Bila ada yang bertanya kepadaku, siapa sosok idolaku setelah Rasulullah? Maka aku akan jawab: Ibuku. Mungkin jawabanku dianggap langka karena tidak banyak anak di dunia ini yang menjadikan ibunya sebagai idolanya. Yang umum terjadi, idola anak remaja umumnya adalah artis penyanyi, bintang film, atau bintang olahraga
Ibuku sendiri heran dan agak terperangah ketika aku melontarkan kalimat tersebut. Namun, beliau tidak bertanya lebih jauh lagi apa alasanku menjadikannya sebagai idola. Mungkin beliau sendiri sudah mulai bisa meraba-raba ke relung hatinya, berusaha membuktikan kebenaran kata-kataku.
Banyak penggalan episode masa kecilku yang masih dapat kuingat dengan jelas, meskipun ia sudah belasan tahun berlalu. Walaupun secara umum ingin kusimpulkan, bahwa Ibuku adalah sosok yang sangat jarang marah. Akan tetapi sebaliknya, ketika menegur kesalahan kami, maka ia akan melontarkannya dengan kata-kata datar, tapi tegas. Nah, ketegasan itulah yang menjadi penanda bahwa ia sedang “marah”. Ibuku pernah bilang: kalau pada dasarnya ia memang paling tidak suka dan tidak mau marah.
Ketika beliau melarang sesuatu, ia jarang menggunakan kata “jangan”, “tidak boleh”, dan bentuk-bentuk larangan lainnya, kecuali hal itu berkenaan dengan perintah dan larangan dalam agama. Sebaliknya, ia justru akan lebih banyak menggunakan kata-kata imbauan, seperti; “kalau boleh”, “sebaiknya”, “kalau mau”, “lain kali”, dsb.
Sejak aku TK, saat ingatanku mulai kuat, banyak ajaran-ajaran dan contoh-contoh yang beliau terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang masih tertanam kuat dalam ingatanku hingga saat ini. Misalnya bagaimana terapi-terapi yang beliau lakukan saat menghadapi aku yang saat itu masih berumur 3 tahunan dan mengalami gangguan bicara alias gagap. Ibu bukannya memarahi, membentak, atau menunjukkan wajah tak sabaran, melainkan ia dengan sabar menungguku menyelesaikan kalimat-kalimatku, meskipun butuh waktu yang agak lama. Ekspresinya jarang menampakkan ketidaksabarannya, saat aku berusaha menyelesaikan kalimatku.
Setelah aku berumur 10 tahunan, saat Ibu bercerita tentang masa-masa kecilku, aku mulai mengerti kenapa beliau bisa bersikap sabar dalam menghadapiku. Jawabannya adalah: Ibu banyak sekali membaca buku-buku psikologi perkembangan anak. Ketika kasus gagap bicara menimpaku, Ibu sudah mengetahui teorinya. Yakni, ketika anak mengalami gangguan bicara seperti kasusku, maka sebaiknya orangtua bersikap sabar dan berekspresi biasa saja ketika mendengar anaknya berusaha menyelesaikan pembicaraannya. Karena kegagapan itu hanya bersifat temporal, maka hanya perlu penanganan yang tepat saja. Seorang anak menjadi gagap, karena terlalu banyak ide yang ingin dia ungkapkan, sementara kemampuan bahasa dan penguasaan cara menyampaikannya yang masih sangat terbatas. Maka gagaplah ia.
Ibu dan remaja
Jika anak remaja seusiaku lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya di luar rumah, kongkow-kongkow di kafe, atau tempat hiburan lainnya, maka aku dan adik-adikku merasa lebih senang pulang cepat ke rumah, untuk bisa berkumpul bersama dengan anggota keluargaku yang lain. Kami akan saling bercerita satu sama lain tentang kegiatan di sekolah, atau hal-hal lucu yang terjadi selama di luar rumah. Tempat ternyaman yang menjadi ruang curhatku adalah dapur, tepatnya di sekitar meja makan. Terkadang sambil masak atau sama-sama menyiapkan makan, kami akan ngobrol apa saja tentang masalah-masalah yang terjadi di sekolah, angkot, dengan guru, teman, atau hal menarik lainnya.
Sejak aku kecil sampai sekarang, Ibu paling sering membaca di pojok meja makan dapur. Tempat yang menurutnya sangat nyaman dan bebas dari kebisingan. Meski kadang banyak gangguan dari nyamuk-nyamuk kecil yang ada di kolong meja. Dalam sehari sering aku melihat buku-buku yang bertumpuk di atas meja makan dapur. Ada yang sudah selesai dibaca, ada yang sementara berusaha diselesaikan bacaannya, ada yang sama sekali belum sempat dibuka satu halaman pun.
Tumpukan buku-buku itu menunjukkan semangatnya, yang sangat ingin membaca banyak buku dalam waktu yang bersamaan. Namun, aku sangat salut dengan kemampuan bacanya yang sangat tinggi. Pernah dalam satu malam, buku Sang Pencerah yang lumayan tebal, habis dibacanya.
Meski Ibuku banyak membaca, tidak berarti semua hal bisa ia berikan jawabannya. Kadang lewat diskusi, beliau mengaku banyak belajar juga dari kami anak-anaknya. Secara fisik Ibu terlihat sangat sibuk, tetapi jika dibutuhkan untuk diajak ngobrol, maka ia mampu mencurahkan perhatiannya kepada topik pembicaraan kami.
Ketika aku menghadapi masalah-masalah berat di luar rumah, maka kegundahanku biasanya tidak akan berlangsung lama, karena ketika ngobrol dengan Ibuku, biasanya perlahan-lahan masalah tersebut akan pergi, berganti dengan datangnya solusi. Solusi-solusi yang ditawarkan sifatnya terbuka dan tidak menekan. Sehingga aku pun leluasa menganalisis masalahnya dan pada akhirnya bisa dengan sendirinya menemukan jalan keluar yang terbaik.
Aku sadar, orangtuaku berproses menjadi orangtua bukan hanya dalam satu atau dua tahun, namun bertahun-tahun sebelum membentuk keluarga dan bertahun-tahun setelahnya pun senantiasa dalam kondisi selalu belajar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Aku berharap kelak dapat seperti mereka.
Menjadi orangtua memang sulit, namun menjadi anak dengan kondisi orangtua yang tidak banyak memahami anak, akan jauh lebih sulit. Beruntung dan bersyukur aku lahir dari seorang Ibu seperti Ibuku.

Konsultan Parenting. Telah menulis buku, Dari Rumah untuk Dunia (2013) dan Metamorfosis Ibu (2018)


Leave a Reply