Sumpah: Sampahku dan Sampahmu adalah Sampah Kita

Segala sesuatu yang bukan pada tempatnya merupakan sampah. Setiap orang pasti menghasilkan sampah. Bahkan, bila seseorang salah tempat, ia bisa jadi sampah. Maka perkara sampah bukan perkara orang per orang, tapi masalah bersama. Pendekatannya pun mesti holistik.

Menyata di hajatan anak-anak milenial, sungguh satu kemewahan bagi saya. Mereka mendapuk diri sebagai “Generasi Hijau”. Helatannya bertajuk, Festival Generasi Hijau SMA Negeri 1 Bantaeng Jilid 2, bertema, “Hijaukan Lingkungan Bersama Generasi Z di Era Society 5.0”.

Bentangan acaranya lumayan panjang, 16 Juli – 24 Agustus 2024. Rangkaian festival berisi kegiatan, Bazar Inovasi dan Zona Usaha, Rancangan Usaha Inovatif, Sosialisasi, Pertunjukan Busana Kreatif, Talkshow, Video Kampanye Lingkungan, Cipta dan Baca Puisi, dan Live Music. Keseluruhan mata acara itu, pasti bernuansa hijau. Apa pun mata acaranya, lingkungan hidup pucuknya.

Sebagai pegiat literasi dan unsur masyarakat, saya diminta untuk unjuk pikir di acara gelar wicara atau tayang bincang, alias talkshow. Selain saya, ada dari unsur Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantaeng, Rukiyah, mewakili Pemkab Bantaeng, selain melakukan sosialisasi pengelolaan sampah, juga bagaimana komitmen pemerintah dalam menangani persampahan.

Adapun topik percakapan yang disodorkan buat saya, seputar pada sejauh mana partisipasi masyarakat Kabupaten Bantaeng dalam pengelolaan sampah. Tentu saja, dengan bermodalkan cara pandang terhadap sampah dan pengalaman menghadapi sampah, menjadi lapik pantik percakapan.

Mungkin lebih elok, bila saya ajukan terlebih dahulu, beberapa poin dari hasil persuaan saya dengan Kadis DLH Bantaeng, Nasir Awing, berbulan lalu, tatkala saya diundang ke kantornya. Saat itu, Nasir Awing melakukan sawala terbatas dengan petugasnya, sebentuk saling berbagi rasa antara petugas kebersihan di lapangan dan selaku pimpinan.

Jujur, saya terharu melihat para pasukan kebersihan itu. Meskipun belum sekotahnya hadir. Sebatas petugas yang mengendalikan moda transportasi sampah. Dari motor roda tiga hingga truk sampah. Sebelum ke kantor, sang kadis mengajak saya terlebih dahulu berkeliling kota, memantau para penyapu jalan dan pergerakan moda transportasi.

Setelahnya, saya terlibat percakapan intim. Didedahkannya pada saya beberapa data terkait siklus persampahan di Bantaeng. Standar Operasional Prosedur (SOP) Petugas Kebersihan, Kadis DLH Bantaeng selaku penanggung jawab umum. Kabid Operasional Kebersihan, LB3 dan Peningkatan Kapasitas Masyarakat, sebagai penanggung jawab teknis dan operasional.

Berikutnya, terdapat pengawas, mengawasi dan mengoordinasi beberapa unit kerja (mandor, petugas dan zona pekerjaan). Sementara mandor bertugas mengoordinasi dan mengawasi Satgas zona dan petugas pada zonanya.

Petugas kebersihan lapangan terdiri dari beberapa orang pada satu zona. Bertanggung jawab membersihkan jalur yang sudah diitentukan pagi dan sore hari (jam kerja) dan mempertanggung jawabkan ke kepala dinas, secara berjenjang ke mandor, pengawas, dan kepala bidang.

Jumlah armada mobil 15 unit, sopir 15, dan buruh sampah yang ikut di mobil masing-masing 3 orang. Motor sampah 13 unit, pengemudi 13 orang. TPA 1 unit, TPS 27 unit, dan TPS3R 2 unit. Penyapu jalan 118 orang. Satgas drainase 12 orang. Mandor kebersihan 9 orang, mandor Sarpras 1 orang.

Selanjutnya, gaji petugas penyapu dan buruh sampah Rp1.300.000/bulan. Gaji sopir Rp1.350.000/bulan. Gaji mandor kebersihan Rp1.250.000/bulan. Volume sampah rata-rata 26-27 ton per hari.

Spirit percakapan dengan Nasir Awing ini, saya bawa ke ruang gelar wicara, di hadapan remaja belia, generasi Z, sang generasi hijau. Lalu, debut pikir saya uarkan dengan mengajak terlebuh dahulu berimajinasi, tentang cara pandang terkait sampah.

Apa pun yang bukan pada tempatnya adalah sampah. Dan, kita semua merupakan produsen sampah. Jadi, masalah sampah, bukan saja tanggung jawab pemerintah, tetapi masalah semua penghuni negeri. Kita yang menghasilkan sampah, maka kita pula semestinya ikut menanganinya dalam bentuk berbagi peran.

Kalimat demi kalimat provokatif nan retorik, sengaja saya kedepankan, tiada lain bermaksud agar ada pantikan kesadaran baru bagi Gen-Z, khususnya yang di hadapan saya, generasi hijau.

Bagaimana memulai kesadaran itu? Saya ajak terlebih dahulu untuk memperlakukan para petugas sampah, agar kita berempati. Jauhkan sikap meremehkan mereka. Sebab, mereka menjadi garda terdepan dalam menyenangkan dan membahagiakan sesama. Coba bayangkan, tatkala para petugas sampah itu mogok kerja, negeri kita Bantaeng menjadi tak sedap baunya dan tak indah adanya.

Kalakian, saya menganjurkan agar cara memanggil mereka pun kita ubah. Kalau selama ini, kita memanggilnya dengan sebutan petugas sampah, bagi saya itu terkesan meremehkan. Karena, tidak sedikit orang menganggap mereka bagian dari sampah, hanya karena profesinya bergumul sampah.

Saya ajak generasi hijau itu, untuk memanggil mereka sebagai petugas kebersihan, sehingga martabat mereka terangkat, sebab lingkungan menjadi bersih berkat kontribusi mereka. Lebih dari itu, kita pun mesti terlibat menjadi mitra petugas kebersihan, dengan cara memilah dan memilih jenis sampah, agar meringankan tugas mereka.

Berceritalah saya tentang bagaimana memperlakukan sampah di rumah. Sebagai tindakan sederhana, saya dan seisi rumah, telah larut dalam kebiasaan untuk menyediakan paling tidak tiga wadah tempat sampah. Mulai dari sampah dapur, plastik, kertas, dan lainnya. Hasilnya? Amat sedikit sampah yang berakhir di TPA. Sampah dapur berakhir jadi kompos, plastik dan kertas, berakhir di pengumpul: bank sampah.

Arkian, selaku pegiat literasi dan punya komunitas, saya pun berkisah, tentang apa yang pernah saya lakukan dengan kawan-kawan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Apa gerangan? Kami pernah melahirkan satu gerakan bernama, “Duta Lilin Pinus”, akronim dari Demi untuk Tana Air (Duta), Literasi Lingkungan (Lilin), Program Inovasi untuk Sekolah (Pinus). Para duta itu kami ambil dari beberapa SMA di Bantaeng, lalu kami latih di Hutan Pinus Rombeng.

Alumni pelatihan inilah yang menjadi duta literasi lingkungan di sekolah masing-masing. Peresmian gerakan duta ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 (Smansa) Bantaeng. Tak main-main keberadaannya, sebab diresmikan langsung oleh Bupati Bantaeng, Ilham Azikin. Sayangnya, ketika aksi-aksi para duta ini, gongnya mulai ditabuh, negeri kita diserbu pagebluk covid-19. Sekolah ditutup cukup lama, sehingga menyulitkan konsolidasi. Akhirnya, berujung pada gaibnya gerakan ini.

Usai mentas di hajatan tayang bincang, saya berjalan mengitari beberapa sudut sekolah, mencari semut yang berbaris di dinding, menatapku curiga, kala saya masih bersekolah di Smansa Bantaeng. Maklum, saya pun alumni dari sekolah ini.

Dilalah-nya, dekat pintu gerbang keluar sekolah, ada stand Sentra Kopi Bantaeng, hadir menjajakan kopi sebagai rangkaian dukungan terhadap Festival Generasi Hijau ini. Kepsek Smansa Bantaeng, Wahid Hidayat, mengada di stand, lalu mengajak saya menyeruput kopi. Wow… tawaran lantip tak boleh dilewatkan.

Sembari bercakap-cakap sekitar kemajuan sekolah, saya pun bercerita tentang Duta Lilin Pinus, sebagai gerakan yang tertunda pembumiannya. Rupanya, sang kepsek berkomitmen untuk menggeliatkannya. Segelas kopi nirmanis tandas, sebagai penandanya.

Kala jalan beriringan ke gerbang sekolah, beliau meminta saya untuk kembali lagi ke sekolah bercakap-cakap literasi lingkungan, dan semesta sekolah lainnya. Tentu disertai minum kopi bersama. Bakal bergelas-gelas tandas.

Sesarinya, Festival Generasi Hijau Smansa Bantaeng ini, bukan sekadar ajang internal sekolah. Namun, cakupannya pada Dinas Pendidikan Cabang Wilayah V, meliputi Kabupaten Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai. Jadi, yang berfestival bukan saja anak-anak Smansa Bantaeng, tapi beberapa sekolah di tiga kabupaten tersebut, menjadi partisipan, sebentuk komitmen akan hadirnya generasi hijau. Satu gelombang generasi yang bersumpah: Sampahku dan sampahmu adalah sampah kita.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *