Tetiba seorang ibu menenteng seekor ayam sambil senyum-senyum masuk ke rumah saya. Berpikir mungkin suruh potong seperti biasa di rumah. Kadang memang orang-orang suruh potong ayam sama Tata’ (ayah). Saya kecele. Karena ayam tersebut adalah sebuah pemberian dari H. Ramlan Lamung yang mendirikan musholla bernama Nurul Lamung di sebuah kampung bernama Lembang-Lembang. Konon penamaan musala tersebut diambil dari nama ayahnya, musalanya berada tidak jauh dari mukim saya.
Ya, si bocah Argan, walau tidak seperti espekstasi saya dan kebanyakan orang terhadapnya. Terlihat pemalu dan kadang kebablasan juga saat merasa percaya diri. Kami terdiam bercampur haru, ketika pemberian ayam tersebut adalah sebuah pemberian rasa syukur seorang H. Ramlan, katanya Argan sudah beberapa kali disuruh imam, meski sesungguhnya tidak pernah kami lihat, bahkan menyuruh baca surah pendek saja, Argan justru jago ngeles dengan sejuta alasan.
Betapa di sebuah ruang ekspresi, dalam hal ini di mushala Nurul Lamunglah, anak seperti Argan diberi kesempatan mengeksplor kecakapan sisi lain kemampuannya, yang kadang dianggap bandel dan susah mengerjakan PR (tugas sekolah) di rumah. Biasanya saya hanya dengar ketika dia azan. Tetiba mendengar bahwa Argan biasa ditugasi oleh H. Ramlan untuk menggantikannya sebagai Imam. Ini di luar ekspestasi saya. Sungguh. Ada keharuan meski belum selayaknya. Serta bocah Argan yang tidak pernah saya dengar dan lihat seperti biasa di rumah. Membaca surah Al-Fatihah dengan surah pendek.
Dunia didik memang tidak harus membuat anak sekarang dibuat terjebak oleh imajinasi, mimpi, dan harapannya, hanya karena sekelilingnya sering dia temui nilai dalam satu bidang ilmu yang memang Argan butuh proses untuk adaptasi. Maka fenomena mengharukan ini, bapak aji sering disapanya justru membuat Argan punya tempat, punya rasa tanggung jawab, seraya ditempa oleh sirkelnya yang merasakan kenyamannya untuk belajar, berproses. Bukan seperti saya misalnya memaksakan kadang kehendak, dengan sekehendaknya saja. Justru usia Argan semakin tumbuh menjadi anak yang cukup kritis, dan punya kemampuan berbeda dengan anak yang lain.
Paling jarang pergi mengaji, dengan segala alasan: liburlah, atau agak kurang fit. Sehingga kami merasa bahwa bekal yang dimilikinya dalam mengeja beberapa juz, atau kadang dipaksa menghafal surah pendek, tetapi Argan tak bergeming di tempatnya, hanya menatap seraya ingin berujar sesuatu kepada saya, atau orang di rumah, bahwa tidak begini cara menghadapi saya.
Betapa nilai sebelanga, di tepi Magrib seorang H. Ramlan menempa secara tidak langsung bocah Argan. Hanya terdiam haru ketika kabar bahwa bukan sekadar hadiah seekor ayam yang tak tertandingi nilainya, pada hal yang saya anggap ini sebuah berkah, sebuah keharuan yang tiada bisa kami bendung. Ya, pantas Argan saat memasuki Magrib selalu bergegas, meski kadang kami kekeh melarangnya karena kadang ikut bermain dengan teman sebayanya hingga mendapat teguran. Itu wajar agar tidak kebablasan dalam etika.
Nurul Lamung sebuah musala yang di dirikan oleh H. Ramlan bagai ruang didik spiritual, sebagaimana Argan tanpa dipaksa baca surah pendek, mengeja alif, ba, tsa, dan seterusnya. Justru di sanalah dia menemukan sesuatu yang membuatnya bangga, karena diberi ruang mengeksplorasi segala potensi (azan) dan kebiasaan sejak dini berjamaah.
Sementara kami hanya mampu menyuruh, tanpa harus pula bergegas meraih kopiah dan menuju ke masjid, atau musala terdekat untuk ikut berjamaah. Ya, akan tetapi bukan soal jamaah dan apalah saya tuangkan di esai sederhana ini. Namun, lebih pada sisi lain sosok seperti H. Ramlan, meski dikenal kadang tegas kepada anak-anak. Tetapi sangat apresiatif terhadap potensi anak. Terima kasih Bapak Aji atas hal sederhana, tapi mampu menjadi pahala dan keberkahan.
Sambil berlarian pulang setelah tugas azan dan salat tiga rakaat Magrib. Argan kadang laporan bahwa dia telah azan, “Apakah tidak mendengar saya azan? Argan berusaha meyakinkan dirinya, dan butuh pengakuan dari orang dewasa seperti saya. Sebab dia tahu, bahwa sekitarnya hanya bisamerundungnya. Namun, bagi saya sejak usia balita sampai melihat pertumbuhan, perkembangan otaknya, dia punya nyali, punya ekspestasi, dan imajinasi yang kuat melekat padanya. Sampai suatu ketika dia pernah bertanya pada saat malam merambat larut, “Apakah Tuhan juga tidur jika tengah malam seperti ini?” Saya kelabakan menjawabnya, bagaimana mengajukan jawaban di usia sangat belia seperti Argan.
Kelopak kematangannya masih seputik, lalu semudah kita petik hanya karena kita terlalu rewel saat kelakuan anak bandel. Begitulah nuansa yang merasa dewasa meski pola pikir sudah kadaluarsa. Hehe. Bercanda.
Nah, apakah hanya Argan saja yang diberi kesempatan di Nurul Lamung? Atau haruskah juga karena ayam? Lalu mereka rajin? Saya rasa tidak! Karena begitu mengalir saja. Seekor ayam bukan sebuah hal yang menjadi alasan mereka rajin berjamaah, tetapi ada keseruan terpancar di mata anak-anak, seketika menjelang petang, berlomba menuju Musala Nurul Lamung. Fahrul paling tidak mau ketinggalan, berlomba untuk sesiapa terjatah azan, dan tetiba suasana baru bocah Argan alami saat disuruh Imam. Sementara dia hanya anak lorong yang suka bermain kelereng, merengek dan merajuk, tidak ditempa di dunia santri, misalnya. Hanya tahu melafazkan yang dia dengar, lalu ditranfer ke otak jurus penghafalannya.
Percakapan saya sebentar saja dengan Argan. Tanpa harus mengintrogasi atau memaksanya lebih giat dan rajin. Karena sekian lama proses interaksi saya dengannya hanya sebatas bermain, ke sekolah dan kegiatannya saya tidak harus memaksakannya. Sebab saya tahu, dia punya kecakapan dengan kekuatan mudah berinteraksi, beradaptasi, di mana setiap tetamu di teras baca saya, maka Argan pasti ikut nimbrung, meski hanya mengincar sesuatu dari saya, memanfaatkan kelengahan saya, lalu dia berhasil meluluhkan saya dengan memberikan gawai lengkap dengan sandinya. Kejeliannya sederhana, dengan pura mendekat, atau pura menyimak perbincangan kami, yang sesungguhnya Argan pada usianya belum layak.
Nurul Lamung, membuatnya tidak dicap lagi orang sekeliling yang suka berkeliaran, dan kadang membuat kami geram. Sebab jatah waktu disisipkan cukup luang, dari jajan, hingga pada titik tertentu Argan sering menggugurkan sifat kemerasaan kita mendidik. Tetapi kita sering membanding-bandingkan dengan anak yang lain. Pola ajakan dan ajar, yang kita paksakan untuk mereka yang jauh di zaman kita dulu pernah menjadi anak sebelia Argan. Di sanalah Argan melengkungkan suaranya, meski tidak harus dipaksa tadarusan, kursus istilah tilawah, atau qiraah. Tanpa mengajarinya tajwid, kenapa meski beberapa bacaannya cukup cakap menyebut setiap lafaz. Berangkat mengaji saja paling jarang.
Musala Nurul Lamung buah artefak seorang H. Ramlan atau Bapak Aji. Bagai menghapus mendung, bertarung untuk merenung, di tengah para bocah-bocah yang sejak dulu mengenal suasana di Musala tersebut. Polanya sederhana, memberi kepercayaan kepada anak tampil, tanpa harus mendetail kurikulum seperti di sekolah yang hanya dipaksa bangun pagi dan pakai seragam, les sore sampai petang, namun titik jenuh bagi anak tiada mampu para pengajar baca secara tuntas walau sekian lama berinteraksi, setiap hari, setiap jam, atau bahkan setiap detik. Mereka tidak menemukan kecakapan lain anak-anak didik yang terdiri dari pilihan anak didiknya. Nurul Lamung bagai menjadi rujukan untuk seorang Argan, lebih menemukan dunia kanak bagai sabana. Argan menemukan dirinya, ibarat pengakuan, bahwa dia bukan bocah yang lelet, atau tidak tahu matematika. Namun, dia punya naluri, harapan nan luas untuk jiwanya ingin bebas terbang, mengembara segala pengetahuan, tanpa dipaksa-paksa untuk menjadi anak saleh dan patuh.
Sepakat dengan Mbak Stella Cristie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, bahwa kecerdasan bukan istilah di IQ saja, lalu EQ yang menurut para ahli menggambarkan teori tersebut. Namun, bagaimana kecerdasan itu diuji, dengan kembali pada istilah “kognitif sains-nya”. Stella cukup merasakan miris pada struktur, nomenkelatur kurikulum kita di Indonesia. Terlalu jauh antara harapan dan mimpi dalam penerapannya.
Stella melanjutkan bahwa Menurutnya, sistem pendidikan saat ini sering kali hanya menekankan pada hasil akhir, seperti nilai ujian, tanpa menjelaskan esensi dari belajar itu sendiri.
Tak dipungkiri, tes esai memang bisa melatih kreativitas anak. Namun, Stella berpendapat bahwa anak-anak harus terlebih dahulu memahami tujuan dari proses belajar tersebut.
“Secara gamblang iya, tapi sebenarnya bukan saja tesnya, tapi yang mungkin paling sulit atau masih kurang yaitu memberikan pengertian kenapa anak itu harus belajar,” ujarnya dalam podcast di kanal YouTube Merdeka.com.
Dalam wawancaranya, Stella menekankan bahwa banyak anak-anak tidak melihat alasan jelas mengapa mereka harus mendapatkan nilai bagus atau kenapa mereka perlu belajar. Hal inilah yang perlu menjadi renungan baik untuk guru maupun orang tua.
“Jadi, anak tidak bisa melihat kenapa saya harus nilai bagus, kenapa saya harus belajar. Nah, ini mungkin harus dipikirkan nih kepada guru-guru dan orang tua,” beber Stella. Begitulah Argan kadang hendak protes, tetapi ada kerangkeng nilai “adab” katanya”! Sebagai doktrin untuk terpaksa dipatuhi.
Petang menuju Magrib, Argan dan teman-temannya, berlarian menuju rumah masing-masing, mandi, segera Azan magrib menggema, Argan tidak harus arogan, dia bocah yang pintar merasa, memberi kesempatan kepada teman sebayanya, pula untuk mengumandangkan azan menggema di kampung padat bernama Lembang-lembang.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Emma Ramli Cancel reply