Tegak di atas Benturan: Lawan adalah Cermin dan Kawan adalah Kobaran

Sebagai seorang yang berusaha tumbuh di tengah desakan kolaborasi dan keterbukaan informasi yang kian masif, saya melihat proposisi Sulhan Yusuf dalam esainya berjudul, “Melata di antara Lawan dan Kawan”, Paraminda.com, 23 Januari 2026, sebagai sebuah bentuk romantisme kepemimpinan yang terlalu defensif dan barangkali sedikit paranoid.

Ia berangkat dari sebuah premis yang dipopulerkan oleh Daeng Litere: “Jauh lebih mudah menaklukkan lawan, tinimbang mengendalikan kawan.” Sebuah kalimat yang, meski terdengar puitis dan sarat akan kearifan lokal, sebenarnya menyimpan aroma kecurigaan yang menyengat dan hasrat kontrol yang mulai usang di tengah era modernitas.

Maka dari itu, izinkan saya menyodorkan sebuah perspektif baru yang agak centil namun sedikit polos: “Tegak di atas Benturan, lawan adalah cermin dan kawan adalah kobaran.” Kita harus berani menggugat apakah keharmonisan yang selama ini kita agungkan dalam sebuah lingkaran kawan hanya kolah topeng dari ketakutan kita akan konflik yang produktif.

“Lebih mulia merawat perselisihan dengan kawan, daripada menyeragamkan langkah dalam kepatuhan yang sunyi.” (Puthut EA – Menanam Padi di Langit)

Jika Tajali Daeng Litere melihat kawan sebagai entitas yang harus “dikendalikan” sedemikian rupa agar tujuan kolektif tidak retak di tengah jalan, kita—generasi yang percaya pada kekuatan dialektika dan sintesa—justru harus melihat bahwa kawan yang sulit dikendalikan adalah tanda dari sebuah ekosistem intelektual yang hidup dan bergairah. Mengendalikan kawan, betapapun halus metodenya, adalah sebuah upaya domestikasi intelektual yang sistematis, ia memperlakukan manusia ibarat bidak catur yang harus ditata di atas papan kepentingan, bukan sebagai api yang harus dibiarkan berkobar mencari oksigennya sendiri.

Upaya pengendalian ini seringkali berakar dari ego sang pemimpin yang merasa memiliki hak prerogatif untuk menentukan ritme orang lain. Padahal, kawan yang “liar” adalah katalisator pertumbuhan. Tanpa resistensi dari kawan, kita hanya akan terjebak dalam ruang gema (echo chamber) yang mematikan nalar kritis. Kita tidak butuh kepatuhan, kita butuh tegangan yang menarik kita keluar dari zona nyaman pemikiran yang mandek.

Menghadapi lawan memang memiliki peta yang jelas, hitam dan putih yang tegas, namun ia seringkali bersifat semu dan dangkal. Lawan hanya memberi kita definisi eksternal tentang apa yang kita benci atau apa yang kita lawan, bukan tentang siapa kita sebenarnya secara esensial. Konfrontasi dengan lawan adalah energi yang habis di permukaan, sebuah drama luar yang seringkali hanya memuaskan dahaga akan heroisme sesaat.

Sebaliknya, “benturan” dengan kawan adalah laboratorium jati diri yang sesungguhnya. Di sana tidak diperlukan protokol pengendalian yang kaku, melainkan sebuah pelepasan. Dalam benturan antar kawan, ego kita tidak sedang berhadapan dengan tembok besi musuh, melainkan dengan cermin-cermin hidup yang menuntut kejujuran. Di titik inilah kita diuji, apakah kita mencintai ide kita atau mencintai kebenaran itu sendiri?

Dalam narasi lawas yang sering kita dengar di warung kopi ataupun ruang rapat formal, kawan dianggap sebagai risiko internal yang bisa menggerogoti pondasi jika tak dijaga dengan “penguasaan diri” dan “penguasaan orang lain”. Namun bagi pandangan yang lebih progresif, kawan bukanlah objek statis yang menuntut pengertian atau instruksi, melainkan subjek otonom yang membawa tantangan. Kita tidak lagi butuh pemimpin yang hanya pandai “menata gerak bersama” hingga semuanya tampak sinkron, rapi, dan membosankan seperti baris-berbaris. Kita butuh ruang publik yang luas di mana ketiadaan kendali justru melahirkan otentisitas yang murni.

Ketakutan akan “retaknya” sebuah organisasi seringkali merupakan ketakutan akan kehilangan kekuasaan. Padahal, sejarah mencatat bahwa peradaban besar lahir dari keretakan-keretakan pemikiran yang tajam. Jika sebuah perkumpulan retak karena ambisi personal atau kecemburuan peran, itu bukan selalu karena gagalnya pengendalian, melainkan karena terlalu kuatnya upaya untuk menyeragamkan ritme yang secara alami memang berbeda.

Seni kepemimpinan masa depan bukanlah laku batin yang sunyi untuk meredam ego individu demi keutuhan kelompok, melainkan keberanian untuk merayakan ego-ego yang berserobok. Kita seringkali terlalu takut pada “retak”, padahal dari retakan itulah cahaya gagasan baru seringkali merembes melalui celah-celah dialektis yang sempit. Sebuah organisasi yang terlalu solid seringkali menjadi kedap terhadap pembaruan, membeku dalam struktur yang terlalu rapi namun terlihat bagai “mayat hidup”—bergerak tetapi kosong.

Pengaruh sejati seorang manusia tidak tumbuh dari kepercayaan yang dibangun lewat kesediaan mendengar yang pasif atau sekadar basa-basi diplomatik, melainkan dari keteguhan untuk tetap berdiri di tengah badai silang pendapat yang paling sengit sekalipun. Kepercayaan bukan soal “konsistensi” yang kaku dan kikir, tapi soal kejujuran dalam mengakui ketidakkonsistenan manusiawi kita. Kita tidak sedang mengajak orang untuk sekadar “berjalan bersama” dalam satu barisan yang tertib dan patuh, melainkan mengundang mereka untuk berlari, melompat, dan bahkan saling mendahului dalam satu lintasan visi yang luas.

Visi tersebut tidak boleh menjadi rantai yang mengikat, melainkan horison yang memikat. Di dalam lintasan itu, gesekan antar kawan adalah energi kinetik yang mempercepat laju, bukan hambatan yang harus diredam dengan kontrol yang koersif—hubungan interpersonal yang tidak selalu melibatkan kekerasan fisik secara langsung, melainkan melalui pola dominasi, intimidasi, dan manipulasi.

Jika kekuasaan condong memaksa dan kepemimpinan tentang mengajak, maka literasi berbicara tentang pembebasan. Membebaskan kawan untuk menjadi “lawan berpikir” yang paling tajam dan kritis adalah kasta tertinggi dari persahabatan intelektual. Mengendalikan kawan, betapapun halusnya cara yang digunakan atau semanis apapun metafora yang dibungkus, tetaplah sebuah bentuk tirani batin yang terbalut dalam diksi kebijaksanaan yang manipulatif.

Maka, ukuran keberhasilan kita dalam membangun sebuah gerakan atau komunitas bukanlah seberapa banyak kawan yang tetap setia berdiri di samping, merangkul bahkan menggenggam tangan kita dalam kepatuhan yang tenang dan membosankan. Melainkan, seberapa banyak kawan yang tumbuh menjadi sosok mandiri, tangguh, dan merdeka, yang bahkan mampu berdiri tegak membelakangi kita untuk mencari kebenaran mereka sendiri di jalan yang berbeda.

Menaklukkan lawan adalah kerja ego yang dangkal dan mudah dipelajari bagaikan pemburu rengking di ruang kelas. Mengendalikan kawan adalah kerja kecemasan yang mendalam, sebuah tanda ketidakmampuan diri. Namun, membiarkan kawan tetap liar, berbeda, dan berdaulat adalah kerja literasi yang memerdekakan—gaduh, penuh risiko, dan mungkin melelahkan, tetapi itulah satu-satunya cara agar jiwa kolektif kita tidak mengering dan mati dalam kemapanan yang semu. Mari berhenti mengendalikan, dan mulailah saling membenturkan cahaya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *