Puisi 06
Angin malam menyapa semua sendu
Terlarut dalam penantian, ingin berdua denganmu
Setiap helai perasaan seperti daun gugur
Seakan purnama malam ini akan hancur
Akankah angin malam bercerita
Semua kenangan yang menyejukkan
Jujur yang tak sanggup kukatakan
Tentang keputusanku melepasmu adalah awal dari luka.
***
Puisi 07
Rani. Rembulan menebarkan binar puisi
Seterang bintang binar mata dalam kasih
Seluas langit, sakit itu berteduh menerima maaf
Di ujung pasrahku, rasaku bersekukuh dan tak insaf
Sanjungan tak ada artinya untukmu
Bujukan bukan jalan bagiku
Kepasrahan adalah awal dari sendu
Hanya ikhlas yang kini memapahku
Setenggelam nadi serta darahku menderai
Berdegup akan bayangmu menyalin memori
Suara yang terlantun merambat di setiap sepi
Kau bukan malaikat, bidadari, dewi, kau Rani
Aku Qawi
Maaf atas kelemahanku dalam memahami, memaknai, dan menggali informasi semua tentangmu.
Pikirku
Di mataku, kau selalu cantik.
Bila ada yang tidak sependapat denganku, ia hanyalah sosok asing
Dan tidak seberuntung aku dalam memahamimu.
Kini di antara ingatan kau melayang ke bintang
Aku menantimu sebagai bintang jatuh
Di dunia menunggu sampai menua
Oleh kobar rindu yang merintik sebagai air mata
Kau kukuh mengenang tubuh ini sebagai kesilapan yang fana.
***
Puisi 08
Kak, katamu
Terdengar merdu seperti gurau dan penuh manja
Kau memanggil, aku menyambut.
Kau berkata lucu, tapi aku menyebalkan
Gelagar tawamu keras seperti kepalamu
Adik memang selalu berani dan punya alasan untuk melawan, hanya kepada sang Kakak.
Tapi hanya satu yang tidak bisa ia balas.
Apakah itu?
Ia pun bertanya apakah itu teka-teki?
***
Puisi 09
Malam yang sepi…
Riuh sunyi mencari arti-arti
Aku yang merebah di kursi
Bertapa, meditasi, dan menanti.
Oleh rindu yang berujung hanya pada puisi
***
Puisi 10
Kita mulai menginjak firasat yang lama kita curigai
Melangkah ke cerita yang lama diwanti-wanti
Masihkah tertinggal hangatmu kala detik berlalu
Menyeduhkanku air mata dan secawan peluk
Jemari yang kau pikat, sembari aku berpetualang di antara bau napasmu
Gemerlap bintang mulai berkedip di gelora langit
Awan pelan-pelan menjatuhkan rintik
Kau dan aku lembut diselimuti malam yang muram
Tenang sambil meresapi runtuhan hujan dengan mata terpejam
Akankah kau memelukku semesra kala itu, ketika kubelai, kau gemulai lebih manja.
Masihkah sempat kau mendengar derap jantungku?
Kita begitu erat dalam malam-malam.
Mirip segala kesamaan.
Kecuali cinta.
***
Puisi 11
Kini aku tak akan tahu
Bahasa yang kau maksud
Perih yang tertanam dalam hatimu
Tlah mengubur kenangan kita yang lembut
Kini aku tak akan tahu
Seperti apa puisi indah itu
Upaya duka yang dihindari
Kebahagiaan sibuk dicari
Hingga lupa disadari.
Bermukim angin lembah mengalir ke sungai
Jatuh cinta dan rindu
Ialah dua hal yang kau tinggal pergi
Dua hal tersebut berbeda dalam menjelajahi
Yang satu mendaki.
Dalam kepala
Yang satu lagi
Tersesat dalam nadi-nadi
***
Puisi 12
Coba kita rekah ulang
Kau dan aku adalah pencari berkah
Di bibir pantai ini kita pernah berdua
Menelaah lebih jauh arti hidup
Segala tanya dan jawab
Kita ini apa?
Cobaan atau jodoh?
Terjawab sudah
Hingga akhirnya cobaan
aku kembali
Sendiri
Mencoba menulis tentang kamu lagi
Pada akhirnya jodoh
Namamu dipertemukan lagi dalam tulisanku
Bersanding puisi-puisiku.

Pernah ikut Kelas Menulis Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng


Leave a Reply