Serbuan media sosial, terkait gelombang demonstrasi mahasiswa plus masyarakat belakangan ini, membuat penasaran seorang anak remaja belia, usianya jelang 19 tahun. Maklum sang anak, semestinya tahun ini sudah menjadi mahasiswa, bahkan sudah diterima di salah satu universitas, tapi enggan menjalaninya.
Menurutnya, ia menunda berkuliah, tahun depan saja. Ia ingin menikmati suasana rumah. Sebab, ia bersekolah lanjutan atas selama tiga tahun di daerah berbeda, sehingga lumayan jauh dari rumah. Namun, godaan urita massif dari medsos tentang demonstrasi mahasiswa, terkait politik penguasa yang mengedepankan nepotisme, sehingga aturan berbangsa dan bernegara diubah sesuai selera penguasa.
Suasana hening pecah. Ketika sang ayah dan anak yang semula saling diam, karena sibuk dengan ponsel masing-masing, tiba-tiba muncul suara berisik dari ponsel si anak. Sesekali potongan orasi, teriakan, suara kaca pecah, pagar roboh, sirine meraung, tembakan gas air mata, dan letupan senjata, menggado-gado bunyinya.
Sebelum sang ayah bereaksi atas suara berisik itu, si anak tetiba bertanya, “Ayah, waktu mahasiswa dulu, pernah ikut demo? Dan, bagaimana itu tahun 1998? Apa sama dengan yang sekarang?”
Sang Ayah tak langsung menyahut, tapi sibuk mencari satu-satunya gambar yang pernah ia unggah di akun medsosnya. Ibu jarinya meng-kobbi-kobbi layar ponselnya, berselancar mencari gambar saat demonstrasi tahun 1998.
Begitu ketemu, sang ayah seolah berdiri rambutnya, padahal sudah gondolo alias plontos. Ia mendekati putranya, lalu menunjukkan gambar demonstrasi. Seorang lelaki berjaket, memegang pelantang suara, memakai kacamata, didampingi beberapa orang, samping kiri-kanan dan belakang, menandakan sosok itu cukup penting. Satu tangannya seolah meninju langit. Foto tersebut memastikan, lelaki itu sedang orasi.
Si anak langsung mengenali wajah lelaki itu. Lalu berucap, “Deh… ngerinya, ternyata ayah seorang pendemo.”
Lalu, berceritalah sang ayah terkait foto itu. Foto orasi itu diambil sehari sebelum puncak demo besar-besaran seluruh tanah air. Lokasinya, di halaman Masjid Al-Markas Al-Islami Makassar. Dari titik inilah para pendemo melakukan long march menelusuri beberapa jalan memutar dan finish di KMU 4, yang sekarang diberi nama Jalan Tol Reformasi.
Itu hanyalah salah satu demo yang sempat terdokumentasikan. Puluhan demo sebelum dan sesudahnya, ayah ikuti. Sampai-sampai ayah dikenal sebagai tukang demo, di dalam dan di luar kampus.
Namun, ada demo besar-besaran di Kota Makassar, saat rezim Orba masih berkuasa: kasus helem. Sang ayah lanjut bercerita, waktu itu ayah masih semester III, tapi sudah ikut demonstrasi. Meskipun baru sekadar partisipan, belum pegang pelantang suara, sebatas melempar batu, lalu dibalas tembakan oleh aparat.
Tiga hari berturut-turut demonstrasi berlangsung. Korban timah panas aparat menewaskan seorang mahasiswa. Kacau-balau demonstrasi. Tidak sedikit mahasiswa dari berbagai kampus ditangkap, disiksa, lalu digunduli.
Ayah tak ditangkap seperti teman kost ayah. Sebab, waktu penyerbuan kampus, ayah lompat pagar, lalu berlari ke jalan, naik pete-pete, menghilang. Sesudahnya, rumah-rumah kost dan asrama mahasiswa yang diduga ada aktivis disasar oleh aparat. Berhari-hari ayah tidak pulang ke kost.
Saat hari kedua demonstrasi helem, kakekmu, sang kiyai kampung, ke Makassar, mencari ayah. Masih sempat sua di rumah kost. Ayah mengira kakekmu meminta ayah pulang, malah ia makin menyemangati. Nah, ini yang paling ayah tak bisa lupa, sebab kakekmu, menjampi-jampi ayah, membacakan mantra perlindungan, plus doa keselamatan.
Setelah proses jampi-jampi disertai bacaan mantra dan doa, kakekmu langsung pulang. Dan, ia berpesan pada ayah, “Agar melanjutkan demonstrasi. Insyaallah selamat dalam perlindungan Yang Mahakuasa, tegasnya.”
“Jadi, kakekku, sang kiyai kampung itu, ikut demonstrasi juga?”
“Ah, tidak cuman mendukung sepenuh jiwa lewat jampi-jampi, mantra, dan doa,” tutur sang ayah.
“Tentang demo hari ini, apa sama dengan demonstrasi Reformasi ’98?”
Menurut ayah, masih terlalu dini untuk dipersamakan. Pasalnya, untuk sampai pada kualitas demonstrasi yang menumbangkan rezim despotik Orba, membutuhkan akumulasi wacana dan aksi perubahan.
Sesarinya, jampi-jampi, mantra, dan doa dari sang kiyai kampung itu dikenal memang mujarab. Masih ingat bukan? Adanya seorang pendakwah, tapi lebih berwajah pendakwa, pernah memburu ilmu kanuragan sang kiyai kampung.
Sang ayah lalu menggoda si anak. Kalau saja kamu sudah menjadi mahasiswa, apa kemungkinannya sudah ikut demonstrasi?
“Pastilah, apatah lagi kalau diberi terlebih dahulu semacam, jampi-jampi, mantra, dan doa.”
Hei, aku adalah ayahmu, bukan kakekmu, sang kiyai kampung itu.
“Maksudnya, ilmu kanuragan sang kiyai kampung, tidak diwariskan kepada ayah?”
Sudahlah, jampi-jampi, mantra, dan doa, di era tunggang langgang serba cepat sekarang ini, mana ada yang mau dijampi-jampi, mantra, dan doa. Termasuk dikau bukan?
Tahun depan, kalau kamu sudah jadi mahasiswa, dan ada demonstrasi, ikutlah! Sebab, bagi ayah, “Demonstrasi” itu, salah satu jenis mata kuliah yang harus dijalani oleh seorang mahasiswa. Bobot SKS-nya berbeda-beda, bergantung kualitas aktivisme seorang mahasiswa.
Ingat, tiga kakakmu yang sudah selesai di kampus, semuanya pernah mengambil mata kuliah demonstrasi ini. Waima, tak pernah ayah memberikan jampi-jampi, mantra, dan doa, seperti kakekmu, sang kiyai kampung, terhadap ayahmu.
Kredit gambar: Facebook, Alam Ma’kasara

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply