Di Babangeng kemarau biasanya berlangsung Juni hingga Agustus, sesekali bertahan hingga Oktober. Saat kemarau, hembus angin lebih dingin dan lembab. Malam lebih menggigil. Siang menjadi lebih terik, dahan pinus yang saling bergesek bisa menyebabkan kebakaran. Lahan pertanian seringkali ikut terbakar.
Saat kemarau berlangsung lebih lama, rumah yang sumber airnya dari Sungai Pappepekang akan berhenti mengalir. Rumah-rumah yang mengalirkan air dari Sungai Kariu selalu siap berbagi.
Kemarau dua tahun lampau lima lelaki muda menemui Harun di Babangeng. Diskusi digelar, mata air ditinjau, berjenis tanaman dan ternak dibahas. Lima lelaki muda mengorek-ngorek informasi tentang kampung dan cara hidup orang Babangeng. Cerita mengalir, benih-benih harapan disemai.
***
Babangeng adalah kampung tua yang berada dalam kawasan hutan negara di Desa Pa’bumbungang. Kampung ini berjarak enam kilometer dari jantung desa, tiga kilometer bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Selebihnya, harus berjalan kaki, melewati jalan setapak, menembus rimbun pepohonan.
Babangeng yang terpencil menyimpan denyut kehidupan 26 keluarga. Di sana bermukim 124 orang yang menggantungkan seluruh hidupnya pada tanah, air, dan hutan yang mengelilingi mereka. Kampung ini menyimpan jejak peradaban kecil yang luput dari peta pembangunan.
Berdasarkan SK Menteri Kehutanan tahun 1996 dan SK Gubernur Sulsel tahun 1999, kawasan hutan negara di Pa’bumbungang seluas 618 hektar, terdiri dari 419 hektar hutan produksi dan 199 hektare hutan produksi terbatas. Dari luas tersebut, sekitar 16,4% sudah dimanfaatkan warga untuk pemukiman dan pertanian, termasuk 73,1 hektar oleh warga Babangeng dan 28,5 hektar oleh warga Bonto Bu’ne.
Hidup di Babangeng berarti hidup selaras dengan alam. Nasi jagung dan sayur mayur menjadi menu sehari-hari, hasil panen dari ladang yang digarap sendiri. Jika beruntung, mereka bisa menikmati ikan dari pasar Baroe di Desa Kampala—pasar yang hanya digelar dua kali seminggu dan bisa dicapai setelah berjalan kaki selama dua jam.
Keseharian warga Babangeng adalah kisah tentang bertahan dan bersahabat dengan tanah. Mereka menanam kopi, cengkeh, buncis, ganyong, hingga sayuran seperti kentang, kubis, wortel, dan lombok. Tak ketinggalan buah-buahan dan tanaman rempah, dari alpukat hingga sereh. Di sela-sela ladang, pohon-pohon kayu tumbuh: suren, sengon, mahoni, hingga nangka.
Tak hanya menanam, mereka juga beternak: sapi, kuda, kambing, dan ayam. Semuanya dikelola dalam satu sistem kehidupan mandiri, tanpa listrik dan internet, tapi penuh kearifan. Di malam hari, hewan liar seperti lakung—yang mirip beruang dan pemakan pucuk rotan, muncul di tepian kampung. Siang hari, memu, hewan berkantung pemakan daun, sesekali terlihat bergelantungan di dahan pohon. Rusa dan monyet menjadi bagian dari kehidupan yang mengiringi aktivitas warga. Hutan di sekitar Babangeng adalah rumah bersama, tempat manusia dan satwa saling berbagi ruang.
Air menjadi anugerah yang dikelola dengan bijak. Warga mengalirkan air dari empat sumber mata air utama menggunakan pipa dan bambu ke rumah-rumah mereka. Sungai Pappeppekang dan Kariu, serta mata air Lojong dan Gantinga, menjadi nadi kehidupan yang tak pernah berhenti mengalir, menghidupi dapur dan ladang, memenuhi kebutuhan sehari-hari dari mencuci hingga memasak.
Babangeng memang jauh dari gemerlap dunia luar, tapi di sanalah nyala kehidupan dijaga dengan saksama. Di sanalah manusia hidup berdampingan dengan hutan, bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai penjaga. Tak banyak yang tahu tentang Babangeng, tapi barangkali dari kampung kecil seperti inilah kita bisa belajar bagaimana bertahan, merawat, dan memberi makna pada hidup—dengan cara yang paling sederhana: menyatu dengan alam.
***
Sore mendekati senja saat lima pemuda yang datang menembus jalan setapak tiba Babangeng. Debu masih melekat di sepatu dan punggung mereka yang oleh basah keringat. Waktu menunjukkan pukul setengah lima, mungkin anak-anak muda ini berangkat dari kota usai salat Jumat. Rencananya anak-anak muda ini akan menginap di rumah Harun, orang Babangeng yang sering mewakili warga pada pertemuan di kantor desa.
Di antara lima anak muda yang datang, hanya satu yang dikenal oleh Harun, namanya Kamal, lelaki muda yang kerap datang membawa kabar soal hutan dan izin-izin dari kementerian. Ia orang Balang Institute, LSM yang berurusan dengan pengelolaan hutan dan sering disebut warga sebagai “pendamping hutan”. Empat pemuda lainnya: Arif, Tobo, Dimas, dan Ilham, kata Kamal adalah mahasiswa dari Makassar. Mereka sedang mengisi liburan dengan belajar langsung ke kampung. Tapi bukan liburan biasa.
Malam usai salat Isya, mereka langsung menggelar diskusi di rumah Harun. Ada dua kelompok yang dibentuk, kelompok perempuan dan laki-laki. Arif dan Ilham memandu kelompok perempuan, sementara Kamal dan Dimas mengajak laki-laki berkumpul. Tobo sibuk menjadi “tukang poto”, memotret suasana sambil sesekali mencatat percakapan.
Diskusi malam itu membuka pintu-pintu cerita yang selama ini hanya bergema di dapur dan ladang. Esok paginya, warga menemani kelima pemuda ini menyusuri sumber-sumber air yang disebutkan pada diskusi tadi malam. Sungai Pappeppekang, Sungai Kariu, mata air Lojong dan Gantinga, mereka kunjungi. Mengamati aliran air, mencatat jarak, mendengar cerita warga tentang musim hujan, tentang pipa bambu yang kadang pecah, tentang kekeringan yang membuat air tak mengalir sampai ke dapur.
Sabtu malam, diskusi kembali digelar. Tapi kali ini semua berkumpul dalam satu ruangan: perempuan dan laki-laki duduk berdampingan. Kamal menjelaskan, bahwa enam desa di Kabupaten Bantaeng baru saja mendapatkan SK Menteri Kehutanan tentang Penetapan Areal Kerja Hutan Desa. Artinya, hutan tak lagi sepenuhnya dimonopoli negara. Masyarakat bisa membuat rencana bagaimana mengelola hutan tanpa merusaknya, menjadikannya sumber makanan, sumber air, bahkan tambahan penghasilan.
Arif, yang ternyata mahasiswa kesehatan, melontarkan pertanyaan yang membuat ruangan hening sesaat. “Bisakah pertemuan kampung nanti juga membahas soal kehidupan sehari-hari? Tentang kesehatan misalnya?”
Lalu berbicaralah perempuan-perempuan Babangeng, menceritakan tentang sakit perut yang sering datang tiba-tiba, terutama pada anak-anak. Tidak ada satu pun rumah di Babangeng yang punya jamban. Semua masih buang air besar di semak atau tepi sungai. Mereka juga bicara tentang gatal-gatal yang menjangkiti hampir seluruh warga. Tentang sakit gigi, sakit kepala, pegal-pegal, hingga demam yang mereka duga tipus.
Malam itu, keputusan penting diambil. Semua peserta sepakat: perempuan harus ikut dalam setiap pertemuan kampung. Mereka yang mengurus dapur, ladang, kebun, dan keluarga, mereka tak boleh lagi hanya jadi penonton.
Harun, yang sejak awal duduk bersila di sudut ruangan, hanya mengangguk-angguk. Ada kilat di matanya. “Dari ladang sampai meja makan, semua lewat tangan perempuan”. Ucapan Arif membekas di kepalanya. Ia baru benar-benar menyadari, betapa perempuan Babangeng bukan hanya penjaga rumah, tapi juga penjaga kehidupan.
Diskusi malam itu menyalakan bara di Babangeng. Bara yang mungkin kecil, tapi jika dijaga, bisa menjadi api yang menghangatkan perubahan. Dan semua bermula dari lima pemuda yang datang membawa pertanyaan, bukan jawaban.
***
Kini dua tahun beralalu sejak kunjungan Kamal dan kawan-kawannya. Perubahan mendasar yang terjadi di Babangeng adalah jalan yang dirintis setiap sabtu telah memungkinkan dilalui sepeda motor. Selain itu, tidak banyak yang berubah. Rumah-rumah masih belum memiliki jamban. Kemarau masih saja mengembuskan angin yang lebih dingin dan lembab, kebakaran terus saja menjadi ancaman.
Terisolasir dalam kawasan hutan, haram dijamah pembangunan infrastruktur dari pemerintah membuat orang-orang Babangeng harus bekerja lebih keras. Setiap Sabtu semua laki-laki bekerja bakti, merintis jalan, membangun sekolah, mesjid, semua dilakukan mengandalkan tenaga sendiri. Kebutuhan orang-orang babangeng tak pernah dibahas dalam rapat rencana pembangunan di kantor desa. Kemarau dan kenyataan hidup yang tak berubah di Babangeng membuat Harun sering merindukan kunjungan pemuda sepeti Kamal dan teman-temannya.
Tulisan ini dibuat setelah ngobrol dengan Harun di kegiatan sosialisasi KPH tahun 2015. Data yang disajikan berasal dari laporan kunjungan Kamal, Illang, Arif, Tobo dan Dimas pada tahun 2013. Artinya, sudah satu dasawarsa berlalu. Namun, saat ini, adakah perwajahan Babangeng yang menggembirakan, khususnya ketika kemarau hadir menyapa?

Penggiat lingkungan asal Bantaeng, tinggal di Jakarta. Buku favorit Kepulauan Nusantara. Film favorit “Naga Bonar”


Leave a Reply