Akhirnya, di siang hari yang suam, kala orang-orang sibuk meluruskan tulang belakangnya yang ringkih selepas bekerja, kurir tiba di depan rumah, mengetuk pintu, pelan sekali. Ia membawa paket berisi dua buah buku terbitan Insist Press. Saya menerima dengan riang, laiknya seorang anak yang baru saja mendapat mainan baru.
Saya melepas bungkus plastik, membuka salah satu buku bersampul putih-hijau tua, dengan gambar seorang bocah di atas rumput, berkaos dan bercelana pendek, di tangannya koran digulung mirip teleskop. Ia meneropong langit dengan senyum tulus anak-anak, seolah hendak menyingkap angkasa dengan segala teka tekinya.
Banyak buku yang kata-katanya mengetuk batok kepala, seperti gendang yang dipukul buru-buru. Sebagian lagi, berbisik langsung ke dalam dada kita, menyusup halus dan pelan seperti angin yang berembus dari bawah pintu. Begitulah persuaan saya dengan buku Sekolah Biasa Saja, karya Toto Rahardjo. Ia tidak menawarkan teori-teori canggih, tidak juga parade jargon pendidikan. Ia hanya bertanya dengan suara jernih dan sedikit lirih, “Apa sih sebenarnya sekolah itu?”
Saya membuka halaman pertama, bagai membuka jendela selepas hujan lebat. Ada bau tanah basah, udara segar yang dingin, ada rasa ingin tahu yang lama terkubur bangkit perlahan. Buku ini mengingatkan saya pada Sekolah itu Candu Roem Topatimasang, yang saya baca di semenjana masa perkuliahan. Toto Rahardjo tidak sekadar menulis, ia mengajak saya pulang, kepada rasa ingin belajar yang tulus, yang hadir semata-mata karena “keinginan untuk tahu”, tanpa takut teriakan guru, tanpa khawatir angka merah seperti darah.
Sekolah itu bagaikan taman, kata Toto. Taman dalam artinya yang majasi dan hakiki, keduanya. Taman menghadirkan kegembiraaan, rasa aman, dan kenangan manis. Taman, katanya, tidak seperti penjara yang menerungku, membelenggu, dan membikin manusia kehilangan harapan. Memang, kalau diingat-ingat, apa sih yang kita ingat dari sekolah? Hanya pertemanan dan kisah kenakalan, ruang kelas seolah tak menawarkan apa-apa, alpa dalam menghadirkan makna yang membuat terkenang.
Toto pasti jengkel sekali, ketika kini salah seorang kepala daerah ingin mengirim anak nakal ke barak militer untuk “didisiplinkan”. Jelas barak bukanlah taman ketika anak-anak didikte sedemikian rupa agar tunduk dan patuh pada komando. Padahal, kita butuh generasi yang bisa berpikir dan berdialog kritis, bukan anak yang hanya bisa berjalan tegap dan mengangguk “siap”.
Kata Ndoro Kakung, seorang praktisi media sosial, mengirim anak ke barak dengan harapan bahwa disiplin bisa ditanam melalui baris berbaris dan jam malam, ibarat menyiram kaktus dengan air bah, niatnya mungkin baik, hasilnya bisa membusuk.
Perihal sekolah bagai taman, Toto menyebut tiga tokoh pendidikan: Rabindranath Tagore, Ki Hadjar Dewantara, dan Julius Nyerere.
Tagore, penyair cum guru yang mendirikan Ashram Santinketan di Bengal Barat, India. Sebuah sekolah ideal yang ditujukan menjadi pengajaran dengan ruang terbuka, menyatu dengan alam dan lingkungan, menciptakan suasana yang bergairah dibanding tembok dingin sekolah.
Terilhami Tagore, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa, beliau menggunakan kata “taman”, ruang belajar dan bermain, untuk menggambarkan proses penyelenggaraan pendidikan. Sebagai pedoman guru, Ki Hadjar mengenalkan prinsip Patrap Triloka: ing ngrasa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Di Tanzania, Julius Nyerere, kepala suku Zanaki, setelah menyelesaikan studinya, kembali ke masyarakatnya dan mengajak mereka untuk menjadikan kebun sebagai sekolah dalam arti yang sesungguhnya. Ia menggelorakan kebun dan ladang sebagai garapan sekaligus sekolah. Baginya, itulah sumber belajar paling relevan karena menjadi sumber kehidupan utama hampir seluruh rakyat Tanzania.
Begitulah Toto, banyak berkisah dari pengalaman, sebagai pegiat pendidikan alternatif, pendamping komunitas, dan pengamat budaya. Ia menulis dengan bahasa sehari-hari, apa adanya, lugas dan hangat seperti pelukan ibu. Membaca buku ini, saya merasa Toto bukan sekadar menggurui, melainkan menemani, seperti seorang teman jalan yang sabar dan tidak pernah menganggap dirinya lebih tahu.
Belajar itu berjalan bersama kehidupan, bukan bersama kurikulum, akunya. Kata-kata itu mengalir, menyeret saya ke saya ke masa kecil, ketika rasa ingin tahu begitu murni, sebelum sekolah menjadi pabrik nilai, sebelum pelajaran berarti hafalan sebelum ujian.
Di bukunya, Toto memang banyak menggugat praktik pendidikan yang dianggapnya sudah menjauh dari cita-cita republik dan hakikat eksistensial manusia. Mulai dari liberalisasi, komersialisasi, hingga sekolah yang berubah menjadi arena pertarungan, ketika prestasi berarti mengalahkan orang lain, kala kompetisi didahulukan daripada kolaborasi.
Syahdan, pendidikan menjadi ajang gagah-gagahan, sekolah yang paling baik, adalah yang prestasinya paling banyak. Sistem ini, bagi Toto merusak mentalitas anak-anak, mereka hanyak akan mengenal menang dan kalah, memandang orang lain sebagai musuh yang mesti dipukul, bukan sebagai kawan yang harus dirangkul. Motivasi belajar mengalami degradasi, dari keingintahuan menjadi pengakuan. Peradaban yang dangkal.
“… prestasi terkait erat dengan kalah dan menang. Seseorang dianggap berprestasi apabila telah berhasil mengalahkan orang lain—betapa jahatnya? Kejahatan sudah dimulai sejak dalam keinginan mengalahkan orang lain. Padahal prestasi juga bisa berupa proses perkembangan seseorang menjadi lebih baik.” Ungkap Toto.
Demikianlah bagian pertama Sekolah Biasa Saja, hanya hal-hal biasa, dan sebenarnya berulang, tapi harus senantiasa didengungkan, selalu, selamanya. Setidak-tidaknya itu bisa mengingatkan kita bahwa hal seperti itu masih ada, berubah wajah, dan bahkan berlipat ganda. Mendengung seperti nyamuk itu perlu, supaya para pemangku ke(tidak)bijakan tidak lelap dalam gelapnya kamar kekuasaan.
SALAM sebagai Alternatif
Anda salah, jika mengira Toto banyak ngomong dan hanya pandai berteori, bagian kedua bukunya akan menjawab itu. Di sini, Toto berkisah tentang SALAM (Sanggar Anak Alam), lembaga “biasa saja” yang ia dirikan bersama istrinya, Sri Wahyaningsih, di Kampung Nitiprayan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Semua pandangan Toto di bagian pertama bukunya, coba ia ejawantahkan dalam praktik pendidikan di SALAM. Maka di SALAM, tidak ada anak-anak yang dikirim ke barak militer karena nakal, atau dicap gagal hanya karena tidak berprestasi. Anak berpacu dengan dirinya sendiri melalui pembelajaran berbasis riset sederhana, eksplorasi, dan berbaur dengan masyarakat. Di lemari kaca, tidak ada jejeran piala, tidak ada tumpukan sertifikat, hanya keinginan untuk terus belajar dan tumbuh bersama.
Meski sekolah ini “tanpa prestasi”, banyak orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya di SALAM, karena merasa lelah dengan sekolah konvensional yang berorientasi ke “cara hidup orang kota”.
Letak SALAM yang bersisian dengan sawah ditambah pembelajarannya yang mendekatkan anak dengan masyarakat dan lingkungannya, menarik minat banyak orangtua. Mereka ingin anaknya mengenal diri dan akarnya. SALAM menawarkan ke-ndesoan, ketika sekolah lain berlomba menjadi yang paling “kota”.
Salah satu metode belajar di SALAM bernama jaring laba-laba. Anak-anak dilatih untuk mengaitkan topik yang telah dipelajari dengan sesuatu yang bermakna dalam keseharian, hal itu membantu mereka belajar lebih dalam dan luas. Misalnya topik tentang ikan, maka semua pembelajaran selama pekan itu berkaitan dengan ikan. Anak belajar tentang ikan di sungai terdekat, sehingga mereka bisa belajar biologi dan geografi sekaligus. Mereka belajar tentang ikan di sekitar mereka, bukan ikan yang ada di buku.
SALAM juga menggunakan panduan belajar dalam bentuk kerangka daur belajar. Daur belajar disusun dari pengalaman yang distrukturkan (structural experienced learning cicyle). Dengan begitu, proses belajar menjadi terus berulang, tanpa henti, sampai mati. Selain itu, ada pula siklus Experiental Learning Cycle yang dikembangkan oleh David Kolb, filsuf beraliran humanis dari Amerika Serikat.
Ya, SALAM memang sekolah kehidupan, tempat di mana belajar dan hidup beriringan, saling bertaut, dan saling mengisi. Bukan sekadar menghafal fakta, melainkan mengalami, merasakan, dan menemukan makna di setiap kejadian kecil.
Saya membayangkan dunia tanpa dinding-dinding tebal yang memisahkan ‘belajar’ dan ‘kehidupan’. Dunia di mana tiap perjalanan ke pasar, tiap percakapan dengan manusia, dan tiap luka di lutut, adalah bagian dari pendidikan sejati.
Saat menutup buku ini, Toto seolah hadir, merentangkan tangannya ke pundak saya. Ke pundak para guru yang letih seraya menguatkan, mengulang kata-katanya di pengantar bukunya sekali lagi, “Kalau Anda setuju dengan isi buku ini, mari kita bangun sama-sama, mulailah dengan cara Anda, dan dari tempat Anda.”
Jika tidak setuju, tutup saja buku ini, bila perlu buang jauh-jauh, seperti mimpi-mimpi Anda.

Guru PJOK dan pegiat literasi di Bantaeng. Penulis buku kumpulan esai, Jika Kucing Bisa Bicara (2021) dan anggota redaksi di Paraminda.com.


Leave a Reply