Khutbah Lebaran: Air Keras, MBG dan Kekuasaan yang Timpang

Setelah empat tahun melewati puasa di tanah rantau, tahun 2026 ini saya menghabiskan Ramadhn bersama keluarga. Menyaksikan si sulung, Amira Zetkin mulai berpuasa penuh.  Hari pertama hingga ketiga puasa Zetkin libur sekolah, jadi saya melihat bagaimana dia berjuang melawan hasrat makannya yang besar.

Meski berpuasa dan sedang libur, rupanya Zetkin tetap mendapat jatah Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari sekolahnya. MBG adalah program andalan Presiden Prabowo untuk memastikan terpenuhinya gizi anak-anak Indonesia. Dengan gizi yang cukup, diharapkan anak-anak akan tumbuh sehat, menyerap pelajaran dengan baik, hingga memiliki cukup kecerdasan sebagai bekal masa depan. Sungguh cita-cita mulia.

Pada hari pertama sekolah setelah libur awal puasa, saya bersama istri menjemput Zetkin pulang sekolah. Zetkin memamerkan paket MBGnya dengan bangga, sebuah roti, susu kotak dan sebungkus kacang  goreng.

Awalnya sekadar iseng, saya minta istri merekam video yang mempertanyakan nilai menu makan siang Zetkin yang dirapel tiga hari. Tidak cukup sampai di situ, video kedua dibuat saat membandingkan harga di minimarket.

Rupanya bukan hanya saya dan istri yang mengunggah video protes MBG. Jagad media sosial telah dibanjiri keluhan serupa. Para ibu dan bapak dari anak-anak sekolah mengunggah paket makanan kering yang diterima anaknya sebagai bentuk protes.

Tidak berhenti di media sosial, protes juga terjadi dalam bentuk unjuk rasa di berbagai kota.  Respon menarik datang dari PDIP. Partai ini menggelar konferensi pers, menjelaskan ke publik bahwa sebagian anggaran MBG berasal dari dana pendidikan. Pernyataan itu dibalas oleh pihak pemerintah, yang justru meminta PDIP mengarahkan protes kepada pimpinan DPR dari partai mereka sendiri. Perdebatan pun bergeser, dari soal gizi anak, menjadi tarik-menarik kepentingan politik.

Belum usai polemik MBG, kabar dari luar negeri datang silih berganti. Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran. Ali Khamenei dikabarkan gugur. Sebagian umat berduka, melihatnya sebagai simbol perlawanan terhadap imperialisme. Sebagian lainnya bersikap sinis, ada yang menganggap itu sebagai konsekuensi konflik panjang di Timur Tengah, ada pula yang menolaknya karena perbedaan mazhab.

Di penghujung Ramadan, beredar video yang menyayat hati. Seorang pria tertangkap kamera CCTV meraung kesakitan akibat terkena siraman air keras di wajahnya. Pria itu adalah Andri Yunus, aktivis KontraS yang getol menolak kembalinya supremasi miter atas kekuasaan sipil di negeri ini.

Demikianlah puasa tahun ini berjalan, di antara percakapan tentang makanan anak sekolah, perdebatan politik, kebanalan tentara, hingga perang yang secara jarak demikian jauh, namun tetap hadir dalam obrolan sehari-hari.

Tahun ini saya dan istri bersepakat lebaran di Palopo. Dalam perjalanan panjang dari Jeneponto ke Palopo, makanan hingga geopolitik global menjadi topik obrolan yang tak ada habisnya. Dan obrolan itu tidak menghasilkan apa-apa selain perasaan yang makin pesimis.

***

Ini kali kedua saya berlebaran di Balandai, Kota Palopo, kampung halaman istri saya. Bersama mertua, istri, dan anak-anak, kami melaksanakan salat Idulfitri di Masjid Besar Al-Jihad. Saya tidak ingat siapa nama khatib yang membacakan khutbah, tapi saya menyimak dengan saksama isi khotbahnya, bahkan saya rekam dengan HP.

Setelah salat Id selesai, dilanjutkan dengan salam-salaman, foto-foto, dan tentu saja makan-makan. Usai makan-makan, sambil menikmati sebatang rokok, saya memutar kembali khutbah yang tadi saya rekam.

Rekaman dimulai tepat pada saat sang khatib menyitir hadis dari An-Nu’man bin Basyir: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan berempati di antara mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”

Khatib kemudian mengingatkan bahwa membangun bangsa tidak cukup dengan pembangunan fisik semata. Pembangunan sejati, katanya, harus dimulai dari pembangunan iman dan akhlak: kejujuran dalam bekerja, amanah dalam jabatan, keadilan dalam memimpin, serta kepedulian terhadap sesama.

Ia juga menekankan bahwa Idulfitri adalah momentum untuk memperbaiki hubungan sosial, menghilangkan dendam, mempererat silaturahmi, dan membangun kembali persaudaraan.

Khatib menegaskan bahwa keberhasilan puasa akan diukur setelah Ramadan berlalu, sejauh mana latihan bulan puasa, meningkatakan kadar ibadah di luar bulan puasa. Sejauh mana prinsip-rinsip yang kita jalankan selama puasa seperti kejujuran, ketulusan dan kepedulian mampu terus kita amalakan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya merasa materi khotbah ini terhubung dengan topik orbrolan saya sepanjang jalan kenangan; Jeneponto-Palopo.

Saya putar ulang rekaman khutbah, semua yang disebutkan khatib; kejujuran, amanah, keadilan, kepedulian, adalah nilai-nilai yang memang dibutuhkan untuk menjawab persolan hari ini.

Sayang khutbah itu berhenti hanya pada pesan moral, tentang nilai-nilai yang ditegakkan ajaran Islam.  Khatib menyebutkan apa yang seharusnya ada, tetapi tidak menjelaskan mengapa justru nilai-nilai tersebut begitu sulit hidup dalam kenyataan yang kita hadapi hari ini.

Di tengah kecamuk pikiran tentang Zetkin dan MBG, Andri dan tentara, PDIP dan anggaran pendidikan, hingga konflik global yang menyeret Prabowo ke dalam BOP, pesan khutbah ini ssesungguhnya mengena, namun terasa jauh. Seruan untuk menjadi jujur dan amanah rasanya seperti berdiri di atas ruang hampa, tidak bersentuhan langsung dengan sumber persoalan.

Padahal, jika kita benar-benar menganggap umat ini sebagai satu tubuh, seperti hadis yang dikutip khatib, maka rasa sakit itu seharusnya tidak hanya dirasakan, tetapi juga dipahami. Dari mana ia berasal, siapa yang merasakannya paling dalam, hingga apa yang membuatnya terus berulang.

Di titik ini, saya mulai merasa bahwa khutbah tidak cukup hanya menjadi pengingat moral. Ia seharusnya juga menjadi cara untuk membaca kenyataan.

Bukan hanya mengatakan bahwa kita harus jujur, tetapi juga menjelaskan bagaimana sistem bisa membuat kejujuran menjadi sulit, bahkan pahit.
Bukan hanya menyeru keadilan, tetapi juga berani menelusuri bagaimana ketidakadilan diproduksi dan dilanggengkan.

Tanpa itu, nilai-nilai yang disampaikan akan selalu terdengar benar, tetapi terasa jauh.

Saya lalu mengingat-ingat kembali hal-hal yang dulu pernah saya dengar atau saya baca, mengenai bagaimana Islam pertama kali hadir.

Islam diturunkan di Mekkah, sebagai tuntunan bagi umat manusia untuk mencapai keselamatan, dunia-akhirat. Saat itu Mekkah terbilang maju secara ekonomi, tapi timpang secara sosial dan moral. Pendudukmnya terfragmentasi dalam sistem sistem kabilah (suku).

Loyalitas utama adalah pada suku, bukan pada nilai universal seperti kebenaran dan keadilan. Konflik antar suku sering terjadi dan kadang pecah menjadi perang yang berlangsung lama. Perlindungan hukum juga tergantung status suku, yang lemah sering tidak punya perlindungan.

Dalam banyak hal, itu relevan dengan situasi sekarang. Loyalitas para pejabat dan politisi tidak diarahkan pada kepentingan publik, melainkan pada partai atau kelompoknya masing-masing.

Hukum pun rasanya hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Mereka yang lemah harus menerima kenyataan tanpa perlindungan yang memadai, demikianlah yang dialami Andri.

Mekkah pada masa itu merupakan kota perdagangan yang maju, tetapi kemajuan itu tidak dinikmati secara merata. Kekayaan terkonsentrasi di tangan elite Quraisy, sementara sebagian besar masyarakat hidup dalam kesulitan. Praktik riba dan eksploitasi menjadi hal yang lazim.

Negeri ini kaya akan sumber daya alam, tetapi penguasaannya terkonsentrasi pada segelintir elite. Eksploitasi sumber daya dan perampasan ruang hidup melahirkan kesenjangan yang semakin lebar. Eksploitasi sumber daya alam bahkan menjelma bencana yang menewaskan ribuan orang. Sementara para oligark hidup dengan kekayaan tak terhingga.

Perbudakan pada masa itu, adalah sesuatu yang dianggap biasa. Manusia bisa dimiliki, dipaksa bekerja, dan diperlakukan tanpa hak.

Hari ini bentuknya mungkin berbeda, tetapi logikanya tetap sama, eksploitasi terhadap manusia. Ini bisa kita lihat di Kawasan Industri Bantaeng. Modal beroperasi dengan jam kerja melampaui batas, upah lembur tidak tidak bayar.

Saat tidak lagi dibutuhkan buruh dipecat secara massal, pesangon hanya dibayar setengah, asuransi kesehatan diputus sebelum waktunya. Seolah buruh hanya bagian kecil dari mesin produksi, tidak didudukkan sebagai manusia dengan martabat yang setara dengan pemberi kerja. Relasi pemodal dengan buruh adalah wajah perbudakan modern.

Situasi ini bukan sekadar kemiripan sejarah. Ini menunjukkan pola yang sama. Kekuasaan dan kekayaan terkonsentrasi di tangan penguasa dan pengusaha, sistem yang merka bangun membuat keadilan menjadi tidak terjangkau.

Pada situasi seperti itulah Islam pertama kali hadir. Bukan hanya sebagai ajaran tentang kebaikan pribadi, tetapi sebagai koreksi terhadap ketimpangan yang hidup dalam masyarakat.

Al-Qur’an menyebutkan: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Rahmat itu tidak datang dalam bentuk sistem yang langsung jadi, tetapi dimulai dari sesuatu yang paling dasar; cara manusia memandang Tuhan, diri, dan sesamanya.

“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1)

Aqidah adalah penegasan bahwa hanya Allah yang layak menjadi pusat ketaatan. Jika hanya Allah yang berhak ditaati secara mutlak, maka tidak ada manusia yang boleh mengambil posisi itu atas manusia lain.

Tidak ada kekuasaan yang boleh berdiri tanpa batas. Tidak ada sistem yang boleh menempatkan sebagian manusia sebagai alat bagi kepentingan modal dan kekuasaan.

Aqidah, dalam pengertian ini, bukan hanya soal keyakinan di dalam hati, tetapi juga tentang posisi manusia dalam kehidupan sosial.

Ajaran ini mengubah cara manusia melihat dirinya, bukan dengan supremasi suku, kelas, atau kekuasaan tertentu, tetapi sebagai hamba Allah yang setara di hadapan-Nya.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah, dalam makna ini, bukan hanya ritual, tetapi orientasi hidup. Dan ketika orientasi itu hanya tertuju kepada Allah, maka seluruh bentuk penghambaan kepada selain-Nya, baik dalam bentuk perbudakan, penindasan, maupun ketidakadilan, tidak punya legitimasi.

Di sinilah aqidah bekerja sebagai sebagai rahmatan lil alamin. Membebaskan manusia dari struktur yang membuat kebaikan itu sulit diwujudkan.

Sekali lagi saya memutar rekaman khutbah itu, lalu mendengarnya dengan cara yang sama. Kali ini saya menemukan makna yang lebih dalam, melampaui apa yang saya tangkap sebelumnya.

Pesan tentang kejujuran, amanah, dan keadilan tentu selalu benar dan selalu dibutuhkan. Namun Islam mengajarkan kebenaran tidak boleh berhenti sebagai seruan. Ajaran yang dibawa Muhammad Rasul Allah adalah menjadi cara melihat, memahami, dan bersikap terhadap kenyataan yang sedang berlangsung.

Jika benar umat ini diibaratkan sebagai satu tubuh, maka rasa sakit itu tidak cukup hanya dirasakan. Ia harus dibaca, dipahami, dan diobati dengan resep Islam.

Ramadan mungkin telah melatih kita untuk menahan diri, untuk jujur, untuk peduli. Tetapi setelah Ramadan berlalu, pertanyaannya bukan hanya apakah kita tetap menjalankan itu semua.

Pertanyaan paling pentingnya adalah: apakah latihan selama Ramadan telah menumbuhkan keberanian untuk memastikan bahwa nilai-nilai itu punya cara untuk hadir di tengah kenyataan, di tengah ketimpangan, di tengah kekuasaan, di tengah kehidupan yang tidak selalu berjalan adil.

Dengan begitu,  mungkin khutbah yang kita dengar setiap lebaran akan menemukan makna yang lebih dalam, tidak hanya berhenti sebagai pengingat, tetapi menjadi awal dari cara kita membaca dan mengubah realitas.

Tata cara hidup untuk mengubah realitas juga diatur dalam hukum Syariah yang bersumber dari wahyu Allah, dan ajaran Muhammad yang mencakup dua hal utama yakni ibadah dan muammalah.

Ibadah atau hubungan dengan Tuhan secara sederhana dimanifestasikan dalam salat, puasa, zakat dan berhaji.  Muamalah yang merupakan tata cara hubungan dengan manusia diantaranya meliputi Hukum keluarga (nikah, waris), Ekonomi (jual beli, riba), serta urusan sosial dan keadilan.

Syariah adalah sistem nilai mengenai aturan hidup dalam Islam yang bertujuan menciptakan kehidupan yang adil, tertib, dan bermakna.

Ah rasanya catatan refleksi ini sudah terlalu jauh. Wajah khatib kembali terbayang, tetapi bukan lagi mengingatkan makna lebaran, melainkan berseru:
Ittaqullah………. Ittaqulaha haqqa tuqaatihi
Saya merasa khatib itu berseru kepadaku, apakah taqwa kamu sendiri sudah haq?


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *