Aku penghuni 71% dari permukaan bumi. Aku bisa mengubah bentuk diriku menjadi berbagai macam. Jika kau menginginkan rasa dingin, cukup masukkan aku dalam kulkas. Akan kubentuk diriku menjadi es. Begitupun jika kau memutuskan untuk memanaskan makanan yang hendak kausantap, aku pun bersedia mengeluarkan uap untukmu. Begitulah bentuk perkenalanku. Namun, aku tidak akan memperpanjang lagi soal ini. Aku ingin menceritakan beberapa kisahku padamu.
Kisah pertamaku bertemu dengan seorang perempuan dan lelaki. Siang hari yang terik, di halaman rumah tanpa pagar, aku bertemu seorang lelaki. Sayang sekali, perjumpaan pertama dengannya, aku tidak semurni air botol kemasan. Melalui keran, kami bertemu, ia lalu meminumku.
Aku tak tahu, mengapa ia meminumku. Rupaku sungguh tak layak, kadang pula kotor berwarna kecoklatan. Biasanya aku hanya digunakan untuk mencuci saja. Jika ingin diminum, aku mestinya dimasak dahulu. Namun, di zaman sekarang sudah jarang yang memasakku, mereka lebih memilih untuk membeli air galon. Tapi siang hari yang terik itu itu, mungkin lelaki itu lelah dan haus sekali. Dan baginya, semua air sama saja.
Di dalam rumah, di balik jendela, kulirik seorang perempuan. Ia menatap si lelaki, matanya memancarkan keheranan. Mengapa ada orang yang meminum air keran secara langsung dengan sukacita, bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali? Mungkin begitu pikirnya. Ia mungkin juga kasihan, ingin menawarkan diriku yang lain dalam air galon rumahnya. Tapi masih urung dilakukan. Begitulah kisahku di halaman rumah.
Biar kuceritakan kisahku yang lain, tentang diriku yang lain dalam galon isi ulang. Sebenarnya, aku dalam bentuk yang demikian kurang populer. Dulu aku hanya air tanah yang dimasak sebelum diminum. Entah di tahun berapa, kemasan isi ulang galon mulai populer. Katanya, aku lebih bersih, karena disucikan terlebih dahulu melalui pipa-pipa sinar biru. Di situ aku merasa lebih bersih, dan lebih mahal. Namun, sekarang beda lagi. Ketika depot air minum sudah menjamur, dan harga lebih murah, aku merasa berbeda. Sepertinya aku tidak sebersih dulu.
Di sebuah sekolah, aku mendengar diriku digosipkan. Katanya aku ini berlumut dan berbau kurang sedap, padahal baru diisi ulang. Mereka pun memilih membeli diriku dalam air kemasan, meski isinya jauh lebih sedikit. Aku juga pernah mendengar, bahwa aku dalam bentuk galon isi ulang itu berbahaya. Banyak orang memanfaatkanku untuk memperoleh untuk berlipat, meski harus mengorbankan yang lain. Mengapa manusia bisa kejam begitu?
Kisah terakhirku, cukup mengagetkan. Dalam satu akun TikTok, aku disukai oleh seorang influencer, kemasanku bernama Fiji Water. Katanya, rasaku tidak sama dengan air kemasan pada umumnya. Aku tetap dingin walaupun disimpan di gudang. Terasa ringan ketika diminum. Tidak seperti ada logam, katanya. Aku datang dari tempat jauh, bernama negara Fiji yang terletak di tengah kepulauan pasifik. Aku berasal dari hujan tropis di sana yang masih alami. Konon itulah sebabnya aku sangat mahal dan hanya disajikan di hotel berbintang dan restoran mewah.
Aku belajar dari tiga kisahku di atas. Kualitas yang aku miliki berhubungan dengan seberapa tebal kantong orang-orang yang meminumku. Kisah awal, aku adalah air PDAM. Diminum oleh pekerja buruh bangunan pengembang perumahan.
Di kisah kedua, aku adalah air dalam galon. Diminum oleh si pemilik rumah tanpa pagar itu. Hargaku dapat dijangkau oleh masyarakat pada umumnya. Ya, meski tak semua kualitasnya baik juga.
Sedang, kisah terakhir aku adalah air mahal, karena kualitas, katanya. Hanya diminum oleh kelas masyarakat tertentu. Aku kira, meminum air layak adalah hak semua manusia, ternyata tidak. Makin tinggi kelasmu, makin jernih pula air minummu. Adilkah begitu?
Kesenjangan manusia bukan hanya perkara minum, ternyata aku juga lebih banyak beredar di rumah-rumah orang kaya yang menyebabkan terjadinya krisis air di perkotaan.
Aku mendengar ini dari percakapan di rumah tanpa pagar itu. Katanya, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainbility, Selasa 11 April 2023, menemukan fakta bahwa kaum elit atau orang kaya di perkotaan mengonsumsi aku secara berlebihan untuk kesenangan pribadi, seperti mengisi kolam renang, menyiram tanaman mereka di halamannya yang luas, juga mencuci mobilnya yang banyak itu.
Studi tersebut juga menyoroti 80 kota lain dengan masalah serupa. Di antaranya London, Miami, Barcelona, Beijing, Tokyo, Melbourne, Istanbul, Kairo, Moskow, Bengaluru, Chennai, Jakarta, Sydney, Maputo , Harare, São Paulo, Kota Meksiko, dan Roma.
Professor Hannah Cloke, ahli hidrologi di Universitas of Reading yang juga ikut menulis penelitian itu menjelaskan bahwa lebih dari 80 kota besar di seluruh dunia menderita kekurangan air karena kekeringan dan menggunakanku secara tidak berkelanjutan selama 20 tahun terakhir.
Krisis ini masih bisa menjadi lebih buruk karena kesenjangan antara si kaya dan si miskin melebar di banyak bagian dunia, lanjutnya.
“Ini menunjukkan hubungan erat antara ketidaksetaraan sosial, ekonomi dan lingkungan. Pada akhirnya, semua orang akan menanggung akibatnya kecuali kita mengembangkan cara yang lebih adil untuk berbagi air di perkotaan,” tambah Cloke.
Penelitian tersebut menggunakan model untuk menganalisis bagaimana aku digunakan di rumah tangga penduduk perkotaan di Cape Town untuk memahami bagaimana kelas sosial yang berbeda mengonsumsiku.
Mereka mengidentifikasi lima kelompok sosial, mulai dari “elit” (orang yang tinggal di rumah luas dengan taman luas dan kolam renang) hingga “penghuni informal” (orang yang cenderung tinggal di gubuk di pinggir kota).
Rumah tangga elite dan berpenghasilan menengah ke atas berjumlah kurang dari 14% populasi Cape Town, tetapi menggunakanku lebih dari setengah (51%) dari yang dikonsumsi oleh seluruh kota. Sementara itu rumah tangga informal dan rumah tangga berpenghasilan rendah mencapai 62% dari populasi kota, tetapi hanya mengonsumsiku 27% saja.
Para peneliti menyoroti bahwa upaya untuk mengelola pasokan air di kota-kota yang kekurangan air kebanyakan berfokus pada solusi teknis, seperti membangun infrastruktur air yang lebih efisien. Strategi reaktif ini, yang berfokus pada pemeliharaan dan peningkatan pasokan air, tidak cukup dan kontraproduktif.
Sebaliknya, pendekatan yang lebih proaktif, yang ditujukan untuk mengurangi konsumsi air yang tidak berkelanjutan di kalangan elit, akan lebih efektif, saran para peneliti.
Wahai manusia, bijaklah menggunakanku karena, “Ribuan orang telah hidup tanpa cinta, tidak seorang pun tanpa air.” Kata penyair Inggris-Amerika W.H. Auden.

Seorang ibu pembelajar sepanjang hayat. Ketua Balla Literasi Indonesia. Bisa dihubungi di IG: @nurulaqilahmuslihah


Leave a Reply