Dalam laporan kegiatan Beranda Komunitas, di sejumlah desa di Bulukumba, saya membaca petikan percakapan Ramadhani dengan Suharni, seorang petani perempuan dan ibu rumah tangga dari Desa Swatani. Suharni menjelaskan bahwa kelapa memiliki banyak kegunaan praktis. Misalnya, daging buah kelapa bisa diolah menjadi santan dan minyak kelapa.
Dua produk tersebut merupakan bahan pokok dalam banyak masakan tradisional di desanya. Kelapa juga dapat diolah menjadi gula kelapa dan bahan baku untuk berbagai makanan khas. Batang kelapa yang sudah tua dapat digunakan untuk tiang rumah atau membuat mebel. Sementara daun kelapa biasanya dianyam untuk tempat bertelur ayam, kadang juga digunakan untuk atap pondok di kebun. Jika musim lebaran daun kelapa yang muda biasanya dibuat buras dan ketupat.
Menurut Suharni, manfaat praktis ini adalah salah satu alasan mengapa kelapa tetap penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, selain itu, ada juga alasan-alasan yang lebih mendalam dan terkait dengan tradisi dan kepercayaan. Misalnya, keberadaan kelapa yang ditanam di berbagai tempat, termasuk pekarangan rumah, mencerminkan keterikatan masyarakat dengan lingkungan mereka. Memastikan ketersediaan kelapa untuk berbagai keperluan, baik untuk ritual tertentu untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya.
Tanaman kelapa umumnya dibudidayakan oleh petani kecil dipadukan dengan beragam jenis tanaman lain. Di Sulawesi Selatan, derah-daerah pesisir seperti Selayar, Mandar, Bulukumba, dan Teluk Bone, telah lama mengembangkan kelapa, sebagai sebagai tanaman sehari-hari yang sangat penting. Para pedagang lokal di pedalaman Bugis, senang berdagang batu permata cincin dan emas ke Selayar. Sekembali dari selayar, mereka membawa biji kelapa dan dikembangkan sebagai tanaman pekarangan.
Lokasi program Beranda Komunitas di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Balantieng, yang membentang dari pegunungan Sinjai hingga pesisir Bulukumba, kedudukan kelapa tidak hanya penting dari sisi ekonomi, tetapi juga memiliki makna mendalam bagi budaya dan tradisi masyarakat setempat. Hampir setiap keluarga memiliki pengetahuan dalam membuat berbagai produk dari kelapa, seperti minyak kelapa, santan, hingga kue-kue tradisional. Tradisi ini bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan identitas budaya masyarakat.
Kelapa dalam kehidupan sehari-hari
Kelapa adalah tanaman serbaguna yang hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Setiap bagian dari pohon kelapa memiliki kegunaan tersendiri. Batang kelapa misalnya, digunakan sebagai bahan konstruksi seperti tiang, papan, atau balok dalam pembangunan rumah. Pelepahnya dapat dijadikan pagar atau kayu bakar, sedangkan daunnya sering digunakan untuk membuat atap rumah, ketupat, dan buras (makanan khas Bugis-Makassar). Lidi dari daun kelapa diubah menjadi sapu, sementara akar kelapa dipercaya memiliki manfaat dalam pengobatan tradisional, misalnya untuk mengobati kolesterol dan meningkatkan stamina.
Buah kelapa sendiri adalah bagian yang paling berharga. Daging buahnya diolah menjadi kopra, santan, minyak kelapa, dan digunakan dalam berbagai masakan dan kue tradisional. Buah kelapa muda juga sering kali dikonsumsi sebagai minuman segar yang kaya akan elektrolit. Dengan begitu banyak manfaat, kelapa bukan hanya sumber pangan yang penting, tetapi juga menjadi elemen penting dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar DAS Balantieng, kelapa tidak hanya dipandang sebagai sumber bahan baku multifungsi, tetapi juga sebagai bagian integral dari berbagai ritual dan adat istiadat. Pohon kelapa yang tumbuh tinggi dan kokoh melambangkan kehidupan yang kuat dan tahan lama, sementara buah kelapa yang penuh manfaat mencerminkan nilai-nilai kehidupan yang tidak instan dan memerlukan kerja keras.
Dalam berbagai ritual adat, kelapa sering digunakan sebagai media untuk menyampaikan doa dan harapan kepada Tuhan. Buah kelapa melambangkan kemurnian dan keberkahan. Misalnya, dalam upacara adat tertentu, buah kelapa yang dipotong menjadi dua bagian sering digunakan untuk melambangkan keseimbangan dalam kehidupan, baik dari segi fisik maupun spiritual. Ritual-ritual semacam ini masih dipertahankan di berbagai komunitas, termasuk di desa-desa yang berada di wilayah DAS Balantieng, yang tetap menghargai nilai-nilai tradisi dan budaya.
Kelapa dan tradisi menanam ari-ari
Salah satu tradisi unik yang masih dilestarikan oleh masyarakat di sekitar DAS Balantieng adalah menanam ari-ari bayi yang baru lahir bersama buah kelapa. Tradisi ini mencerminkan harapan dan keterikatan dengan tanah kelahiran serta doa untuk masa depan anak. Dalam kepercayaan masyarakat Bugis-Makassar, ari-ari, atau plasenta, dianggap sebagai bagian penting dari kehidupan bayi yang baru lahir. Menurut mereka, ari-ari memiliki hubungan yang erat dengan anak dan perlu diperlakukan dengan penuh kehormatan.
Setelah bayi lahir, ari-ari tersebut biasanya ditanam bersama buah kelapa, yang dikenal sebagai pohon kehidupan. Kelapa dipilih karena seluruh bagian dari pohon ini dapat dimanfaatkan, menjadikannya simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Dengan menanam ari-ari bersama dengan kelapa, orang tua berharap anak mereka akan tumbuh sehat, kuat, dan memiliki masa depan yang cerah. Pohon kelapa yang tumbuh tinggi dan kokoh, diharapkan menjadi simbol anak yang juga tumbuh kuat dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
Tradisi ini juga melambangkan keterikatan bayi dengan tanah kelahirannya. Dengan menanam ari-ari di tanah, masyarakat percaya bahwa anak tersebut akan selalu terhubung dengan asal-usulnya, tanah leluhurnya, serta komunitas tempat ia dilahirkan. Tradisi ini merupakan cara untuk menanamkan nilai-nilai budaya sejak dini, mengingatkan anak akan akar budayanya, dan menjaga identitas mereka sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tradisi dan kearifan lokal.
Seorang teman saya, Sorensen Rambu Langi, yang juga seorang penggiat teater dari Toraja, pernah membahas tentang tradisi menanam ari-ari ini dalam sebuah pementasan. Menurut Soren, tradisi ini dalam budaya Bugis dikenal dengan nama ma debbang. Hal ini menunjukkan bahwa menanam ari-ari bersama dengan kelapa adalah tradisi yang telah lama ada dan merupakan bagian integral dari kebudayaan Bugis-Makassar.
Gigi emas dan kejayaan kelapa
“Lahan saya adalah dunia!” Begitulah pekik kegembiraan para eksportir kopra Makassar di penghujung abad ke 19. Ketika itu, armada perkapalan internasional Rotterdamsche Lloyd, tiba di Makassar untuk mengangkut kopra ke Eropa. Ungkapan itu menjadi pertanda bahwa kopra Makassar telah menjadi bagian dari pasaran kopra dunia. Demikian paragraf pertama dalam pengantar buku,
Kopra Makassar Perebutan Pusat dan Daerah, ditulis Rasyid Asba.
Para eksportir kopra yang berdiam di Makassar kala itu, menampung kopra mereka dalam gudang-gudang penimbunan di sekitar Pelabuhan Makassar. Ketika itu, beberapa eksportir telah memiliki lebih dari dua gudang ekspor kopra di sekitar Pelabuhan Makassar. Laporan perdagangan Makassar menunjukkan bahwa pada tahun 1895, Makassar telah memiliki tujuh tempat tujuan ekspor kopra, kemudian naik menjadi 24 tujuan ekspor kopra pada 1920.
Selama kurang lebih delapan dasawarsa (1883-1958), komoditas ekspor Makassar banyak tergantung dari kopra. Bagi penduduk Indonesia bagian timur, khususnya Sulawesi, kopra menjadi komoditi dagang penting sejak 1880-an. Pada tahun itu, bangsa bangsa Eropa menggunakan kopra sebagai bahan dasar yang penting dalam pembuatan sabun dan mentega. Sekitar 60 persen jumlah ekspor kopra Timur Besar berasal dari kopra yang pada umumnya diekspor melalui Pelabuhan Makassar.
Karena itu, bukannya tanpa alasan jika JC Westermann dan WC Houck mengatakan bahwa pada dekade kedua abad ke-20, Makassar tampil sebagai kekuatan ekonomi di Asia Pasifik. Bahkan pada fase tersebut, ekspor kopra Makassar dapat mengurangi laju perkembangan Singapura sebagai kota dagang. Singkat kata, kopra sebagai komoditas perdagangan pernah menduduki tempat yang sangat penting. Bukan hanya kopra yang berasal dari Makassar, tetapi juga kopra dari Maluku dan Manado. Demikian penjelasan lanjutan dalam pengantar buku tersebut.
Dari buku Rasyid Asba saya sedikit memahami pertalian tradisi Bugis-Makassar dengan kedudukan kelapa yang yang sarat manfaat. Kelapa yang diolah menjadi kopra, tidak hanya membawa keuntungan ekonomi, tetapi juga meningkatkan status sosial dengan membawa petani Bugis-Makassar, untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur singapura dan menunjukkan status sosial dengan cara mengenakan gigi emas.
Kelapa, yang dimanfaatkan dari akar hingga daunnya, menjadi simbol ekonomi yang kuat dan membantu memperkaya tradisi serta budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Kelapa tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga bagian dari sejarah dan identitas masyarakat di kawasan tersebut.
Pohon kehidupan yang mengikat antar generasi
Kelapa bukan hanya simbol kekuatan ekonomi, tetapi juga lambang kehidupan yang memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam. Pohon kelapa yang tumbuh tinggi dan kokoh menjadi representasi dari harapan akan kehidupan yang kuat, tahan lama, dan penuh manfaat. Dalam masyarakat Bugis-Makassar, kelapa tidak hanya menjadi sumber daya alam yang bermanfaat secara praktis, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang memperkuat ikatan sosial dan komunitas.
Pada setiap tahap kehidupan, kelapa selalu hadir dalam bentuk yang berbeda. Dari prosesi kelahiran dengan menanam ari-ari, hingga digunakan dalam ritual-ritual adat dan kehidupan sehari-hari, kelapa menjadi pohon kehidupan yang tak terpisahkan dari masyarakat Bugis-Makassar. Bahkan hingga saat ini, nilai-nilai yang terkandung dalam pohon kelapa masih tetap relevan dan dipertahankan, mengingatkan kita pada pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan modern dan warisan tradisional.
Penanaman kelapa di pekarangan rumah, pematang tambak, atau di pinggir sungai juga mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap alam sekitar. Masyarakat tidak hanya memanfaatkan kelapa untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk menjaga lingkungan dan kelestarian alam. Keberadaan kelapa membantu mencegah erosi tanah dan menjaga keseimbangan ekosistem lokal.
Secara keseluruhan, kelapa dalam kehidupan masyarakat DAS Balantieng dan masyarakat Bugis-Makassar secara umum, memiliki peran yang jauh lebih luas dari sekadar tanaman ekonomi. Ia adalah simbol kehidupan, kekuatan, dan harapan bagi masa depan yang lebih baik.
Tradisi menanam ari-ari bersama kelapa menjadi salah satu bentuk konkrit dari keyakinan bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam, tradisi, dan komunitas yang mengitarinya. Dengan demikian, kelapa tetap menjadi pohon kehidupan yang mengikat generasi demi generasi, menyatukan mereka dengan tanah kelahiran dan identitas budaya yang diwariskan dari leluhur.

Penggiat lingkungan asal Bantaeng, tinggal di Jakarta. Buku favorit Kepulauan Nusantara. Film favorit “Naga Bonar”


Leave a Reply