Nilai spiritualitas pada akhirnya akan diuji oleh realitas sosial: sejauh mana nilai yang kita anut memberi dampak sosial atas apa yang kita pelajari dan yakini. Tak terkecuali ibadah puasa yang sedang kita jalani.
Pengalaman spiritual atas tempaan puasa tidak semestinya berhenti di ruang-ruang privat yang tak menyentuh kesadaran sosial. Sesungguhnya, nilai puasa akan bermakna jika memiliki letupan sosial. Ibadah puasa merupakan momentum refleksi diri yang melampaui keterasingan personal, menjelma empati yang membumi.
Perspektif puasa yang melahirkan transformasi sosial kerap disandingkan dengan pemikiran Ali Syari’ati. Tokoh intelektual berkebangsaan Iran ini banyak menginspirasi kaum muda Muslim untuk berpikir kritis dan tercerahkan. Berkat pemikirannya, perlahan cara pandang konservatif berubah menjadi pemikiran yang revolusioner.
Sejumput pemikiran Syari’ati tentang ibadah puasa membongkar paradigma lama bahwa puasa tak semata urusan hubungan vertikal dengan Tuhan. Di balik itu, tersembunyi makna yang lebih dalam. Syari’ati membeberkan adanya keterhubungan pengalaman kolektif yang mempertemukan manusia pada nasib yang sama.
Analognya, ketika kita menahan rasa lapar, sesungguhnya pada saat bersamaan kita sedang melatih diri merasakan kekurangan yang kerap menjadi keseharian kaum tertindas. Dalam dimensi serba kekurangan itu, seketika tembok perbedaan runtuh. Kaum yang kenyang dan yang lapar sama-sama merasakan keterbatasan.
Makna lapar dan dahaga saat berpuasa tidak berhenti sebatas tidak makan dan minum di siang hari. Bagi Syari’ati, lapar dan dahaga adalah tindakan sosial yang subversif. Artinya, keduanya tidak hanya dihayati sebagai mekanisme biologis, tetapi juga sebagai kritik terhadap nafsu konsumsi dan kerakusan yang menjadi alas tatanan sistem kapitalistik.
Dalam tinjauan ini, puasa merupakan momentum membongkar praktik hegemoni kapitalistik yang terang-terangan menanamkan kebutuhan semu dalam pikiran manusia modern.
Syari’ati menegaskan, “Puasa adalah menolak. Menolak membekukan tubuh. Menolak melekat pada dunia materi. Ia adalah latihan pelepasan bagi manusia agar menjadi tuan atas dirinya sendiri, sebelum ia bisa menjadi tuan atas nasib masyarakatnya.”
Puasa transformatif yang dimaknai Syari’ati meletakkan spiritualitas sebagai energi perubahan sosial. Ia menolak gagasan agama yang membiarkan manusia larut dalam pengasingan pribadi. Puasa tidak sekadar romantisme penderitaan, melainkan jalan membuka kesadaran kritis.
Manakala tubuh merasa lapar, saat itu pula terbuka kesadaran bahwa kehidupan bukan semata perkara akumulasi, melainkan tentang kesediaan berbagi. Begitu pula manakala kerongkongan dirajam rasa haus, manusia disadarkan bahwa hanya segelintir orang menikmati kesejahteraan, sementara banyak lainnya terpinggirkan. Ketimpangan itu adalah potret sistem yang secara diam-diam merampas hak banyak orang.
Bagi Syari’ati, solidaritas adalah bagian esensial dari nilai puasa itu sendiri. Berpuasa, bagi orang kaya, meskipun hanya sementara, dapat menghadirkan pengalaman tentang apa yang dialami kaum miskin sepanjang hidupnya. Hal tersebut bukan sekadar pengorbanan, melainkan pengenalan mendalam terhadap realitas sosial yang berpihak pada masyarakat tertindas.
Di balik kesunyian ibadah puasa tersimpan energi sosial yang bisa menjadi benih perubahan. Bahkan, Syari’ati percaya bahwa masyarakat yang menjalani kehidupan dengan kesadaran kritis akan melahirkan generasi yang tidak hanya beriman, tetapi juga berani melawan ketidakadilan. Pada titik inilah puasa menjadi latihan membangkitkan kesadaran, menumbuhkan empati sosial, dan meneguhkan tanggung jawab atas nasib sesama.
Kini, ketika kapitalisme menjadikan konsumerisme sebagai gaya hidup, puasa hadir menawarkan jalan sunyi yang revolusioner. Ia mengingatkan bahwa kebebasan sejati tidak terletak pada kemampuan membeli, melainkan pada kemampuan melepaskan.
Secara sederhana, Syari’ati seakan hendak mengatakan bahwa melalui kesederhanaan berbuka dan kesunyian sahur, barangkali lahir revolusi sosial. Dari sepotong roti yang dibelah, dari segelas air yang diminum, dari kesadaran akan lapar dan dahaga, manusia dapat merasakan penderitaan sesamanya di berbagai belahan dunia.
Tafsir puasa ala Syari’ati melatih kita menjadi manusia baru—manusia yang tidak hanya khusyuk berdoa di mihrab masjid, melainkan juga gelisah menyaksikan dunia yang timpang oleh ketidakadilan.
Puasa bukan hanya soal menahan, tetapi juga memerdekakan. Jika dihubungkan dengan realitas global—di tengah disrupsi dunia dan ancaman perang dunia ketiga—tafsir ini memberi kesadaran baru bahwa sebagian umat Muslim saat ini masih mengalami penjajahan dalam berbagai bentuk.
Karena itu, momentum puasa tidak hanya sebatas memupuk simpati, tetapi lebih jauh menyuarakan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa yang masih dijajah dan tertindas.

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply