Saya pernah (terkesan) digugat oleh seorang peserta dialog. Pada saat itu, saya membawakan materi literasi yang ditarik garis relevansinya atau memiliki korelasi positif dengan kemajuan bangsa dan negara. Peserta dialog itu menggugat dalam bentuk pertanyaan dan/atau tanggapan, “Mengapa banyak orang yang rajin membaca, bahkan cerdas tetapi nyatanya mereka korupsi dan berbagai tindakan buruk lainnya?”
Saya menyadari betul bahwa gugatannya itu karena berangkat dari keresahannya melihat kondisi bangsa dan negara Indonesia yang penuh dengan warna-warni korupsi, berbagai penyimpangan, penyalahgunaan wewenang, tentunya tanpa kecuali politik uang dan sogok-menyogok yang dijadikan strategi utama menduduki kursi kekuasaan. Ini semua menjadi antitesis dari idealitas urgensi, signifikansi, dan implikasi literasi yang saya bahas pada saat itu.
Sekilas, jawaban saya adalah—jika meminjam perspektif Hernowo—literasi (baca-tulis) mereka masih sebatas menyentuh dimensi eksoterik, belum menyentuh dimensi esoterik (batiniah). Merujuk pada pandangan para pakar yang mengulas tentang “kecerdasan” di antaranya Daniel Goleman, Danah Zohar, Ian Marshall, dan Ary Ginanjar Agustian, saya bisa menyimpulkan bahwa mereka hanya cerdas secara intelektual. Mereka tidak cerdas secara emosional dan spiritual.
Menyusuri hutan belantara referensi, mulai dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Natural Intelligence Leadership Dadang Kadarusman, dan konsepsi Dr. Joe Dispenza yang mengulas—salah satu substansinya—kedahsyatan gelombang elektromagnetik manusia berbasis pemahaman fisika quantum, saya mendapatkan pemahaman bahwa jawabannya karena kecerdasan hakiki dalam diri manusia sedang off (baca: tidak aktif). Mewujudkan kehidupan yang lebih baik dari kondisi yang diharapkan sebagai antitesa dari kondisi yang tergambar di atas, jawabannya adalah meng-on-kan (mengaktifkan) “Kecerdasan hakiki”.
Rasulullah pernah bersabda “Ingatlah, dalam tubuh manusia iu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu.” Dari sabda Rasulullah ini, kita bisa mendapatkan penegasan bahwa yang menentukan sikap dan perilaku atau yang paling penting dalam diri manusia adalah kalbu.
Ada sejumlah pemikir yang fokus kajiannya pada potensi dahsyat dalam diri manusia, yang jika dihubungkan dengan sabda Rasulullah di atas, bisa disimpulkan saling kontroversial. Meskipun, mungkin pemikirannya tidak semuanya merujuk pada sabda Rasulullah tersebut. Beberapa pakar dengan jawabannya yang sangat rasional pula—berdasarkan pemahaman saya dalam membaca pemikirannya—di antaranya Dr. Taufiq Pasiak, dan KH. Jalaluddin Rakhmat, yang terpenting dalam diri manusia adalah otak. Berarti bisa dimaknai—menurut saya—segumpal daging tersebut itu adalah otak.
Ada pula, di antaranya Erbe Sentanu, menegaskan adalah jantung, sehingga segumpal daging yang dimaksud adalah hati yang dalam hal ini adalah jantung. Dalam pandangan Dadang pun, meskipun tidak hanya fokus pada satu hal (baca: otak), menegaskan pula pentingnya jantung.
Rasionalisasi bahwa otak yang paling utama, bukan jantung—sehingga jika dihubungkan sabda Rasullullah terkait segumpal daging yang sangat menentukan baik-buruknya manusia—adalah bahwa otak itu jika sudah rusak maka tidak bisa lagi dicangkok atau diganti, berbeda dengan jantung bisa diganti dengan jantung orang lain. Bahkan, jika kita membaca buku Afkar Penghantar: Sekumpulan Pengantar karya Jalaluddin Rakhmat, akan ditemukan peristiwa nyata dalam kehidupan—bahkan telah dilakukan penelitian—yang pada substansinya karena otaknya telah rusak maka mengalami perubahan sikap dan perilaku. Perubahan yang dimaksud salah satunya sangat emosional, berbeda kondisinya sebelum mengalami kerusakan otak.
Namun, jika kita membaca buku Dadang dan termasuk karya Erbe Sentanu, maka ditemukan penegasan bahwa jantung itu yang paling penting. Bahkan, Sentanu menegaskan lebih utama dan penting positive feeling (perasaan positif) yang sumbernya adalah hati dalam hal ini adalah organ jantung, ketimbang positive thinking (berpikir positif) yang sumbernya adalah otak.
Dadang pun menegaskan bahwa jika belajar pada proses kelahiran manusia yang pertama kali diciptakan Allah sejak dalam rahim ibu, itu adalah jantung, bukan otak. Membaca kisah perjalanan kehidupan Rasulullah pun, salah satu literatur yang terungkap bahwa Rasulullah pernah mengalami peristiwa di mana hal itu membuat orang yang sedang melihatnya ketakutan. Pada saat itu, Rasulullah dibelah dadanya, dan organ yang ada di dalamnya dicuci. Organ dalam dada dan sangat penting adalah jantung.
Dalam tulisan ini pun, saya sedang tidak ingin fokus pada hal kontroversial tersebut. Saya lebih sepakat dengan pandangan Dadang maupun Dispenza yang kesannya menegaskan kedua hal itu sangat penting, dan idealnya dipandang harus saling terintegrasi, tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.
Mewujudkan kehidupan yang lebih baik di mana manusia adalah aktor utama yang menentukan kemajuannya, dan ini relevan dengan pemberian mandat kosmik kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi, maka dibutuhkan kecerdasan hakiki. Kecerdasan hakiki adalah terjemahan atas rumusan murni dari Dadang dalam memantik ditemukannya makna lebih komprehensif dari konsepsinya terkait natural intelligence.
Salah satu penegasan Dadang pun, bahwa—sebagaimana judul tulisan ini—kecerdasan hakiki atau natural intelligence adalah “Kemampuan manusia dalam memaksimalkan kapasitas akalnya dan mengoptimalkan potensi kalbunya secara seimbang untuk menyesuaikan diri sekaligus memberi kontribusi kepada lingkungannya” (2012,20). Jadi pembentuk kecerdasan hakiki adalah dua komponen utama: akal dan kalbu. Keduanya ini saling terintegrasi.
Akal adalah software yang berada dalam otak sebagai hardware-nya. Sedangkan kalbu juga merupakan software yang berada dalam jantung sebagai hardware-nya. Dadang pun menegaskan bahwa kehidupan manusia itu dimulai dari jantung dan berakhir pada otak. Artinya, bahwa kehidupan manusia dimulai, ketika masih dalam rahim ibunya, yang pertama diciptakan adalah jantung—bukan otak—yang menandai kehidupannya. Namun, kehidupan berakhirnya di otak, artinya pada saat manusia mengalami kematian nyawa itu perlahan-lahan menghilang dari ujung kaki sampai akhirnya berujung di ubun-ubun. Atau bisa ditegaskan bahwa otak adalah organ yang paling terakhir bersentuhan dengan ruh atau nyawa.
Lalu bagaimana mengoptimalkan kalbu dan memaksimalkan akal. Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Namun, melalui tulisan ini, tidak semuanya bisa terungkap selain keterbatasan referensi penulis, juga keterbatasan ruang ini sebagai media berbasis media online.
Sebelum menjawab cara untuk mengoptimalkan kalbu, saya terlebih dahulu menyampaikan indikator sederhanyanya adalah ketika kita sudah bisa dan terbiasa berperasaan positif: peduli, berempati, bersimpati, mengasihi, menyayangi, ikhlas, sabar, bersyukur, tawakal, senang, bahagia, tenang, suka memberi, dan suka memaafkan. Meskipun, di sini, saya menyebut kata “sederhana” bukan berarti bahwa saya memaknai semua jenis perasaan positif ini adalah sederhana, maksud saya istilah yang mudah dipahami atau diketahui.
Begitu pun memaksimalkan akal, indikator atau istilah yang mudah dipahami adalah ketika sudah mampu dan terbiasa berpikir positif, produktif, konstruktif, fungsional, dan kontributif, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi termasuk untuk orang lain dan lingkungan kehidupannya. Apa yang dimaknai sebagai kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual, terutama jika merujuk pada pandangan Goleman, Zohar, dan Marshall, maka ini semua adalah indikator maksimalnya akal.
Namun, saya sendiri berpandangan bahwa kecerdasan emosional yang dalam bahasa agama bisa dimaknai hablum minannas, dan kecerdasan spiritual yang dimaknai sebagai hablum minallah dan kemampuan menemukan makna atau ibrah atas setiap peristiwa kehidupan, memiliki relevansi dengan berfungsinya kalbu secara baik. Minimal di sinilah ruang relevansi, dan titik korelasi pandangan Dadang yang kurang sepakat adanya dikotomi, tanpa kecuali dikotomi IQ (intellectual quotient), EQ (emotional quotient), dan SQ (spiritual quotient).
Memaksimalkan akal, berdasarkan literatur Islam, saya berkesimpulan—jika harus memilih satu kata sebagai jawabannya—adalah iqra. Iqra jika mengikuti penafsiran Quraish Shihab tentunya bukan hanya dalam makna “membaca” secara tekstual tetapi terutama dalam makna belajar, memahami, mengkaji, termasuk meriset. Dalam makna kontemporer, saya yakin tidak keliru jika dimaknai literasi. Selain hal ini, termasuk senantiasa berupaya memahami dengan baik dan mempersembahkan hal terbaik dalam relasi horizontal, relasi kemanusiaan dengan sesama dan lingkungan, dan relasi vertikal atau kesadaran posisi sebagai hamba Allah.
Beribadah, menunaikan salat, berpuasa, berzakat, dan membaca al-Qur’an, hal ini bisa memaksimalkan kalbu yang bentuk realistisnya bisa dalam bentuk perasaan. Seperti puasa, jika dilaksanakan secara baik dan benar, sebenaranya bukan hanya sebagai penggugur kewajiban ibadah. Namun, puasa sesungguhnya secara fungsional dan psikologis, idealnya memantik perasaan sabar, empati, peduli, tanpa kecuali rasa syukur.
Fungsi utama puasa adalah pengendalian diri yang jika diselami bisa mengoptimalkan kalbu, termasuk pula memaksimalkan akal. Salat bisa mengoptimalkan rasa ikhlak, tawakal, ketenangan jiwa, kebahagiaan hati. Zakat mengoptimalkan kalbu dalam hal memupuk rasa menyayangi dan kasih sayang, termasuk kepedulian.
Optimalisasi kalbu dan maksimalisasi akal, sebenarnya bukan hanya bermuara pada lahirnya kecerdasan hakiki yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Keduanya (baca: kalbu dan akal) jika terpadu atau saling terintegrasi secara selaras, maka bisa menciptakan kedahsyatan dalam memengaruhi realitas kehidupan yang terjadi berdasarkan harapan atau impian.
Dispenza, penulis buku Breaking The Habit of Being Yourself (2021) menjelaskan satu hal dahsyat dalam diri manusia yang diyakini jika itu bergerak atau memancar selaras bisa memengaruhi realitas, yaitu gelombag elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik dahsyat dalam diri manusia yaitu perpaduan secara selaras antara sinyal listrik atau elektrik yang bersumber dari pikiran/akal yang berlokasi di otak, dan daya magnetis yang bersumber dari perasaan yang berlokasi di jantung.
Diakui, begitu pun saya merasakannya dalam dimensi tertentu, bahwa mengintegrasikan dan menyalaraskan pikiran dan perasaan atau antara akal dan kalbu seringkali memang membutuhkan waktu untuk membiasakannya. Apatah lagi jika pola pendidikan dan dinamika kehidupan dalam lingkungan sekitar yang selama ini dijalani dan dilewati kurang menunjang, maka membutuhkan waktu agar mengubahnya terlebih dahulu—bukan hanya memaksimalkan dan mengoptimalkannya—sebelum mewujudkannya dalam kehidupan sebagai indikator fungsional kecerdasan hakiki.
Dalam optimalisasi kalbu dan maksimalisasi akal untuk melahirkan kecerdasan hakiki berlaku pula hukum habits (pembiasaan). Contoh penegasannya ketekunan belajar dan/atau membaca bisa memengaruhi maksimalisasi akal. Pembiasaan untuk memberikan kepedulian, menjaga kepekaan bisa mengoptimalkan kalbu.
Kredit gambar: utusantv.com

Pemilik Pustaka “Cahaya Inspirasi”, dan Wakil Ketua MPI PD. Muhammadiyah Bantaeng. Pegiat Literasi Digital dan Kebangsaan. Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bantaeng Masa Jabatan 2025-2030.


Leave a Reply