Desember Penuh Gurah

Saat Julius Caesar memperkenalkan kalendar Julian pada tahun 45 SM, dua bulan baru ditambahkan di awal tahun, yaitu Januari dan Februari sehingga Desember menjadi bulan kedua belas.

Pada masa Anglo-Saxon, Desember memiliki beberapa nama, seperti Winter Monath (Bulan Musim Dingin) dan Yule Monath (Bulan Yule), yang merujuk pada tradisi membakar kayu Yule sebagai bagian dari perayaan pagan.

Tapi kali ini, bukan soal Masehi, dan perayaan musim dingin, atau tradisi membakar kayu perayaan, sampai  tradisi kembang api memenuhi langit.

“Tidaklah perlu menjadi yang tertinggi, terbaik, dan yang terhebat. Usahakan saja diri menjadi yang bisa berguna dan bermanfaat bagi banyak orang lain.” Sebuah pesan yang menambat sekat di ujung tahun Desember kali ini.

Tentang nuansa, pada dekade, di dalam episode. Kali ini Desember penuh gurah serta kisah.  Dari sekian catatan kecil, dan rangkaian doa seperti biasa dari karib, hingga beberapa yang mengucapkan di hari yang katanya sakral bagi saya. Hingga petang menuju magrib menebus dengan rindu yang segera kita tuntaskan.

Pertemuan kita dengan kualitas bukan hanya di kuali, katamu. Meretas identitas secara massif, menggempur nilai-nilai  sosial kebudayaan. Dan di tengah desau angin pantai Lamalaka, mendesak   kita untuk segera menunaikan ibadah rindu itu sendiri.

Kopi paradish, mi rebus, dan mi goreng menjadi menu pertama. Meski kopi khasnya yang kuat mengingatkan kesetaraan antara manis dan pahit. Bikin ketagihan ingin segelas lagi.  Hem. Sembari menunggu karib Mubarak yang juga menjadi tempat menunaikan hajat rindunya menemuimu. Dengan segala hajat pikirannya ingin  dijewantahkan pula. 

Ibarat memberi dan nenyematkanku ijazah, mengalungkan liontin di pucuk wisuda yang sekian lama healing, tidak mudah berpaling seperti yang lain “tanga maling-maling, tama saile, tama angngurangi. rerasa waktu riolo ripassisengta, sanggena ki assiama” (tetap mengingat, tidak mudah melupakan, tak lagi menoleh pada masa lalu, saat pertemuan, sampai menyatukan kita).

Saya kembali ke masa tiga puluh tahun, atau entah seiring usiaku yang mulai masuk “jelita”. Ketika itu saya melihat seorang Plato dengan rahang, serta jidatnya yang lebar, seakan tersenyum di antara jejeran buku-buku di sebuah kamar. Di sanalah kutemukan awal gairah pencarian tentang filsafat itu.  Saya belum paham, tancap saja membacanya, mengerti tidak mengerti saya daras sebab tak setebal buku riasan yang lain. Sekitar hanya dua ratus halaman kalau tidak salah ingat.

Ya, di kamar dengan aksesori beragam, dari mulai kumpulan koin pecahan seratusan tahun sembilan puluhan dan itu masih berlaku, serta koleksi jam tangan, hingga beberapa album foto-foto zaman pergolakan, seorang petuah dan digelari Kiai Haji Abdul Djabbar Arafa, disapa Puang Lompo.  Sambil mengurai, mengingat masa-masa kecil dulu bertemu, atau mendengar ceramahnya. Sampai kini petuah dan pesannya masih tersimpan utuh di ingatan para orang tua  Bissampole, termasuk ayah saya yang pernah dekat dengannya ikut mengaji setiap saat. 

Di sanalah pertama kali buku Plato itu saya daras secara waras, di usiaku yang masih tergolong culun, tapi telah memiliki harapan, mimpi yang melebihi kapasitas dan kualitas usiaku kala itu. Sambil menyusuri riwayatnya, disuguhi sebuah pembuka tokoh yang lahir pada 427 SM ini digolongkan sebagai filsuf Yunani Kuno. Pemikiran Plato banyak dipengaruhi oleh gurunya, yakni Socrates. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah Politeia, yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya terhadap keadaan “ideal”. Tapi ini bukan tentang pemahasan hasil pertemuan saya dengan Plato. Tapi bagaimana akhir bulan Desember seorang Ahmad Masyhur yang panggilan akrabnya Puang, sekian purnama baru mendengarkan kembali,  sebuah gurah dan risalah kehidupan. 

Sebuah  titimasa, melengkapi hariku kali itu.  Menyuguhkanku kopi, menguatkan kepercayaan diri, baik semesta jiwanya dan semesta alam raya Tuhan yang telah terjadi jauh sebelumnya manusia rencanakan.  Puang hadir meneguhkan, dan menambat cakrawala pemikiran, mere-fresh kembali. Lalu menabalkan tentang bagaimana ilmu pengetahuan itu.

Kado istimewa di hari lahir, katanya, peringatan seorang manusia yang hanya kebetulan bertepatan tanggal dan bulan. Sementara tahunnya cukup terhitung di tahun pertama saya berada di dunia fana 1976. Menguatkanku menyusuri lorong-lorong waktu. Buih putih bersama riak ombak, seakan ingin nimbrung bersemi bersama, di tepi hingga di ujung petang diskusi itu mengasuh dan membasuhku. 

Lembaran-lembaran ilmu, kemungkinan-kemungkinan, hingga realita yang menata hidup, agar tidak menjadi pecundang lagi. Puang merekahkan doa sakral tidak seperti biasa “rabbana atina” sampai akhir. Tetapi menyuguhkan sesuatu. Yang jarang saya dengar “appibaca” sambil kupina’na (menyimak dengan khidmat) dari setiap pembahasan, pada bongkahan keilmuan, spiritualitas, tanpa mendikteku, hingga pada rekayasa pikiran.

Lembaran-lembaran ilmu, kemungkinan-kemungkinan, hingga realita hidup harus dihadapi  agar segera “move on” dari kemesraan manusia yang semakin akut, sekada rmemuja-muji lalu menghempaskanmu ke tubir jurang.  Apalah guna “manyu siparampe, tallang sipaumba” jika diakhir Desember berharap jauh dari kebiasaan buruk, tetapi kembali terjebak pada situasi, keadaan, prasangka yang sama dari orang-orang yang sama pula.  Desember bukan akhir segalanya. Bukan perayaan sesajen dengan doa untuk mengubah segala keburukan, namun tabiat masih berselimut muslihat. 

Desember kali ini belum jauh berbeda. Yang  mengubah sekiranya kebiasaan, suasana, justru semakin ambruk pada ceruk-ceruk peradaban manusia,  kebanyakan lupa identitas. Cekatan kusambar sebatang, agar mengusik amarah, kecewa, dan tidak seperti mabuk tuak, dan mabuk kepayang pujian, seketika  mencacah dan meracau. Angin pantai Lamalaka kian mendesak kami untuk sedikit bergeser. Ombak mengiringi memecah di tepi tanggul dekat muara sungai. 

Puang merekahkan bunga pengetahuan, mengilustrasikan  peradaban jahiliyah, hingga jahiliyah modern seperti sekarang ini. Saya  tergugat mencoba menyimak.  Bagaimana peran manusia dengan sesama manusia, sejahat apa orang-orang kala itu, serta sejahil apa manusia saat  ini.

Saya kemudian  harus terpaksa ikut ritme, kontestasi secara materialis, merilis diri dan hidup kita pada angka-angka. Bukan gelandangan lagi. Mengasuh pola pikir, yang kebanyakan masih mangkir pula pada dialektika, hingga logika dasar yang suka nyasar.  Cenderung saling membantai dengan trik serta tipikal cara sekadar dan sehalus. Tergantung kreativitas, dikemas dengan ragam cara. 

Semua  punya cerita, kenangan bahkan antara kekalahan dan kemenangan, kenangan dan genangan sampai ada linang. Ya, Demikianlah adanya, tanpa harus mengada-ada. Sebagaimana  Desember juga memiliki dua bunga kelahiran kata mereka  yaitu Holly yang melambangkan keberuntungan, dan Paperwhite Narcissus yang merupakan simbol keindahan dan kemurnian. Itu kata mereka yang suka mendefinisikan biar terkesan keren. Bagi saya semua bagai cocoklogi, lalu  memaksa kita  untuk menerjemahkan hal jauh di peradaban mereka, sementara di sekitarku masih terpapar kronologi antara analogi dan seolah religi.

Bagai suluh kini. Jalan menuju lorong setapak itu masih gelap terasa . Singara kanjoli mami . Di remang-remang kehampaan. Saat harapan saat Desember tiba di ujung karang tahun dan waktu. Menanti mukjizat, atau wangsit. Sambil menyaksikan para penari dan pembaca sajak yang kini telah mereka musnahkan sendiri. 

Kau terlalu bereaksi dari buah pikiran, cirimu membentuk karaktermu.  Terpeleset sedikit kau akan dikunyah-kunyah manusia pendebat, hobi melestarikan pikiran-pikiran yang terkadar,  dan suka meninggikan lalu merendahkan. Hanya karena perkara secuil. Puang membututi arahku, sesekali memetik, dan memantik satu petik analogi yang khusus hingga yang umum. Sepertinya membaca pikiranku dalam usiaku memasuki jelita (jelang lima puluh tahun) kali ini.

Percakapan kami semakin sengit, tentang pengetahuan, di mana sebagian manusia hanya pura tahu, keilmuan sebagai pelengkap ijazah saja. Kampus menjadi ajang bisnis membuat mahasiswanya mampus, pada ilmu kian tandus. Sampai hal viral tentang es teh, grasak-grusuk pilkada, sampai pada kesejarahan yang kini terjarak sudah.

 Ada karsa dan karya yang semakin sepi dan dibuat semaput, luput dari apresiasi, di tengah gelombang pasang gairah manusia baru pemburu target kemapanan, namun sekadar numpang nampang. Wah. Puang kembali menggugatku. Tidak tale-telekan bin puji-pujiang. Hanya menggumam.

Sudahlah. Sambil Puang Masyhur menyuguhkan tawaran kopi selanjutnya,  yang sisa setengah, mengingatkanku kembali pada isyarat Fisisme (rujukan dan julukan khayali/imajinasi). Tapi saya mulai takut mengasuh itu. Karena terlanjur tertuduh kadang bikin rusuh dan ricuh. Sambil tertawa kecil. Puang menghantar ke laman-laman kemanusiaan. Agar tidak menjalani hidup dengan hambar.

Kado Desember kali ini, cukup berbeda, tanpa kue, meniup lilin, tanpa pesta. Tetapi jauh lebih menguatkan, merefleksi diri, menetralkan kembali kekacauan berpikir, hingga pada kecupan-kecupan pujian, yang terkadang menyeretku ke sebuah lembah sunyi, lalu mereka meninggalkan jejak kesumat.  Itu bisa dikenali, terdeteksi secara alami. Sebab setiap peristiwa manusia berinteraksi memiliki diksi, serta sensasinya sendiri. 

Kamu bukan Musa dengan tongkat saktinya.  Puang menutup percakapan memberi syarat serta isyarat.  Kamu manusia sama dengan saya, dia dan mereka. Selamat bertambah usia, tempuhlah dengan berdamai pada dirimu sendiri,  sebagaimana kelanamu walau kau bukan musafir.


Comments

4 responses to “Desember Penuh Gurah”

  1. Keren sangat….berdamailah dengan dirimu agar semesta memilihmu dalaam keistimewaanyaa dan smg jelita mu membawa keberkahan

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Makasih berkenannya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya.

  2. Kamaruddin Avatar

    Keren kak Dion, entah buku apa lagi judulnya yang akan terbit, setelah Narasi Cinta dan Kemanusiaan…

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Makasih Kakak apresiasinya. Insya Allah seiring waktu. Semua mengalir tidak harus memaksakannya menjadi buku. Hehehe.

      Di paraminda ini cukup melenggangkan karya bentuk tulisan. Dan akan abadi diantara peradaban dan masa yang entah akan dinamakan apalagi nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *