Satu hal yang selalu dan hampir pasti kami dapatkan ketika ke luar rumah: aktivitas membakar sampah. Seperti sore ini, kami sekeluarga menempuh jarak sekitar setengah jam menuju kota. Dan sudah beberapa kali, saya berucap kepada Shanum untuk tutup hidung, “Ada asap, Nak.” Dia dengan posisi duduk di paling depan, sudah tahu untuk segera menutup hidung mungilnya itu dengan jilbab. Selain itu, dia sudah tahu waktu-waktu dia mesti tutup hidung, seperti ketika ada yang sedang merokok atau mobil besar lewat.
Miris memang, di negara berkembang, anaklah yang perlu “bertolenrasi” atas haknya mendapatkan udara bersih. Dan tentu saja kelompok rentan lainnya, dipaksa untuk bersikap menerima apa adanya hanya karena mereka rentan “tidak bisa apa-apa”, atau karena mereka sedikit.
Lihat saja, pada aktivitas orang-orang yang merokok di dekat anak kecil, seperti di tempat odong-odong atau arena bermain. Jelas-jelas peruntukan alat dan arena itu untuk anak, tetapi selalu saja ada pendominasian dari beberapa orang lelaki dengan cara mereka merokok sedekat itu dengan anak. Dengan dalih, di ruangan terbuka, ada angin.
Tanpa mereka sadari, angin-angin itu akan membawa dan menempelkan partikel dari rokok. Membawanya kemana-mana. Pikirkan saja, bagaimana jika angin yang dimaksud itu, tidak berhembus. Cara terbaik agar tetap waras ialah berusaha untuk mencegahnya, seperti memilih odong-odong yang bapak penjaganya tidak merokok. Atau memilih yang sepi.
Walaupun terkadang, tetap saja ada waktu-waktu tertentu perlu memberi kode atau teguran kepada yang bersangkutan, tentu saja sebagai ibu yang tumbuh dengan perasaan people pleaser, yang diidap oleh banyak manusia lainnya dari generasi millenial. Teguran itu dengan perasaan deg-degan, mengucapkan shalawat dan berdoa dulu. Juga turut berupaya mengatasi rasa overthinking atas respon dari yang ditegur.
Mulai terbayang bukan? Betapa ribetnya ternyata pikiran dari seorang ibu “hanya untuk” sesederhana menyenangkan hati sang anak yang sangat suka naik odong-odong.
Banyak pula yang mengira, masalah asap ini, rokok dan sampah itu hanya sesederhana masalah individu saja. Dengan solusi sesederhana “ya sudah tidak usah kasi naik saja anaknya odong-odong” misalnya. Menjauh saja kalau ada yang bakar sampah”, padahal ini bukanlah masalah perorangan, melainkan masalah sistem dan struktural.
Hampir seluruh masyarakat merasa masalah yang mereka hadapi itu adalah masalah mereka sendiri, masalah individu. Ibu yang bekerja, merasa masalahnya ada pada dia yang tidak pandai mengatur waktu. Padahal waktunya memang yang tidak ada. Para bapak merasa, kurang kerja keras untuk menghasilkan uang, di sisi lain para istri merasa tidak bisa berhemat dan mengatur uang. Padahal yang terjadi adalah tidak masuk akalnya kenaikan upah dengan kenaikan harga barang dan apa yang perlu diatur kalau uang itu sudah habis untuk menjadi lauk pauk di meja makan. Dan ini adalah bentuk kesengajaan agar pikiran ini tercipta dan dilestarikan.
Bayangkan betapa besarnya kekuatan dari masyarakat jika saja mereka menyadari kalau masalah yang mereka hadapi karena lahirnya sistem yang buruk dan itu dilestarikan. Bayangkan tuntutan dengan polesan amarah yang mereka keluarkan! Dan betapa ketakutannya pengatur negara akan hal ini.
Sejak tahun lalu, saya secara sadar sudah tidak menggunakan kata pemerintah lagi, melainkan menggantinya dengan kata pengatur negara atau pelayan masyarakat. Upaya untuk membangun kesadaran alam bawah sadar, kalau mereka hanyalah pengatur dan orang yang melayani. Bukan orang yang memerintah. Karena kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, orang yang paling berhak memberi perintah.
Kenapa itu semua menjadi masalah sistem, bukan hanya soal individu? Seperti begini penjelasan yang berusaha saya sederhanakan. Pemikiran ini sebenarnya juga baru saya sadari dan perlahan-lahan terbangun ketika menjadi mahasiswi antropologi. Kami seringkali disuruh “menebak” apa kiranya yang ada di kepalanya orang atau masyarakat, sehingga mereka melakukan suatu perbuatan.
Untuk sampai di tahap berbuat melalui tindakan. Ada sejumlah proses yang dilalui, yaitu apa bahan pengetahuan yang ada di kepala kita, bahasa populernya stock of knowledge dan bagaimana pengalaman, lingkungan itu mengolah pengetahuan itu. Sehingga lahir suatu perbuatan.
Misalnya, contoh paling sederhananya, di waktu sekarang bulan puasa menjelang sore di mana-mana tersedia penjual takjil. Kenapa ada sebagian orang yang tidak tertarik untuk membelinya dan sebagian orang lainnya memilih untuk membeli. Bagi sebagian orang yang memilih tidak membeli, perbuatan itu muncul dari serangkaian proses-proses di atas itu. Pengetahuan akan kandungan isi takjil, bagaimana kadar gulanya, bagaimana kondisi kesehatannya. Sehingga terjadilah proses mengolah serangkaian pengetahuan-pengetahuan menjadi sebuah tindakan: bikin sendiri saja. Dengan bahan dan takaran gula yang ia kehendaki.
Begitupun yang terjadi dengan kondisi orang yang lebih memilih untuk beli. Ada pengetahuan yang berbeda dengan serangkaian proses mengolah yang mungkin saja ada perbedaan, misalnya dia tahu kandungan gula, bahan dan semacamnya. Tetapi, perbedaan dengan pengetahuan yang sama dalam mengolahnya, ia lebih memilih menolak dengan alasan lebih praktis ataupun lebih hemat.
Nah, hal-hal seperti ini, pengalaman dan lingkungan yang berbeda-beda dapat menghasilkan keputusan yang berbeda padahal stock of knowledgenya sama. Penjelasan di atas dapat pula diselaraskan dengan aktivitas bakar sampah itu. Keputusan orang memilih berbuat ataupun tidak. Di mana letak dan posisi “ini adalah masalah sistem, bukan hanya individu”, ialah ketika sistem itu tidak diatur oleh pengatur negara sebagai pihak yang dipercayakan untuk mengurusinya.
Di sisi lain, pendistribusian pengetahuan yang tidak dilakukan secara merata, sehingga lahirnya ketidaksadaran akan berbahayanya aktivitas itu. Walaupun ada alternatif dari benda yang ingin dibakar. Tetapi apakah pengetahuan itu diketahui oleh para pelaku pembakaran sampah? Sampai di tahap mana distribusi ini sampai dan dukungan sistem? Nah pikiran-pikiran inilah yang kerap kali tidak kita sadari dan memang sengaja untuk hal itu terjadi.
Sehingga, ketika kita melihat masalah kita dan masalah orang lain itu semua menjadi masalah pribadi masing-masing. Padahal, ada berapa juta ibu yang kesulitan mengurus rumah sekaligus mencar nafkah? Jika memang itu pribadi, tidak mungkin konteks dan akar masalahnya juga dirasakan oleh sebagian besar ibu menjelang habusnya cuti 3 bulan pasca melahirkan?
Artinya, karena ada banyak dan sebagian besar ini menjadi masalah yang dirasakan oleh para ibu. Sehingga patutlah, pengatur negara dan pelayan masyarakat itu menciptakan solusi berupa asistem dan dukungan untuk itu. Untuk apa mereka dibayar melalui pajak-pajak kita dengan berbagai macam potongan kalau bukan menyelesaikan masalah masyarakat?
Pada intinya dan akhir tulisan dari seorang IRT ini, untuk mengajak berpikir kalau masalah sehari-hari yang kita hadapi bukanlah masalah individu tetapi ini adalah masalah sistem dan masalah bersama. Sekaligus upaya untuk membentuk dukungan pendistribusian pengetahuan, melalui komunitas, tulisan, bahkan sekadar obrolan ringan antar para orang tua yang sedang menunggu takjilnya dibuatkan.

Seorang ibu pembelajar sepanjang hayat. Ketua Balla Literasi Indonesia. Bisa dihubungi di IG: @nurulaqilahmuslihah


Leave a Reply