati-hati menjajaki, menjalani prosesi ritual hidup sebagai manusia yang butuh kesadaran, dari fibrasi kemanusiaan itu sendiri.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *