Kisah Seorang Nenek yang Jahat, dan Para Bibi yang Memiliki Sifat Serupa

Seorang anak perempuan nyaris setiap malam memandangi bintang-bintang di langit. Ia berharap betul di antara sekian bintang, ada yang turun ke bumi hingga permohonannya terkabulkan. Bahkan jika bintang tidak kunjung jatuh, meteor pun tak apa. Toh ia termasuk benda langit, ia meyakini.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui, permohonan anak perempuan itu kepada bintang jatuh. Ia tak pernah menceritakannya. Karena ia tak pernah didengarkan. Selama ini ia hanya bercerita kepada dirinya sendiri, atau kepada benda-benda mati yang ia miliki.

Anak perempuan ini kerap dipukuli dengan kata-kata makian, dan mendapat perlakuan jahat oleh nenek dan para bibinya. Karena sudah bertahun-tahun mendapatkan perlakuan buruk, ia meyakini bahwa semua anak memang diperlakukan demikian.

Hingga ketika ia berjalan melewati hutan dari kebun, ia melihat ibu babi hutan merawat anak-anaknya dengan cinta kasih. Bahkan para ibu-ibu babi, silih berganti dalam merawat anak-anak babi tersebut, jika sang ibu kandung sedang pergi.

Di sekeliling anak babi itu ada jerami yang bercampur dengan rumput kering. Betapa ingin ia ikut berbaring bersama mereka, namun pastilah akan terasa gatal. Ia mengurungkan niatnya.

Penduduk setempat menganggap ia anak perempuan yang sinting. Itu karena desas-desus yang dikeluarkan dari mulut para bibi dan neneknya sendiri. Mereka melampiaskan kehidupannya yang buruk dan sengsara padanya! Mereka senang jika melihat anak perempuan itu menangis tersedu-sedu. Oh, betapa malang nasib anak perempuan itu!

Karena sering mendapat cerita yang buruk, maka penduduk setempat ikut membenci anak perempuan itu. Mereka bahkan hanya mengintip dari jendela jika anak perempuan itu datang. Tidak sudi mereka membuka pintunya. Bisa saja ikut sial, mereka beranggapan begitu. Karena dibenci, rupa anak perempuan itu kini berwajah muram dan berpostur buruk.

Hingga pada suatu malam, saat ia kembali memandang bintang-bintang di musim kemarau, ia melihat labu raksasa muncul begitu saja dari arah hutan. Dengan penasaran, ia berlari dengan kepala mengadah ke atas mengikuti arah labu yang melayang.

Dari balik batang pohon tak jauh dari tempat labu melayang tersebut, ia melihat manusia dan hewan-hewan menari bersama, diiringi tabuhan gendang dan maracas. Mengelilingi api unggun.

Anak perempuan itu tertawa kegirangan. Karena baru pertama kali ia mengeluarkan suara tawa dalam hidupnya, itu terdengar seperti suara anak monyet yang ditangkap.

Saking gembiranya, seketika rasa pilu yang ada pada hidupnya menguap begitu saja. Ketika cadangan duka terakhir anak perempuan itu telah habis, ia tidak gembira. Sebab ia tidak lagi bisa merasakan, seperti apa rasa bahagia itu.

Ternyata untuk merasakan rasa bahagia yang meluap-luap, ia harus merasakan rasa pilu, duka, dan kesengsaraan. Maka dengan segera, ia kembali pulang menemui neneknya yang jahat dan para bibi yang memiliki sifat serupa, untuk mengisi lagi cadangan dukanya.

***

Maka pada malam hari berikutnya, saat para bibi dan neneknya mulai mengeluarkan kata-kata jahat padanya lagi, segera ia mengambil kantung duka — kantung kata-kata jahat — dan mulai menggoyangkan kantung tersebut di udara. Ia menangkapi, lalu membungkus kata-kata jahat para bibi dan neneknya ke dalam kantung.

Semua kata-kata tersebut sudah terperangkap. Kantung duka anak perempuan itu kini telah penuh. Sampai kantung tersebut hampir meletus saking tidak kuatnya menahan kata-kata jahat tersebut, ia segera berlari dengan kencang jauh ke dalam hutan. Hingga lupa memakai alas kakinya.

Melewati kebun.

Melewati keluarga babi hutan.

Sampai ia bertemu dengan manusia dan hewan pemain maracas itu lagi.

Ketika diajak lebih jauh ke dalam hutan, ia mengiyakan dengan cepat. Tidak sudi ia kembali menghadapi kehidupannya yang menyedihkan. Kini sudah tidak ada lagi yang menyajikan makanan untuk nenek dan para bibinya, maupun membersihkan rumah-rumah mereka.

Nenek dan para bibinya mulai menangisi hari-hari selanjutnya tanpa kehadiran anak perempuan itu. Mereka menangis karena itu berarti mereka harus mengerjakan semua pekerjaan itu sendiri. Serta tidak ada lagi tempat untuk melampiaskan nasib buruk mereka.

Dan kantung duka — kantung kata-kata jahat — yang dibawa-bawa oleh anak perempuan itu, akan ia keluarkan sedikit demi sedikit di telinganya, jika ia mulai merasa, bahwa hal-hal kegembiraan yang remeh mulai tidak ia rasakan.

Kredit gambar: Liputan6.com


Comments

One response to “Kisah Seorang Nenek yang Jahat, dan Para Bibi yang Memiliki Sifat Serupa”

  1. Terima kasih sudah membuat kantong kebahagiaanku bertambah 🙏 setelah selesai baca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *