Membangun Kualitas Komunikasi dan Akhlak Pelajar di Era Digital

Kini, ruang dan waktu tidak hanya ditaklukkan oleh kekuatan alamiah manusia dan mekanik mesin. Ruang dan waktu pun ditaklukkan oleh kekuatan elektromagnetik. Inilah salah satu makna dari era digital.

Refleksi dan ungkapan kerinduan generasi baby boom—yang dalam perspektif Neil Howe dan William Strauss, terlahir tahun 1943-1960—pun mengalami perubahan, dari “Jauh di mata dekat di hati”, menjadi “Dekat di mata jauh di hati”. Dalam realitas empirik ditemukan banyak hal yang menjadi preseden bahwa memang era digital telah mengubah banyak hal, tanpa kecuali cara manusia menjalani dan memaknai kehidupannya.

Secara sederhana bisa diungkapkan bahwa era digital bukan hanya menjanjikan dan/atau memberikan kemudahan-kemudahan dalam menjalani kehidupan, tetapi juga memengaruhi tanpa kecuali yang berdimensi negatif dan destruktif terhadap bagaimana kehidupan dijalani dan dimaknai. Singkatnya, memengaruhi nalar.

Berbicara masa depan kehidupan, era digital adalah sebuah keniscayaan di mana kita tidak bisa lari menjauhinya. Era digital harus dihadapi. Berbicara masa depan kehidupan pun—terutama dalam makna kolektif—sesungguhnya tumpuan utamanya ada pada diri generasi muda. Di antara mereka yang dimaknai atau dikategorisasi sebagai generasi muda, yang paling strategis adalah pelajar.

Sampai pada pembahasan “generasi muda” dan “masa depan”, saya teringat dengan penegasan John C. Maxwell—meskipun, saya sudah lupa judul bukunya—bahwa “Gambaran masa depan suatu bangsa dan negara, tercermin dari sikap dan perilaku generasi mudanya”. Secara substansial penegasan Maxwell ini, bisa dipandang senada dengan penegasan Soekarno “Berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncangkan dunia”.

Penegasan Maxwell di atas, sesungguhnya itu adalah akhlak. Jika kita memahami pandangan Dr. Asep Zaenal Ausop, akhlak yang dalam pandangan umum disebut karakter adalah kecenderungan hati (sikap, attitude) yang diikuti oleh perilaku (behavior). Dari beberapa referensi yang saya baca—salah satunya dari Muhammad Saleh di At-tabayyun: Journal Islamic Studies, antara akhlak dan komunikasi memang memiliki korelasi positif dan timbal-balik.

Kualitas komunikasi sangat dipengaruhi oleh akhlak, terutama jika kita memahami makna unsur ethos dan pathos dalam konsepsi retorika Aristoteles. Salah satu cerminan akhlak pun, itu bisa terlihat dari cara berkomunikasi.  

Dari sekelumit argumentasi di atas, penting untuk memahami dan menyadari, bahwa kualitas komunikasi dan akhlak pelajar di era digital, idealnya menjadi perhatian serius untuk dikonstruksi sejak dini. Muaranya bisa sampai pada masa depan bangsa dan negara yang lebih gemilang dan berkemajuan.

Judul tulisan ini sebenarnya adalah judul materi saya pada saat hadir berbagi ilmu di hadapan anggota baru Ikatan Remaja Musala (Irmus) SMK Negeri 1 Bantaeng. Makanya, saya pun memberikan apresiasi maksimal atas kegiatan Irmus dan termasuk tema yang dibahas, karena memiliki relevansi, signifikansi, dan implikasi besar dan strategis bagi masa depan bangsa dan negara.

Selain itu, tema ini bisa menjadi sejenis interupsi terhadap kehidupan, di mana bisa disimpulkan bahwa kualitas komunikasi dan akhlak kita hari ini, terutama di era digital melalui perangkat digital dan media sosial, sedang tidak baik-baik saja. Kalau kita cermat mengamati, ada banyak hal yang menjadi indikator pola komunikasi dan akhlak yang destruktif.

Saya mengamati—sejauh radius kemampuan yang saya miliki—bahwa di media sosial pun ada pola komunikasi yang sesungguhnya destruktif jika kita ingin menyelami kedalaman maknanya. Sebagai contoh saja, di aplikasi WhatsApp (WA)—saya bergabung di kurang lebih 70an grup WA—sering kali grup hanya ramai, jika ada isu yang digoreng. Untuk membahas gagasan, sering kali sunyi.

Selain itu di grup WA, sering kali informasi penting pun hanya sekadar dibaca tanpa ada respons. Di respons pun biasanya hanya seadanya, sekadar emoji dan/atau sticker. Jadi terkadang sangat terasa “sunyi” di balik “keramaian”. Bahkan pola komunikasi pribadi via WA pun, kualitasnya sangat rendah. Contoh sederhana saja, yang menunjukkan rendahnya kualitas komunikasi tersebut, ada teman pernah menyampaikan keluhannya bahwa chatnya ke seseorang sudah dua pekan tidak dibalas-balas, padahal dia hanya mengirimkan doa  dan harapan kebaikan untuknya (orang yang di-chat tersebut).

Kita bisa melihat konten-konten dari berbagai media sosial, Facebook, Instagram, TikTok, ada banyak sekali yang menunjukkan kualitas komunikasi, atau narasi yang diproduksi yang kualitas sangat rendah. Bahkan tidak sedikit yang menunjukkan akhlak atau karakter yang destruktif, merusak generasi muda terutama relasinya dengan konstruksi masa depannya.

Sekali lagi gambaran kondisi di atas, bisa menjadi ruang relevansi dan urgensi, bahwa “Membangun Kualitas Komunikasi dan Akhlak Pelajar Di Era Digital”, semestinya mendapatkan perhatian serius. Meresapi penegasan dan pandangan Maxwell di atas, kita harus menyadari bahwa masa depan bangsa dan negara Indonesia, itu ada di tangan yang berstatus “Pelajar” hari ini.

Ketika masa depan itu ada di tangan mereka (baca: pelajar), maka kualitas komunikasi dan akhlaknya, harus dibangun sejak dini. Jujur saja, Indonesia jika mengikuti pandangan John Gardner, Soekarno, dan Prof. Haedar Nashir, telah memiliki sejumlah modal untuk menjadi bangsa dan negara yang besar. Ketika masih menyimpan banyak problem,—tidak bermaksud berpikir nihilistik, yang memandang sama sekali tidak ada kemajuan—persoalan terbesarnya adalah “akhlak” para elit masih banyak yang rusak.

“Berkuasa tidak benar”, “politik uang”, “korupsi”, “penyalahgunaan wewenang”, “pembegalan konstitusi”, dan “menjadikan Indonesia sebagai negara kekuasaan, bukan sebagai negara hukum” sebenarnya itu semua adalah akhlak yang buruk. Jika ini semua menjadi realitas konkret, maka kita tetap jangan pesimis, tetap optimis untuk masa depan yang lebih maju dan gemilang, dengan syarat porsi dan versi perhatian yang besar diarahkan kepada pelajar, dengan kualitas akhlak dan komunikasinya.

Membangun akhlak pelajar, tentunya harus dipahami bahwa itu bukan persoalan sehari, sepekan, sebulan, dan setahun. Namanya akhlak yang dalam makna  dan pemahaman umum sebagai karakter harus diupayakan secara serius, dan terus menerus sejak dini sampai pada durasi waktu yang cukup lama. Alurnya pun dimulai dari pikiran-perasaan, menjadi tindakan, kemudian, tindakan menjadi kebiasaan, setelah itu menjadi karakter/akhlak, dan selanjutnya memengaruhi takdir/nasib.

Pembentuk akhlak/karakter pun bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, corak nilai yang ditanamkan, keteladanan sang idola, pembiasaan, ganjaran dan hukuman, dan termasuk pula terhadap pemahaman kebutuhan. Caraya pun bisa melalui—sebagaimana pandangan Dr. Asep dalam pandangan Islam—dakwah, uswah, riyadlah, reward and punishmen, tafakkur, tadabbur, zikir, dan muhasabah.

Di atas, disebutkan salah satu faktor yang memengaruhi akhlak/karakter adalah keteladanan. Seorang pendidik, seharusnya memaksimalkan kemampuan dan pola komunikasinya agar bisa menjadi idola bagi pelajar. Setelah itu harus mampu menjadi teladan, dengan harapan para pelajar bisa meneladaninya untuk memengaruhi akhlaknya.

Kita yang sedang berada di era digital, seorang pendidik dan/atau guru idealnya di akun media sosialnya pun harus memahami dan menyadari konsep dan niat pembangunan kualitas komunikasi dan akhlak pelajar tersebut. Artinya di media sosial pun, mereka para pendidik dan/atau guru harus menjadi teladan atau menunjukkan keteladanan akhlak yang baik, termasuk pola komunikasi yang berkualitas.

Saya pribadi, masih menemukan sejumlah sosok yang berprofesi sebagai guru, yang sesungguhnya jika dikaitkan dengan visi dan misi pembangunan akhlak pelajar, masih menjadi antitesis dan paradoks terhadap harapan mulia tersebut. Belum layak menjadi teladan dalam hal akhlak yang baik dan pola komunikasi yang berkualitas.

Tentunya ada banyak hal yang bisa diungkapkan kaitannya dengan akhlak, tetapi kita semestinya patut tersinggung dengan hasil riset Microsoft yang pada substansinya bisa dimaknai bahwa netizen Indonesia, paling tidak berakhlak, atau paling tidak sopan, kurang-ajar, dan berakhlak buruk. Mengapa kita harus tersinggung? Karena kita sebagai netizen Indonesia memiliki asas Pancasila, di mana sila pertama identik dengan moralitas, nilai-nilai ilahiah, atau sederhananya kita ini adalah orang yang beragama.

Kualitas komunikasi pun penting menjadi perhatian karena sesungguhnya membuat status di akun media sosialnya masing-masing, itu pun bagian dari makna komunikasi minimal dalam makna komunikasi satu arah. Ada pesan, narasi, opini, dan informasi yang disampaikan ke publik.

Ini semua penting untuk memperhatikan kualitasnya, karena besar kecilnya, cepat atau lambat bisa memengaruhi opini dan bahkan nalar publik. Apatah lagi jika meminjam pandangan Yasraf Amir Piliang yang terisnpirasi dari Baudrillard, jika itu sudah menjadi viral, maka cenderung dipandang sebagai kebenaran.

Jika narasi, opini, informasi, dan pesan buruk yang menominasi—sedangkan hari ini, manusia lebih banyak menggunakan waktunya di dunia virtual terutama melalui media sosial—maka bisa dipastikan bukan hanya memengaruhi algoritma teknologi digital, termasuk pula memengaruhi algoritma dalam diri manusia, atau memengaruhi nalar yang menentukan caranya meyakini, memikirkan sesuatu, dan termasuk dalam bertindak.

Membangun kualitas komunikasi dan akhlak pelajar di era digital sejak dini, bisa dipastikan muaranya adalah masa depan bangsa dan negara yang lebih gemilang dan berkemajuan. Dasar pandangannya, selain berdasarkan ungkapan Maxwell di atas, termasuk pula terhadap pemahaman dan kesadaran bagaimana proses algoritmik terjadi di teknologi digital dan dalam diri manusia, begitu pun bagaimana gelombang elektromagnetik manusia bisa memengaruhi realitas empirik.

Kredit gambar: Pesantren.id


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *