Waima surat tidak lagi populer guna dijadikan unjuk minda dan rasa, tapi aku masih bersetia untuk menggunakannya. Bagiku, surat tetap lebih baik tinimbang medium lainnya. Surat serupa representasi jiwa, jangkauannya melampaui batas-batas ragawi.
Shanum, dikaulah cucu pertamaku. Kehadiranmu seolah menambah gairah hidup, buat menata kehidupan di masa datang. Usiamu baru saja setahun lebih, bila merujuk pada kelahiranmu 28 Juli 2023.
Sewaktu engkau lahir, ibu dan ayahmu sudah menyiapkan nama depan: Shanum dan nama belakang Macca. Shanum berasal dari bahasa Arab, bahasa kitab suci Al-Qur’an, bermakna: Berkah Allah, kebaikan, dan kehormatan. Sedangkan Macca merujuk pada bahasa Makassar-Bugis-Bantaeng, berarti: Cerdas, pintar, dan lantip.
Aku pun ikut diberi kehormatan oleh ibu-ayahmu menyumbang nama. Maka kuusulkan nama tengah, satu kata: Assyura. Usulanku berlapik pada kelahiranmu di bulan Muharam, penangglan Islam: Hijriah. Satu karunia, sebab 28 Juli 2023, bertepatan dengan 10 Muharam 1445 H.
Bagi kaum muslimin, 10 Muharam dikenal dengan istilah, Assyura. Banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam, terjadi pada hari Assyura. Namun, yang terakbar adalah tragedi Padang Karbala, syahidnya cucu kinasih Nabiullah Rasulullah Muhammad saw., Imam Husain bin Ali, putra kedua dari perkawinan putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra binti Muhammad dan Imam Ali bin Abi Thalib kw., sepupu sang Nabi.
Shanum, kuabadikan peristiwa Assyura itu pada nama tengahmu, tiada lain motifku, agar dikau kelak, mencintai keluarga Nabi, ahlul bait-nya Nabi. Pasalnya, peristiwa itu lebih merupakan sepenggal etape perjalanan penindasan keluarga Nabi, oleh penguasa tiran bin zalim. Imam Husain ra., memilih syahid, guna menunjukkan dirinya sebagai manusia merdeka.
Tak heran bagiku, tatkala salah seorang proklamator bangsa Indonesia, Soekarno, menabalkan dalam bukunya, Di Bawah Bendera Revolusi, “Imam Husain adalah panji berkibar yang diusung oleh setiap orang yang menentang kesombongan di zamannya, di mana kekuasaan itu telah tenggelam dalam kelezatan dunia serta meninggalkan rakyatnya dalam penindasan dan kekejaman.”
Nah, di bulan Agustus tahun 2024 ini, sebagai bulan kemerdekaan, tepat di tanggal 17, kemerdekaan bangsa Indonesia sudah tiba diusia 79 tahun. Momen Peringatan Hari Kemerdekaan ke-79 Negara Kesatuan Republik Indonesia, aku menulis surat buatmu. Sebentuk penegasan awal, dikau manusia merdeka.
Sebagai kakekmu, aku tidak menuntut agar dikau segera mengerti isi suratku. Namun, puluhan tahun mendatang, kuharap dikau sudi mengejanya. Sebab, yang paling kutakutkan kelak, di masa depan, tatkala usiamu sudah mulai paham arti berbangsa dan bernegara di suatu negeri bernama Bantaeng, tiba-tiba, dikau melontarkan gugatan.
Apa yang dibikin Kekhan 20 tahun lalu, tatkala negeriku mempercakapkan dan merancang Indonesia Emas 2045, khususnya negeri Bantaeng Emas, tepat seratus tahun kemerdekaan bangsa Indonesia?
Oh ya pemirsa, Kekhan itu adalah panggilan yang mulai dipahatkan pada ingatan Shanum oleh ibu-ayahnya, kepadaku. Sebenarnya, banyak usulan yang mengemuka dalam keluarga kecilku, bagaimana seorang kakek akan dipanggil oleh cucunya. Urun rembuk menghasilkan panggilan Kekhan, akronim dari Kakek Sulhan. Keren bukan?
Kembali ke perkara surat. Shanum cucuku. Kala Kekhan menulis surat ini, rakyat Indonesiandi berbagai penjuru bentala, akan menantikan upacara peringatan detik-detik kemerdekaan.
Sebagai rakyat kebanyakan, Kekhan tidak menghadiri upacara apa pun. Bukan karena usia Kekhan sudah lebih separuh abad, tapi Kekhan tak punya instansi ataupun undangan menghadiri upacara.
Kekhan bukanlah siapa-siapa, hanya suka mengapa-apa negerinya, sebagai cara berbagi cinta, wujud keprihatinan Jadi, Kekhan bikinlah surat ini, serupa cara upacara wicara.
Buat Shanum, di masa depan.
Salam wa rahmah. Merdeka, merdeka, merdeka.
Belakangan ini, Kekhan sering diundang oleh berbagai pihak, guna mempercakapkan nasib negeri. Maklum saja, Kekhan sering menabalkan diri selaku “lelaki panggilan”. Seorang lelaki yang suka “a’laga ulu”, berlaga pikiran.
Entah itu di instansi Pemkab Bantaeng, maupun di berbagai ormas dan komunitas. Paling mutakhir, terkait dengan rancangan nasib bangsa dan negeri di masa datang, paling tidak 20 tahun ke depan. Sebentuk percakapan, bagaimana mencapai Indonesia Emas, khususnya Kabupaten Bantaeng Emas di seratus tahun kemerdekaan NKRI, tahun 2045.
Shanum, perlu dikau pahami, Indonesia Emas 2045, sepaket Bantaeng Emas, berarti usiamu paling tidak telah memangsa waktu lebih 20 tahun, terhitung sejak kelahiranmu. Nah, kami yang sementara di kekinian, mencoba berbalah tentang seperti apa potret negeri, buat diwariskan pada generasimu.
Sering mengemuka, bahwa bangsa Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Makhluk apa itu? Ah, banyak penjelasannya di jagat media daring dan luring. Pastinya, bonus demografi itu meninjukkan fakta, rakyat Indonesia lebih banyak usia produktif ketimbang usia nonproduktif.
Artinya, lebih dominan anak-anak muda dibanding anak-anak dan kakek-nenek. Menegaskan pula, Kekhan di Indonesia Emas, atau Bantaeng Emas 2045, sudah dikatagorikan nonproduktif, untuk tidak mengatakan sudah bau tanah. Itu pun kalau belum berkalang tanah.
Diperkirakan negeri kita mengalami puncak bonus demografi di tahun 2030-2035. Ada aksioma menyatakan, setiap bangsa hanya akan mengalami bonus demografi sekali dalam siklus eksistensinya. Bila tidak termanfaatkan dengan baik, diprediksi bangsa itu menjadi bangsa gagal.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 telah merumuskan visi, “Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan”. Sedangkan visi RPJPD Sulsel 2025-2045, “Sulawesi Selatan Mandiri, Maju dan Berkelanjutan dalam Ekosistem Ekonomi Biru”.
Adapun visi RPJPD Bantaeng 2025-2045, “Mewujudkan Bantaeng 2045 yang Maju, Sejahtera, Berkelanjutan, Inovatif, dan Berdaya Saing”. Disingkat Bantaeng Emas. Rumusan visi ini berlapik pada RPJPN, RPJPD Sulsel, KLHS, RTRW, dan harapan masyarakat Bantaeng.
Merujuk pada visi RPJPD Bantaeng 2025-2045, dirumuskan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bantaeng, untuk lima tahun pertama, 2025-2030. Jadi, akan ada empat rumusan visi, hingga tiba di tahun 2045. RPJMD ini akan menjadi salah satu rujukan setiap pasangan calon bupati-wakil bupati, untuk merumuskan visi dan misinya.
Shanum, sayangnya dalam berbagai percakapan terkait dengan RPJMD ini, belum maksimal penjaringan aspirasinya. Baik dari usia (generasi X,Y,Z), maupun profesi, dan pesebaran wilayah belum merata. Bahkan, ketika RPJMD ini diserahkan ke KPUD Bantaeng, sebagai bahan rujukan buat Pilkada, KPUD Bantaeng mengadakan percakapan dengan beberapa elemen, khususnya Parpol yang punya kewenangan mengusung Cakada, pun hanya segelintir yang menyata di forum.
Shanum. Kekhan juga sering menghadiri sawala terkait calon bupati dan wakilnya. Baik sebagai narasumber maupun penghadir. Pikiran-pikiran yang mengemuka dalam mencari pemimpin, masih tersandera dengan isu-isu recehan, alias tidak terlalu relevan dengan permasalahan yang terdedahkan dalam RPJMD Bantaeng.
Begitu pun para calon pemimpin, menawarkan diri jadi bupati plus gubernur, baru sebatas pelesiran, unjuk jargon, beli-bagi sembako, dan memaku pohon buat memajang gambarnya. Mejeng di atas derita pohon dan tak empati pada jerih payah penanam pohon.
Last but not least, paling parah dan tidak mendidik, pertengkaran di media sosial. Kekhan tergabung dalam beberapa grup medsos, tidak sedikit diskusinya didasarkan pada hoaks, lalu berpucuk ujar kebencian. Perspektifnya jauh dari kesinambungan dan keberlanjutan hidup dan kehidupan. Lebih mengarah pada cara pandang biner. Bila bukan putih ya hitam. Padahal, kadang lebih elok irisan keduanya: abu-abu.
Demikian suratku ini. Sebagai alarm buat Shanum, manakala kelak mewarisi negeri yang tak begitu elok. Kekhan berharap, anggaplah suratku ini sebagai lembaran awal, untuk berkelana memasuki jagat negeri yang menjanjikan kebahagiaan, sekaligus derita.
Bantaeng, 17 Agustus 2024, pukul 8.31 WITA.
Wassalam wa rahmah. Merdeka, merdeka, merdeka
Dari kakekmu, Kekhan di kekinian.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply