Loncatan Belajar Pelajar Berkemajuan

Ada banyak peristiwa, catatan, ajaran, dan harapan yang pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari makna “belajar”. Dalam konsep Islam, kita memahami bahwa pada mulanya Adam pun diajarkan “pengetahuan tentang segala sesuatu”. Perintah dan surah pertama pun adalah “iqra”, dan jika memahami tafsir dari  M. Quraish Shihab, salah satu maknanya bisa disejajarkan dengan makna belajar.

Pada saat masih bayi, di mana orang dewasa menyaksikan kita sering kali memasukkan apa saja yang diraih atau digenggam ke dalam mulut, itu dimaknai bahwa sesungguhnya, kita sedang belajar—mencari tahu tentang benda tersebut. Dari taman kanak-kanan (TK) atau sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi, dan semestinya sepanjang hidup, kita melakukan banyak proses atau dinamika kehidupan, yang di antaranya dimaknai belajar.

Dalam konstitusi negara Indonesia, tepatnya pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, alinea keempat,  kita pun bisa menemukan satu frasa “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Proses mewujudkan ini adalah belajar dengan berbagai determinannya. Begitu pun mimpi hebat dan spektakuler menuju “Indonesia Emas tahun 2045”, sejatinya porsi perhatian kita tidak terlepas pula dari makna “belajar”.

Mustahil “Indonesia Emas” terwujud ketika generasi mudanya tidak mampu menjadi pelajar yang berkemajuan. Sejatinya generasi muda yang memiliki posisi sangat strategis sebagai penarik gerbong kemajuan bangsa dan negara adalah pelajar. Pelajar yang berkemajuan.

Pelajar-Berkemajuan memang identik dengan kader-kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Namun, dalam makna dan konteks tulisan ini, saya tidak ingin membatasi ruang lingkupnya, apatah lagi dalam upaya mewujudkan tujuan dan cita mulia konstitusi negara kita di atas, termasuk mimpi hebat Indonesia.

Siapa saja yang menjadi murid dan/atau siswa, idealnya harus mampu menjadi Pelajar Berkemajuan. Makna esensial pelajar adalah orang yang selalu belajar, belajar, dan belajar. Sedangkan Pelajar-Berkemajuan, saya memaknainya dalam konteks tulisan ini sebagai sosok pelajar yang memiliki semangat dan kemampuan belajar yang tinggi, mendalam, komprehensif, dan mampu mengintegrasi-interkoneksikan berbagai kemampuan, potensi, dan berbagai disiplin ilmu untuk mencapai target secara efektif,  efesien, dan fungsional.

Pelajar Berkemajuan harus mampu mengalami loncatan belajar atau kemampuan belajarnya mengalami loncatan, serupa yang dimaknai oleh Bobbi DePorter dan Mike Hernacki dengan istilah “Quantum Learning”. Sebaliknya, dengan pencapaian kemampuan belajar ini mampu mendorong lahirnya Pelajar-Berkemajuan.

Pelajar-Berkemajuan pun—ini  yang menarik, utama, dan strategis—akan  memahami dan menyadari betapa pentingnya relevansi, urgensi, signifikansi, dan implikasi doa belajar. Jadi, tidak hanya fokus pada hal-hal teknis, dan operasionalistik terkait metode belajar praktis.

Saya memahami cara belajar yang bisa mengalami loncatan setelah membaca banyak referensi, dan memahami potensi yang telah built-in dalam diri. Hal ini pun, saya telah membagikannya ke ribuan pelajar baik melalui forum perkaderan maupun melalui latihan dasar kepemimpinan, tanpa kecuali melalui diskusi-diskusi lepas dengan siapa saja yang memiliki minat.

Loncatan belajar bisa dicapai ketika dalam belajar kita mampu memahami tiga hal utama: suasana hati, fungsi otak, dan gaya belajar. Pertama kali dan utama sekali yang harus diperhatikan agar bisa belajar dengan baik adalah memperhatikan dan/atau terus menjaga suasana hati agar bisa tetap dalam kondisi tenang, senang, dan bahagia. Dalam berbagai forum, saya mengistilahkannya “TSB” yang merupakan singkatan dari tiga suasana hati tersebut.

Suasana hati yang “TSB” tersebut harus menjadi perhatian utama karena—jika kita memahami dengan baik konsep Quantum Learning DePorter dan Hernacki—mampu membangkitkan kedahsyatan otak. Bahkan otak ini, sering kali diistilahkan dan dipandang sebagai “raksasa tidur” yang ada dalam diri. Harus dibangunkan agar bisa memberikan efek dahsyat pada diri.

Pelajar sebagai manusia yang bukan hanya memiliki dimensi fisik-biologis harus senantiasa pula meng-charge dimensi psikologisnya, terutama agar suasana hatinya senantiasa terjaga dengan baik. Hanya saja, generasi hari ini jauh lebih banyak yang sibuk meng-charge atau memperhatikan asupan nutrisi untuk fisik-biologisnya, dan handphone-nya sendiri. Kadang lupa dan/atau tidak peduli untuk meng-charge dimensi psikologisnya.

Ada banyak cara untuk senantiasa menjaga suasana hati agar senantiasa “TSB” (Tenang, Senang, dan Bahagia). Cara ini pun, saya sering menyampaikan dan mengeksplorasikan dalam forum-forum perkaderan dan LDK: senantiasa mengingat cita-cita; memperhatikan potensi positif dalam dirinya sekecil apa pun itu; mengenang dan mendokumentasikan setiap pencapaian, penghargaan, apresiasi, dan berbagai keberhasilan yang pernah diraih; merumuskan AMBak (Apa Manfaatnya Bagiku) terhadap sesuatu yang ingin dilakukan dan dimiliki; dan yang utama adalah doa.

Ketiadaan cita-cita dalam diri bukan hanya menggambarkan diri kita bagaikan tengkorak yang berjalan. Namun, cita-cita itu—yang sesungguhnya mengandung harapan,—selain bagaikan pelampung agar tidak tenggelam dalam samudera kehidupan, mampu menjaga suasana hati. Kepada pelajar pun, saya sering berpesan jika bisa cita-citanya sering diingat atau dituliskan di tempat di mana kita sering berada di sekitarnya.

Cita-cita yang sering diingat, mengandung kekuatan imajinasi yang salah satunya telah menjadi modal dahsyat bagi Albert Einstein yang membuat dirinya memiliki banyak karya spektakuler dan menjadi rujukan dunia sampai hari ini. Bahkan jika kita membaca buku Afkar Penghanar: Sekumpulan Pengantar (2016) karya KH. Jalaluddin Rahkmat betapa pentingnya kekuatan imajinasi. Bagi saya, dalam cita-cita yang sering diingat dan/atau disebut, bukan hanya berfungsi sebagai charger kehidupan, tetapi mengandung kekuatan imajinasi.

Senantiasa mengingat cita-cita, itu pun memiliki makna dan mengandung mekanisme operasionalistik yang sama dengan salah satu Aksioma Sikap John C. Maxwell, “Memulai sesuatu dari tujuan akhir”. Ini pun relevan dengan pesan dahsyat para guru kehidupan orang Bugis-Makassar “Melihat diri sudah sampai di tujuan, sebelum memulai langkah kaki pertama”.

Hal lain untuk menjaga suasana hati dengan senantiasa memperhatikan dan menemukan potensi positif, ketimbang hal negatif dalam diri. Berdasarkan konsepsi “syukur” yang sering saya dalami selama ini, dengan memperhatikan potensi positif pada diri, ini akan senantiasa memantik rasa syukur. Berdasarkan pemahaman terkini dan spektakuler dengan pendekatan teori fisika quantum, rasa syukur sesungguhnya bisa memantik gelombang elektromagnetik dahsyat dari dalam diri yang selanjutnya bisa memengaruhi realitas. Untuk bisa memahami dengan baik, kita bisa membaca buku karya Dr. Joe Dispenza, Breaking The Habit of Being Yourself (2021).

Apatah lagi, jika kita memahami law of attraction (hukum tarik-menarik) maka dengan senantiasa menemukan dan memperhatikan hal positif pada diri, itu akan berdampak positif pula. Jadi banyak dampak positifnya selain untuk menjaga suasana hati yang menjadi prasyarat bangkitnya kedahsyatan otak.

Yang dahsyat, korelasi positif antara doa belajar, suasana hati dan kedahsyatan fungsi otak. Doa secara umum, bisa dipastikan bukan hanya sebagai ruang curhat kepada Allah. Namun, doa dipastikan adalah mekanisme mengingat Allah. Sedangkan Allah pun melalui firmanNya sudah menegaskan “Dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tentram”. Inilah salah satu dalil yang membuat saya meyakini betapa pentingnya doa belajar.

Cara menjaga suasana hati, dipastikan bisa dilakukan dengan banyak cara, termasuk dengan merumuskan AMBak, atau manfaat dari setiap yang akan dilakukan, dikuasai atau dimiliki. Hanya saja ruang ini, tidak cukup untuk menuliskan semuanya.

Hal penting lainnya untuk mencapai loncatan dalam belajar adalah memerhatikan fungsi otak. Terkait fungsi otak ada banyak aspek yang harus dipahami, meskipun dalam tulisan ini tidak semuanya saya tuliskan.

Yang terpenting dalam belajar, adalah keseimbangan dalam memungsikan antara otak kanan dan kiri. Paling utama, ketika melakukan aktivitas belajar, otak kanan dan kiri bisa difungsikan secara bersamaan. Dalam forum-forum perkaderan dan LDK, saya sering menggambarkan dua model tukang kayu dalam memalu paku. Ada yang sekadar memalu paku tanpa irama, ada juga bunyi memalu pakunya berirama. Yang berirama itu, bisa dipastikan bahwa fungsi belahan otak kanan dan kirinya berfungsi secara bersamaan. Kita bisa memerhatikan seperti apa daya tahan kerja dan kreativitas tukang kayu tersebut dari kecenderungan atau kebiasaan memalu pakunya.

Korelasinya dengan fungsi otak, saya pun sering menyampaikan bahwa menjadi cerdas itu mudah. Cara mudahnya adalah dengan mengupayakan agar cell atau neuron semakin banyak terkoneksi dengan neuron lainnya dalam otak kita. Caranya, ya, dengan banyak berpikir. Saya pun sering menyampaikan kepada pelajar, jika bapak/ibu gurunya memberikan banyak “PR” (pekerjaan rumah) maka bersyukur dan berterimakasihlah kepada guru yang bersangkuan.

Mengapa? Semakin banyak PR, semakin banyak pula yang dipikirkan. Urusan benar-salah dalam posisi sebagai pelajar, tentunya itu urusan sekian. Yang utama adalah sering berpikir. Ini senada dengan pesan guru-guru era 1990-an “Kunci menjadi cerdas adalah banyak bertanya” tetapi pesan ini penekannya bertanya kepada diri sendiri. Pendekatan kuncinya yaitu bertanya dengan basis 5W+1H (What, who, why, when, where, dan how).

Dalam upaya mencapai loncatan belajar bagi Pelajar-Berkemajuan, hal lainnya yang harus pula diperhatikan adalah gaya belajar. Jadi bukan hanya dalam renang, dan lari ada istilah atau kategorisasi “gaya”-nya. Dalam belajar pun demikian. Cara garis besar dibagi atas tiga: visual, auditorial, dan kinestetik.

Visual, berarti gaya belajar yang mengandalkan matanya paling efektif dalam menerima dan memahami informasi, dan pelajaran. Auditorial, adalah gaya belajar seseorang yang paling mengandalkan kemampuan pendengarannya. Kinestetik adalah gaya belajar yang banyak bergerak dan melibatkan peran fisik atau tubuhnya. Kinestetik bisa pula dimaknai bahwa sentuhannya fisiknya sangat memengaruhi kemampuannya dalam memahami.

Jenis gaya belajar yang dimiliki semestinya harus pula dipahami oleh seorang pelajar. Jenis gaya belajar ini pun, secara teknis dan metodik menentukan seperti apa model belajar yang semestinya harus dipahami. Contoh jika gaya belajar yang lebih mendominasi diri kita adalah auditorial, ketika kita membaca sebaiknya dengan suara nyaring dan berirama.

Selain tiga hal penting di atas, saya pun sering kali dalam upaya mencapai loncatan dalam belajar memadukan dengan ilmu, hukum, dan prinsip habits (kebiasaan). Bahkan, dalam forum-forum, saya pun memadukannya dengan konsepsi Gelombang-Otak, pengaruh alam bawah sadar yang disepakati oleh para pakar sebesar 88%. Sedangkan alam sadar sebesar 12%.

Pada substansinya, pendekatan alam bawah sadar dalam belajar, akan sangat dahsyat karena pelibatan kekuatan imajinasi berfungsi maksimal serta, daya ingat bersifat jangka panjang. Selain itu proses algoritmiknya pun cepat.

Kredit gambar: https://osc.medcom.id/


Comments

3 responses to “Loncatan Belajar Pelajar Berkemajuan”

  1. Yuni Raraswati Avatar
    Yuni Raraswati

    Dahsyat semoga generasi muda kita bisa mempraktikkannya. Semangat ber-Fastabiqul Khoirot

    1. Agusliadi Avatar

      Alhamdulillah, terima kasih Bu. Semoga senantiasa memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin

  2. Syukran pencerahannya Akhi..semoga saja kita dan pendidik memahami TSB ini dengan maksimal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *