Interupsi

Detak jam menggantung di angka 10 pagi itu. Ketika sekalian mata terarah pada sekerumun remaja, yang bergiliran maju menghala tetamunya. Di tangan mereka, terkepal catatan yang sesekali dilirik. Di kursi-kursi yang menghadap mereka, para hadirin menanti giliran bertanya.

Kelas tetap berjalan meski formasi tak komplet, walaupun, senyatanya, keadaan seperti ini sudah cukup sering berlangsung. Beruntung semuanya melangkah normal, bahkan cukup berisik, untuk jumlah yang cukup sedikit. Cukuplah membuat kelas sebelah, sesekali mengintip kami lewat lubang kecil di dinding pembatas kelas. Lewat tawa yang lepas, sanggah menyanggah, dan gemuruh tepuk tangan.

Menghidupkan dialog di kelas

Senantu sebelum Ramadan, surat edaran pemerintah menabalkan bahwa sekolah sebisanya menyedikitkan kegiatan di luar ruangan, selama bulan itu. Bagi guru macam saya, yang kegiatan di luar kelasnya kadarnya lebih banyakan, aturan ini berarti satu hal: menukar materi, atau sekurang-kurangnya, meraba opsi tindakan yang bisa menyesuaikan.

Sungguhpun ini tak membikin kaget, sebab agaknya, tanpa mandat itu pun, guru tetap akan mengurangi aktivitas luar ruangan. Alhasil, jadilah saya meresapi mau pemerintah itu, sebagai momentum untuk mengenal lebih dekat murid.

Maka kemarin, saya menjalankan cara sederhana: Small Group Discussion (SGD). Sumpah, nikmat betul memandangnya. Adik-adik di kelas, tak hanya menyata secara fisik, tetapi intelektualnya juga ikut hadir. Ada banyak tangan mengacung, banyak pertanyaan terlontar, dan sanggah menyanggah terjadi.

Tidak sekadar mengangkat tangan, tidak sekadar bicara. Pertanyaan mereka mencerminkan daya kritis dalam mengeja peristiwa. Gagasan-gagasannya, tidak sekadar kehendak menjadi yang paling aktif, lalu berharap mendapat sanjungan, tidak.

Saya pun turut membersamai, dan mendapati diri seolah membentuk kelompok sendiri, lalu menyumbang masing-masing kelompok sebuah pertanyaan. Suasana itu, jika tidak berlebihan, cukup mengharukan, peristiwa yang saya angankan, ketika ruang kelas jadi arena adu gagasan. Saya bahkan percaya diri mengabarkan, ini lebih baik, atau jauh lebih baik dari suasana kelas semasa saya kuliah, kemarin-kemarin.

Di kelas, saya sering menggelisahkan, pembelajaran berjalan tapi nihil kesertaan aktif murid. Semacam pembelajaran konvensional, hanya satu arah. Umpama terjadi, maka pembelajaran gaya bank sebagaimana dimaksud Freire, walakhir menyata.

Sebuah tempat bertumbuh

Adik-adik di sini, sejak dini memang telah dibibit dengan baik. Mereka sudah mengenali dan terlibat dalam organisasi, ketika anak seusianya barangkali sedang sibuk utak-atik motor kesayangannya. Di bawah payung besar Muhammadiyah yang teduh, mereka bertumbuh selaku bagian organisasi otonom yang berjenjang di dalamnya.

Di sana, mereka telah ditempa banyak hal sejak belia: mengasah jiwa kepemimpinan lewat banyak rupa kegiatannya. Menjejaki  mimbar demi mimbar. Berlatih mengutarakan gagasan, yang mungkin dibui dalam tempurung kepalanya. Biar tak selalu mudah, tetapi majelis ini, sebentuk ruang latihan, dari sana keberanian mereka bersemi.

Hari itu, mereka tampak matang mangarifi, bagaimana menyikapi dilema pertemanan. Sepengalaman saya, barangkali juga anda, acap kali sebuah pertanyaan tertahan di kerongkongan, lantaran tak sampai hati menonton kawan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu, di depan, saat datang gilirannya pada sesi tanya jawab di kelas. Atau kalau tidak begitu, pertanyaan yang sedianya melambung ke kuping si penampil, tapi akhirnya diurungkan itu, lantaran kecut hati bilamana ada serangan balik kala gilirannya sampai.

Budaya organisasi yang membarengi mereka sejak mula, juga menggandeng tangan-tangan mereka untuk memeluk buku-buku. Sebuah pengaruh panjang, rembesan dari sana. Tercermin dari geliat banyak di antara mereka dalam membaca buku. Sesuatu yang tak lumrah saya toleh di lain tempat. Seringnya saya saksikan, transaksi pertukaran buku-buku, dari novel bertemakan cinta, hingga buku kiri yang membara.

Merayakan perbedaan

Kita sering menampak paradoks dalam ruang kelas: ketika kesempatan bertanya dibuka, justru yang terdengar hanyalah keheningan. Diam akhirnya menjadi bahasa dominan.
Pertanyaanya, apakah diam sama artinya dengan paham? Tidak demikian halnya. Ketakutan murid melepas pertanyaan, seringnya merupakan refleksi dari banyak hal: tidak percaya diri, takut salah, takut dianggap bodoh, takut jadi bahan tertawaan, dan hal lainnya.

Padahal, bertanya adalah keberanian paling jujur dalam proses belajar. Silang pendapat antara guru dan murid, atau antar sesama murid, sebenarnya serupa indikasi, bahwa pendidikan dialogis seperti dimaksudkan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, mengemuka dalam ruang kelas.

Ya, melalui pandangan progresifnya, Freire berupaya mendekonstruksi hubungan hierarkis antara guru dan murid. Dijabarkannya, agar relasi di ruang kelas setara, guru tidak lagi dipandang sebagai pihak superior, sebaliknya murid dipandang dalam posisi inferior.

Diskusi dan perdebatan, serupa merayakan perbedaan, bagi saya. Semua yang terlibat dalam proses belajar, juganya mesti terlibat dalam dialog, untuk memahami realitas bersama. Tak satu pun pihak boleh merasa lebih berkuasa. Di dalam ruang kelas, mutlak adanya kesetaraan itu. Saya bahkan bisa memakan beberapa menit, cuma untuk menanti ada setidaknya satu di antara mereka, berani bicara.

Pergumulan mereka pada proses belajar di kelas tempo hari, menyelak mata saya, bahwa menampilkan guru sebagai figur dominan, menghadirkan kecanggungan. Karenanya bertanya menjadi sangat berisiko, risiko terlihat bodoh hingga risiko dianggap melawan guru.

Penting dan sangat penting, guru membaur dalam ruang kelas, menempatkan diri sebagai teman belajar. Sesederhana menempatkan diri secara fisik di antara mereka, duduk dalam lingkar yang sama. Sebab meleburnya guru, berarti kecanggungan dapat diredam, walau mungkin tak seutuhnya.

Saya memungut banyak kepingan dari proses belajar pagi itu, betapa suasana menjadi lebih cair. Pertanyaan mengalir lebih lepas, tanggapan datang tanpa tertahan. Alurnya jelas: posisi di dalam kelas mempengaruhi suasana belajar.


Comments

One response to “Interupsi”

  1. MAR’a TUSHALIHAH Avatar
    MAR’a TUSHALIHAH

    wah,kerenn pak kerenn poll,jadi terharu bacanya,waktunya yang singkat ternyata memiliki kenangan yang hebat,terimakasih atas dedikasinya pak,kerenn masyaAllah🔥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *