Tentang Rasa yang tak Lagi Sama dan Puisi lainnya

Tentang Rasa yang tak Lagi Sama

Bagaimana jika benar, perasaan itu bisa kadaluarsa
Seperti hari-hari yang bahagia
Bisa berubah menjadi hari yang biasa-biasa saja

Bagaimana jika suatu saat kau tak lagi istimewa
Bukan karena kau telah menggoreskan banyak luka
Atau karena cintamu yang tak lagi sama
Tapi ada kenyamanan lain yang menyelinap tiba-tiba

Atau mungkin saja,
Aku yang ingin berubah
Mengubah kisah cinta
Menjadi cerita dengan sisa-sisa rasa
Yang tidak lagi berharga

Entah bagaimana nantinya
Apakah aku dan kamu masih akan menjadi kita
Setelah dia ada
Dan setiap hari semakin menyata

Harus kuakui
Di hatiku, tempatmu perlahan terganti
Di singgasana kamu tidak lagi sendiri
Seseorang hadir, dan terus menghampiri
Sayang sekali, aku menyambutnya dengan senang hati

Sebut saja dia benalu
Yang mungkin mengusik posisimu
Atau kau bisa rendahkan aku
Katakan saja, aku memang mengobral cintaku

Tapi, mau bagaimana lagi
Jika benar rasa itu datang dan pergi
Seperti malam yang berganti pagi
Maafkan aku sekali lagi
Aku hanya tak bisa terus disakiti

Cintamu dan sayangmu tetap sama
Seperti hari-hari biasanya
Ada bahagia, namun lebih banyak luka
Aku mungkin cinta, tapi juga menderita

Marah saja padaku
Rendahkan saja rasa cintaku
Aku tak lagi ingin peduli dengan hal itu
Yang aku tahu
Aku ingin kembali utuh
Menyambut cinta baru
Yang kini datang padaku

Bersamanya, belum tentu bersatu
Yah, aku setuju akan hal itu
Tapi setidaknya kini aku tahu
Bahwa masih ada jalan bagiku
Untuk kembali berharga dan menjadi Ratu
Yang pasti bukan bersamamu,
Hidup setia di sisimu, tapi penuh luka dan pilu.

***

Cinta Sepotong Hati yang Luka

Hei kau yang tiba-tiba hadir dan bicara soal cinta
Rasanya baru kemarin kamu minta nomor WA
Belum assalamualaikum, tapi sudah bilang “Aku Jatuh Cinta”
Sungguh, aku rasa kamu sangat tergesa-gesa

Perihal asmara, aku masih punya banyak hal untuk ditanya
Tentang siapa dan bagaimana wujudnya
Darimana dan kapankah awal hadirnya
Atau apakah ia benar-benar seindah cerita-cerita?

Aku pernah merasa diriku sedang jatuh cinta
Mabuk kepayang dan kehilangan logika
Seperti kata pepatah
Jatuh cinta itu, sembilan rasio yang dilumpuhkan oleh satu rasa

Jatuh cintaku saat itu,
Membuatku terlena rasa rindu
Seperti sesuatu yang membuatku candu
Selalu menunggu hadirnya seseorang dari waktu ke waktu

Tak perduli seberapa banyak aku membuang masa
Uang untuk skinkerku pun beralih jadi pembeli kuota data
Agar tetap bisa aktif di jagat maya

Untuk menunggu kabar darinya yang aku cinta
Sekaligus menjalankan misi lainku, menguntit semua medsosnya
Juga menguliti masa lalunya
Agar aku yakin, yang kujalani adalah kisah cinta yang indah

Tetapi apa?
Cinta itu tak lebih dari sekadar ruang yang membuang-buang masa
Datang tiba-tiba, pergi seenaknya
Dengan banyak dalih dan retorika

Dan sekarang kau hadir juga
Mengulang pola-pola yang sama
Tahukah kau aku sudah sangat trauma?

Yah, aku trauma tapi bukan berarti aku jera
Bodohnya
Aku kembali goblok dan bilang padamu “ayo dijalani saja”

Aku sambut cinta yang kau bawa
Menepikan luka yang belum lama ada
Kupeluk cinta itu dengan penuh rasa
Seperti anak kecil, aku menggenggamnya dengan riang gembira

Asmara memang penuh pesona
Untuk kisah ini yang hadirnya tiba-tiba
Ya, aku pasrah saja

Aku mungkin pernah luka karena cinta
Tapi itu hanya luka, aku masih seorang gadis belia
Yang ingin banyak menemukan rasa
Siapa tau jalan sama kamu bisa jadi berbeda

Hei kau yang di sana
Titip sepotong hatiku untukmu ya
Sepotong lagi biar aku yang jaga
Aku sedang merawat lukanya
Semoga seiring masa
Hati ini sembuh seperti sedia kala
Dan semoga, cintamu membantuku menyembuhkannya

Hei kau yang di sana,
Sekali lagi, terimakasih ya

***

Padamu, Hatiku Tertawan

Kukira pena lupa pada kertasnya
Sebuah irama menari-nari di tiap baitnya
Liriknya nakal mengajak bercinta
Rupanya ia sedang dimabuk asmara

Irama cinta membawa suka
Duka dan lara tiada terasa
Cintanya merona seperti pipinya
Senyum merekah seiring lirik matanya

Panah asmara menikam dada
Dewi fortuna memihak padanya
Cinta bertahta di singgasana
Dua manusia mulai saling menggoda

Saling melirik dan pelan-pelan tertawa
Beradu bahasa cinta penuh syair dan peribahasa
Sekeliling tak ada sesiapa
Tai kucing pun wangi jadinya

Ahh indahnya jika telah bersemi cinta
Pagi dan malam sama rasanya
Tak ada lagi yang lebih indah
Selain mencuri pandang kepada sang pujangga

Kekasih hati, kekasihku sayang
Dekap aku dalam pelukan
Cium aku dengan kehangatan
Agar pikiranku tidak lagi semata menerawang

Biarkan tatapan kita terus beradu pandang
Jemari kita saling menggenggam
Masa depan biarlah jadi rahasia Tuhan
Hari ini, ayo kita bersenang-senang
Bersembunyi di balik awan
dan bercinta dengan hati yang tenang
Karena padamu, hatiku telah tertawan.

***

Jatuh Cinta dan Judi adalah Candu

Jatuh cinta adalah candu
Berjudi juga sebuah candu
Semua mengandung rasa rindu
Dan juga racun yang bisa membunuh

Untuk setiap cinta dan judi yang telah berlabuh
Di setiap hati kosong yang berdebu
Hadir di hidup seseorang dan menjadi tamu
Membuatmu senang hanya untuk menghempaskanmu

Ya begitulah jatuh cinta dan judi yang menawanmu
Keduanya memeluk untuk menyesatkanmu
Di awal manis bagai bulu perindu
Di akhir membutakan dan membuat hidupmu pilu

Setuju?
Atau tidak setuju?
Hei, sadarlah ini hanya soal waktu

Jika sekarang jatuh cinta dan judi sedang memanjakanmu
Ingat saja, itu hanya fase candu
Yang sewaktu-waktu akan meninggalkanmu

Hei dengarlah kataku
Jika telah tiba waktumu
Baca kembali sajakku
Katakan, aku sudah memperingatkanmu

Pesan ini untukku dan untukmu
Atau siapa saja yang kini di sisimu
Jangan biarkan jatuh cinta dan judi menguasai hidupmu
Karena pada akhirnya semua berakhir pada satu kata, malu

Sudahlah, akhiri candumu
Berhentilah bertaruh
Jatuh cinta dan judi hanyalah mainan kalbu
Dan yah, mempermainkan isi dompetmu
Benarkan kataku?

kredit ggambar: PxPuel


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *