Menjadi Ibu (2)

Bulan ketiga hingga kelima. Masa adaptasi dengan arus tenang, tapi berombak. Begitu, jika diumpamakan menjadi prakiraan cuaca. Mendung tak selamanya hujan. Matahari tak selamanya bersinar. Kami berdua sudah lebih bisa saling mengerti kondisi.

Sejak Shanum dua bulan, kami berdua juga sudah saling bergantian memandikan Shanum. Mengganti popok sudah kewajiban ayah jika ia ada di rumah. Tidur dan bermain kami lakukan bergantian juga. Walaupun tidur siang dan siapa yang akan mengayun masih menjadi keistimewaan bagi mendapatkan giliran. Jadilah kami memutuskan membeli mesin ayun otomatis. Agar Shanum bisa diayun tanpa salah satu di antara kami menarik-narik tali. Ini benar-benar sangat membantu. Kami bisa mengerjakan banyak hal dan tidur dengan kondisi Shanum tetap terayun.

Menuliskan ini, membuat saya memikirkan kembali. Semenjak menjadi orangtua, begtiu banyak keputusan-keputusan yang kami ambil. Mulai dari barang yang akan dibeli, memutuskan suatu perilaku dengan harapan akan menjadi kebiasaan, dan hal lainnya. Namun, ya hidup memang perihal mengambil keputusan. Seperti akan makan apa, apakah popok sudah harus diganti atau tidak walau belum penuh, tapi sudah lama. Beli lombok besar atau tidak, karena takut tinggal melengket di kulkas. Perihal demikian. Sering dan hampir tiap hari. Tanpa sadar, keputusan-keputusan kecil dan keseharian itu, kelak, tanpa terasa akan menjadi hal nyata terlihat jelas.

Jadi, Shanum sebagai guru kami menjadikan kami orangtua sebagai muridnya, membuat kami khususnya saya sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Jika dulu lebih impulsif karena seorang diri. Sejak jadi orangtua, keputusan seorang diri itu akan membawa dua ekor manusia lainnya. Pasangan dan anak, sebagai keputusan berdampak bagi satu keluarga.

Di bulan ini juga, pertanyaan saya kepada diri sendiri juga terjawab tanpa sengaja. Ada suatu pertanyaan, bagaimana seandainya jika saya masih bekerja dan memiliki anak? Mungkin saja penghasilan kami akan bertambah. Saya tidak merasa sendirian karena bisa keluar rumah. Banyak yang mengira saya berhenti bekerja menjadi kepala sekolah karena memiliki anak. Nyatanya, saya sudah berniat berhenti semenjak menikah. Apalagi begitu melelahkan perjalanan bolak-balik Makassar Bantaeng. Beberapa kali dalam tempo satu hari saya berangkat subuh mobil sewa pertama ke Makassar dan pulang jam 12 malam dengan mobil sewa paling terakhir.

Dengan pertimbangan sana sini, impulsif, tapi memang terpendam lama, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Kata orang, saya lagi di masa jayanya. Gaji baru saja naik. Keleluasaan dalam mengatur kapan masuk kantor. Bisa bekerja dengan WFH. Barulah, setelah beberapa bulan resign. Pikiran memiliki anak pun terlintas.

Tapi ya, namanya manusia. Menyukai membayangkan masa di mana mereka tidak ada. Suami saya bilang, jangan hanya mengingat gaji saja ketika bekerja. Ingat juga stress dan tangisan saya ketika bekerja karena tekanan-tekanan. Ini kalimat yang keluar, jika situasinya menuju akhir bulan menunggu gaji bulan depan. Dan pikiran andai saja saya masih bekerja.

Nah, pertanyaan ini terjawab juga ketika saya dan Shanum berpisah dari ayahnya sewaktu kami berdua di Makassar. Ayahnya bolak-balik Makassar Bantaeng untuk bertemu. Dua bulan berjalan demikian. Yang terjadi adalah saya merasa kewalahan. Kehilangan seorang partner dalam mengasuh. Shanum kehilangan sosok ayah dan tidak terjadi bonding alami. Bagaimana mau bonding, jika dalam dua minggu baru bertemu dengan waktu hanya dua hari saja. Beda jika, seperti kondisi sebelum kami ke Makassar. Pengasuhan dilakukan berdua. Ayah ikut terjaga ketika Shanum bangun tengah malam. Ayah memandikan dan mencebokkan Shanum. Pergi jalan sore dan bermain bersama. Semenjak kejadian itu, saya sudah tidak pernah berandai-andai lagi. Mungkin begitulah cara Tuhan mengingatkan, dengan memberikan situasi yang sekiranya akan terjadi. Jika andaimu itu terwujud.

Saya merasa di bulan ini terutamanya pada bulan ke-3 dan 4, merasakan ketegangan. Mungkin karena masih menjadi ibu hitungan bulan. Bawaannya, begitu banyak pengetahuan yang ingin saya terapkan ke Shanum. Begitu banyak kekhawatiran dan ketakutan. Terutamanya tanpa sadar saya sering membandingkan Shanum dengan anak lain. Padahal jelas-jelas jenis kelaminnya berbeda. Di luar itu, bahkan anak kembar identik pun tetap berbeda. Karena memang setiap manusia itu unik. Namun, walaupun saya tahu jika setiap manusia itu berbeda dan unik, apalagi jurusan saya dulunya antropologi. Mengkaji tentang manusia. Saya tetap saja khilaf melakukannya. Tanpa benar-benar bermaksud membandingkan. Semisal, teman yang memiliki bayi yang hampir sama usianya dengan Shanum. Sering saya tanyai, sudah bisa apa saja. Lalu memikirkan kok Shanum belum bisa. Apalagi Shanum baru bisa menegakkan kepalanya di usia 4 bulan. Karena saya, ayah, dan neneknya termakan mitos dari nenek buyutnya. Jangan sampai jidatnya Shanum maju ke depan, kalau selalu diberikan stimulus tummy time.

Padahal kami bertiga, sejak selepas tali pusarnya Shanum sudah melakukan tummy time. Begitulah, belajar dari bulan itu. Saya sudah tidak terlalu mau termakan mitos yang dapat menghambat perkembangan Shanum. saya dan Neminya (umi saya), selalu saja menstimulus Shanum sepanjang dua bulan, selama saya berada di Makassar. Alhamdulillah, berulang bulan ke empat. Kepala sudah bisa ditegakkan. Mandi air dingin menjadi penanda usia ke 4 bulan, hingga hari ini. Berkat neminya, yang seringkali membiasakan Shanum mandi air dingin. Karena ibunya kadang tidak tega, hehehe.

Di usia itu pula, saya sudah tidak memikirkan untuk melakukan perbandingan kepada anak lain. Saya hanya melakukan stimulus dengan melihat red flag serta milestone-nya, belajar membangun kepercayaan kepada Shanum dan belajar bersabar terhadap proses yang Shanum lalui. Ketiga hal itulah yang menjadi kefokusan dan bekal menuju bulan-bulan selanjutnya. Yang katanya lebih horor, karena sudah masuk fase MPASI.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *