Untuk kawanku guru Rurung yang sementara berlibur.
Maaf, menganggu liburanmu, kawan. Tapi pikiran ini sungguh membebaniku. Saranmu untuk mencoba memancing, sepertinya tidak efektif bagi saya. Saya dedahkan catatan ini sesungguhnya untuk mengurangi beban pikirku yang terus bising.
Luangkan waktumu untuk membacanya di pinggir laut sembari menunggu ikan memangsa ‘tipuanmu’. Saya ingin berbincang sedikit. Tapi jangan khawatir, ini bukan sesi pelatihan dengan modul tebal yang hanya berakhir sebagai pajangan. Moga-moga tidak. Ketika dibaca, mohon untuk tidak marah-marah. Baper bolehlah, tapi jangan kelamaan. Ini tentang keresahan saya dengan ‘rumah’ yang menaungi profesi kita para guru.
Mari kita duduk sejenak, melepas sepatu yang penuh debu kurikulum, dan berbicara tentang ‘rumah’ besar kita itu: organisasi profesi guru. Catatan ini bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai kawan yang rindu melihat rumah kita berfungsi sebagaimana mestinya—sebuah tempat berteduh, saling belajar, dan merencanakan masa depan pendidikan. Namun, apa yang kita temukan? Maaf, kalau keliru. Saya sepertinya hanya melihat bangunan kosong. Arsip yang berdebu, rapat yang hanya menampilkan spanduk, dan semangat yang seperti tinggal cerita.
Saya ingin mengajukan tanya sederhana: seberapa terasa keberadaan organisasi guru dalam hidup dan pekerjaan kita sebagai guru? Payung yang melindungi kita dari badai perubahan, atau sekadar aksesoris yang menghiasi rapat-rapat formal penuh basa-basi? Ah, saya tahu, ini mungkin terdengar seperti percakapan klise di warung kopi. Tapi, bukankah kita perlu jujur? Organisasi guru lebih sering sibuk dengan hal administratif dan selebrasi seremonial daripada berfokus pada kualitas anggotanya. Sekali lagi, para tuan dan puan guru tak perlu emosi, cukup dijawab pelan dalam hati. Jika masih ada waktumu yang tersisa di ruang guru, tolong dibicarakan dengan kawan-kawanmu sesama guru.
Saya kurang tahu, sampai kapan kita terjebak dengan slogan lama “pahlawan tanpa tanda jasa,” yang seolah menjadi selimut nyaman di tengah tuntutan zaman. Padahal, gaji meningkat, tunjangan bertambah, dan kesejahteraan guru nampaknya semakin diperhatikan. Bagi kawan-kawan guru honorer, mari kita doakan, negara segera mengambil peran yang lebih besar. Mari kembali. Ironisnya, slogan merasa sebagai pahlawan itu terus kita peluk erat, yang justru memenjarakan kita dalam romantisme masa lalu. Mungkin kurang sesuai, tapi kata ini yang saya pikirkan: Sindrom Megalomania. Sementara dunia bergerak cepat—teknologi berkembang, metode baru bermunculan, dan kita disibukkan dengan administrasi berulang, pelaporan tak substansial, dan perdebatan tiada akhir tentang siapa yang berhak memimpin organisasi.
Maafkan kawan, bukan untuk membandingkan. Berkacalah pada organisasi profesi lain. Tak elok rasanya saya menyebut lembaga. Saya yakin Anda semua mengerti. Mereka telah melangkah jauh. Kode etik ditegakkan, standar kompetensi dipatuhi, dan mereka berani menolak intervensi yang mencederai profesionalisme. Sementara, di sini kini, organisasi guru kita lebih mirip panggung politik kecil. Tempat para aktor berebut peran, tapi lupa membuat naskah yang berkualitas. Bahkan, isu kode etik sering kali hanya menjadi sekadar catatan di buku panduan. Organisasi profesi lain sudah sampai pada tahap menjadi penjaga mutu profesi, bukan sekadar pengumpul iuran atau pelaksana lomba tarik tambang tahunan. Rumah besar guru, jika bisa kita sebut seperti itu, kadang seperti papan pengumuman, tempat menempelkan informasi nihil makna. Bahkan, kode etik profesi guru pun sering kali hanya menjadi sekadar catatan di buku panduan.
Saya tak bermaksud mengecilkan upaya yang sudah ada. Beberapa organisasi memang telah mencoba melangkah ke arah yang lebih baik. Namun, langkah kecil ini harus didukung oleh perubahan besar dalam cara kita memandang organisasi profesi guru. Bukan sekadar tempat berkumpul atau wadah formalitas, justru harus menjadi ruang gotong royong membangun guru-guru potensial, berkualitas dengan kepercayaan diri yang tinggi sebagai kaum profesional. Seharusnya, organisasi profesi guru menjadi kompas moral dan intelektual para guru. Tapi, kenyataannya, ia sering terjebak dalam rutinitas lomba-lomba seremonial. Guru-guru muda yang penuh semangat kerap memastikan kinerja yang kaku, hingga memilih diam dari pada berinovasi. Kawan-kawan, bukankah ini tragis? Bayangkan andaikan semua organisasi profesi atas nama guru, berubah menjadi mesin perubahan: dinamis, inklusif, dan responsif terhadap tantangan zaman.
Rekan-rekanku. Lihatlah wajah kita saat ini. Menurutku, cukup memprihatinkan. Kita masih lambat beradaptasi. Kurikulum baru tiba? Bingung. Teknologi pembelajaran? Ragu. Metode baru? Lebih sering takut salah daripada berani mencoba. Bahkan untuk mencoba metode pembelajaran baru, kita sering kali lebih takut melanggar “panduan” daripada berani berinovasi. Jika guru adalah pembelajar sepanjang hayat, mengapa kita masih seperti murid yang terlalu takut salah saat menjawab soal di papan tulis? Karenanya organisasi profesi guru harusnya menjadi tempat saling belajar, berbagi praktik dengan baik, dan menjadi tempat eksperimen tanpa rasa takut dihakimi. Sayangnya, ia sering kali lebih sibuk dengan agenda-agenda yang jauh dari kebutuhan nyata anggotanya. Padahal, anggotanya membutuhkan ruang untuk diskusi yang hidup, bukan sekadar notulensi rapat. Kita butuh aksi nyata, bukan laporan tahunan penuh angka tapi miskin makna.
Bayangkan, organisasi profesi guru yang harusnya menjadi mesin perubahan, justru terjebak menjadi taman bermain politik kecil-kecilan. Apa yang kita cari? Kekuasaan, pengaruh, atau sekadar acara seremonial untuk mengisi kalender tahunan? Adakah ruang di situ untuk benar-benar membahas standar kompetensi, refleksi pembelajaran, atau inovasi metode? Atau sepertinya terlalu sibuk mencocokkan warna seragam? Mungkin sudah waktunya kita bertanya: Apakah anggota telah aktif berkontribusi di komunitasnya? Apakah organisasi yang menaungi ribuan guru benar-benar dirasakan dampaknya pada peningkatan kualitas gurunya? Jika jawabannya belum, mari kita berhenti menjadi penonton dan mulai menjadi pemain utama. Organisasi guru yang banyak terserak itu bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan rumah bersama untuk saling menguatkan.
Pendidikan adalah kerja kolektif. Gotong royong ini hanya akan berarti jika dilakukan dengan tujuan yang jelas, strategi yang tepat, dan keberanian untuk berubah. Jika organisasi profesi guru tak mampu menjadi motor penggerak perubahan, lalu siapa lagi yang akan memulainya? Anda berharap pada siapa lagi? Pemerintah? Maaf, untuk saat ini, sepertinya mereka masih sibuk menyusun slogan untuk perayaan hari guru berikutnya. Andalah para pengurus atau penggerak yang harus memulai. Dan, ini penting: berhenti meromantisasi masa lalu dan mulai bekerja untuk situasi kritis di ruang-ruang kelas anak-anak kita hari ini.
Dari kawanmu
Yang gelisah di ruang kecil nan sempit.

Lahir di Sungguinasa, Gowa, 19 Juni 1981. Bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, selaku Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan. Menjabat Ketua Umum Komunitas Guru Belajar Nusantara Periode 2019-2022. Selain menulis, juga suka baca karya sastra, dan olahraga badminton.


Leave a Reply