Beberapa waktu yang lalu, saya kedatangan seorang pasien. Mengeluh karena tenggorokannya yang bermasalah. Sudah berbulan-bulan sangat tersiksa . Sudah beragam obat yang dikonsumsi, baik herbal maupun kimia.
Begitupun sudah beberapa dokter spesialis yang didatangi tak juga memberikan efek pada tenggorokannya. Bahkan, dia pun harus mengorbankan giginya, karena dokter menduga, gangguan dari tenggorokannya bermula dari kondisi gigi yang kurang baik.
Nafsu makannya sangat menurun, akibat adanya trauma saat makan, yaitu sakit yang teramat sangat, ketika berusaha menelan makanannya. Hal yang sama juga dirasakan saat minum air putih. Bayangkan sahabat holistik , minum air putih saja sudah sedemikian sakitnya, apatah lagi makanan, yang lunak sekalipun. Padahal yang bersangkutan tidak dalam keadaan menderita flu dan pilek. Dengan kondisi seperti itu, membuat badannya menjadi semakin kurus, bahkan cenderung ceking, lemah tak berdaya.
Ia pun nyaris frustasi dengan kondisi yang sedang diderita. Tak ada lagi momen yang membuatnya merasa lebih baik. Hari-harinya dipenuhi dengan penderitaan. Bahkan, penderitaan pun menular kepada sang belahan jiwa, istrinya yang semakin khawatir dengan apa yang sedang dialami oleh suami tercinta.
Lalu apa yang saya lakukan sebagai terapis? Saya memulainya dengan merujuk kepada sistem penanganan kesehatan holistik, bahwa tubuh hanya menerima dan merasakan efek dari perlakuan, baik dalam bentuk pikiran maupun perasaan si yang punya tubuh. Kemudian berlanjut pada metode causal therapy , yaitu selalu mengacu kepada akar penyebabnya, bukan mengobati gejalanya. Apalagi, gejalanya sudah diobati , tapi sakit itu tak kunjung sembuh.
Berdasarkan riset kesehatan holistik, bahwa gangguan di tenggorokan merepresentasikan kemampuan seseorang untuk mengungkapkan apa yang ingin ia katakan. Tapi, entah kenapa, hal tersebut tak kunjung terucapkan. Hasil riset ini kemudian saya sampaikan kepada yang bersangkutan, dan dia pun hanya tertunduk, diam tanpa satu kata pun terucap dari mulutnya.
Beberapa saat kemudian, dia mulai angkat bicara dengan mata yang berkaca-kaca. Tampak sangat berat untuk memulai kalimatnya. Dan ternyata betul adanya, bahwa ada banyak hal yang dia ingin ungkapkan, tapi merasa tak punya kuasa untuk mengungkapkannya, sehingga harus memendamnya bersama dengan kekecewaannya.
Ternyata, dia punya banyak ketidaksetujuan dengan Ayahnya yang cenderung mendominasi kehidupannya. Dia sangat ingin berkomunikasi, tapi tak ada waktu dan ruang yang cukup untuk itu. Belum lagi sifat ayahnya yang hanya mau didengar, tapi tidak mau mendengarnya. Sehingga, dia sama sekali tak punya kemampuan, untuk menyatakan apa yang seharusnya dia ungkapkan.
Seiring dengan berjalannya waktu, ibarat kran air yang mulanya tertutup rapat, kini pelan-pelan terbuka dan semakin terbuka. Ceritanya yang lebih tepat disebut sebagai curahan hatinya, semakin lancar ia ungkapkan. Semuanya keluar dari mulutnya, disertai sesekali menyeka air mata yang semakin deras mengalir.
Kalimat-kalimat yang selama ini tertahan, semuanya tumpah ruah, bersamaan dengan tumpahnya air mata. Saya pun sebagai terapisnya, berusaha untuk menjadi pendengar yang baik, sebab yang bersangkutan sudah semakin fasih mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakan.
Alhamdulillah… setelah semuanya terkatakan, saya mencoba mengecek kondisi tenggorokannya. Katanya, sudah lebih mendingan dibandingkan sebelumnya. Setelah semakin rileks, saya pun menawarkan untuk minum air putih. Awalnya ragu, tapi setelah saya yakinkan, dia pun meminumnya, dan sungguh luar biasa perubahannya. Tak terasa lagi sakit di tenggorokannya.
Setelah beberapa saat kemudian dan kondisinya sudah semakin rileks, saya pun mencoba menawarkan kue yang ada di depannya. Sama seperti tadi saat akan minum air putih, keraguan dan traumanya masih tampak. Kembali saya berusaha meyakinkannya, dan diapun segera memakan kue yang saya tawarkan.
Alhamdulillah… masyaallah, luar biasa pertolongan Allah Swt., sakit di tenggorokannya semakin ringan sekalipun ada makanan yang dia makan. Pendampinganku trus berlanjut hingga sakit di tenggorokannya betul-betul sembuh, dan sudah bisa kembali makan dan minum seperti biasa. Hidupnya kembali berkualitas, alhamdulillah.
Beberapa bulan sebelumnya, saya dihubungi oleh seorang pasien yang juga sangat menderita akibat sakit di tenggorokannya. Bahkan mulai ada peradangan dan pembengkakan di gusi. Sudah berbagai jenis obat sudah diminum, tapi kesembuhan belum juga diraih.
Setelah penelusuran dan pemetaan, ternyata akar masalahnya pada ketidakmampuannya mengungkapkan protesnya kepada tetangganya yang parkir dekat dengan jalanan masuk rumahnya. Karena tetangga tersebut termasuk disegani di kompleksnya. Dan sekali lagi, setelah mengungkapkan semuanya, sakit ditenggorokan pun hilang dan kembali bisa makan dan minum seperti biasa.
Sahabat holistik, beberapa hal yang juga berhubungan dengan tenggorokan adalah:
1. Laryngitis atau radang tenggorokan. Ini terjadi ketika seseorang sedang sangat marah sampai tidak bicara lagi.
2. Amandel dan tiroid. Tenggorokan juga mempresentasikan sebagai aliran kreativitas. Dan ketika ada masalah di tenggorokan, ini menunjukkan bahwa seseorang sedang merasa kreativitasnya sedang dihambat dan ditekan, sehingga membuat ia frustasi. Mereka merasa tidak dapat melakukan suatu hal yang sesungguhnya diinginkan. Akibatnya, yang bersangkutan bisa menderita penyakit amandel dan tiroid.
3. Batuk. Ini bisa terjadi ketika ada hambatan untuk berubah. Jadi batuk adalah upaya untuk menolak hambatan yang dirasakan untuk melakukan suatu perubahan.
Ada yang sedang mengalami gangguan di tenggorokan? Dan sudah berusaha mengobatinya, tapi tak kunjung sembuh? Coba cek psikisnya dengan mengacu pada tulisan di atas.
Kredit gambar: Aido Health

Seorang terapis. Bergiat di Sekolah dan Terapi Pammase Puang Holistik Center Makassar. Dapat dihubungi pada 085357706699.


Leave a Reply