Hari ini adalah Hari Baik Kita

Berlaksa tanda kebaikan bisa sebagai penanda. Salah satu penandanya, berbentuk pemberian. Wujud pemberian itu sendiri, bisa pula berlaksa bentuknya. Tanda kebaikan berupa pemberian, serupa siklus memutar dalam keabadian. Kebaikan berpucuk pada pemberian, sementara pemberian berpuncak pada kebaikan.

Begitulah adanya satu peristiwa kecil, tapi amat bermakna pada saya. Tatkala seorang sahabat baru pulang dari Bali, karena tugas kedinasan, memberikan tanda mata sebagai oleh-oleh: selembar t-shirt.

Baju kaus atau t-shirt itu, berwarna hijau tua. Bagian depan ada tulisan, “Hari ini adalah Hari Baik Kita”. Lengannya tertera kata-kata, “To Day is Our Good Day”. Pun bagian belakang tertulis, “Tidak ada hari yang tidak baik bagi orang-orang yang memang jujur, ramah bertanggung jawab, bersyukur dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dalam arti optimal dan seluas-luasnya, yaitu juga bermanfaat bagi para stakeholders dan lingkungan hidup yang konon sama-sama cintai ini.”

Menurut salah seorang putriku, produsen baju kaus penuh diksi-diksi bertuah itu, merupakan salah satu tanda mata khas Bali. Merek produsennya, “Pabrik Kata-Kata Joger Balinesia”. Jangan ditanya kualitas materilnya, saya tidak ingin membahasnya, sebab saya bukan bintang iklannya.

Namun, saya mau memperkarakan kata-kata bertuahnya, khususnya kata di bagian depan-dada. Entah apa yang merasuki sang sahabat, sehingga memilih t-shirt bermaksim seperti itu. Saya hanya menduga, karena di negeri Bantaeng, ada satu kata amat popular: baik.

Kata “baik” di Bantaeng sangat menghidu semesta negeri. Pasalnya, kata tersebut menjadi rangkaian dari kata “Bantaeng” itu sendiri, menjadi, “Bantaeng Baik”. Waima, kata Baik merupakan akronim dari, “Bersinergi, Adaptif, Inovatif, dan Kolaboratif”. Berlapik dari kata Baik ini, kemudian terurai menjadi kata sempurna bergerak menyata, semisal kata “kebaikan”.

Lahirnya semboyan Bantaeng Baik, bertepatan dengan terpilihnya pasangan Ilham Azikin dan H. Sahabuddin, selaku Bupati dan Wakil Bupati Bantaeng, periode 2018-2023. Sehingga, semboyan ini menghiasi apa saja yang terkait dengan program Pemerintah Kabupaten Bantaeng. Paling tidak, selama lima tahun.

Sebagai orang yang percaya pada kekuatan kata-kata, saya amat jatuh pikir dengan pilihan diksi Bantaeng Baik. Merujuk KBBI, kata baik punya arti patut, elok, dan teratur. Kata baik menunjukkan  sesuatu tentang kelakuan. Lalu, kebaikan bermakna, sifat baik dan perbuatan baik.

Yeni Wahid, seorang aktivis, putri Gus Dur, memberi penjelasan, “Sejatinya, tidak ada seorang pun di dunia ini diciptakan untuk menjadi manusia yang tidak baik. Semua orang pasti memiliki kebaikan di dalam dirinya. Biasanya ketika bertumbuh dan berperilaku tidak baik, banyak faktor yang memengaruhi perilakunya itu. Bisa karena faktor internal, sesuatu yang tidak bisa dikendalikan olehnya.”

Tentu akan lebih ideal jika seseorang melakukan kebaikan dengan niat yang tulus, ingin membuat perubahan yang baik bagi orang lain, lingkungan sekitar bahkan dirinya sendiri. Semua kebaikan yang kita lakukan adalah investasi hidup. Kalau niatnya tulus, ada tambahan pahala, dicatat oleh malaikat. Sedangkan yang niatnya hanya karena ingin mendapat pujian sosial atau agar tidak dihukum, insentif untuk dirinya tentu akan berbeda. Tegas Yeni.

Kalakian, Yeni menambahkan, ketika tulus melakukan kebaikan, kita bisa mengalami kepuasan batin dan merasakan kebahagiaan. Perasaan bahagia ini nantinya mengalirkan hormon serotonin dan dopamine dalam diri kita. Pada akhirnya ada penghargaan diri dan motivasi yang terus tumbuh. Maka, kebaikan yang tulus bisa membuat kita terhindar dari pikiran negatif, yang bisa berdampak membahayakan  diri, karena bisa membuat kita  terjebak dalam pikiran dan perilaku negatif.

Ketika tulus melakukan kebaikan, kita bisa mengalami kepuasan batin dan merasakan kebahagiaan. Bentuk kebaikan pun bermacam-macam. Seringnya kebaikan erat dikaitkan dengan perilaku memberi. Yeni pun  setuju kalau ada yang mengatakan, “Orang baik adalah orang yang suka memberi”. Akan tetapi memberi tidak memiliki batas yang sempit. Memberi tidak hanya sekadar soal materi.

Pemberian materi menurut Yeni, memiliki nilai paling kecil dibandingkan dengan waktu dan tenaga yang memerlukan pengorbanan. Seseorang yang bisa tetap berbagi dengan orang lain, walaupun dengan segala kesulitan dan kekurangannya, dialah orang yang layak disebut orang baik.

Bagi penganut kekuatan kata-kata, saya ingin mengajukan satu perspektif, manakala kata Baik menjadi rangkaian dari kata Bantaeng, menjadi Bantaeng Baik, menyelimuti semesta negeri. Kata-kata positif, meminjam minda Marie D. Jones, ketika memberi pengantar buku, The Energy of Words, anggitan Michelle Arbeau.

Jones bertutur, apa yang kami katakan kepada orang lain, dan bahkan lebih penting lagi, apa yang dikatakan kepada diri sendiri, memiliki resonansi, frekuensi getaran yang dimasukkan ke dalam dunia. Frekuensi ini tetap hidup dan memiliki efek yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.

Arkian, Jones mengunci, “Kata-kata cinta menginspirasi dan memberdayakan. Kata-kata kebencian merusak dan mematikan… Anda harus mengubah kata-kata Anda. Mengubah kata-kata Anda akan mengubah Anda, dan pada gilirannya, realitas Anda.”

Bagi saya selaku pegiat literasi, pegiat kata-kata, Bantaeng Baik, merupakan refleksi dari kata-kata cinta. Sebab, ada motif untuk menginginkan Bantaeng menjadi negeri yang baik. Satu negeri menunjukkan  sesuatu tentang kelakuan baik. Mau mewujudkan sifat baik dan perbuatan baik, karena cinta negeri.

Hari ini, Kamis, 29 Agustus 2024, pagi jelang siang, sang pengusung kata-kata positif, semboyan Bantaeng Baik, Ilham Azikin, kembali mendaftarkan diri menjadi Bupati Bantaeng, meskipun dengan pasangan lain, Nurkanita Maruddani Kahfi. Yah, di hari pendaftaran ini, sungguh boleh saya tabalkan, sebagai hari baik bagi Ilham Azikin dan Kanita Kahfi.

Sebelum ke KPU Bantaeng, Ilham menyampaikan orasi. Dan, kata-kata baik dan kebaikan berulang-ulang dilantangkan. Baik sebagai tangkisan terhadap para pengkritik dan pembencinya, maupun penyemangat buat pencintanya. Sambutan pendukung pun, meneriakkan kata-kata yang sama.

“Dua kali lebih baik, doboloki,” kata mereka.

Berbuat baiklah, sekecil apa pun bentuknya. Sebab, siapa tahu kebaikan kecil itu, menjadi pemantik lahirnya kebaikan yang lebih besar.

Kredit gambar: Bola.com


Comments

2 responses to “Hari ini adalah Hari Baik Kita”

  1. Baik…. Membaik… Terbaik… terima kasih kk Han untuk Pencerahannya 🙏

    1. Tengkiyu juga tuan guru. Salamaki selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *