Rahasia Ramadan

“Puasa untuk-Ku, bukan untukmu.” (Hadits Qudsi)

Sejumput simpai rahasia puasa akan aku tabalkan, dari seorang guru ruhani. Perspektif ini membawa kita menelusuri jalan-jalan sunyi kezuhudan. Sebagaimana tujuan puasa, untuk mendidik tubuh mengikuti laku jiwa . Simpai itu, saya tuliskan lagi sebagai penguat pada setiap jiwa.

Pertama. Puasa menjadi milik-Nya karena ia paling sunyi. Di antara seluruh ibadah, puasalah yang memiliki keistimewaan secara batiniah. Maksudnya, ketika hamba menjalankan ibadah puasa, maka, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Ibadah lainnya, seperti salat, zakat, atau haji tampak terlihat secara zahir. Salat tampak geraknya, zakat tampak pemberiannya, sedangkan haji tampak perjalanannya.

Secara zahir puasa tampak tidak makan dan minum. Tapi, itu bukan esensi puasa. Sesungguhnya, hakikat puasa tidak lain menahan diri. Ketika laku menahan diri mampu kita laksanakan selama berpuasa, maka, hanya Tuhanlah yang benar-benar mengetahuinya. Ibadah puasa, adalah ibadah tanpa bentuk, tanpa validasi, tanpa simbol yang mencolok. Hanya Dia dan kita yang tahu.

Bukankah, salah satu sifat Tuhan Mahagaib. Sedangkan, orang yang berpuasa seperti sedang memakai pakaian Tuhan. Sesuatu yang gaib atau tersembunyi, lebih dekat kepada rahasia Ilahi. Maka, dari ibadah puasa (gaib) yang di kerjakan manusia, yang paling dekat dengan sifat Tuhan, tentunya.

Kata Rumi: “Aku sangat dekat, mungkin terlihat jauh. Sangat menyatu denganmu, mungkin terlihat terpisah. Terlihat di tempat terbuka, Aku tampak tersembunyi Aku muncul sangat diam, karena Aku selalu berbicara denganmu”. 

Kedua. Balasan puasa bukan sesuatu yang diberikan, melainkan kedekatan yang di singkapkan. Umumnya, ibadah- ibadah selain puasa, Allah menjanjikan pahala berupa surga, ampunan, atau derajat. Namun, hadist Qudsi atas, Tuhan tidak berfirman “Aku memberinya pahala,” tapi Ia berfirman, “Aku sendirilah tebusannya.” Itu artinya, tuhan yang langsung memberi balasan bagi orang-orang berpuasa. 

Bagi para pejalan ruhani, hadist Qudsi di atas adalah bahasa cinta. Pada maqam pecinta, ibadah bukan lagi bertujuan atas hadiah, kenikmatan, bahkan surga. Melainkan, perjumpaan dengan-Nya. Pada tahapan awal, puasa melatih melepaskan seluruh kenikmatan dunia. Ketika kita sudah mampu melepas seluruhnya kenikmatan itu. Maka, yang tersisa hanya Dia.

Pendeknya, balasan bagi orang-orang berpuasa, sesungguhnya, bukanlah pemberian dari Tuhan. Namun, tabir kedekatan yang di singkapkan oleh tuhan, berupa hidayah dan kasih sayang-Nya.

Seperti yang ditabalkan Rumi, “Sirnakan dirimu. Sirnakan dirimu dalam cinta ini. Saat kau sirna dalam cinta ini. Kau akan dapatkan segalanya”.   

Ketiga, Puasa dinaikkan derajatnya karena ia paling dekat dengan rahasia ketakterbandingan Tuhan. Puasa yang sedang kita jalani sekarang, tidak lagi sekadar menggugurkan kewajiban, atau hanya merasakan lapar dan haus. Jauh dari pada itu, jiwa kita dilatih memasuki wilayah yang bukan hakikat makhluk.

Hakikat makhluk, bergantung dan butuh pada sesuatu di dalam maupun di luar diri, seperti bergantung dan butuh makan dan minum. Sedangkan, hakikat Tuhan, adalah berdiri sendiri (shamad), tidak membutuhkan apa pun.

Ketika seorang sedang berpuasa, sebenarnya, ia sedang berlatih mengenakan sifat yang bukan miliknya: tidak makan, tidak minum. Maka Tuhan berfirman dalam hadits qudsi, “Puasa untuk-Ku dan Akulah tebusannya.”

Pada konteks ini, hakikat puasa bukan “melakukan”, melainkan “meninggalkan”, meninggalkan makan, minum, dan meninggalkan yang lainnya. Definitnya, puasa adalah penafian. Melalui penafian Allah memperkenalkan dirinya, sebagaimana firman Allah, “Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” [QS 42:11].

Dengan demikain, puasa dinaikkan derajatnya karena ia paling dekat dengan rahasia ketakterbandingan Tuhan.

Mengutip syair rumi, “Wahai engkau yang hanya memuja tubuh, jangan terikat padanya, jangan melupakan ruhmu. Jangan hanya melihat jasad.”

Keempat. Puasa mewariskan perjumpaan dengan Tuhan. Bukan sekadar pahala, tetapi pengalaman kehadiran. Berbuka dan berjumpa dengan tuhan, adalah dua kegembiraan yang di rasakan bagi orang-orang berpuasa, Sebagaimana ucapan Rasulullah saw. (HR Bukhari dan Muslim).

Kegembiraan pertama, adalah kegembiraan tubuh, ia kembali menerima haknya berupa makanan. Atau, berupa kegembiraan jasmani. Sedangkan kedua, adalah kegembiraan ruhani. Atau, semacam sukacita penyaksian (musyāhadah).

Ibn Arabi, menabalkan, puasa mewariskan perjumpaan dengan Tuhan. Bukan sekadar pahala, tetapi pengalaman kehadiran.

Bagi seorang hamba yang menanggalkan dirinya, sebagai “Aku berpuasa” menandaskan dirinya telah sirna, yang tersisa hanya Dia. “Puasa untuk-Ku, bukan untukmu.” (Hadist Qudsi). Artinya, jangan engkau klaim ia sebagai milikmu. Engkau hanya memasuki wilayah-Ku karena Aku yang memanggilmu.

Rumi mengambarkan, orang riya menunjukkan dirinya puasa dan salat, agar orang menyangka ia sedang mabuk cinta Ilahi.

Kelima. Puasa pada hakikatnya bukan amal, melainkan sifat negasi. Puasa secara lahiriah adalah ibadah yang diwajibkan di bulan Ramadan, tetapi secara hakikat, ia adalah ketiadaan amal. Artinya, puasa bukan lah suatu gerak, bukan ucapan dan bukan pula tindakan. Pada konteks ini,  hakikat puasa, adalah diamnya nafsu.

Karena itu, Ibn Arabi mengatakan, puasa pada hakikatnya bukan amal, melainkan sifat negasi (salbi).

Justru karena puasa menegasikan “tidak”, di situlah puasa menjadi cermin yang paling jernih bagi Yang Maha “Tidak serupa dengan apa pun”. Analognya, ketika kita salat ada bacaan yang dilafalkan, saat kita bersedakah ada pemberian atau persembahan, begitu pun dalam menunaikan haji ada perjalanan yang dilakukan. Tetapi, dengan puasa, yang ada hanya “menahan”.

Ibadah puasa berada dalam kesunyian. Dengan kesunyian itu seorang hampa belajar tentang makna kefakiran sejati, bahwa ia hidup karena dipelihara, bukan karena dirinya.

Kata Maulana Rumi dalam Ghazal-nya: “Jika kau fakir dan sampai di puncak kefakiran, saat itulah Tuhan akan mendatangimu. Jika kau merasa berilmu, sucikanlah dirimu, seperti “sesungguhnya mereka tak memahami”.Jika kau seperti huruf “Nun” dalam ruku’ dan seperti pena dalam sujud, maka kau seperti “Nun” dan pena, yang terhubung dengan apa-apa yang ditulis”.

Keenam. Puasa adalah bulan yang membongkar ilusi kita. Ilusi bahwa kita berdiri sendiri. Dan, ilusi bahwa kita memiliki daya.

Ramadan bukan sekadar bulan lapar. Melainkan bulan yang membongkar ilusi kita. Ilusi ketika kita merasa mampu berdiri sendiri, dan ilusi ketika diri merasa memiliki segala daya.

Bukankah puasa mengajarkan, kita tak bisa bertahan tanpa makan dan minum? Itu artinya, kita rapuh dan butuh sesuatu. Dan, hanya Dia yang menjaga keberadaan kita.  

Ketika seorang pejalan ruhani berbuka puasa, ia bergembira bukan karena hanya makanan, tetapi ia melihat kasih Ilahi yang terus memberi makan pada makhluk-Nya. Ia juga bergembira, karena Allah mengizinkan mendekati makna “tidak membutuhkan” meski hanya sebagai bayangan.

Baginya, puasa adalah latihan fana kecil setiap hari, berupaya melepas klaim, melepas identitas, dan melepas “Ke aku an”. Dan, ketika ia mampu melapas itu, maka Yang Mahanyata menjadi terang.

Kata Rumi: “Saat mereka terbebas dari ke-aku-an diri, mereka bertepuk tangan. Saat mereka terlepas dari kekurangan diri, mereka menari-nari.”

Ketujuh. Bagi para pejalan ruhani, rasa lapar bukan sekadar kosongnya perut, ia adalah ruang yang diisi oleh rindu. Semakin dalam rasa rindu, semakin ringan pula rasa lapar.

Bukankah dengan berpuasa suara batin mudah terdengar, beda, jika perut dalam keadaan kenyang, jiwa sering tidur. Para ahli tasawuf sering menyebutkan, lapar saat berpuasa membuat hati lebih lembut, mudah menangis, mudah merasakan kehadiran Ilahi. Apalagi, ketika dalam kondisi berdoa, bukan lagi memohon permintaan, tetapi lebih pada munajat kerinduan.

Dalam cinta biasa, seseorang yang berjarak dengan kekasihnya, melahirkan rindu. Namun, dalam cinta Ilahi “menahan” melahirkan kedekatan. Pada konteks ini, puasa adalah menahan dengan sadar. Artinya, seseorang sengaja menahan diri, bukan karena tak mampu, tak sanggup, atau berdaya, tetapi karena ia ingin membuktikan cintanya.

Kata Rumi, “Tak usah mencari kekasih Tuhan di istana atau di silsilah. Carilah di taman hati yang berdzikir, di tempat sujud yang basah, di mata yang menangis dalam rindu.”

Kedelapan. Puasa adalah gerbang menuju Tuhan. Pada konteks ini, puasa mematikan seluruh keinginan yang tak pernah puas. Setiap kali hasrat berkata “ingin” puasa menjawab “cukup”. Setiap ego berkata “milikku” puasa berbisik “bukan”

Pada titik ini, puasa melatih menjadi sifat Shamad- menuju kemandirian batin dan melepas ketergantungan. Bukan ketergantungan pada Tuhan, melainkan membebaskan diri dari perbudakan nafsu. Dalam kondisi ini, para sufi menyebutnya, mati sebelum mati, yang mati bukan tubuh, tetapi keserahan. Yang terkubur bukan jasad, tetapi keakuan.

Dari kematian seperti itu, lahirlah kehidupan baru. Hidup yang lebih sunyi, lebih ringan, dan lebih dekat. Puasa mengantarkan kehidupan baru, dari ramai menuju sepi, dari sepi menuju hening, dari hening menuju hadir, dari hadir menuju lebur.

Kata Maulana Rumi, “Dalam cinta ditemukan kehidupan, sebab dalam bangkai kematian, tak akan ditemukan apa pun, Anda tahu kan siapa yang hidup? Mereka yang terlahir dari cinta.”
Kesembilan. Tuhan bekerja dalam diam. Benih tumbuh dalam diam. Cinta bersemi dalam diam.

Hakikat puasa bekerja dalam keheningan. Ia tidak tampak, tidak terdengar, pun tidak dipuji. Ia bekerja di ruang tersembunyi. Dengan kesunyian itulah, ia paling menyerupai rahasia Ilahi.

Pada konteks sosial, puasa mengajarkan kita, bahwa, amal terbaik adalah amal yang dilakukan diam-diam, tanpa perlu ada orang yang tahu. Tak membuat kita riya, apalagi menuai pujian dan tepuk tangan orang lain. Satu-satunya yang kita inginkan hanya rida-Nya.

Menunaikan puasa dengan kesadaran batin. Artinya, kita sedang belajar memasuki keheningan Tuhan. Keheningan yang penuh, bukan kosong, sunyi yang sarat kehadiran, bukan yang hampa.

Dan, di situlah, puasa bukan lagi sekadar ibadah, melainkan jalan pulang.


  


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *