Lutfi Laddong: Body, Mind, and Soul

Setiap ada karibku berpulang pada keabadian, seolah separuh napasku terbang bersama dirinya. Dan, napas yang tersisa, akan menyusulnya, perlahan mengejar, cepat atau lambat. Sebab, napas akan kembali pada Sang Yang Mahapunya. Kewafatan insan hanyalah menegaskan, dari-Nya akan kembali pada-Nya.

Rabu, 11 September 2024. Aku masih menyata di Bantaeng. Pagi masih semenjana teriknya. Baskara belum semadya perjalanan. Pasanganku, Mauliah Mulkin, melayangkan urita, diiringi suara agak bergetar, ia bertutur, “Pak Lutfi meninggal kodong.”

Tak kuasa bercakap banyak, dua tiga kalimat, sudah cukup buat memahamkan diri akan kabar duka. Sebenarnya, beberapa hari lalu, pasanganku telah berkabar, tentang Pak Lutfi yang masuk rumah sakit dan lumayan serius sakitnya. Saya pun kalau ke Makassar, beberapa hari lagi akan membesuknya.

Bahkan, sebelum masuk rumah sakit, saya pun akan mengunjunginya. Sebab, selain menyegarkan diri lewat jarum-jarum akupuntur dan pijatan akupresurnya, pun bercakap-cakap tentang sekotah tentang hidup dan kehidupan.

Siapa itu Pak Lutfi? Namanya Lutfi Laddong. Putra seorang dosen Unhas. Usianya nyaris sepadan denganku, mendekati angka 60 tahun. Tidak pernah kutanyakan langsung perkara akurasi kelahirannya, termasuk kondisinya sebagai penyandang disabilitas, tunanetra. Meski sebaya, aku lebih akrab memanggilnya Pak Lutfi.

Saya selalu mengorek masa kecilnya, lewat seorang karibku, Nirwan Arsuka, sang presiden Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), yang juga sudah lebih dulu kembali ke pemilik napas, lebih setahun lalu. Aku mengintimi Nirwan selaku pegiat literasi, cukup terbantu mengenalinya lebih dalam, berkat cerita-cerita Pak Lutfi, bahwa sejak kecil Nirwan sudah akrab dengan literasi.

Aku dan Nirwan nyaris seumuran, hanya beda bulan. Tentunya, begitu juga dengan Pak Lutfi. Maka Pak Lutfi sering memanggilku dengan nama pendek: Sul.

Aku mengenal Pak Lutfi, seiring dengan pencarian jalan hidup yang lebih bermakna. Seputar tahun 2000-an, aku sudah lupa persisnya. Kala itu seorang karib, sering kupanggil Ust. Ja’far, mendirikan jasa pijat refleksi, bernama Yayasan As-Shadiq, bertempat di mukimku, buat praktik. Baik untuk pengobatan, maupun buat kawan-kawan yang ingin belajar pijat refleksi.

Ruang tamuku kusulap menjadi markas. Kutempeli gambar telapak kaki dan tangan yang terdapat titik-titik syaraf. Banyak kawan-kawan dan adik-adik aktivis mahasiswa super duper kaget. Sebab, biasanya markas ini menjadi tempat kajian, pusat perbalahan pemikiran, tiba-tiba menjadi pusat “perdukunan”. Maklum, Ust. Ja’far selain seorang terapis pijat, juga ahli dalam urusan jin dan mistik. Lebih setahun bermarkas di mukimku, sebelum mendapatkan sekretariat yang lebih mapan.

Nah, salah seorang pegiat di pijat refleksi ini, Thamrin Sanggi, akrab dengan Pak Lutfi. Sekali waktu, saya diajak mencoba tempat membugarkan diri, tepatnya di rumah Pak Lutfi. Jujur, aku tidak tahu, tempat itu memakai metode tusuk jarum: akupuntur. Lagi pula, Pak Lutfi penyandang tunanetra. Semula aku mengira akan dipijat secara akupresur, seperti janji Thamrin.

Disuruhnya aku buka pakain, menyisakan pakain dalam saja, lalu diminta telungkup. Punggungku mulai diolesi semacam alkohol, terasa dingin. Dan, selanjutnya kurasakan seperti gigitan semut atau nyamuk. Kukira masih pengaruh olesan yang masuk ke pori-pori. Lama kelamaan, kulitku seperti tertarik satu sama lain. Anehnya, seperti orang dipijat, tapi tangan Pak Lutfi tak menyentuhku.

Sekira hampir sejam saya telungkup. Nyaris tertidur. Nanti disuruh duduk baru bahu dan kepala saya dipijat. Rasa-rasanya rambutku tumbuh kembali. Setelah semua prosesi kujalani, kami duduk bertiga, bercakap santai. Aku mulai mengamati Pak Lutfi secara seksama dan dalam tempo lama.

Kala aku bertanya tentang apa yang menjalari punggungku. Penjelasan singkatnya, bahwa titik-titik syaraf saling bersambung dengan energi, sehingga seperti ada aliran listrik. Kaget bukan main, ketika Thamrin menunjukkan beberapa jarum, yang dipakai Pak Lutfi buat menyambungkan titik syaraf tersebut. Di sinilah pertama kali aku merasakan teknik akupuntur untuk kesehatan. Selama ini hanya kukenal lewat tayangan film silat ala Kung Fu-China.

Berlapik jumpa perdana tersebut, aku makin sering mengunjungi Pak Lutfi. Baik untuk diriku maupun keluarga dan kawan-kawanku. Ada dua peristiwa paling monumental, sehingga Pak Lutfi menjadi tempat berlabuh, manakala ada gangguan kesehatan di keluargaku. Sewaktu kakakku mengalami sakit karena syaraf terjepit. Ia sudah divonis untuk operasi, tapi kutawarkan ke Pak Lutfi. Ditangani selama empat bulan, hasilnya sembuh seperti sediakala. Begitu juga, saat adikku sudah divonis tak berdaya, karena levernya bermasalah, ikut ditangani Pak Lutfi, akhirnya sembuh juga.

Sederet kisah-kisah pengobatan, baik berbentuk fisik maupun metafisik, tak cukup ruang untuk kudedahkan di esai ini. Namun, ada yang lebih penting dari itu buatku. Pasalnya, berintim ria dengan Pak Lutfi selama kurang lebih dua puluh tahun, sepertinya aku diajak bersafar untuk mengenal dunia lebih dalam akan makna-makna kehidupan.

Bagaimana cara melata di atas bumi ini, itulah yang paling sering kupercakapkan. Durasi waktunya bisa berlaksa detik, setiap kali jumpa. Dari rumahnya, sebagai tempat praktiknya, aku mulai mengenal cara pandang kesehatan secara holistik. Dibimbingnya aku menuju kesatuan antara body, mind, and soul (raga, pikiran, dan jiwa). Sebagai seorang pejalan yang suka jalan-jalan alternatif kehidupan, aku amat terbantu.

Bagaimana merawat raga, menata pikiran, dan menumbuhkan jiwa, dalam padu padan cara pandang, inilah warisan paling berharga bagiku. Merawat raga mengalamatkan pada pentingnya bersikap kritis terhadap dunia kesehatan moderen. Pak Lutfi sering menyajikan perspektif bagaimana dunia kedokteran dengan pengobatannya, tidak mesti dipandang sebagai jalan satu-satunya untuk menyehatkan raga. Amat penting mengajukan pengobatan alternatif, kesehatan berbasis herbal, dipadu-padankan dengan analisis medis, supaya lebih holistik penanganannya.

Teramat sering Pak Lutfi menegaskan pentingnya menata pikiran. Salah satunya lewat meditasi. Seharusnya kita yang mengendalikan pikiran, bukan pikiran yang mengendalikan kita. Pikiran laiknya kuda liar, bak kuda rodeo, bisa menjungkalkan penunggangnya kalau tak sanggup menjinakkannya. Pikiran liar berpucuk pada banyaknya keinginan. Mengendalikan pikiran membuahkan pemahaman, hanya sebatas memenuhi kebutuhan. Tak sedikit penyakit lahir akibat pikiran liar dan amat banyak penyakit sembuh karena menata pikiran.

Kalakian, Pak Lutfi tak lupa menegaskan, perlunya menumbuhkan jiwa. Sebab, jiwa yang bertumbuh memungkinkan bagi kita, menemukan kembali kemanusiaan kita sebagai makhluk spiritual. Sesarinya, manusia itu adalah makhluk spiritual yang mencari pengalaman menjadi manusia. Insan yang jatuh pada makhluk yang mencari pengalaman spiritual, biasanya hanya mencari jalan. Dan, di jalan-jalan spiritual ini, manusia tiada berhenti bertengkar satu sama lain, akibat menabalkan jalannya paling elok.   

Dari Bantaeng aku memantau lewat medsos kawan-kawan, ucapan duka bersahut-sahutan, mulai dari kabar wafatnya, hingga penguburannya. Jiwaku merasakan kesamaan frekuensi, tatkala Nirwan wafat. Mungkin karena aku, Pak Lutfi, dan Nirwan, amat dekat dalam berbagai hal. Nirwan sering bercerita tentang Pak Lutfi, begitu juga sebaliknya, Pak Lutfi selalu bersemangat berkisah tentang Nirwan padaku. Ajaibnya, aku sering dipercakapkan oleh mereka, karena dianggap sebagai penempuh jalan sunyi.

Salah seorang pasien, rutin datang menyambangi Pak Lutfi, sekaligus adik iparku, Muchlisa Mulkin, menorehkan catatan di facebooknya, “Suatu waktu engkau pernah berkata, bahwa di alam sana semua hal terlihat dengan terang benderang. Selamat berbahagia. Rest in love, Pak Lutfi.”

Lisa benar adanya. Pak Lutfi akan bahagia dalam cinta. Ia akan sua dengan Nirwan Arsuka, karib masa kecilnya hingga dewasa, dalam alam yang terang benderang. Pasti akan bercakap-cakap tentang pikiran terang dan jiwa benderang, tak menyoal lagi dimensi raga. Imajiku menduga, mungkin mereka akan bertanya, kapan aku bergabung dalam alam terang benderang. Pak Lutfi dan Nirwan, tunggulah aku yang masih diterungku oleh raga.


Comments

6 responses to “Lutfi Laddong: Body, Mind, and Soul”

  1. Adorable memories with him.
    Saya disembuhkan dari Batu Empedu dan diselamatkan dari meja operasi karena tangannya yang begitu dermawan. Sekali waktu saat perjumpan terakhir ia mengatakan ;

    “Organ hatimu ada masalah. Tapi yang meraung terlebih dahulu adalah Empedu. Nantilah kalau kau berkunjung ke Makassar kita usahakan obati lagi.”

    Terima kasih Ustad Luthfi.

    Alfatihah wa ma Shalawat..

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Setiap orang punya cerita dan pengalaman unik bersentuhan dengan almarhum. Banyak yang kehilangan karena kepergian beliau. Pergi mengganjilkan yang genap. Padahal, ia sejatinya menggenapkan yang ganjil.

  2. Rahman Ramlan Avatar
    Rahman Ramlan

    Kejadian inikah yang membuat Daeng Litere bersemedi pikiran, berdiam saja saat kunjungan Menko Marves itu ke Bantaeng, Inikah orang yang sering diceritakan itu yang telah memberi cahaya kesehatan. Turut berdukacita. Al Fatihah. Insya Allah mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Amin ya rabbal alamin. Merasa sangat kehilangan, tapi sekaligus sebagai jembatan pembebasan dari kemelekatan.

  3. anonymous Avatar

    Ayah sekaligus dokter ku ayah kamu bisa menyembuhkan semua orang tapi kamu tidak bisa menyembuhkan dirimu sendiri dari penyakit yg kamu alami begitu berat rasanya ditinggalkan oleh orang yg kita sayang Al Fatihah untukmu ayah

    1. Terang benderang di alam sana Pak Lutfi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *