Tips Menaklukkan Suami

Terinspirasi dari sebuah group parenting di media sosial, saya lalu ingin menulis dengan judul ini. Yang berstatus suami harap tenang dulu, isi tulisan ini tidak akan mendiskreditkan, memprovokasi, ataupun membuat suami jadi tak berdaya. Karena isi tulisan ini jauh dari prasangka tersebut.

Berawal dari curhatan para ibu soal pengasuhan anak-anaknya. Mereka mengeluhkan suami-suami mereka yang rata-rata susah diajak kompromi dan bekerjasama dalam hal mengasuh anak.

Di samping itu, ibu-ibu ini jadi merasa bekerja dan berjuang sendiri. Bagaimana tidak? Para bapak atau suami yang semestinya bisa mendukung istri yang bersusah payah ikut pelatihan kepengasuhan, eeehhhh…..malah justru terkadang menjadi salah satu entitas yang mesti ditaklukkan.

Hal inilah yang seringkali menjadi hambatan dan keluhan terbesar para ibu. Para suami umumnya tampak cuek dan tidak menganggap penting urusan yang satu ini. Makanya saya sangat salut pada bapak-bapak yang kelihatan perhatian dan peduli pada proses tumbuh kembang anaknya. Walaupun seharusnya sudah seperti itu.

Namun, karena latar belakang pendidikan keluarga, serta persepsi yang kurang tepat dalam memandang  tanggung jawab pengasuhan dan keluarga, sehingga terciptalah produk-produk bapak atau suami seperti di atas. Sehingga butuh keseriusan, kesabaran, dan tempo yang cukup lama dalam membangun kesadaran-kesadaran tersebut.  

Pahaman yang berkembang dan terus-menerus diproduksi, dari generasi ke generasi, yakni sosok bapak itu pencari nafkah. Sehingga menjadi sebuah permakluman di tengah masyarakat untuk menempatkan posisi tersebut di atas peran-peran lainnya.

Sementara ibu harus menanggung selebihnya. Ya mengurus rumah, ya mengatur keuangan keluarga, ya mengasuh anak, dan masih banyak lagi yang dibebankan di pundaknya. Padahal anak-anak lahir kan hasil kerjasama keduanya. Kenapa hanya sepihak yang dituntut bertanggung jawab penuh.

Jika benar ini yang menjadi alasan terbesarnya, setidaknya mereka bisa menyumbangkan perhatian sedikit saja, untuk urusan parenting ini dan tidak justru sebaliknya, bersikap masa bodoh dan cenderung berlepas tangan, berharap pada istri yang nanti akan menyelesaikannya.

Kurangnya minat dan perhatian para bapak ini terlihat pada saat ada acara-acara berupa seminar, diskusi, atau pelatihan soal pengasuhan anak. Bisa dilihat prosentase kehadiran kaum bapak sangat rendah.

Karena kurangnya yang hadir, seringkali mereka jadi terlihat agak risih dan malu-malu berada di tengah-tengah dominasi para ibu. Pulang ke rumah, si ibu membawa ilmu baru ke tengah keluarga, sayangnya kurang dapat diimbangi oleh pasangan sendiri.

Berdasarkan hasil pengamatan, belajar dari buku, atau dari pengalaman sendiri, saya berbagi tips ini untuk pembaca. Karena saya pun awalnya seperti kasus-kasus di atas. Berita baiknya ia akhirnya berubah setelah melalui proses yang lumayan panjang. Di sini saya ingin berbagi pengalaman itu. Jika berkenan dan terasa kurang, silakan ditambahkan:

Pertama, memulai belajar lebih dahulu. Meskipun pasangan belum tertarik untuk ikut mempelajari tema yang sama. Dengan harapan setelah melihat istri banyak berubah, ia akan tertarik juga untuk mengikuti.

Kedua, jika ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan, suami belum mengubah pola asuhnya, jangan dipaksakan. Kita bisa pelan-pelan menunjukkan akibat-akibat dari kurang kooperatifnya dia dalam menangani anak.

Ketiga, sesekali mengajak dia untuk sama-sama menghadiri acara sejenis meski mungkin belum dapat mengikutinya hingga selesai.

Keempat, meletakkan buku-buku yang membahas masalah pengasuhan anak di tempat-tempat yang mudah dijangkau. Misalnya di atas meja tamu, di area ruang keluarga, atau di tempat-tempat strategis yang kira-kira akan mudah ia jangkau jika sedang dalam kondisi santai.

Kelima, sempatkan waktu untuk diskusi ringan. Hindari membahas masalah terlalu serius yang terkadang berujung pada pertentangan dan perbedaan pendapat. Jika ternyata ini harus terjadi, hindari bersikap frontal dengan pendapatnya. Cukup didengarkan dan diiyakan saja dulu. Setelah itu, baru kita  menyampaikan pendapat dari sudut pandang kita sendiri. Karena terkadang kebenaran jadi sulit diterima jika metode penyampaiannya  kurang tepat.

Keenam, jika sewaktu-waktu ia marah atau tidak setuju pada sesuatu, misalnya tidak bisa menerima perilaku anak, maka biarkan saja ia menumpahkan uneg-unegnya. Setelah reda, barulah giliran kita berbicara menyampaikan pendapat yang benar menurut  versi kita.

Ketujuh, di atas semua masalah yang terjadi, apa pun itu, usahakan untuk bersikap tenang, kalem, bicaralah dengan nada suara datar dan tanpa emosi. Dengan settingan seperti ini, maka yakinlah lawan bicara pun akan terbawa dengan atmosfir ini.

Selamat bereksperimen…

Kredit gambar: Mubaladah.id


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *