Halal bi Halal: Dari Kemenangan Ramadan Menuju Kemenangan Al-Aqsa

Serangkaian acara pasca-Lebaran sedang diagendakan, salah satunya kegiatan halal bihalal. Sebagaimana tradisi Islam Nusantara, sering mengadakan halal bihalal. Kali ini, acara halal bihalal agak berbeda. Pada umumnya, halal bihalal dilakukan oleh komunitas untuk membahas agenda bisnis, dagang, atau lainnya.

Kali ini, halal bihalal akan mempertemukan seluruh komunitas yang memiliki simpati terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina dan dukungan perjuangan melawan setan besar Amerika dan setan kecil Israel. Persamuan ini digagas oleh FPN (Free Palestina Network).

Halal bihalal virtual malam itu mengajak seluruh penghadir menguatkan komitmen dan solidaritas terhadap kemerdekaan Palestina dan dukungan terhadap bangsa Iran menghadapi agresi Amerika dan Israel. Tema yang diangkat oleh panitia, “Kemenangan Ramadan Menuju Kemenangan Al-Aqsa”.

Babak baru perang yang sedang berlangsung di wilayah Teluk makin memuncak. Kabar terbaru, Iran dengan tegas menolak perundingan gencatan senjata yang ditawarkan oleh Amerika. Perang akan terus berlanjut hingga Amerika dan Israel menyerah dan keluar dari Timur Tengah.

Meneropong kondisi perang yang sedang terjadi, Dina Sulaeman, seorang akademisi sekaligus pakar geopolitik Timur, unjuk diri membeberkan skenario menuju kemenangan Al-Aqsa.

Selain memperbincangkan geopolitik, hadir pula Ismail Amin, seorang pelajar Indonesia asal Bulukumba yang menetap di Iran kurang lebih 20 tahun lamanya. Sekarang beliau sedang menempuh gelar doktoral di salah satu universitas di Teheran. Satu lagi, Dr. Mohammad Madi, Sekjen GGSCR yang berada di Gaza, dan terakhir ditutup oleh Furqan AMC, Sekjen FPN.

Dina Sulaeman didapuk mengawali percakapan tentang geopolitik Timur Tengah. Beliau dengan fasih membeberkan skenario kemenangan Iran melawan setan besar dan setan kecil (Amerika, Israel). Sesungguhnya, perang yang sedang berlangsung di Teluk tidak sekadar perang militer, tetapi ada perang yang lebih mematikan, yakni perang dagang.

Sejak perang pecah (28 Februari 2026), boleh dikata Amerika gagal menaklukkan Iran. Padahal, dengan gaya sesumbar, katanya Amerika bisa menaklukkan Iran seperti menaklukkan Venezuela dengan tempo sesingkat-singkatnya. Amerika pikir, membunuh supreme leader, Ali Khamenei, dengan mudah dapat mengganti rezim di Iran.

Justru sebaliknya, dukungan rakyat Iran terhadap rezim baru makin militan. Bisa dilihat, sejak perang terbuka dimulai, tak henti-hentinya rakyat Iran turun ke jalan-jalan memberi dukungan terhadap pemerintah Iran, sekaligus tekanan terhadap agen-agen musuh.

Jangan dikira Iran takut dengan perang. Bukankah sejak 40 tahun mereka sudah mempersiapkan menuju kemenangan? Waktu 40 tahun bukan waktu singkat. Sejak rentang waktu tersebut, rakyat Iran sudah mengampanyekan, “Mampus Amerika, Mampus Israel”.

Menurut Dina Sulaeman, beberapa skenario kemenangan Iran sedang dijalankan. Salah satunya, IRGC membagi 31 komando di 30 wilayah provinsi di seluruh daratan Iran, satu komando berada di pusat kota Teheran. Tujuannya memecah konsentrasi kekuasaan militer agar tidak bergantung pada satu komando saja.

Di setiap komando wilayah, memiliki kapasitas militernya sendiri, seperti rudal, drone, intelijen, dan sistem komando yang otonom. Dengan demikian, jika terjadi keterputusan dengan komando induk di Teheran, unit-unit lain tetap dapat beroperasi dengan kekuatan yang dimilikinya sendiri.

Skenario lainnya, yakni Iran memiliki kendali penuh terhadap jalur dagang Selat Hormuz. Dengan penguasaan itu, IRGC kapan saja dapat menutup jalur dagang tersebut. Apa dampak dari penutupan Selat Hormuz? Bukankah Amerika adalah pengekspor minyak terbesar dan hanya mengimpor 3 persen minyaknya melalui Selat Hormuz?

Meski demikian, penutupan Selat Hormuz oleh IRGC mengancam serius imperium ekonomi Amerika. Di mana korelasinya? Wilayah-wilayah Eropa dan sebagian besar Asia sangat bergantung pada impor minyak, gas, dan makanan yang melewati Selat Hormuz.

Wilayah-wilayah itu juga memiliki sebagian besar aset Amerika. Sehingga, secara langsung ekonomi Amerika sangat terfinansialisasi dan berfungsi ketika sekutu membeli obligasi pemerintah Amerika untuk menjaga suku bunga tetap rendah, atau sekutu membeli saham Amerika untuk menjaga pasar dan penerimaan pajak tetap tinggi, serta mengirim barang murah ke Amerika.

Jika lonjakan harga minyak, gas, dan makanan benar terjadi karena Selat Hormuz dibatasi, dengan sendirinya akan mengancam fondasi imperium itu sendiri. Sehingga, opsinya negara Eropa dan Asia akan menjual asetnya. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, tidak menutup kemungkinan semakin tinggi insentif untuk menjual aset Amerika guna mengurangi inflasi.

Tak satu pun dapat memprediksi waktu berakhirnya perang di Teluk. Situasinya serba tentatif. Bahkan, pernyataan Donald Trump akan menyerang pembangkit listrik Iran menunjukkan kepanikan. Biasanya, hari Sabtu mengancam, hari Senin esoknya mengaku sudah berunding dengan Iran.

Polanya terungkap, ancaman tersebut cenderung meningkat menjelang akhir pekan saat pasar keuangan tutup. Dan setiap awal pekan, pernyataan Trump tampak diarahkan untuk menjaga harga minyak. Padahal, tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung.

Menurut Dina Sulaeman, kemenangan menuju Al-Aqsa makin terang. Pertahanan berlapis yang melindungi Israel selama ini satu per satu runtuh. Kemungkinan besar, Amerika akan keluar dari Timur Tengah, sehingga yang terjadi Israel tinggal sendiri melawan Iran dan pejuang Palestina.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *