Poros Literasi Boetta Ilmoe–Bungung Salapang

Awalnya, hanya perkawanan, berlanjut bukan lagi sekadar perkawanan. Seorang kawan saya, Irfan Tawakkal, warga Jeneponto bertugas selaku pendamping desa di Bantaeng.

Irfan sering menulis esai, khususnya tayang di Kalaliterasi.com dan Paraminda.com. Salah seorang kawan lamanya, Irsainanto Daeng Sewang, sering membacanya, lalu penasaran akan kemajuan Irfan dalam kepenulisan.

Lalu, mencari tahu latar kemajuan Irfan. Maka Irfan pun menegaskan, bahwa ia ikut di kelas menulis esai yang diadakan oleh Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Dan, Irsainanto pun ikut di kelas menulis yang saya kawal bersama beberapa mentor di Bantaeng.

Ternyata, ketika Irsainanto ikut di kelas, ia pun mendaku sering berkunjung ke Toko Buku Paradigma Ilmu Makassar, sewaktu masih mahasiswa dan kerapkali melihat saya. Pastilah, pasalnya toko buku tersebut adalah kepunyaan saya. Nah, interaksi di kelas, bukan lagi sekadar perkara menulis esai, tetapi menjalar ke status Irsainanto sebagai Sekretaris Desa Bontorappo, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.

Saya pun menggunakan kesempatan emas ini dengan menunjukkan produk literasi, berupa buku dari dua desa di Bantaeng. Literasi dari Desa Labbo (Desa Labbo, Kecamatan Tompobulu, satu desa di pegunungan) dan Membangun Indonesia dari Desa (Desa Bontojai, Kecamatan Bissappu, berada di pantai). Bahkan, Desa Bonto Jai cukup dekat dengan Desa Bontorappo, karena berbatasan langsung dengan Kabupaten Jeneponto.

Keintiman di kelas membawa dampak pada gerakan literasi, khususnya di Desa Bontorappo. Irsainanto bersama beberapa kawannya, menginisiasi satu komunitas literasi, mencoba mengafirmasi komunitas literasi berbasis desa yang ada di Bantaeng. Lalu, lahirlah satu komunitas bernama, “Komunitas Literasi Bungung Salapang”. Guna memperkuat komunitas ini, saya pun diundang guna memberikan pengayaaan gerakan literasi. Bersama Irfan Tawakkal, saya bertandang ke Desa Bontorappo, tepatnya di markas komunitas, masih dalam kawasan Kantor Desa Bontorappo.

Persamuhan di komunitas, bukan saja saya memberikan penguatan literasi terhadap sekumpulan kaum muda, tetapi sekaligus memotivasi kemungkinan untuk mencontoh dua desa di Bantaeng dengan produk literasinya. Hasilnya? Mendapat tanggapan serius. Maka mereka pun membentuk Tim Penelusuran Jejak Sejarah Bontorappo, sejak masih berstatus kampung, hingga menjadi desa. Berlapik perolehan sekumpulan data dari tim, Irsainanto pun dengan tekun menuliskan hasil penelusuran tersebut. Lebih dari itu, saya menyanggupi untuk ikut membidani, bilamana hasil tim tersebut dituliskan menjadi sebuah buku.

Proses pun berjalan sebagaimana adanya. Naskah demi naskan dikirim ke saya secara bertahap. Sebagai editor, saya bertugas menata naskah-naskah tersebut, mengkluster tema, mengikat dalam bab, guna mengutuhkan dalam sebuah buku. Pun, saya amat terbantu karena salah seorang mentor di kelas menulis, Ikbal Haming, ikut bertindak selaku pemeriksa aksara, sekaligus menjadi kawan bincang proyek penerbitannya.

Pembacaan saya terhadap naskah yang masuk, hingga semuanya rampung, ternyata saya cukup terperanjat. Pasalnya, saya tidak pernah menduga, bahwa hubungan perkawanan di kekinian, pertautan literasi di kelas, lalu menguat menjadi relasi antar komunitas, punya basis interaksi jauh di masa silam.

Tatkala Bontorappo masih menjadi salah satu kampung di Kabupaten Jeneponto, menurut kisahnya, telah tercipta hubungan kekeluargaan dengan kakaraengan di Bantaeng. Bahkan, ada kisah di masa silam, wilayah Tarowang di mana Bontorappo salah satu kampungnya, pernah menjadi bagian dari Bantaeng(?) Begitu pun saat Bontorappo menjadi desa defenitif, kepala desa pertamanya, Karaeng Bonto Loka, malah punya darah Bantaeng.

Arkian, ada kepala desa berikutnya, Andi Baso Sugiarto Karaeng Tompo, lahir dan tumbuh, serta besar di Bantaeng. Dan, Kepala Desa Bontorappo saat ini, Baharuddin Daeng Mange, bersekolah SMP dan SMA di Bantaeng, lalu menjadi TNI, berujung penugasan akhir di Bantaeng hingga pensiun. Dilalah-nya, Pj. Bupati Jeneponto sekarang, Junaidi Bakri, warga Bantaeng, terangkat  ASN di Bantaeng, lalu ke Pemprov Sulawesi Selatan, dan mendapat tugas selaku penjabat Bupati Jeneponto.

Apalagi hubungan antar warga, relasi sosialnya menunjukkan kedekatan warga Bontorappo, terkadang lebih memilih aktivitas ekonominya ke Kota Bantaeng. Selain karena lebih dekat, pun disebabkan hubungan sosial di masa silam.

Kiwari, relasi sosial masih tetap berlangsung, meskipun telah dibatasi secara geografis berdasarkan kabupaten. Dan, kehadiran buku Bontorappo dalam Sejarah dan Kisah, semakin menguatkan hubungan tersebut. Mungkin tak keliru bila saya tabalkan, bahwa di kekinian akan tercipta poros literasi antara Bantaeng—Jeneponto, yang dirintis oleh Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng dengan Komunitas Literasi Bungung Salapang Bontorappo Jeneponto.

Walhasil, buku Bontorappo dalam Sejarah dan Kisah, saya mengimajinasikan sebagai upaya rintisan, agar kelak Desa Bontorappo bergerak dari literasi desa ke desa literasi. Antara literasi desa dan desa literasi, bagi dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Sebab, literasi desa akan merangsang lahirnya desa literasi, sementara desa literasi akan memudahkan satu desa menghasilkan karya-karya literasi dari warga desa.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *