Puisi 13 dan Puisi Lainnya

Puisi 13

Andai aku mati hari ini

Aku ingin Menulis beberapa puisi

Tanpa irama majas dan intrik

Seperti hari biasa yang kulalui

Andai kematianku membawa duka hari ini

Kumau tak ada tangis

Hanya derap langkah yang berbunyi

Andai aku mati hari ini

Apakah kulihat kau menangis di atas tanah basah

Yang mengantar kepergianku.

Andai malam menutup napasku

Membawaku pada jarak tak kau temui

Setelah kita tak sempat berdampingan

Biarlah di belahan lain

Kalau bisa kupilih taman surga untuk tetap bersamamu, berlama-lama.

Andai waktu menuntutku untuk mati

Apakah aku terbukti bersalah

Atas tindak pidana membunuh harap

menikam sisa rasa menggunakan “kepergian”.

***

Puisi 14

Tak ada orang kehabisan alasan untuk melakukan bunuh diri. Tak ada orang kehilangan derita ditikam rindu.

Perlukah aku ke hutan dengan wajah berbahagia melihat poto kita, terkandung senyum terakhir yang tak kau nikmati. Sambil mengenakan jeans dan noda bersama kenangannya.

Nyender di pohon segelas kopi, dan rokok. Menghadap temaram gelora langit.

Menyaksikan bintang membentang dan bulan melengkung.

Mendengar lagu sedih dan rekah, sambil gantung diri hanya untuk sebuah sajak.

Agar kau tahu betapa rengkuh dan sakitnya menderita di keabadian?

***

Puisi 15

Rani, bahkan kematian sering terkejut

Musim hujan kelabu diiringi dingin dan sedikit kicauan burung-burung.

Setelah hari-hari menjadi biasa saja

Terdapat secarik kertas dari kantung flannel

Sebuah surat cinta tlah tertulis bertukar nyawa

Terdapat diksi menyayat-nyayat tercoret memakai darah.

Terdapat pelajar “Qawi Husam Ghaitsa” yang mati bunuh diri dikarenakan sajak.

Membuat sekeluarga heran bertanya-tanya

Sampai-sampai

Bahkan kematian seringkali terkejut. Karena bunuh diri.

***

Puisi 16

Suatu malam temaram, seperti embun merangkak halus memenuhi dedahanan.

Terdapat seorang yang mengabadikan cintanya di hutan pinus.

Berteman sebotol wine, sebatang rokok, dan satu revolver.

Mati bunuh diri dalam sajak, dalam sakunya terdapat secarik puisi

“Bunuh diri itu tidak menjijikan, tetapi keji.

Membunuh perasaan itu lebih kejam daripada bunuh diri.”

***

Puisi 17

Desember Meringkuh.

Mari kita hilang bersama, antara kau dan aku

Oleh temaram malam yang melentang gelora langit

Menyaksikan aurora menutup hari yang mulai hancur

Melagukan benci, mengusik bulan di binar matamu yang perih

Yang membiarkan air matanya dihinggapi oleh basuhan linang dari awan,

Dan menyadari kala itu jalan berlumur hujan Desember yang lembut.

Meringkuh disetiap persinggahan dan duduk merenung.

Hanya untuk menunggu dan menghitung waktu pada jumpaan wajah-wajah yang akan ditemuinya.

Mari kita beranjak, melalui lorong-lorong sejarah

Bercerita mengenai kenangan yang mulai berdarah

Membius segala parau, dengan berpura-pura oleh kehebatan guru

Pergi ke tempat di mana kita akan menyepi, dengan segumam yang perlahan-lahan menusuk sepi.

Mencabik segala resah yang nampak di bilah dadamu

Mengecup segala gundah melalui penghujung jidatmu

Lalu akan kurangkaikan semua puisi cinta dan rindu

Suatu saat jadikanlah seuntai kembang atau setangkai kamelia

tuk memenuhi hari demi harimu

Oh.. usah debatkan mengapa?

Jangan jadi lelah bagai jalanan yang melelahkan

Mengiring titian dengan maksud kusut

Bawalah itu sebagai pertanyaan yang tak tertahankan, tak terjawabkan, yang melelahkan.

Tanpa meminta, tolong berikan ampun, aku harus ampun

Lantaran kalah mengakibatkan kepunahan batin yang mulai musnah

Tak mengapa ikhtiar tanpa terlantun, walau telah menangis dan berpuasa, arif dan mendamba, rasa tlah kutitipkan doa agar rindu lebih mulia.

Suatu ketika temuilah hening

Ketiklah secarik cinta dengan hati yang tlah kuperban

Jangan ragu kita tak “Pernah”

jangan pula heran lagi, kita tak musnah dan menyuburkan rasa, kita tak pernah memiliki tangkai rasa, apalagi mematahkannya.

Dan akankah berarti sebagai kenangan, atau inikah yang dinamakan momen?

Akankah berkesan mengakhiri percakapan dan segalanya melalui lekukan senyum?

Yang akan mengemas segala isi hati kita menjadi sebuah memori

Lalu meremas segenap sekat-sekat asmara? Membiarkannya meledak hingar-bingar, dan melayang bersama abu, hingga menjadi taburan bintang yang mengkhiasi seluruh alam semesta?

Dan aku akan mendengar para peri-peri bernyanyi

Dan burung-burung hanyut oleh kesedihannya

Dan aku merasa ia bernyanyi dan bersedih untuk kita

Ia menunggangi gemerlap sendu dan butiran debu-debu

Mengikrarkan sumpah atas nama cinta di penghujung jalan

Berkoar bagai pangeran dan dewi yang menyampaikan informasi

Dan menghujamkan pedang kepada diriku dan dirimu

Menghunus segala benci-benci yang kita pungkiri

Dan gadis-gadis bermahkotakan selendang sutra lembut yang mencekik kita.

Mereka menolak, menolak, dan mengumpulkan seluruh kosakata dan sinonim (tolak) guna membisikkan kita.

Lalu aku sadar kala hujan Desember itu, terdapat sebuah kisah, tentang bagaimana suatu ketika malam dan semilir angin yang riuh menghelai setiap perasaan kita. Bergemuruh ketar-ketir lamun bungkam dalam naungan cinta yang murni sebelum dicemari abai.

Kubuatkan sepasang sepatu dari kayu, pelbagai bunga.

Kau dan aku mengenakannya berjalan-jalan, di sepanjang tapak yang kau langkahkan, menumbuhkan berbagai bunga, musabab kau tahu persis aku cinta bunga.

Mencium sebutir daki yang hinggap di bibirmu, sembari menuliskan puisi yang tak diisyaratkan.Telan dan rasakanlah.

Kita mendaki.

Begitulah bayangmu membawaku menjelajah, menemui tempat bermukim, kendati embun merangkak turun, dan awan yang perlahan hinggap bak rindu tapi tak pergi.

Menuju tempat nyaman tuk bermukim, penuh sayang. Kau membangungkanku, aku pun sadar dan diriku mulai tenggelam ke dalam ruang hanya ada dirimu. Tak ada tanda kau dan diriku mengetahui kunci tuk keluar dari bayangmu.

Kusadari lagi bahwa aku ada dalam hatimu namun tidak di benakmu. Kugenggam rindumu tanpa tanganmu. Kurasakan hadirmu tanpa tubuhmu.

Aku gagal dalam menaklukkan hatimu

Oleh keterbatasanku dalam berjuang, kelemahanku dalam mendamba, kegagalanku dalam hal membahagiakan bahagiamu.

Mari kita menelusuri remang malam, melihat bulan yang kau suka.

Menaruh senang padamu, yang tlah menang

Biarkan aku menggema hingga suara tak lagi bergetar

Biarkan aku sendiri sampai hilang.

Mengemasi ingatan tentang kamu sebuah kenang.

Kita bersepakat, tanpa terikat.

Naas.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *