Menjadi pengalaman jamak saat ini. Murid-murid berdiri berjejer di lapangan sekolah. Ia ikut senam Indonesia Hebat, mengikuti gerakan yang dipandu dari pengeras suara. Tangannya ke kanan, lalu ke kiri. Badannya meliuk sedikit, kakinya maju selangkah. Lagu ceria mengiringi. Bapak dan Ibu guru di depan memberi contoh, teman-temannya di samping bergerak serempak. Dari kejauhan, semua terlihat harmonis. Semua tampak bugar, tampak gembira. Tapi, apakah benar mereka bahagia?
Jangan salah paham, bergerak atas nama senam Indonesia Hebat itu bagus. Banyak penelitian yang menguatkan bahwa aktivitas fisik meningkatkan konsentrasi, memperbaiki suasana hati, bahkan meningkatkan daya ingat. Tapi mari kita jujur sebentar: apakah benar kebahagiaan anak di sekolah bisa diringkas menjadi satu sesi senam massal?
Sekolah Itu Harusnya Dirindukan, Bukan Dihindari
Kawan-kawan guru, percayalah, di era disrupsi ini, anak-anak kita datang ke sekolah bukan hanya untuk bergerak selaras dalam barisan. Mereka datang ke sekolah untuk belajar, berteman, menemukan dunia, tumbuh menjadi dewasa. Mereka datang bukan karena aturan, karena perintah, apalagi hanya sebagai angka-angka hitungan dana BOS, tapi seharusnya karena mereka memang ingin, karena mereka butuh. Pasti banyak yang menyel: bagaimana cara mengetahui kebutuhan murid? Itulah tugas utama kita. John Dewey, filsuf pendidikan, sejak lama berargumen bahwa sekolah harus menjadi laboratorium kehidupan. Tempat anak-anak mengalami dunia nyata, bukan hanya tempat menghafal fakta dan mengikuti instruksi. Jika sekolah adalah laboratorium kehidupan, apakah kehidupan hanya soal menyelaraskan gerakan tangan dan kaki?
Senang di sekolah bukan sekadar punya ekstrakurikuler yang menarik. Bukan hanya soal ada ruang bermain atau tembok yang dicat warna-warni. Senang di sekolah berarti anak merasa aman. Aman dari kekerasan, baik dari guru maupun teman sebayanya. Aman dari perundungan, aman untuk menjadi diri mereka sendiri. Sayangnya, menurut Rapor Pendidikan 2023, salah satu indikator yang masih mengkhawatirkan adalah rasa aman di sekolah. Masih banyak kasus perundungan, kekerasan verbal, bahkan fisik di lingkungan pendidikan. Kita Boleh berbeda pandangan, tapi menurutku, jika sekolah lebih sibuk mengoordinasikan gerakan senam daripada memastikan anak-anak merasa aman, maka sepertinya ada yang salah dalam cara kita mengelola satuan pendidikan.
Senang Itu Bukan Instruksi, tapi Suasana
Saya teringat dengan salah satu cuitan Yanuar Nugroho, pengajar STF Driyarkara: sang guru menujuk bulan, murid yang paham melihat bulan, murid yang tidak paham melihat telunjuk.
Senam itu instruksi. “Ayo, anak-anak! Ikuti gerakan ini, satu-dua-tiga, kanan-kiri-kanan!” Tapi senang itu bukan sesuatu yang bisa diinstruksikan. Tidak ada perintah, “Ayo, anak-anak, bahagia sekarang juga!” Tolong dipahami, diksi senam itu adalah refleksi atas cara kita memperlakukan setiap anak di kelas dengan keseragaman, dengan perintah, dengan cara-cara lama, dan maafkan: mungkin masih banyak yang seadanya.
Sementara senang itu suasana. Ia tumbuh dalam kebebasan, dalam interaksi yang tulus, dalam sekolah yang memahami bahwa setiap anak punya keunikan sendiri. Sebagai orang yang pernah mangalami penderitaan belajar, saya belajar bahwa anak-anak belajar paling baik ketika mereka merasa nyaman, tertantang, tapi tidak tertekan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang memberi ruang bagi anak untuk menemukan kesenangannya sendiri. Bagi sebagian anak, itu mungkin artinya bermain di luar ruangan. Bagi yang lain, mungkin itu berarti membaca buku sendirian di sudut kelas. Memahami setiap keunikan itu adalah tugas utama kita para punggawa pembelajaran.
Tapi bagaimana mungkin mereka bisa merasa nyaman jika sekolah masih sering kali diperlakukan sebagai mesin produksi nilai? Bagaimana bisa sekolah menjadi tempat yang menyenangkan jika para dewasa di sekitarnya masih lebih sibuk menuntaskan administrasi ketimbang mengenali potensi murid-muridnya?
Apa yang Lebih Mendesak dari Senam?
Kementerian mungkin berpikir bahwa dengan membuat senam nasional, sekolah akan lebih sehat, lebih ceria. Tapi jika harus memilih satu kebijakan yang benar-benar bisa membuat sekolah lebih baik, apakah benar jawabannya adalah senam?
Mari kita lihat apa yang lebih mendesak
Literasi kita masih bermasalah. Anak-anak kita masih kesulitan memahami bacaan panjang. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa banyak anak kita yang membaca hanya sekadar melafalkan kata, tapi tidak memahami maknanya. Numerasi kita juga tak jauh lebih baik. Anak-anak masih kesulitan dengan soal-soal sederhana yang memerlukan logika dasar. Kemampuan mereka menyelesaikan soal berbasis pemecahan masalah masih jauh dari harapan.
Belum lagi soal keamanan sekolah. Kasus kekerasan masih marak. Perundungan di sekolah masih menjadi cerita yang berulang setiap tahun. Jadi, kalau kita boleh memilih, seharusnya prioritas kebijakan itu bukan sekadar membuat anak-anak seragam dalam bergerak, tapi memastikan mereka senang di sekolah.
Sekolah yang Menyenangkan, Bukan Sekadar Sekolah yang Berseragam
Menyenangkan itu berarti sekolah harus memahami bahwa setiap anak berbeda. Tidak bisa semua anak dipaksa belajar dengan metode yang sama. Tidak bisa semua sekolah dipaksa mengikuti model yang seragam. Di sekolah-sekolah pedalaman, di mana listrik saja kadang-kadang belum tersedia, bagaimana mungkin senam nasional bisa dipraktikkan setiap hari? Di sekolah-sekolah kota besar yang kelasnya penuh sesak, bagaimana mungkin senam menjadi solusi atas tekanan akademik yang luar biasa?
Jika kita benar-benar ingin pendidikan yang baik, kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan kebijakan seragam untuk semua. Pendidikan itu soal memahami konteks. Soal memahami bahwa anak di perkampungan memiliki kebutuhan belajar yang berbeda dengan anak di perkotaan. Kritik Paulo Freire puluhan tahun silam, masih sangat relevan untuk ditimbang ulang, bahwa sistem pendidikan kita masih menjadikan murid sebagai objek, bukan subjek pembelajaran. Murid bukan bejana kosong yang hanya perlu diisi dengan kebijakan seragam. Murid adalah individu yang punya kebutuhan, keinginan, dan cara belajar masing-masing. Kita perlu kebijakan yang membebaskan. Kebijakan yang memungkinkan sekolah menciptakan kebahagiaan sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri.
Senam itu Baik, tapi Senang itu Lebih Penting
Jadi, mari kita sepakati sesuatu: senam itu baik. Kita tidak menolak senam. Tapi kalau tujuan pendidikan kita adalah membuat anak-anak bahagia di sekolah, maka senam bukan jawabannya. Anak-anak akan bahagia di sekolah jika mereka merasa aman. Jika mereka bisa belajar tanpa tekanan yang berlebihan. Jika mereka bisa bertanya tanpa takut disalahkan. Jika mereka bisa bereksplorasi tanpa takut dimarahi.
Anak-anak akan bahagia di sekolah jika sekolah memahami mereka sebagai manusia, bukan sekadar sebagai bagian dari kebijakan yang seragam. Maka pertanyaannya: apakah kita ingin sekolah yang membuat anak-anak senang? Atau kita hanya puas dengan sekolah yang menyuruh anak-anak bersenam seragam?
Jika kebijakan pendidikan hanya berhenti pada bagaimana anak-anak bergerak dengan seragam, mungkin kita benar-benar memang telah kehilangan arah. Dan itu adalah warisan yang tidak akan pernah dilupakan oleh anak-anak kita semua.
Kredit gambar: Pngtree

Lahir di Sungguinasa, Gowa, 19 Juni 1981. Bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, selaku Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan. Menjabat Ketua Umum Komunitas Guru Belajar Nusantara Periode 2019-2022. Selain menulis, juga suka baca karya sastra, dan olahraga badminton.


Leave a Reply