Tipu Muslihat Zionis Israel

“Mereka yang bukan saudaramu dalam imam, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” (Ali bin Abi Thalib)


Konflik panjang yang berkecamuk di Timur Tengah, seakan tak berkesudahan.  Keangkuhan Zionis Israel mengangkangi batas wilayah internasional makin menjadi-jadi. Keangkuhan Zionis itu nyata dipertontonkan, ironinya, negara-negara lain, utamanya di Jazirah Arab tak mampu berbuat banyak. Atau, jika tak ingin dikatakan, secara tidak langsung ikut pula mendukung penghancuran di Palestina.

Keikutsertaan menyokong serangan Israel, yang dilakukan tidak hanya di Gaza, melainkan di kawasan Timur Tengah, bukankah itu menandakan, sejak berdirinya negara Israel, mereka telah merecanankan visi besar menguasai kawasan Timur Tengah.

Rencana licik Israel, tidak hanya merebut tanah Palestina, jauh dari itu, mereka sudah memetakan wilayah yang bakal direbut. Pemetaan itu dapat dilihat dari simbol-simbol yang dikenakan oleh tentara Israel.

Hari ini, penduduk dunia menyaksikan, betapa leluasa Israel meneror, bahkan menyerang negara-negara di kawasan Timur Tengah. Padahal, apabila negara di kawansan itu berani melawan, bukan tidak mungkin, dengan mudah mengalahkan Zionis Israel.

Yaman salah satu dari negara di kawasan tak gentar oleh Israel. Di setiap hari Jumat agung, jutaan orang berkumpul di pusat Kota Yaman. Mereka menyerukan perang terhadap kaum penindas Israel. Teriakan perlawanan dari Kota Yaman mengalamatkan kepada negara Arab lainnya, agar membukakan akses perbatasan bagi para pejuang kemerdekaan Palestina, maju bertempur melawan tentara Israel.  
 
Rencana Israel menguasai Timur Tengah dianggap kamusflase. Jangankan menguasai jazirah arab, mengalahkan pasukan tempur Hamas saja mereka kelabakan. Beberapa peristiwa telah terjadi, Israel seakan kahabisan akal mengalahkan Hamas, sehingga cara licik pun dilakukannya.

Melalui bantuan sekutu abadinya, Amerika Serikat, mencoba membujuk Hamas melakukan perdamaian perang. Porak porandak kawasan Gaza, genosida dan krisis kemanusiaan menjadi alasan Hamas membuka ruang perundingan. Di balik perundingan itu, tipu muslihat Israel dan sekutu tersusun rapi untuk menghabisi para petinggi Hamas.

Lagi-lagi rencana itu gagal, pertemuan negosiasi di pusat kota Qatar, sengaja dibombardir oleh pasukan tempur Israel. Beruntungnya, rencana jahat Israel dan Amerika diketahui lebih dulu. Sehingga, petinggi Hamas terhindar dari rencana jahat mereka.

Peristiwa itu mengingatkan kembali sejarah perlawanan Pengeran Diponegoro melawan pasukan kolonial. Jalan perundingan yang tawarkan penjajah saat itu hanyalah tipu muslihat. Diponegoro dijebak, lalu ditangkap dan diasingkan.

Pertistiwa  yang dialami Diponegoro, menyamai tipu muslihat Zionis. Bedanya, petinggi Hamas sudah mempelajari mendalam perangai dan landasan moral kolonialis Israel dan Amerika. Apa pun yang mereka janjikan, tidak lebih dari tipu muslihat.

Dari beberapa peristiwa terjadi, sampai kapan pun Israel tak akan pernah menghentikan perang, sebelum visi mereka terwujud. Penawaran proposal perdamaian, tak lebih dari kelicikan mereka.Tujuan utamanya, adalah menegakkan negara Israel Raya.

Doktrin Israel Raya sejak lama digaungkan. Sejarah menerangkan, dalam rangka mewujudkan mimpi Israel Raya, Theodore Hertzl, tokoh perintis Israel Raya, mengampanyekan dua doktrin primer, yakni Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan, dan doktrin tentang tanah yang dijanjikan Tuhan.

Dua doktrin tersebut, merupakan protokol kelompok zionis modern baik secara teologis, historis, politik atau ekonomi. Demikian dalam buku, Sejarah Lengkap Yerussalem, karangan Rizem Aizid.

Rezim Aizid menambahkan, bagi Zionis Isreal, tidak bisa aman tanpa mempunyai tanah air sendiri. Selain memiliki visi besar mendirikan Israel Raya, mereka juga memiliki visi panjang menguasai dunia. Rahasia itu dibongkar setelah dokumen rahasia berjudul Protocols of Zion diungkap ke publik oleh Sergey Nilus, pendeta ortodoks, berkebangsaan Rusia. 

Konflik Israel-Palestina bertahun-tahun lamanya hingga sekarang, tidak berarti tanpa konsensus. Lembaran sejarah menerangkan, solusi dua negara pernah ditempuh kedua belah pihak. Akan tetapi, rekomendasi yang diharapkan, gagal menyelesaikan konflik. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui komite khusus (UNSCOP) pada 31 Agsutus 1947 merekomendasi pembagian wilayah untuk mengatasi konflik di Palestina.

Adapun tiga pembagian wilayah itu, yakni negara Arab merdeka dengan luas 11.000 km persegi, negara Yahudi dengan luas 15.000 km persegi, sedangkan Yerusalem dan Bethlehem berada di bawah kendali PBB. Akan tetapi, seiring waktu, luas wilayah Israel makin luas. Secara sepihak Israel melakukan teror dan pemusnaan mukim-mukin di tepi barat dan Gaza. Walhasil, mereka berhasil merebut dan menduduki tanah-tanah Palestina.     

Solusi dua negara kembali didengungkan di sidang PPB baru ini. hal tersebut dipercaya menjadi solusi mengakhiri konfilik kedua negara. Presiden Prabowo hadir langsung membacakan pernyataan persetujuan  Palestina sebagai negara merdeka. “Satu-satunya solusi adalah two-state solution. Dua keturunan Abraham harus hidup dalam rekonsiliasi, damai, dan harmoni,” kata Prabowo. 

Solusi dua negara, menurut beliau, adalah langka mencapai perdamaian sejati. Palestina harus merdeka, akan tetapi, Israel juga harus diakui dan dijamin keselamatannya serta keamanannya. Artinya, pernyataan Prabowo di sidang PBB, menegaskan kembali pembagian wilayah yang pernah di setujui tahun 1948 silam.

Kalaupun solusi dua negara, adalah satu-satunya solusi mencapai perdamaian, lalu, mengapa sejak tahun 1948 Israel terus memperluas wilayahnya dengan segala macam kejahatan dilakukannya. Sejak itu, hingga sekarang, wilayah Pelestina makin kecil. Konflik Palestina-Israel bukan lagi dikatakan perang, lebih dari itu, Israel telah melakukan pemusnaan etnis, genosida dan bencana kelaparan.

Solusi dua negara tidak lagi relevan. Watak kolonialis Israel dan sekutunya makin nyata. Berkali- kali Preseiden Prabowo mengatakan, ciri kaum kolonialis senantiasa menggunakan standar ganda. Bisa saja mereka sepakat di meja perundingan, tetapi diam-diam mereka melakukan sabotase.

Teruntuk negara sekutu kolonialis yang memiliki hak veto di PBB, pengakuan mereka akan kemerdekaan Peletisna, tak sepenuhnya dapat dipercaya. Pada kenyataannya, mereka masih juga menyuplai senjata yang digunakan tentara Zionis di Gaza. Sampai kapan pun, kaum kolonialis takkan berhenti menjajah, hingga menguasai negara lain. Maka, perlawanan adalah satu-satunya cara menghapus penjajahan di muka bumi.

Kredit gambar: https://de.toonpool.com/cartoons/David%20und%20Goliath_184696


              


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *