Peristiwa epik yang sering digemakan berulang-ulang di atas tanah lapang maupun mimbar-mimbar masjid oleh juru khotbah, tentang kisah Nabi dan anak semata wayangnya, yang mempergelarkan tingkat ketaatan dan keikhlasan atas perintah Allah Swt.
Kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. menunjukkan ketaatan seorang hamba pilihan yang memiliki keimanan sempurna terhadap segala perintah Allah Swt. Atas pembuktian ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Al-Qur’an mengabadikannya dalam QS. As-Saffat ayat 102–107.
Selain cikal bakal ritual haji berakar dari peristiwa Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail, di balik itu menyiratkan nilai ketuhanan yang diberikan kepada manusia sebagai kecintaannya terhadap Allah Swt. Salah satu nilai kemanusiaan paling agung adalah pengorbanan.
Tidak semua orang diberi karunia oleh Tuhan untuk menanggalkan seluruh jiwa dan raganya demi kecintaan terhadap Tuhan. Hanya manusia pilihan saja yang mampu menanggung segala derita, mengorbankan seluruh yang dimilikinya.
Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah cerminan manusia pilihan. Dengan peristiwa itu, umat manusia setelahnya mengikuti jejak pengorbanan Sang Nabi. Tak ada jalan mencapai hakikat kecintaan tanpa pengorbanan, apa pun itu bentuknya.
Pengorbanan kepada sesuatu yang fitrawi mengantar manusia kepada hakikat penciptaannya. Dengan begitu, manusia berada pada level pengorbanannya masing-masing. Semakin tinggi kecintaan seseorang, makin besar pengorbanannya.
Adegan pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail merupakan kisah inspiratif, sekaligus cikal bakal orang-orang yang telah mengorbankan jiwa raganya di jalan Allah (jihad fisabilillah). Dengan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, ajaran Islam berkembang pesat. Puncaknya, datangnya Nabi terakhir Muhammad saw.
Kejayaan Islam tidak lepas dari pengorbanan manusia terdahulu. Islam yang kita ikuti dan anuti sekarang ini merupakan hasil dari pengorbanan darah dan air mata orang-orang dulu. Semua pengorbanan itu tak lain dilandasi kecintaan dan ketaatan kepada Allah Swt.
Bentuk pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah menancapkan nilai ketauhidan kepada umat setelahnya. Setelah peristiwa itu, manusia percaya dan meyakini keesaan Tuhan. Saat itu, Nabi Ibrahim mengajarkan umat manusia bahwa hanya ada satu entitas tertinggi yang menciptakan, mengatur, dan berkuasa atas alam semesta, sekaligus menolak atau meniadakan keberadaan tuhan-tuhan lain.
Meski demikian, masih saja ada manusia yang enggan beriman kepada Allah Swt. Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai pencetus monoteisme, ajarannya terus dilanjutkan oleh nabi-nabi setelahnya. Puncaknya, Nabi terakhir Muhammad saw. menyempurnakan ajaran monoteisme Nabi Ibrahim.
Di zaman Rasulullah, seluruh berhala berupa patung-patung diberangus. Tanah Makkah kembali menjadi pusat penyatuan umat Muslim. Lebih dari itu, Makkah merupakan episentrum spiritualitas Islam, tempat jutaan umat Muslim terhubung secara vertikal kepada Allah Swt. melalui ibadah seperti haji dan umrah.
Memuncaknya kejayaan Islam di zaman Rasulullah dikarenakan tidak ada pemimpin dunia sesempurna Rasulullah. Selain Nabi Allah, beliau adalah pemimpin politik sekaligus spiritual. Di zaman itu, pengaruh ajaran Islam meluas hampir di seluruh belahan bumi. Islam menjadi kiblat peradaban dan pengetahuan di zaman Rasulullah.
Sejarah mencatat kejayaan Islam di zaman Nabi Muhammad saw. tidak bertahan pasca Rasulullah wafat. Tragedi demi tragedi mewarnai umat Islam, khususnya mengenai kepemimpinan pasca Rasulullah. Akibat dari perselisihan antarelite politik, perlahan peradaban Islam mengalami kemunduran. Bahkan, ironisnya sesama Muslim saling melenyapkan.
Singkat cerita, di tengah kekalutan politik di zaman Dinasti Umayah terjadi tragedi naas sepanjang sejarah manusia. Kala itu, kemurnian Islam sebagai agama dan peradaban berada di titik nadir kepunahan. Islam hanya dijadikan alat penguasa despotik, nilai kemurnian Islam diberangus, diganti dengan narasi kekuasaan.
Di titik itu, sosok cucu Rasulullah yang sangat dikasihinya tampil di garis paling depan demi menyelamatkan pohon kebenaran Islam yang layu. Tahu apa yang terjadi? Kala itu, tragedi paling naas sepanjang sejarah manusia sedang dipertontonkan. Cucu Rasulullah yang sangat dikasihinya disembelih hidup-hidup tanpa belas kasihan oleh pasukan Umayah. Tragedi pilu itu diceritakan dalam kisah Nainawa. Sebuah kisah paling epik sepanjang sejarah manusia.
Kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail yang berujung pada pengorbanan suci Imam Husain di Karbala. Inilah kisah pengorbanan menjaga eksistensi kemurnian Islam, sekaligus sebuah kisah perjalanan menuju Allah Swt.

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply