Takhta Citra

“Pada masyarakat paternalistik, seorang pemburu citra berpeluang jadi dewa, karena didewakan oleh pemujanya.” (Tajali Daeng Litere, 06092024)

Sodoran minda Daeng Litere itu terasa seperti sindiran tipis. Di balik kelugasannya, terselubung permenungan tentang kuasa, citra, dan tabiat manusia. Ia tidak hanya menyorot sosok yang gemar memburu pujian; sorotannya juga tertuju pada lingkungan sosial yang menyediakan singgasana bagi pendewaan. Sebab, tiada dewa lahir dari ruang hampa. Setiap pendewaan selalu memerlukan pemuja.

Dalam masyarakat paternalistik, figur kerap memperoleh tempat melampaui gagasan. Sosok lebih mudah diikuti ketimbang pikiran. Wajah lebih cepat dipercaya tinimbang argumentasi. Akibatnya, ukuran kebenaran perlahan bergeser. Sesuatu dianggap benar bukan lantaran kejernihannya, melainkan karena kewibawaan orang yang mengucapkannya.

Di ruang semacam itu, pemburu citra menemukan ladang subur. Ia belajar merawat kesan, mengelola penampilan, dan membangun bayang-bayang keagungan. Citra menjadi modal, acap kali lebih berharga daripada substansi. Lambat laun, orang tidak lagi menimbang apa yang dikatakan; perhatian mereka tersedot pada siapa yang mengatakannya.

Namun, penabalan Daeng Litere tidak berhenti pada sosok pemburu citra. Simpul permenungannya justru terletak pada para pemuja. Citra hanya akan tumbuh sebesar kesediaan orang untuk mempercayainya. Patung memperoleh tinggi sebab terus ditinggikan. Takhta menjadi kukuh karena terus disangga.

Paradoks itu kemudian muncul kepermukaan. Seorang pemburu citra, boleh jadi memiliki ambisi menjadi pusat perhatian. Pendewaan baru lahir ketika masyarakat menyerahkan daya kritisnya. Kekaguman berubah menjadi kepatuhan. Kepatuhan mewujud pengkultusan. Maka muncullah sosok yang tampak lebih besar daripada dirinya sendiri.

Pendewaan sering bermula dari kebutuhan manusia akan kepastian. Figur menghadirkan rasa aman. Mengikuti seseorang terasa lebih mudah daripada merawat kejernihan berpikir. Pertanyaan menuntut ikhtiar, sedangkan pemujaan menawarkan kenyamanan. Karena itu, banyak orang lebih suka mencari tokoh sempurna, ketimbang menerima kenyataan bahwa setiap manusia menyimpan cela.

Padahal, tiada insan sepenuhnya utuh. Setiap manusia memikul keterbatasan. Seseorang yang ditempatkan terlalu tinggi, perlahan kehilangan ruang koreksi. Kritik dianggap ancaman. Perbedaan dipandang pembangkangan. Kesetiaan akhirnya lebih dihargai tinimbang kebenaran.

Dalam keadaan demikian, pemburu citra dan pemuja saling menguatkan. Yang satu menginginkan pengagum, lian memerlukan objek pemujaan. Hubungan itu tampak kokoh, meski sesungguhnya rapuh. Sebab, ia berdiri di atas kesan, bukan kejernihan.

Daeng Litere menyebut kemungkinan seorang pemburu citra menjadi dewa. Kata “dewa” di sini tentu bukan dalam makna teologis. Ia merupakan metafora tentang manusia yang ditempatkan melampaui ukuran sewajarnya. Sosok itu tidak lagi dipandang sebagai insan biasa, melainkan figur yang nyaris tak tersentuh kekeliruan.

Fenomena semacam ini berulang dalam banyak ruang kehidupan. Politik mengenalnya. Organisasi menghayatinya. Komunitas mencerapnya. Bahkan lingkaran kecil pergaulan pun tidak sepenuhnya bebas darinya. Tatkala nalar merenggang, pemujaan mudah mengambil tempat.

Sesarinya, persoalan terbesar bukan terletak pada keberadaan figur kuat. Masyarakat tetap memerlukan teladan, pemimpin, dan penunjuk arah. Soal mulai muncul kala penghormatan berubah menjadi pengkultusan; tatkala apresiasi bergeser menjadi penghambaan; manakala kekaguman kehilangan jarak kritisnya.

Justru dalam keadaan demikian kebijaksanaan memerlukan kelantipan. Menghormati tanpa memuja. Mengagumi tiada kehilangan nalar. Mendengarkan dengan tetap menjaga kemandirian berpikir. Sebab, manusia terbaik sekalipun tetaplah manusia.

Mungkin karena itulah, sejarah berkali-kali memperlihatkan runtuhnya sosok yang pernah dipandang agung. Bukan karena mereka tiba-tiba berubah. Penyebabnya lebih sering karena masyarakat terlalu lama memandang mereka melalui cermin pemujaan. Saat cermin itu retak, kenyataan muncul sebagaimana adanya.

Ujar Daeng Litere ini sesungguhnya menghadirkan undangan, agar kembali pada proporsi. Menempatkan manusia sebagai manusia. Menghargai capaian, tanpa menutup mata terhadap kekurangan. Mengakui kelebihan, minus menciptakan mitos kesempurnaan.

Dus, pemburu citra tidak selalu berbahaya. Yang paling berbahaya: kerumunan yang gemar menyediakan altar. Sebab, setiap altar menunggu sesembahan, dan acap kali sesembahan itu perlahan menjauh dari kemanusiaannya sendiri.

Walakhir, kejernihan lahir dari keberanian menempatkan manusia pada mizannya: menghormati kelebihannya, seraya tetap menyadari kekurangannya. Sebab, pemujaan kerap melahirkan mitos, sedangkan jarak yang sehat memberi ruang bagi nalar.


Comments

2 responses to “Takhta Citra”

  1. Keren Kak..
    Ini adalah fakta hidup, manusia tetaplah manusia, tempat lebih dan kurang berjalan berdampingan.

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Tengkiyu bingits atas apresiasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *