Di tengah lebatnya hutan di Kampung Tamarunang, Desa Barua, Kabupaten Bantaeng, ada sebuah sumur tua yang hingga hari ini masih menjadi sumber air dan sumber cerita sakral bagi masyarakat sekitar. Sumur itu dikenal dengan nama Sumur Balandayya. Meski tidak banyak tercatat dalam literatur resmi, sumur ini tetap hidup dalam ingatan dan tutur masyarakat, diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari warisan leluhur.
Sumur ini dipercaya telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Sejarah mencatat bahwa pemerintah Belanda pertama kali hadir di Bantaeng sekitar tahun 1737. Oleh karena itu, besar kemungkinan bahwa Sumur Balandayya telah berusia lebih dari dua abad. Tidak ada catatan resmi mengenai tahun pembuatannya, tetapi kondisi fisik dan cerita turun-temurun memperkuat dugaan bahwa sumur ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak masa penjajahan.
Sumur Balandayya dilindungi oleh susunan batu melingkar dengan diameter sekitar 1,5 meter, sedang kedalamannya antara dua hingga tiga meter. Yang menarik, airnya tidak pernah keruh dan tidak pernah kering, bahkan saat kemarau panjang sekali pun. Kualitas airnya tetap jernih, bahkan jarum yang jatuh ke dalamnya bisa terlihat dari permukaan. Tak heran, masyarakat sekitar menyebutnya sebagai “sumur abadi” atau “sumur suci”.
Akses menuju sumur ini bukanlah jalan biasa. Sebelum mencapainya, seseorang harus melewati sungai kecil. Konon, apabila seorang gadis tergelincir saat menyebrang, itu adalah pertanda bahwa jodohnya sudah dekat. Bila seorang gadis merasa sulit mendapatkan jodoh, ia akan mandi di sumur ini sambil memanjatkan doa, dan menurut banyak cerita, hajat tersebut sering terkabul.
Hal ini menjadi salah satu mitos lokal yang memperkaya cerita spiritual dan romantika seputar sumur ini. Tak jauh dari sumur, terdapat pancuran bambu yang menjadi tempat mandi, menambah fungsi sumur ini sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Keunikan lain dari sumur ini adalah, kepercayaan akan keberadaan makhluk penjaga. Dalam cerita masyarakat, penjaga sumur ini adalah belut besar yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu yang hatinya bersih, tekun berdoa dan memiliki niat suci. Beberapa warga juga meyakini bahwa penjaga sebenarnya adalah seorang kakek tua berjubah dan bersorban putih dengan janggut panjang, yang merupakan representasi dari kebijaksanaan dan penjaga alam.
Sebagai bagian dari tradisi, warga Tamarunang kerap menggunakan air dari sumur ini untuk berbagai keperluan sakral, seperti mandi sebelum menikah, sebelum sunatan, atau sebelum memulai hajat penting lainnya. Sesaji juga biasa disiapkan dan diletakkan di sekitar sumur, sebagai bentuk doa dan harapan akan keselamatan dan kesejahteraan.
Salah satu hal mistik yang masih diingat hingga kini adalah, terdengarnya suara doa dari arah sumur setiap malam Jumat. Suara itu seolah berasal dari sekelompok orang yang sedang melafalkan doa dengan penuh penghayatan. Namun saat dicari, tidak satu pun sosok manusia yang ditemukan. Fenomena ini menambah kesan sakral dari Sumur Balandayya, yang bagi sebagian masyarakat adalah tempat bersemayamnya kekuatan spiritual.
Warisan budaya juga terlihat dalam tradisi masyarakat setempat setelah panen. Mereka membawa tiga ekor ayam jantan, berwarna putih, merah, dan hitam ke tepi sumur sebagai wujud syukur. Setelah berdoa, ayam-ayam tersebut dilepaskan ke alam bebas atau ke sungai sebagai simbol pengembalian kepada alam.
Dahulu, masyarakat sangat menjaga kesucian sumur ini. Bahkan setelah menikah, pasangan pengantin baru pun akan mendatangi sumur untuk mandi bersama, sebagai lambang kesucian cinta dan harapan akan kehidupan baru yang subur dan sejahtera. Dalam tradisi adat pernikahan, masyarakat Desa Barua juga membuat rumah bambu kecil yang berisi buah-buahan dan makanan khas, lalu menghanyutkannya ke sungai sebagai simbol harapan dan doa atas pernikahan yang baru saja dilangsungkan.
Namun, seiring waktu, nilai-nilai spiritual yang dahulu begitu dijaga mulai tergeser oleh perkembangan zaman. Air sumur yang dulunya menjadi sumber utama, kini telah tergantikan oleh air pipa leding yang dikelola secara mandiri oleh warga. Meski demikian, sumur tetap terawat secara alami, tidak pernah dibersihkan secara modern, tetap bebas dari lumut dan kotoran, seolah alam sendiri yang menjaganya.
Saya pribadi memiliki kedekatan emosional yang mendalam dengan sumur ini. Ayah saya, Abdul Kadir Jaelani, adalah Kepala Desa Barua pertama, sekaligus ulama yang disegani. Kehadiran beliau sebagai pemuka agama memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan spiritual masyarakat saat itu. Namun seiring pergantian generasi, kehadiran tokoh-tokoh agama seperti beliau mulai memudar, bersamaan dengan lunturnya sebagian nilai-nilai tradisional dan religius yang dulu begitu dijunjung tinggi.
Masyarakat Tamarunang masih berusaha mempertahankan jati diri mereka. Sumur Balandayya menjadi simbol dari semangat itu. Ia adalah saksi bisu dari perjalanan sejarah, spiritualitas, dan kebudayaan yang menyatu dalam kehidupan masyarakat Barua. Sumur ini tidak hanya menyimpan air, tetapi juga menyimpan doa, harapan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Melalui pelestarian fisik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, Sumur Balandayya dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan budaya, mencintai lingkungan, dan menghormati leluhur. Sumur ini bukan sekadar situs sejarah, melainkan ruang hidup yang menyatukan alam, manusia, dan spiritualitas dalam satu kesatuan yang harmonis.
Dengan segala keunikan dan kisah yang menyertainya, Sumur Balandayya layak untuk dikenal lebih luas. Ia adalah bukti nyata bahwa kearifan lokal memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat, mempererat hubungan antargenerasi, dan memberikan arah spiritual di tengah derasnya arus modernisasi. Mari kita jaga, rawat dan lestarikan, agar kisahnya tidak hanya berhenti di bibir hutan, tetapi terus mengalir seperti air jernihnya, membawa kesejukan bagi siapa saja yang mengenalnya.

Lahir di Bantaeng, 01 Maret 1972. Beralamat di Jln. Sungai Bialo, Kabupaten Bantaeng. Alumni Jurusan Ilmu Administrasi Negara. Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) Makassar. Saat ini sebagai Kepala Perpustakaan SD Negeri 7 Letta.


Leave a Reply